
Aku kesulitan meneguk ludahku. Jika ini terjadi lima tahun yang lalu, Marcus pasti sudah tertawa dan menarikku ke dalam dekapannya lalu mencium dengan menggebu. Apa yang baru saja aku pikirkan? Aku menggelang pelan.
Marcus mengambil air mineral dari kulkas. Aku kembali melanjutkan aktivitasku. Menyiapkan nasi dan lauk lainnya. Tak berapa lama Marcus pergi. Aku menggedikkan bahu tak peduli. Setelah makan malam siap aku pergi ke kamar Andrew untuk memanggilnya makan malam.
Beberapa menit kemudian kami sudah berada di meja makan. Marcus juga ikut makan bersama kami. Ada yang aneh dan mencurigakan di sini. Pria itu pasti merencanakan sesuatu. Dia tak pernah suka satu ruangan bersamaku. Jadi terasa sangat ganjal saat dia ikut makan bersamaku dan Andrew.
Tak ada yang aneh saat makan malam. Marcus juga tak mengatakan apapun. Pria itu hanya diam menatap tajam ke arahku, sesekali dia menjawab pertanyaan Andrew tentang pekerjaan. Selebihnya dia hanya diam dan langsung pergi setelah selesai makan. Mungkin prasangka burukku tadi hanya khayalan semu. Marcus tak merencanakan hal jahat apapun.
Namun saat aku dan Andrew tengah duduk bersantai di ruangan keluarga sambil menonton tv. Keanehan terjadi, perutku tiba-tiba melilit. Kupikir hanya masalah pencernaan biasa tapi ternyata bukan hanya aku, Andrew juga mengalami hal yang sama. Kami sama-sama terburu pergi ke toilet. Untungnya di kamarku ada toiletnya. Berulang kali aku keluar masuk toilet. Astaga, ini sangat menyiksa. Setelah merasa cukup baik aku keluar kamar dan melihat keadaan Andrew. Pria itu terbaring lemas di atas ranjang. Ya Tuhan, apa yang terjadi sebenarnya?
"Andrew, kau baik-baik saja?"
"Perutku melilit sejak tadi. Aku sudah menelpon dokter Rio untuk segera kemari."
"Apa yang terjadi? Perutku juga melilit."
"Semua ini gara-gara kau." Marcus tiba-tiba masuk dengan seorang pria paruh baya.
"Apa maksudmu?" Alisku naik sebelah menatap Marcus.
"Kami semua sakit perut pasti karena makanan yang kau masak."
"Jangan asal tuduh Marcus." Bantah Andrew.
"Kita sakit perut setelah memakan masakannya ayah!"
"Kau tak bisa asal menuduhku jika tak memiliki bukti Marcus." Aku berdiri di hadapannya dengan wajah tak suka.
"Kau pasti sengaja meracuni makanan itu, bukan. Atau kau memang tak bisa memasak."
"Sudah, keluarlah. Biarkan dokter Smith memeriksaku." Dengan berat hati aku bersama Marcus keluar dari kamar Andrew. Mataku menatap tajam ke arah Marcus. Sebelumnya dia berada di dapur, jangan-jangan Marcus menyabotase makanan yang kumasak.
"Semua ini perbuatanmu, bukan? Kau sengaja memasukkan sesuatu ke masakanku."
"Jangan asal tuduh jika kau tak memiliki bukti," sangkal Marcus cepat.
"Aku yakin kau melakukannya."
"Untuk apa aku melakukan hal seperti itu?"
"Kau ingin memberikan kesan buruk tentangku di mata Andrew."
"Asal kau tahu, perutku juga melilit karena masakanmu. Dasar jalang, lebih baik kau tak usah masuk ke dapur lagi jika yang kau lakukan hanya memasak makanan beracun seperti ini." Setelah mengatakan itu Marcus pergi begitu saja. Aku yakin ini salah satu rencananya untuk membuat Andrew membenciku. Dasar pria brengsek itu benar-benar menyebalkan.
Aku berbalik dan kembali masuk ke dalam kamar Andrew. Dokter Rio baru saja selesai memeriksa Andrew.
"Bagaimana perutmu?" Aku duduk di pinggir ranjang Andrew. Menggenggam tangannya erat.
