
Sempurna sebuah cinta bila dibawa sampai jenjang pernikahan, membangun rumah tangga, dan menjaganya sampai hembusan nafas terakhir. Melepas status lajang sedikit tak mudah dilakukan, begitu banyak pertimbangan hingga berakhir melangkah ke tahap ini. Banyak ujian tiba-tiba menerpa datang dari berbagai hal. Tapi kami memantapkan hati tetap menikah pada tanggal yang ditetapkan.
"Menurutku semuanya sudah oke sayang, aku sangat berterimakasih kau memilih semuanya menyesuaikan dengan selera ku juga." Ujarku setelah meneliti undangan, kartu ucapan, dekor, souvernir pernikahan yang dibawa Amanda sebagai contoh agar aku dapat turut serta menilainya.
"Benarkah? Kalau begitu semua persiapan sudah oke, tinggal gaun pernikahan saja yang belum kita coba Ji." Tukas Amanda senang.
"Perancang busana mana yang kita tunjuk untuk itu?" Tanyaku yang jujur belum dapat info dari Felix.
"Pilihan Mommy dan Tante Carmila, kau tenang saja kualitasnya terjamin." Amanda seperti gadis iklan saja.
"Semoga aku sudah pulih dan segera fitting baju sesuai tanggal yang ditetapkan sayang." Harapku, karena sekarang saja aku masih harus mendapat perawatan intensif pasca koma kemarin.
"Yakinlah, kau bukan orang lemah. Perihal fitting baju, jika kau belum pulih kita bisa atur ulang tanggalnya. Tapi saran Mommy, dia akan memboyong studio designer itu ke rumah sakit ini untuk mempermudah kita, tapi aku menolaknya karena terdengar terlalu gila ditelinga ku." Jelas Amanda tak habis pikir, dengan kegilaan Mommy.
Sibuk mempersiapkan ini dan itu untuk pernikahan, mengharuskan Amanda berpergian ditemani anggota keluarga lainnya. Rasanya sedikit sesak tidak dapat membantu apapun, tapi semua orang berkata tidak perlu repot seperti tak punya uang saja, aku hanya perlu memulihkan fisik dan biar vendor yang bekerja untuk kita. Walaupun uang segunung kalau untuk persiapan pribadi rasanya enggan jika dicampur tangan oleh siapapun bahkan kerabat.
Jam makan siang tiba, segera aku santap lantas meminum obat resep dokter. Sebelum kerja obat mengambil alih kesadaran ku dan membuatku terlelap, aku meminta Felix untuk menghadap sekarang juga.
"Bos ini semua data yang kau minta." Felix menyerahkan beberapa berkas yang ku minta beberapa hari lalu.
"Aku sedang tak ingin membaca, cukup katanya singkat dan tepat." Felix tidak tahu situasi atau bagaimana, jelas-jelas aku sedang berlomba dengan kantuk, tentu tak dapat dipadukan dengan membaca rentetan data.
"Kau sama sekali tak ada hubungan dengan kakek kemarin." Jelas Felix, terlalu singkat.
"Lalu?" Tanyaku menuntut.
"Dia orang terkaya nomor lima di Denmark, keluarganya mati keracunan hanya dia seorang yang selamat, polisi sedang menyelidiki kejanggalan tersebut." Jelas Felix.
"Kau tahu betul bukan apa yang harus dilakukan?" Ucapku penuh penekanan.
"Hm, aku sudah punya bukti kuat dalang dibalik peristiwa keracunan makanan tersebut adalah ulah tangan kanan si kakek, dia terlalu banyak tahu akses akan aset milik keluarga kakek tersebut sehingga membuatnya lupa daratan." Lanjut Felix.
"Dan aku menunggu perintah lanjutan darimu, harus bertindak apa selanjutnya." Tegas Felix.
"Untuk sementara biarkan aku tidur, kau cari cara agar aku bisa bertemu sang kakek tepat saat jam santai sore nanti." Perintahku, kemudian merehatkan tubuh.
Kantuk tak tertahan, mata tak tertolong berakhir aku tidur cukup lama. Dalam tidurpun kakek itu terus menghantuiku, seolah hubungan kami amat kental. Atau mungkin dia kerabat ku di kehidupan sebelumnya.
