
Aku hanya tidur tiga jam semalam. Jam enam pagi orang rias datang. Mereka sangat terkejut dengan kondisiku. Mata membengkak dan wajahku pucat. Namun aku sama sekali tak menghiraukan ocehan dan perkataan mereka. Aku hanya terdiam membisu dengan pikiranku sendiri. Selalu terbayang wajah Marcus yang memohon kesempatan terakhir padaku semalam.
Apa pernikahan ini adalah keputusan yang tepat?
Pertanyaan itu berulang kali muncul dalam otakku sejak semalam .
Mencari jawaban yang sangat sulit untuk aku temukan karena hatiku meragu. Berulang kali aku menjawab bahwa inilah keputusan yang tepat namun entah mengapa aku selalu menyangkalnya. Hatiku selalu gelisah dan tak terima dengan jawaban itu. Seakan menuntutku untuk menjawab bahwa ini adalah keputusan yang salah. Bahwa pernikahan ini tak seharusnya terjadi.
"Shelina! Hei, Shelina!" Aku tersentak oleh tepukan tangan seseorang yang cukup keras di pundakku. Evelyn sudah duduk di sampingku dengan dress putih melekat indah di tubuhnya. Aku tersenyum kecil. Aku bahkan tak sadar jika aku sudah selesai didandani.
"Sejak tadi aku memanggilmu, tapi kau tidak menjawab. Kau melamun?"
"Evelyn, apakah keputusanku ini tepat?" Raut wajah Evelyn berubah. Dia menatapku dengan serius dan menarik tubuhku untuk menghadap ke arahnya.
"Shelina, kau tau bahwa apapun keputusanmu, aku akan tetap mendukung dan menyemangatimu. Namun jika kau bertanya tentang hal itu aku tak bisa menanggapinya, hanya hatimu yang bisa menjawab. Tanyakan kepada hatimu siapa yang kau inginkan? Ikuti kata hatimu agar kau tak gelisah ataupun menyesal dikemudian hari."
Aku terdiam dengan mengamati mata coklat Evelyn yang menyorotiku.
Tanyakan pada hatiku? Siapa yang aku inginkan? Andrew atau Marcus?
Aku mulai memejamkan mataku dan mencari jawabannya.
"Siapa yang selalu hadir dalam mimpimu?" Pertanyaan Evelyn terdengar dan saat itu juga wajah Marcus melintas dalam benakku.
"Siapa yang ingin kau lihat pertama kali saat bangun tidur di pagi hari?"
Terbayang wajah Marcus dengan senyuman memikatnya.
"Siapa yang kau inginkan menjadi ayah dari anak-anakmu?"
Tergambar Marcus bersama seorang balita imut yang melambaikan tangannya ke arahku. Membuat aku tersenyum lebar dan ingin menghampiri mereka.
"Kau sudah menemukan jawabannya?"
Aku membuka mataku dan menatap Evelyn dengan berkaca-kaca. Dari semua pertanyaan Evelyn tak ada satupun bayangan Andrew yang melintas.
"Evelyn," ucapku lirih padanya.
"Sudah kuduga , Marcus bukan." Aku mengangguk pelan.
"Kalau begitu kau tak bisa menikah dengan Andrew saat ini."
"Tapi aku tak bisa meninggalkannya begitu saja di altar."
__ADS_1
"Kau bisa jika Marcus datang dan menculikmu. Kalian bisa kabur dan kawin lari."
"Tapi Evelyn, bagaimana dengan Andrew?"
"Shelina, aku tau kau mencemaskan dan menghawatirkan Andrew. Tapi kali ini biarkan dirimu egois untuk mendapatkan kebahagianmu. Aku yakin Andrew akan melepaskanmu jika inilah yang membuatmu bahagia." Aku terdiam tanpa membantah ucapan Evelyn lagi.
"Tapi dimana pria itu? Aku tak melihat Marcus sejak tadi."
"Aku juga tak tau. Sejak semalam dia pergi dan belum kembali."
"Aish, dimana pria brengsek itu dalam keadaan genting seperti ini?" Evelyn mulai menghubungi ponsel Marcus. Aku tak tau dimana Marcus saat ini. Tak ada kabar sama sekali tentangnya. Dia pergi begitu saja setelah berbicara denganku semalam. Sampai saat ini dia belum kembali. Dia pasti marah dan kecewa padaku.