"Sudah lebih baik. Kau juga minum obat, tadi kau bilang perutmu juga sakit." Aku mengangguk pelan.
"Jangan asal makan lagi dan minum obat itu lagi jika besok perutmu masih bermasalah," ucap dokter Rio.
"Baik dokter."
"Kalau begitu aku permisi dulu. Mari, tuan Andrew dan nona Shelina." Aku berdiri dan mengantar dokter Rio pulang. Saat berdiri di depan pintu aku menahannya.
"Sebenarnya apa yang salah dokter? Mengapa perut kami sakit dan melilit? Apa benar karena masakanku? Tapi aku tak memasukkan bumbu yang salah." Dokter Rio tersenyum simpul sebelum berkata.
"Sepertinya ada yang tanpa sengaja memasukkan obat pencuci perut ke dalam masakanmu."
Mataku membesar.
__ADS_1
Obat pencuci perut? Pantas saja perutku melilit dan bolak balik ke toilet. Dan dokter Rio bilang tanpa sengaja. Orang bodoh mana yang melakukan hal itu tanpa sengaja. Ini semua pasti ulah Marcus, pria itu benar-benar brengsek.
Bab 8
Sudah seminggu aku tinggal di mansion keluarga Cho. Seminggu yang terasa bagaikan setahun lamanya. Di satu sisi aku bahagia bisa tinggal bersama dengan Andrew, tapi aku benci kenyataan bahwa Marcus juga tinggal di sini. Pria itu selalu saja mencari kesalahanku. Dia juga tak henti-hentinya menghina dan merendahkanku. Kami selalu saja bertengkar setiap kali bertemu. Ada kalanya hatiku perih dan menangis karenanya namun ada juga saat aku merindukan sosok Marcus yang dulu. Sosok yang tak akan pernah aku temui lagi dalam diri Marcus sekarang.
Seakan takdir ikut serta menyiksa dan memberikanku cobaan, saat ini Andrew akan pergi ke luar negeri dalam rangka perjalanan bisnisnya. Aku tak terlalu mengerti, tapi Andrew mengatakan jika dia harus ke Jepang selama satu minggu untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan di sana. Itu berarti hanya ada aku dan Marcus di mansion ini. Tak sepenuhnya kami berdua karena masih ada pembantu dan pekerja lainnya.
Tapi, tetap saja. Aku yakin Marcus akan menyiksaku habis-habisan selama seminggu ini. Andrew ada di sini saja, Marcus sering menghina dan menyudutkanku apalagi jika pria itu pergi. Makin merajarela sikap dan mulut pedas Marcus.
"Apa kau harus pergi? Maksudku tak bisakah orang lain yang menghadiri pertemuan itu? Mengapa tidak Marcus saja yang menggantikanmu?"
"Kau pikir aku tak memiliki pekerjaan lain. Aku sibuk dengan rapat dan pertemuan dengan klien yang lain." Suara ketus Marcus menjawab pertanyaanku.
Aku mengabaikan Marcus dan tetap menatap Andrew. Berharap dia merubah keputusannya.
"Tidak bisa Shelina. Ini pertemuan penting, jika pertemuan ini berhasil maka perusahaan Cho akan membuka cabang di Jepang."
"Bagaimana jika aku ikut denganmu ke jepang?" Sungguh aku sama sekali tak mau di mansion hanya berdua dengan Marcus. Itu sangat menyiksa pikiran dan hatiku. Aku takut goyah dan menyerah.
"Kau pikir ayah sedang berlibur." Lagi-lagi aku mengabaikan Marcus. Lagipula aku tidak bertanya dengannya. Dasar menyebalkan!
Aku mendengus dan tak melihat ke arah Marcus sedikitpun. Biarkan saja dia berbicara dengan angin yang berlalu.
"Tidak bisa Shelina. Aku ke jepang untuk bekerja. Lagipula kau pasti akan bosan jika ikut bersamaku. Dan kau masih harus mengurus Wonderful Cafe, bukan?" Aku mengehela napas panjang. Tak ada yang bisa kulakukan.
"Selama aku pergi kau harus jaga sikapmu kepada Shelina. Jangan menyulitkan ataupun menghinanya. Kau mengerti," ucap Andrew kepada Marcus. Yang dijawab dengan nada malas dan enggan.
"Aku tak janji."