__ADS_1
Sore menjelang, aku tersadar dari tidur. Bangun perlahan menyesuaikan diri dengan lingkungan lantas mulai beraktivitas sebagaimana mestinya. Aktivitas yang telah ku rencanakan sebelum tidur tadi tentunya.
"Mau pakai kursi roda atau jalan biasa saja?" Tanya Felix tanggap.
"Kali ini aku ingin jalan." Aku ingin tahu sudah sampai mana proses kepulihan tubuh ini.
"Baiklah, nanti jika lelah biar aku panggil pengawal untuk mengantarkan kursi rodanya." Saran Felix bijak .
Teramat santai langkah yang ku lakukan untuk sampai di ruangan sang kakek. Bukan karena sengaja, ternyata otot dan sendi ku butuh penyesuaian setelah beberapa waktu tak beroperasi sebagaimana mestinya. Untung sekarang saja kadang aku di topang oleh Felix jika mulai sempoyongan.
Bagai dewi fortuna sedang berpihak padaku, sang kakek ternyata satu lantai denganku, jadi aku tak perlu memperbanyak langkah untuk berjumpa dengannya. Ruangnya sangat ketat oleh penjagaan pengawal dan awak polisi. Terang saja nama baiknya dan predikat kekayaan si kakek patut membuat dirinya diperlakukan layaknya seperti ini.
"Maaf tuan Felix, inikah cucu angkat kakek yang anda bicarakan?" Seorang penjaga yang berdiri tepat di pintu masuk ruangan sang kakek menanyai kami sebelum di persilahkan masuk.
"Iya, bukankah tuanmu sudah mengkonfirmasinya, jadi beri jalan untuk kami." Jawab Felix sekaligus memberi perintah.
"Kalau begitu silahkan." Pengawal itu tersenyum ramah sembari membuka pintu ruangan si kakek.
"Trik macam apa yang kau gunakan, kenapa tiba-tiba aku menjadi cucu angkat si kakek?" Kadang sikap manipulatif Felix sangat berguna.
"Aku mencoba membohongi para pengawal kakek dengan status rekayasa, tak disangka sang kakek malah kerjasama dan memberikan mandat agar mempertemukan kau dengannya." Jelas Felix.
"Ehemm, sore kek, maaf telah bersandiwara untuk bertemu denganmu. Tapi tuanku sangat yakin kenal kakek entah kapan itu. Maaf jika mengganggu waktu kakek." Ucap Felix sopan, menyapa sang kakek.
"Tak apa, kalian duduklah." Kakek mempersilahkan kami duduk di dekatnya.
"Aku Gerlard." Uluran tanganku diterima kakek dengan hangat.
"Adolf Bent, panggil saja kakek." Namanya begitu indah digendang telinga.
"Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya, aku hanya merasa amat mengenalmu, dan ingin menghabiskan beberapa waktu bersama." Aku berucap langsung pada intinya.
"Kita memang ditakdirkan untuk saling mengenal Ge." Senyum sang kakek nampak misterius di mataku.
"Hm, aku rasa begitu. Bisakah kita saling mengenal lebih dekat. Bukan maksudku mendekati mu karena tahu kau orang terkaya nomor lima di Denmark, semuanya murni karena hatiku menginginkan itu." Jujurku, yang selalu merasa terikat dengan Adolf.
"Kau telah menepati janji mu Ge, terimakasih untuk datang." Senyum sang kakek, lagi-lagi membuat aku kebingungan.
__ADS_1
"Maksud kakek?" Seingatku aku tak mengalami amnesia, tapi ingatan akan janji itu tak terlintas sama sekali dalam benakku saat ini .
"Saat kau koma, kau nampak frustasi dan kita bertemu di bangku taman kemarin sore, tentu saja kau sedang dalam wujud roh." Apakah kakek ini benar-benar tidak waras, kenapa bicaranya amat melantur.
