
"Aku mau pete!!!!!!!!" Teriakku menggelegar, mengisi seluruh ruang kamar.
"Pete!!!!!!!!! Pokoknya aku mau makan pete sekrang juga." Aku teriak dan belum juga ada yang sadar dan menghampiri ku di kamar.
"Yakkk, aku ingin pete." Teriakku lagi berharap ada yang menanggapi.
"Maaf saya lancang masuk tuan, ada apa?" Tanya pelayan yang kebetulan lewat di depan kamarku.
"Baguslah, kau lancang akan ku naikan gajimu." Karena sikapnya yang lancang pagi ini, ada manusia yang sadar bahwa sedang butuh di dengar.
"Aku mau pete." Tukas ku padanya.
"Maaf tuan, tapi apa itu pete?" Tanyanya bingung.
"Makanan, cepat bawakan kemari aku ingin makan pete untuk sarapan di kamar." Perintah ku, tak menerima bantahan.
"Baik tuan." Pelayan itu sepertinya paham, dan langsung turun untuk melaksanakan permintaan ku barusan.
Seumur hidup aku tak pernah menyentuh makanan dengan nama beken pete tersebut. Tapi karena Amanda melihat mukbang youtuber asal Indonesia di sampingku semalam, entah kenapa pete menguasai pikiranku. Aku mencoba untuk tidur, dan berhasil. Aku pikir esok harinya aku akan lupa, nyatanya tidak. Dan aku benci kenyataan saat bangun Amanda sudah turun tanpa membangunkan ku, sehingga aku tak ada tempat meminta. Jadilah aku berteriak, berharap ada yang menanggapi. Nyatanya malah mempermalukan diri sendiri.
Rutinitas ku sekarang berubah, aku akan melakukan ritual sarapan di kamar. Bukan karena malas, tapi morning sickness masih betah menyerang ku setiap pagi menjelang. Amanda biasanya mengurus ku sampai siang, tapi entah kemana kali ini dia pergi. Mungkin ikut menyiapkan santap pagi untukku. Akhir-akhir ini dia seperti malaikat yang tingkat kepeduliannya meningkat seratus persen padaku. Aku senang dimanjanya, tapi tak senang merasa mulanya.
"Sayang, apa kau mau makan pete?" Tiba-tiba Amanda masuk kamar, masuk dengan apron masih menempel di badannya.
"Iya sayang, aku mau disajikan seperti di video semalam." Membayangkannya saja membuat air liur ku hampir menetes.
"Tapi sayang, disini mana apa petai, lagi pula di Indonesia juga petai termasuk yang tersedia bergantung musim. Bisakah kau lebih bersabar?" Terang Amanda, membuatku tak semangat.
"Tidak, aku mau sekarang ya sekarang!" Aku berkata keras seolah membentak Amanda.
Matilah aku, kenapa aku bisa-bisanya lepas kendali akibat makanan yang bahkan rasanya saja aku tak tahu. Rasanya aku ingin terjun dari lantai dua kamar ini lalu terjebur di kolam renang. Kenapa tidak bisa meminta dengan lebih lembut. Jika Amanda murka bagaimana. Tuhan, aku pasrahkan semuanya padamu
Aku bersiap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Amanda yang tadi berjarak denganku yang masih berbaring di kasur, kini datang mendekat. Semakin dekat dirinya, semakin mau melompat jantungku. Andai saja waktu bisa di undo seperti menulis di microsoft word.
"Sayang aku tahu ini bukan keinginan mu sepenuhnya, aku tahu nyidam sangat menyiksa batin dan ragamu. Maaf, anak kita nampaknya lebih sayang padamu, makanya setiap meminta apapun melalui dirimu. Bisakah kau mendengarkan aku lebih dulu?" Amanda berkata sambil memegang tanganku dan menatap tepat kedua bola mataku.
"Hm." Anggukkan kepala aku sertakan sebagai bentuk persetujuan.
"Nanti aku akan meminta pelayan untuk pergi ke market Asia yang ada disini. Jika tidak ada, aku akan cari cara agar bisa segera mendapatkannya. Jadi bisakah kau bersabar?" Amanda meletakkan tangan kananku, di atas perutnya yang rata.
