Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 34. aku mencintaimu


__ADS_3

"Apa orang-orangmu sudah memperbaiki semua kerusakan di Wonderful Cafe?" Andrew memecah keheningan. Aku menyembunyikan senyuman dan berusaha untuk terlihat biasa dan kembali melanjutkan makanku dengan tenang.


"Ya, tadi Albert sudah menelpon dan mengatakan semua sudah beres. Jadi besok cafe sudah bisa kembali dibuka."


"Bagus." Setelah itu kami makan dalam hening hingga selesai.


Setelah makan malam, Andrew mengajakku bicara mengenai pernikahan kami. Dia mengatakan ingin mempercepat pernikahan, padahal hanya tinggal menghitung hari. Kurang dari seminggu lagi dan dia masih ingin mempercepatnya.


Tapi aku mengerti kekhawatirannya. Dia takut Jonathan kembali menyakitiku. Jika aku sudah berstatuskan istri sahnya, Jonathan pasti akan berpikir dua kali untuk menyakitiku. Karena Andrew pasti akan menuntutnya.


Andrew juga mengatakan bahwa undangan sudah selesai dicetak dan disebar ke semua kerabat, teman dan rekan bisnisnya. Dia juga memberikan aku beberapa undangan untuk kuberikan kepada teman-temanku.


Dan kini aku tengah duduk di atas ranjang memandang lekat pada puluhan undangan pernikahanku dengan Andrew di atas kasur. Jika ini sebulan yang lalu, aku pasti akan senang melihat undangan ini. Dan pasti kebingungan siapa saja yang harus kuundang. Tapi kini ... aku meragukan semua ini. Hatiku sudah berubah. Tidak, bukan berubah tapi kembali kepemilik sebenarnya.


Mengapa harus sekarang aku mengetahui kebenaran tentang Marcus? Mengapa kami harus dipertemukan dalam keadaan seperti ini? Dan mengapa Andrew sangat baik hingga aku tak berani untuk mengecewakan dan menghianatinya? Aku tak sanggup membatalkannya. Tapi, aku tak yakin akan bahagia dalam pernikahan ini. Karena hatiku sudah dimiliki sepenuhnya oleh Marcus. Dan ingin dia yang menjadi suamiku.


Sebuah ketukan di pintu menyadarkanku. Aku bangkit dan berjalan, lalu membuka pintu kamar. Marcus berdiri di depanku.


"Belehkah aku masuk? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Tak ada nada suara ketus ataupun tatapan tajam darinya. Aku mundur selangkah dan membiarkan Marcus masuk ke dalam kamarku. Lalu pria itu menutup pintu dan menguncinya. Aku mengerutkan kening bingung.


"Mengapa kau menguncinya?"


Marcus tak menjawab dan menarik lenganku untuk mengikuti langkahnya menuju ranjang. Dia berhenti di pinggir ranjang dan menatap puluhan undangan di atas kasur. Tangan Marcus melepaskanku dan bergerak cepat menaiki ranjang dan merangkum semua undangan itu ke dalam genggamannya dan berjalan ke keranjang sampah di sudut kamar dan membuangnya begitu saja. Mataku membesar melihat aksi Marcus.


"Apa yang kau lakukan? Mengapa kau membuangnya?" Aku berjalan menghampirinya dan hendak mengambil kembali semua undangan dari keranjang sampah. Tangan Marcus menahan lenganku.


"Kau bisa mengambilnya nanti. Saat ini aku tak ingin melihat itu dan ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu."


Marcus mendudukkanku di pinggir ranjang dan dia berjongkok tepat di hadapanku. Apa yang akan dia lakukan? Dan apa yang ingin dia bicarakan?


"Maafkan aku," ucap Marcus sambil mengenggam erat kedua tanganku. Aku terdiam dan membiarkan dia kembali berbicara.

__ADS_1


"Maaf atas semua ucapan kasar dan perlakuan burukku padamu selama ini." Aku mengangguk pelan.


"Aku juga minta maaf karena bersikap ketus dan membalas semua perlakuan kasarmu dengan hinaan," jawabku sambil menatap lekat mata hitamnya.


"Aku memang pantas mendapatkannya."


"Kita saling memaafkan, ya." Tanganku membalas genggaman Marcus sama eratnya. Kami saling memandang dan senyuman Marcus muncul. Senyum yang sangat jarang kulihat. Senyuman yang sama seperti dulu. Dan tatapan mata penuh cinta yang dulu aku dapatkan. Aku pun tersenyum lebar.


"Aku pasti sangat menyebalkan."


"Teramat sangat. Rasanya aku ingin sekali memukulimu." Marcus terkekeh.


"Maaf, aku tak tau apa yang terjadi padamu. Kupikir kau sudah tak mencintaiku karena tak pernah menjengukku di rumah sakit."