"Jangan memandangku seolah aku gila, mungkin karena ajal amat dekat denganku sekarang, makanya aku dapat melihatmu dalam wujud itu, dan jangan menghardikku seperti pembohong besar, karena memang begitu adanya." Tutur sang kakek membuat aku dan Felix bungkam seketika.
"Terdengar tak masuk akal, tapi ya sudahlah lagipula yang terpenting sekarang kau sudah siuman, nikmati masa mudamu bersama keluarga, jangan seperti aku yang sibuk menimbun harta, tapi dimasa tua malah tak berguna sama sekali karena tak punya sanak keluarga." Curhatnya sedih.
"Kek, jangan bicara seperti itu. Kau punya aku, punya kami. Aku sanggup menjadi keluarga mu, tenang saja kau akan ku kenalkan pada keluarga besar ku dan mari hidup bersama." Bujuk ku, yang entah mengapa wajah sang kakek merenggut rasa iba ku yang paling dalam.
"Hm, senang rasanya mendengar kalimat itu dari kau pemuda hebat yang keras hati. Kau nampak mengasihani ku. Apa aku terlihat begitu tua dan lemah dimatamu?" Ucapnya diakhiri tawa, yang bukannya membawa bahagia tapi terdengar menyayat hati.
"Tidak, kau tahu aku sangat keras hati bahkan untuk seorang bayi pun. Tapi entah kenapa aku merasa mempunyai ikatan denganmu, aku tak akan membiarkan mu sendiri membusuk dalam kesepian di hari tua kek." Aku harap perkataanku tak menyinggung perasaan sang kakek, karena kalimat ini sudah kupilih sehalus mungkin.
"Kau memang tak pandai membujuk, tapi tanpa kau bujuk pun aku akan menerima permintaan mu dengan senang hati, terimakasih Gerlard." Ucap sang kakek final.
Tubuh kadang memiliki kinerja refleks saraf yang tidak sopan dan tak terkendali. Bagaimana mungkin kini aku berakhir memeluk hangat sang kakek, dan tersenyum lega. Perasaan yang sulit dikatakan lewat lisan tapi terasa amat menyenangkan dalam hati.
Alarm jam Felix berbunyi, menandakan aku harus segera kembali ke ruangan ku sendiri karena jam santai sore telah usai. Dengan berat hati aku pamit, dan berjanji akan sesering mungkin menemui sang kakek. Aku bahkan menjadikannya tamu istimewa dalam pernikahan ku nanti. Ternyata tak butuh waktu lama untuk dekat dengan seseorang yang ditakdirkan untuk kita.
"Kau darimana saja, aku cukup lama menunggumu disini." Tutur Jason, setibanya aku di kamar inap.
"Aku habis menemui kakek." Ujarku tanpa penjelasan.
"Hah, kakek siapa? Bukannya kakek kita sudah tiada?" Tanya Jason heran.
"Aku punya kakek baru, nanti tanya Felix saja kalau kepo. Sekarang bahas soal pernikahan ku dulu." Pinta ku sesuka hati.
"Dasar sudah merepotkan, masih saja tak tahu diri." Gerutu Jason sedikit kesal.
"Jadi?" Tanyaku singkat.
"Semua undangan sedang dalam proses penyebaran. Lalu gedung sudah kita sewa selama tiga hari, souvernir sudah dikirimkan ke vila dan sedang di periksa oleh orang-orangmu, seragam kerabat sudah dikirim ke rumah masing-masing, undangan VVIP dari berbagai negara sudah dipesankan penerbangan dan hotel, semua beres tinggal mempelai pria saja yang sedang dalam masa pemulihan." Rinci Jason.
"Tambah satu tamu istimewa dan siapkan segala keperluannya, utus Jane dan Alex untuk mengurus kakek." Pintaku tambahan.
"Baiklah, akan ku siapkan. Mengenai obat kuat apa harus aku siapkan juga?" Jason memang kurang ajar kuadrat seratus, bisa-bisanya dia bertanya seperti itu.
__ADS_1
"Yakkkk....kau pikir aku apa?" Sial*n kau Jas." Teriakku tak terima, berbalas suara cekikikan Jason dan Felix dan beberapa penjaga yang bertugas, membuat malu saja.