"Bagaimana?"
"Nomornya aktif tapi tidak dijawab. Aish, dimana Marcus? Seharusnya dia datang saat ini dan mengajakmu kabur. Apa dia akan membiarkanmu menikah dengan Andrew begitu saja?"
Aku juga gelisah. Dimana Marcus? Dia bilang akan melakukan apapun untuk menggagalkan pernikahan ini. Apa dia tidak akan datang dan mengajakku pergi? Apa dia sangat kecewa padaku? Apa perkataanku semalam sangat melukai hatinya hingga dia tak muncul saat ini? Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku tak bisa kabur sendiri. Aku tak memiliki keberanian sebesar itu untuk meninggalkan Andrew sendirian di altar. Namun jika Marcus datang dan mengajakku kabur bersamanya maka aku tak akan berpikir dua kali untuk pergi.
Tapi, dimana dia saat dibutuhkan seperti ini?
Evelyn masih mencoba menghubungi ponsel Marcus. Namun tetap saja tak ada satupun pesan yang dibalas ataupun panggilan yang dijawab.
"Nona, sudah waktunya mempelai wanita memasuki gereja."
"Ya, aku akan keluar sebentar lagi."
Bagaimana ini? Aku sudah tak bisa mundur lagi. Ya Tuhan, dimana Marcus saat ini? Mengapa dia tak bisa dihubungi? Apa ada sesuatu yang terjadi padanya? Mungkinkah dia mengalami kecelakaan semalam? Tapi, jika Marcus kecelakaan, Andrew pasti tahu.
Astaga! Marcus, kumohon datang dan bawa aku kabur bersamamu.
"Nona," panggilan mbok Sari menyadarkanku bahwa aku harus segera keluar. Evelyn menatap ke arahku.
"Keluarlah. Aku akan terus menghubungi Marcus. Jika dia tak datang sebelum ikrar janji suci pernikahan, aku akan membunuhnya." Aku mengangguk dan berdiri.
"Aish, Marcus angkat telponmu!" Aku berjalan meninggalkan Evelyn yang masih terus menghubungi Marcus. Berjalan dengan pemikiran yang tak berada pada tempatnya. Hingga kusadari aku sudah berdiri didepan pintu gereja.
Aku terdiam menatap pintu besar yang ada di hadapanku dengan takut. Seakan pintu itu akan memakanku jika aku membukanya. Seperti itu adalah pintu yang menentukan hidup dan matiku. Jantungku berdegup sangat kencang dan tubuh bergetar. Kakiku sangat berat seakan ada paku besar yang memaku telapak kaki ke dalam lantai. Begitu sulit untuk di gerakkan.
"Nona, kau sudah siap?" mbok Sari di belakang mengingatkanku. Namun aku tak bergeming dan tak bisa mengeluarkan sepatah katapun.
"Tenanglah nona, bibi tau nona pasti sangat gugup saat ini. Tarik napas dalam dan hembuskan, yakinlah bahwa semua akan baik-baik saja dan berjalan dengan lancar."
Mbok Sari berkata seakan dia tahu pasti apa yang aku alami saat ini. Mungkin dia berpikir aku hanya gugup dan grogi dengan pernikahan ini. Dia tak tau jika hatiku kini meragu dan tak menginginkan pernikahan ini lagi. Tapi, aku tak bisa berbalik dan pergi begitu saja. Aku tak bisa meninggalkan Andrew berdiri sendiri di altar dengan mempelai wanita yang tak akan pernah muncul.
__ADS_1
Seandainya Marcus ada di sini, seandainya pria itu sekali lagi memintaku untuk ikut bersamanya, maka aku akan pergi. Tapi bahkan keberadaan Marcus sekarangpun, aku tak tahu.
Aku tak bisa mundur dan membuat mereka menunggu lebih lama lagi. Kutarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Berulang kali aku melakukannya berharap kegugupan dan kegelisahanku ini mereda.
"Nona sudah siap?" Mbok Sari yang berdiri di sisi pintu bertanya dan aku mengangguk. Menarik napas panjang sekali lagi dan menghembuskannya dengan perlahan.
