Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 16. Konfrontasi Siska


__ADS_3

"Marcus." Aku dan Marcus menoleh ke sumber suara. Siska berdiri di sana. Matanya membesar menatapku dan juga Marcus. Ini pertama kalinya aku bersyukur atas kedatangan Siska. Jika dia tak datang mungkin aku dan Marcus sudah bercinta di ruang keluarga ini.


Mata Siska menatap aku dan Marcus bergantian. Menyelidik dan mencari tahu apa yang baru saja terjadi diantara kami berdua sebelum dia datang. Lalu seringainya muncul mengejekku. Dia bersedekap tangan di depan dada sambil menatapku sinis dan tajam.


"Dasar jalang! Pelacur rendahan, hanya karena paman Andrew tak ada disini, kau dengan tak tahu malunya malah menggoda Marcus yang merupakan putra dari tunanganmu."


Rahangku mengeras kaku. Mataku manatap lekat Siska dan keinginanku untuk mencekik wanita itu begitu besar saat ini. Ingin sekali aku merobek dan mencabik-cabik mulut beracunnya itu.


Siska berdecak dan dengan dagu yang terangkat dan sorot mata yang merendahkan dia mengatakan kalimat yang membuat aku ingin menerjangnya saat ini juga.


"Seharusnya aku tak heran. Karena seorang anak tak akan jauh berbeda dengan ibunya. Sama-sama seorang pelacur rendah yang tak tahu malu."


Darahku menggelegak. Aku tak perduli apapun lagi. Saat ini aku ingin sekali mencekik dan merobek mulut ular berbisa itu. Dengan cepat aku bangkit dan menerjang ke arah Siska. Tanganku dengan cepat mendorong pundaknya dengan keras. Siska jatuh tersungkur. Dan aku dengan cepat menindihnya dan menampar wajah Siska.


"Berani-beraninya kau menghina ibuku." Aku menamparnya sekali lagi. Siska meronta dan aku tetap menahan tubuhnya di bawahku. Tangan Siska menjambak rambut panjangku yang terurai, hal itu yang semakin menyulut emosiku. Seperti minyak yang sengaja di tuangkan ke dalam api. Maka aku mengamuk dan memukuli Siska. Gadis itu juga mulai mencakar kulitku yang bisa dia gapai. Lenganku tergores namun aku tak menghiraukannya dan terus menampar wajah gadis jalang itu. Bahkan aku tak perduli dengan bibir Siska yang sudah mengeluarkan darah.


Bagaimana dia bisa menghina ibuku seperti itu? Apa dia seorang dewi yang jauh dari kata dosa? Dasar pelacur! Aku memang seorang jalang tapi aku melakukan itu karena tuntutan hidup dan tekanan ayahku. Sedangkan dia, Siska melacurkan diri hanya untuk bersenang-senang membiarkan pria asing memasuki tubuhnya. Mengangkang untuk semua pria yang dia temui di club malam. Gadis rendah berkedok putri keluarga terpandang seperti dia menghina ibuku!


Amarahku memuncak. Aku tak akan puas sebelum dia mengucapkan kata maaf untuk ibuku.


"Berhenti. Hentikan Shelina." Suara Marcus di belakang tubuhku dan dia menahan kedua tanganku dan menariknya. Hal itu malah membuat Siska lepas dan gadis itu menampar wajahku. Aku menggeram dan melepaskan diri dari Marcus. Kembali ingin menghajar gadis sialan itu. Tapi kini Marcus berdiri di tengah-tengah kami.


"Berhenti. Cukup!" Deru napas Marcus cepat. Dia menatapku dan Siska bergabtian dengan mata tajam yang mengintimidasi.

__ADS_1


"Menyingkir Marcus." Marcus berdiri tengak di tengah-tengah kami dengan menghadap ke arahku.


"Sudah cukup Shelina! Siska sudah terluka karena dirimu."


"Cukup? Aku tak akan berhenti sebelum dia meminta maaf sudah menghina ibuku!"


"Kau sudah melukainya, apa kau masih tidak puas?" Sorot mataku menangkap pergerakan Siska yang merangkul tangan kiri Marcus. Gadis itu tersenyum miring ke arahku membuat aku menggetakkan gigiku menahan amarah.


Aku menatap Marcus kembali. Sikapnya seolah dia membela dan melindungi Siska. Jelas-jelas gadis itu yang bersalah tapi mengapa dia malah menatapku seperti itu? Seakan semua adalah kesalahanku. Seperti aku adalah tersangka utama yang memicu pertengkaran ini. Damn!


Dengan cepat aku berbalik dan bergegas menuju kamarku di lantai atas. Mataku berkaca-kaca, terasa panas dan membakar. Terutama hatiku. Ada bara api yang belum padam didalamnya.


Aku membanting pintu kamarku. Dan dengan membabi buta menarik selimut dan sprei ranjangku. Lalu menyingkirkan apapun yang ada di atas meja riasku. Tak cukup dengan mengacaukan keadaan kamarku. Aku masuk ke dalam kamar mandi dan memukul dinding dengan berteriak berulang kali. Hingga dinding kamar mandi terkena noda merah akhirnya aku berhenti. Terdiam dengan menyandarkan keningku ke dinding. Mencoba mengatur deru napasku yang memburu.


Aku kesal dan marah. Hatiku panas membara. Aku tak mengerti mengapa amarahku sebesar ini? Apa karena hinaan Siska kepada ibuku atau karena sikap Marcus yang memilih membela dan melindungi Siska?


Bab 11


Alarm mengusik tidurku. Mataku sangat berat untuk terbuka. Semalam setelah menumpahkan isak tangisku aku berbaring dan tertidur. Aku bahkan melewatkan makan malam. Mataku terbuka seutuhnya. Aku terdiam menatap langit-langit kamar. Hal yang selalu aku lakukan ketika sedang berpikir seorang diri di kamar.


Semua kejadian kemarin tergambar jelas di langit kamar. Seperti menonton sebuah film dengan aku sebagai pemeran utama wanita.


Kejadian saat Marcus mengajakku bermain ps, lalu beralih ke saat kami berdua berciuma dengan sangat hot dan lapar.

__ADS_1


Apa yang terjadi saat itu? Keningku mengerut dalam. Aku bergairah dan sedikit sentuhannya sudah membuatku mendambakan Marcus. Bahkan saat itu aku sama sekali tak mengingat keberadaan Andrew yang merupakan tunanganku.


Lalu, kejadian berputar kembali saat Siska datang, perkelahian dengan gadis itu dan airmataku yang sulit berhenti hanya karena Marcus lebih memilih membela dan melindunginya.


Mengapa aku bisa seperti itu? Begitu besarkah dampak Marcus padaku? Sedikit sentuhannya sudah membuatku bergairah. Sikap Marcus yang membela gadis lain membuatku terluka. Ya Tuhan, dia bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang pria dari masa laluku. Tak sepantasnya aku masih menyimpan perasaan pada Marcus. Aku mengeram frustasi.


Lalu wajah Andrew dan Jonathan muncul dalam pikiranku. Menyadarkan aku satu hal paling penting saat ini, pernikahanku dengan Andrew. Pernikahan yang akan membebaskanku dari jerat Jonathan.


Aku sudah membulatkan tekadku kembali. Aku harus menikah dengan Andrew. Aku mesti menjauhi Marcus. Pria itu berbahaya! Sangat berbahaya untuk tubuh dan juga hatiku.


Suara pesan masuk membuat aku terlonjak dan meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Sebuah pesan dari Andrew.


'Aku sudah menghubungi Leonardo bahwa kau akan menemuinya bersama Marcus jam sembilan nanti. Pilihlah dekorasi pesta dan gedung yang kau inginkan, Shelina.'


Aku hampir lupa dengan hal itu. Jam sembilan nanti. Dua jam dari sekarang. Apa yang harus kukatakan jika bertemu dengan Marcus?


Aku mengusap wajahku kasar. Bukan saatnya memikirkan itu, lebih baik aku mandi dan bersiap-siap lalu turun untuk sarapan.


Setengah jam kemudian setelah selsai mandi dan berdandan, aku berjalan ke ruang makan. Kakiku terhenti sebentar. Ada Marcus di sana sedang memakan sarapannya. Ada sedikit keraguan untuk melangkah dan duduk satu meja dengan Marcus. Ditambah lagi hanya dia seorang disini. Aku khawatir jika hal seperti kemarin akan terulang kembali. Aku takut tak bisa menghentikannya. Tapi aku tak mungkin menghindari Marcus karena aku harus pergi bersamanya untuk menemui Leonardo.


Aku sudah mencari alasan agar bisa pergi sendiri menemui Leonardo, tapi Andrew tak mau mendengarkan dan ingin aku ditemani oleh Marcus. Andrew bilang Marcus bisa menjadi supir yang mengantarkan dan menemaniku. Aku tak bisa membantahnya, ketika dia mengatakan hal itu agar aku dan Marcus lebih dekat. Dia ingin aku dan Marcus berteman. Jika Evelyn mendengar hal ini, dia pasti akan tertawa terbahak-bahak.


Aku berjalan mendekat. Ada segelas susu coklat dan roti lapis di atas meja. Apa itu untukku? Aku duduk dengan kening mengerut dalam. Dari kemarin Marcus membuatkanku sarapan. Apa sebenarnya tujuan pria itu bersikap ramah seperti ini padaku?

__ADS_1


__________


Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih


__ADS_2