Sungguh aku ingin menangis, menangis kenapa makanan itu tak bisa segera masuk mulutku. Tapi aku juga tak boleh mengedepankan ego, aku tahu Amanda juga tidak dalam kondisi yang selalu bisa mengabulkan permintaan ku yang konyol. Akhirnya aku mengangguk setuju dengan apa yang di katakan Amanda.
"Terimakasih, karena sudah mengerti sayang." Amanda memelukku.
__ADS_1
"Kau bau asem, tidakkah ingin mandi sebelum sarapan?" Amanda menghapus jejak iler yang ada di sudut bibir ku, dan membuat ke kerenan ku luntur.
"Aku tidak mau mandi, aku mau makan." Arghhhhhhh, mulut sialan ini, untung aku masih bisa menghandle untuk tidak melanjutkan kata pete dalam kalimat ku barusan.
"Baiklah, beri aku waktu dua jam, akan ku masakan sambal petai ikan tongkol seperti yang kau tonton semalam. Sekarang tunggu disini, kau bisa menghabiskan waktu sendirian kan?" Amanda tampak yakin dengan perkataannya saat ini.
"Yang benar?" Aku yakin pasti mataku sangat berbinar mendengar kalimat Amanda barusan.
"Hm, yasudah aku tinggal." Pamitnya lantas pergi meninggalkan kecupan di dahi.
...****************...
Tak butuh menunggu dua jam lamanya, Amanda memintaku turun dan makan di meja makan sekitar satu jam kemudian. Biasanya aku malas, tapi kali ini berbeda. Aku sangat semangat mau makan dimana pun. Lagipula kata Amanda Daddy memboyong Mommy berserta dua monye*t pengganggu bersamanya ikut sarapan kali ini.
Aku bergegas menuruni anak tangga dengan berlari serampangan. Tiba tepat waktu, saat piring lauk terakhir diletakkan Amanda di atas meja maka. Tapi perasaan mendadak suram melihat wajah Danda. Entah karena sempat dikalahkan dalam mengelola perusahaan, atau karena kemauan si jabang bayi, aku sedikit membencinya. Aku sengaja mengambil kursi jauh dari Danda, tak tak mengharuskan aku bertatap mata dengannya. Pokoknya aku menghindari, kemungkinan interaksi dengannya.
Aroma petai menyeruak ke sela-sela hidungku. Ah, rasanya amat menggugah selera. Tanpa menegur sapa mereka yang bertamu, aku mengambil nasi dengan semangat. Membubuhkan sambal petai, lalu mulai mengunyah. Betapa nikmatnya rasa ini. Mungkin aku mengunyah sambil tersenyum secara bersamaan dalam suap demi suapnya.
"Aku cicip ya Ge, melihat kau makan nampaknya sangat nikmat." Jason ingin mencoba, dan dengan sopan memintanya. Sangat berbeda dengan Jason yang asal comot, Jason mungkin sudah di wanti-wanti Mommy untuk lebih bijak jika di dekatku.
"Hm, ambil saja, tapi hanya satu sendok." Aku juga heran, sepeti kebalikannya sekarang aku lebih suka Jason dibanding Danda.
"Yes, thanks brother." Siulnya lalu dengan semangat mengambil sambal petai ku.
Jason berlari menuju wastapel di kitchen lalu memuntahkan sisa makanan di mulutnya. Aneh sekali makanan begitu nikmatnya, malah di buang, dasar aneh. Oh, atau karena ini kali pertamanya memakan makanan jenis ini.
"Kenapa dilepeh, menyesal aku memberikan padamu." Sesal ku.
"Kau gila, ini disebut makanan?" Jason misuh tak senang.
"Ini lebih dari sekedar makanan, aku rasa ini sebuah mahakarya." Ujarku merasa bangga bisa memakannya.
"Ge, rasanya seperti memasukan kotoran ke dalam mulut. Dan kau bisa mengunyahnya dengan nikmat?" Heran Jason dengan kening mengkerut.
"Jason jaga mulut, jangan menghina makanan. Kali tak suka cukup jangan dimakan." Peringat Daddy, yang selalu mendidik kita agar menghormati makanan sedari dulu.
"Maaf Dad, aku kelepasan." Jason kembali duduk di kursinya.
"Seperti apa rasanya, aku jadi penasaran." Danda dengan kalimatnya seolah ingin mencoba sambal milikku.
"Kalau penasaran, beli sendiri." Sarkasku lalu mengambil piring berisikan sambal, lalu meletakkan di dekatku.