"Bagaimana aku bisa men—"


"Iya, aku tau. Aku juga salah, karena percaya dengan ucapan Siska dan hanya melihatmu dari jauh tanpa mendekati juga berbicara langsung denganmu. Hatiku saat itu sudah dibutakan dan hanya mempercayai apa yang kulihat."


"Benarkah aku seperti itu?" Aku mengangguk.


"Kau seperti abg labil yang berubah-ubah layaknya seseorang yang memiliki kepribadian ganda." Marcus tertawa keras. Dan aku memukul pundaknya kesal.


"Bagaimana aku tidak seperti itu jika kau terus hadir dalam setiap mimpiku." Aku membeku. Marcus tersiam sesaat. Matanya hanya tertuju padaku dan tak pernah teralihkan ke arah lain walau hanya sedetik.


"Shelina, aku mencintaimu." Aku menatap mata hitam Marcus yang mengunciku.


"Meski lima tahun telah berlalu, walau kau menyakiti dan meninggalkanku, tapi hati ini selalu milikmu. Aku marah dan bersikap jahat sebagai bentuk pertahanan juga kekesalanku karena kau mengabaikanku dan menyinyiakan hidupmu dengan menjadi seorang *******. Tapi sekeras apapun aku berusaha bersikap kejam dan jahat, hatiku selalu memanggil namamu. Aku terluka setiap kali melihat airmatamu. Aku marah setiap kali melihat kau dekat dengan pria lain. Bahkan dengan ayahku sendiri aku cemburu."


"Aku mencintaimu, Lina." Mataku berkaca-kaca. Jantung berdegup sangat cepat. Ribuan bunga datang menghampiri dan hatiku yang bersorak kegirangan karena kembali bertemu dengan pasangannya.


"Marc." Tangan Marcus terulur membelai pipiku.

__ADS_1


"Katakan bahwa kau juga mencintaiku?" Sorot matanya penuh pengharapan. Ada ketakutan dibaliknya, takut jika aku tak memiliki perasaan yang sama dengannya. Khawatir cintanya bertepuk sebelah tangan. Aku tersenyum begitu lebar hingga pipi terasa sakit.


"Aku mencintaimu." Mata Marcus bersinar begitu cerah. Dia mendekat ke arahku.


"Katakan sekali lagi." Wajah Marcus hanya berjarak beberapa centi dariku.


"Aku juga mencintaimu, Marc."


Kedua tangan Marcus menangkup pipiku dan mulutnya meraup bibirku. Mencium dan mencecap rasa untuk meluapkan semua kebahagiaan juga kerinduan yang dia rasakan untukku. Dan aku pun membalasnya dengan luapan emosi yang sama.


Dibalik kesedihan, luka dan kekecewaan yang kualami selama lima tahun ini, aku menyadari bahwa sesungguhnya aku sama sekali tak membencinya. Aku hanya menyangkal hatiku yang sangat merindukan Marcus. Merindukan pria pemilik hatiku.


Kami terhanyut dalam luapan emosi dan saling berciuman. Tangan Marcus meraih kancing piyamaku dan ingin membukanya. Aku terkejut. Melepaskan ciuman kami dan menahan tangan Marcus. Aku menatap matanya.


Aku memang sangat mencintainya tapi untuk hal 'itu'? Aku yakin itu salah. Seakan tau kegelisahan hatiku. Marcus membelai rambutku.


"Kau belum siap?" Gairah terpancar dari matanya. Kabut gairah masih menyelubungi kami.


"Aku rasa ini salah. Aku akan menikah dengan ayahmu."


"Aku akan membatalkan pernikahan itu. Kau hanya milikku, sejak dulu sampai kau menghembuskan napas terakhir."


"Tapi Marc—" jari telunjuk Marcus menahan pergerakkan bibirku yang masih ingin berbicara


"Sttt, jangan mengatakan apapun lagi. Biarkan aku yang memikirkan cara terbaik agar Andrew tak kecewa pada kita." Aku mengangguk dan hatiku sedikit lega. Aku percaya Marcus akan melakukannya. Dia juga menyayangi Andrew, jadi Marcus pasti tak akan bersikap gegabah.


"Jadi, kita bisa melanjutkannya bukan?" Aku membuang muka dan mengangguk pelan. Aliran daras panas berkumpul di wajahku. Aku tak sanggup menatapnya, wajahku pasti sangat merah saat ini.


"Kau sangat manis saat malu. Membuat aku tak sabar untuk memakanmu." Marcus dengan cepat menyerangku dan aku berteriak yang perlahan berubah menjadi desahan. Untungnya kamar ini kedap suara dan Marcus sudah mengunci pintu.


_____________

__ADS_1


Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih


__ADS_2