"Aish anak ini." Andrew mendecakkan lidah kesal menghadapi Marcus. Lalu kembalu beralih kepadaku.
"Kau harus jaga kesehatanmu." Aku mengangguk patuh.
"Ya. Jika Marcus menganggumu kau harus mengataknnya padaku, biar aku yang memarahinya."
"Segera hubungi aku jika sesuatu terjadi padamu, mengerti." Aku mengangguk lagi dan Andrew segera menarikku ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap punggungku.
Tak lama kemudian siwom melepaskan pelukannya. Memegang kopernya dan bersiap pergi.
"Aku pergi. Jaga Shelina baik-baik, Marcus." Andrew pun pergi menjauh dengan menarik satu koper besar. Di samping Andrew, seorang pria yang aku kenal sebagai sekretaris juga mengikutinya.
Entah mengapa hatiku begitu sedih? Aku tak mengerti dengan perasaan gelisah ini. Seakan ada hal buruk yang akan terjadi selama kepergiannya. Selama ini aku selalu berlindung dan bersandar pada Andrew. Aku takut Jonathan kembali muncul dan menemuiku. Aku tak akan sanggup menghadapi pria itu tanpa Andrew. Dan aku merasa sangat kehilangan Andrew. Mataku terus saja menatap jalan yang di lalui oleh Andrew. Walaupun pria itu sudah tak terlihat lagi.
"Berhenti berakting. Andrew sudah pergi, jadi kau bisa berhenti berpura-pura menjadi wanita yang lemah dan mencintainya." Suara sinis Marcus tak mempengaruhuku, aku tetap menatap jauh ke depan.
"Mengapa dia harus pergi begitu lama?" Lirihku pilu.
"Menyedihkan! Satu minggu bukanlah waktu yang lama. Dan aku tak yakin kau merindukannya, bukankah saat ini kau senang bisa bebas dari Andrew. Kau pasti sudah lama tidak pergi ke club malam dan mencari pria yang bisa memuaskanmu."
Aku mendelik tajam ke arah Marcus. Tak bisakah dia berhenti berbicara omong kosong seperti itu. Aku tak bisa tinggal di mansion keluarga Cho hanya berdua bersama Marcus saja. Bisa gila aku karena bertengkar terus menerus dengannya. Aku berbalik dan pergi meninggalkan Marcus begitu saja.
"Hei! Kau mau kemana?" teriakan Marcus tak aku perdulikan.
"Bukan urusanmu." Aku melambaikan tangan tak perduli.
"Ah, kau pasti ingin ke club malam dan nencari pria yang bisa kau ajak bersenang-senang di ranjang."
"Ya, jadi aku tak akan kembali ke mansion selama Andrew pergi." Aku mengambil kacamata dan memakainya. Biar saja Marcus berpikir aku akan bersenang-senang seperti itu. Aku sama sekali tak peduli. Selama satu minggu ini lebih baik aku tinggal di tempat Evelyn saja.
˙°♡♡♡°˙
__ADS_1
Kini aku berdiri di depan pintu flat Evelyn. Aku sudah membawa beberapa baju untukku pakai selama tinggal di sini. Pintu itu terbuka, menampilkan sebuah ruang yang lebih kecil dari kamarku di mansion keluarga Cho.
"Tante." Suara seorang gadis kecil mencuri perhatianku. Aku berjongkok tepat di hadapannya. Gadis kecil yang berumur empat tahun. Gadis kecil yang cantik dengan mata besar, pipi tembam dan rambut hitam panjang. Dia mirip boneka. Dan aku selalu gemas melihatnya.
"Dimana mama mu?" tanyaku padanya.
"Mama sedang membeli susu di supermarket."
"Oh, ayo masuk. Tante bawakan donat untuk Angel." Dengan senang Angel menarik tanganku untuk masuk.
Beberapa menit kemudian Evelyn pulang. Sejak dia tiba hingga duduk di depanku, Evelyn selalu saja menatapku dengan mata tajamnya. Aku tau kehadiranku sangat menganggunya.
"Bisakah kau berhenti menatapku. Aku hanya menumpang menginap selama beberapa malam saja di sini. Dan jangan cemaskan makananku, jika itu yang kau pikirkan."
"Kau tau bukan itu maksudku. Mengapa kau menginap di sini? Bukankah kau tinggal di mansion Andrew. Apa Andrew mengusirmu? Tidak, itu tak mungkin. Pasti Marcus yang mengusirmu bukan? Pria itu benar-benar cari mati di tanganku."
"Tidak, Marcus tidak mengusirku. Tapi aku yang sengaja pergi untuk menginap di sini. Aku tak mau tinggal berdua saja di sana bersama Marcus."
"Maksudmu?"
"Andrew pergi selama seminggu ke jepang untuk urusan bisnis. Karena tak mau serumah dengan Marcus, jadi aku mengungsi kemari. Kumohon terima wanita menyedihkan yang tak memiliki rumah ini di sini."
"Aku tak mungkin mengusir bosku sendiri bukan." Aku langsung tersenyum senang. Aku tau bukan itu alasan sebenarnya Evelyn menerimaku di sini.
"Tapi kau yang harus membelikan makan malam selama seminggu tinggal di sini."
"Baiklah."
˙°♡♡♡°˙
Aku berdiri di depan Mansion keluarga Cho. Aku lupa membawa peralatan mandiku. Jadi setelah pulang dari Wonderful Cafe aku langsung kemari. Setelah beberapa detik menunggu akhirnya seorang wanita paruh baya membukakan pintu untukku. Suasana mansion sangat sepi.
"Nona Shelina mengapa tidak pulang semalam?"
"Aku menginap di tempat temanku. Dan akan menginap di sana selama semunggu."
"Ah begitu," jawab mbok Sari sambil menghela napas lega. Aku menoleh dan merasa ada yang salah dengan nada suaranya.
"Kenapa? Apa Andrew menelpon dan mencariku?"
"Tidak, tapi tuan muda Marcus terus bertanya apa nona sudah pulang atau belum."
"Benarkah?"
"Ya, sepertinya tuan muda mencari nona sepanjang malam."
Aku mendengus pelan. Bukannya tak ingin percaya dengan ucapan Mbok Sari, tapi itu sangat mustahil Marcus lakukan. Aku ingat pembicaraan kami kemarin di bandara. Dia sendiri yang menyindir tentang aku yang mencari pria lain untuk bersenang-senang. Jadi tidak mungkin dia mencariku sepanjang malam. Oh ayolah, dia bukan anak yang penurut dengan ucapan ayahnya. Dia anak pembangkang.
"Apa Marcus sudah pulang kantor?" Ini sudah jam enam sore. Sudah jam pulang kerja. Walaupun aku tak yakin Marcus sudah pulang, pertanyaanku itu hanya untuk basa-basi saja dengan Mbok Sari.
"Tuan muda tidak pergi ke kantor hari ini."
"Apa! Kenapa?" Keningku mengerut dalam dan langsung bertanya cepat.
"Tuan muda sedang sakit. Dia sedang tidur di kamarnya."
Aku tak percaya ini. Marcus sakit?! Dengan cepat aku berjalan menuju kamar Marcus. Membuka pintu dan mendapati pria itu tengah tertidur di atas ranjang. Astaga!
Aku berjalan perlahan menghampiri ranjang Marcus. Berdiri di sisi ranjangnya. Marcus adalah pria yang kuat. Selama aku mengenalnya, dia tak pernah jatuh sakit. Ini pertama kalinya aku melihat dia selemah ini. Matanya terpejam dengan erat. Tanganku terulur untuk menyentuh keningnya.
Ya Tuhan, suhu tubuhnya tinggi sekali. Aku tak bisa membiarkannya sakit seperti ini. Sebenci apapun aku pada Marcus, aku harus merawatnya. Dia tengah sakit dan hanya aku yang ada di sini. Andrew sedang pergi keluar negeri. Jadi sebagai calon ibu tiri sudah seharusnya aku merawat Marcus agar segera sembuh. Dengan cepat aku keluar kamar mencari mbok Sari dan menanyai bagaimana dia membiarkan suhu tubuh Marcus seperti itu.
__ADS_1
Dan mbok Sari menjelaskan bahwa Marcus menolak dan mengusirnya. Mbok Sari juga bilang jika dia ingin menelpon dokter tapi Marcus melarangnya. Pria itu bersikeras jika dia akan sembuh hanya dengan beristirahat saja. Dasar pria keras kepala.