"Sudah, nanti aku ceritakan." Ujar Jason pada Danda, yang hanya di balas oleh dengusan saja.
__ADS_1
...****************...
"Sayang, kenapa kamar mandi bau sekali, aku hampir pingsan saat di dalam." Entah ulah jin mana yang bersemedi di kamar mandi ku, sehingga aromanya menjadi tak sedap.
"Tentu saja bau, aku lupa memberitahu petai memang sedap tapi aroma yang ditinggalkan setelah memakannya cukup bau." Jelas Amanda, terlambat.
"Mana mungkin sayang ada makanan bisa seperti itu, hanya mitos belaka." Sanggah ku, tak terima makanan yang kini masuk daftar favorit ku direndahkan.
"Kalau tak percaya coba kau cium bau nafasmu sendiri." Saran Amanda.
Ku letakkan telapak tangan di depan mulut, lalu hah aku mengeluarkan nafas. Aroma nafasku memantul dari tangan yang ku pasang, kini kembali masuk ke dalam lubang hidungku.
"Huekkkk." Nyaris muntah.
Seperti respon Jason tadi pagi, aku bergegas kembali ke kamar mandi. Lalu membersihkan mulutku dengan obat kumur. Sekali aku bersihkan baunya tetap tak mau enyah. Akhirnya aku kembali keluar toilet guna bertanya pada Amanda.
"Sayang, bagaimana cara menghilangkannya?" Tanyaku frustrasi.
"Kau, sikat gigi lalu berkumur, nanti aku buatkan teh hijau untuk menghilangkan aroma tak sedapnya. Lagian kau makan terlalu banyak tadi." Tutur Amanda tanpa rasa dosa.
Arahan Amanda aku jalankan dengan urut. Cukup lama aku menggosok gigi, lalu berkumur. Penasaran baunya sudah hilang atau belum, aku membauinya lagi. Syukurlah, aromanya tak sepekat tadi, tapi rasa mulutku jadi tak enak saja. Seperti ada rasa risih yang mengganjal dan sulit diungkapkan lewat kata.
"Sayang kenapa tak cerita kalau bau pete tak sedap." Protesku setelah meneguk teh buatan Amanda.
"Memangnya kau mau mendengarkan ku, kalau sebut keinginan?" Tanya balik Amanda.
"Tidak juga sih, tapikan harusnya kau lebih giat melarangnya." Aku kukuh tak mau kalah.
"Sudahlah, yang penting misi tuntas untuk nyidam kali ini." Pasrah Amanda tampak lelah.
"Benar juga apa yang kau katakan barusan. Ngomong-ngomong, dapet darimana petai itu?" Penasaran juga aku di buatnya.
"Dari koneksi Daddy." Jelasnya singkat.
"Hah, kenapa juga Daddy harus ikut campur sih. Kan jadi dapat petainya, aku jadi menanggung baunya." Masih saja menyesal dengan apa yang telah terjadi.
"Sudahlah, harusnya kau berterimakasih pada Daddy. Lagipula kalau tak dapat kau pasti mogok makan dan aku tak suka." Amanda merebahkan dirinya di sofa.
"Huh, baunya itu loh sayang." Entah darimana sifat ngeyel ku muncul.
"Bau, bau, bau, diam sebentar bisa tidak. Lagian sudah masuk mulut juga, kau mau memuntahkannya? Tidak kan. Asal kau tahu saja Daddy sampai merogoh sepuluh ribu dolar untuk sambal petai itu." Sentak Amanda yang menyinggung perasaan ku yang lembut.
Aku tak dapat berkata-kata, hanya bulir air mata menetes begitu derasnya dari kedua ujung mataku. Hatiku perih, Amanda bersikap kasar padaku. Tapi Amanda yang rebahan tak sadar akan hal itu. Hingga aku yang mendadak diam, dan isak tangis mulai mengganggu acara mulianya yaitu rebahan.
__ADS_1
Amanda nampak kaget dan sigap memelukku. Mengucapkan beribu kata penenang, dan maaf. Aku sadar dia lelah dengan sikapku yang belakangan ini keluar dari batas normal. Tapi aku juga bisa apa, bahkan perubahan emosional ku tak stabil. Tapi aku menikmati semua ini, menikmati proses buah hatiku. Malaikat kecilku, yang sedang berjuang sendirian di dalam rahim Amanda.