Tangan mbok Sari sudah menyentuh pintu dan hendak mendorongnya. Jantungku berdetak semakin kencang dan tanganku bergerak cepat menggenggam erat pergelangan tangan mbok Sari. Mataku langsung bertemu dengan mata teduh mbok Sari. Mata seorang ibu yang tak pernah aku lihat lagi.
Dia tersenyum lebar untuk menenangkanku. Seakan menyadarkanku bahwa inilah keputusan yang aku pilih. Aku memejamkan mata dan menarik napas panjang lagi. Lalu perlahan melepaskan tangan mbok Sari.
Ya Tuhan, semoga ini yang terbaik untukku.
Pintu di hadapanku terbuka dengan lebar. Dan perlahan mataku terbuka. Gereja diselimuti oleh dekorasi bunga putih. Dan sudah banyak tamu yang berdiri di sisi kanan dan kiri jalan. Dan di ujung jalanku berdiri seorang pria gagah dengan stelan tuxedo putih gading yang sama dengan warna gaun pengantinku. Dibawah puluhan pasang mata aku mulai melangkah.
Setiap langkah terasa sangat berat. Seakan ada satu ton pemberat yang diikat di kedua kakiku. Setiap kali aku mengangkat kaki untuk melangkah, tiap kali juga kakiku ditarik kencang ke tanah kembali. Seakan ada magnet yang sangat kuat menarik telapak kakiku untuk tak melangkah.
Mataku tak pernah berpaling dari wajah Andrew yang berada lima meter di hadapanku. Hatiku masih berharap wajah itu berubah menjadi orang lain. Aku ingin Marcus yang berdiri menunggukku dengan senyuman lebarnya.
Selangkah demi selangkah aku berjalan dengan pelan. Setiap langkah aku diingatkan kembali dengan kenanganku bersama Marcus.
Pertemuan kembali kami, pertengkaran dan percekcokkan yang terjadi. Ungkapan hati dan malam indah yang sudah kami lalui. Semuanya tergambar jelas bagaikan sebuah video pra nikah yang diputar dalam benakku. Hatiku diremas semakin kencang dan airmata mendesak untuk jatuh. Namun aku menahannya dengan kuat, mengepalkan kedua telapak tanganku dengan erat.
Walau aku berjalan sangat pelan seperti siput, tapi pada akhirnya aku tiba di hadapan Andrew. Pria itu mengulurkan tangannya ke arahku. Degup jantungku berdetak semakin kuat hingga menimbulkan rasa sakit yang teramat sangat. Aku memejamkan mata sejenak dan berdoa Marcus datang saat ini. Berharap pria itu mendobrak pintu dan berteriak kencang untuk mencegah pernikahan ini, lalu berlari menghampiri dan merengkuhku dalam pelukan hangatnya. Namun hingga aku membuka mata tak ada satupun hal itu yang terwujud.
Dengan enggan aku menggerakkan lengan dan meraih tangan Andrew. Lalu melangkah untuk berdiri di sisinya. Pendeta dihadapan kami tersenyum dan memulai prosesi pernikahan.
Aku sama sekali tak menghiraukan ucapan pendeta itu. Seakan pria tua itu tak berbicara padaku, seperti aku tak berada di sini.
Ya Tuhan, aku masih berharap Marcus muncul dan membawaku lari. Aku menginginkan dia disini bersamaku. Aku ingin dia yang menjadi calon suamiku. Aku mencintai Marcus hingga rasanya begitu menyesakkan. Aku ingin dia, ya Tuhan.
Bahkan sampai pendeta bertanya kesediaanku untuk menikah dengan Andrew pun, Marcus tetap tak datang.
"Nona Shelina Aston, Bersediakah kamu menikah dengan Andrew Cho, hidup bersama dengan dia selamanya dalam susah, senang, sedih maupun bahagia dalam keadaan apapun di hidupmu?"
Ini kedua kalinya pendeta bertanya padaku. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Andrew yang menatapku dengan intens.
Aku tak bisa mundur lagi. Aku tak bisa menunggu lebih lama. Aku sudah tak bisa mengharapkan kehadiran Marcus lagi. Aku tak bisa lagi bermimpi bersama dengan Marcus. Karena saat ini aku akan menerima Andrew seutuhnya.
Ya, aku bersedia.
Dan semuanya terjadi begitu saja.
________
__ADS_1
Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih