Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 23. Fitting Baju pengantin


__ADS_3

Aku mencoba mengusir ketidaknyamananku akan sikap yang Marcus tampilkan. Lalu kembali memfokuskan semua perhatianku pada Andrew.


"Kapan kau pulang? Mengapa tidak menghubungiku?"


"Jam tujuh tadi aku sampai. Aku memang sengaja tak memberitahukanmu untuk memberikan kejutan. Tapi bukan aku yang terkejut malah kau yang membuat aku khawatir. Aku tak bisa menghubungi ponselmu. Dan Marcus tak menjawab panggilanku."


"Maafkan aku yang membuatmu khawatir."


"Sudahlah, yang penting kau baik-baik saja. Ini sudah malam pergilah tidur. Besok kita bicara lagi. Ada banyak hal yang ingin aku katakan dan tanyakan padamu."


Aku mengangguk pelan. Andrew langsung mencium keningku dan mengantar ke kamar. Lalu dia pergi menuju kamarnya sendiri.


Bab 13


Pagi ini kami sarapan bersama. Aku, Andrew dan Marcus. Keheningan menyelimuti kami, tak ada satu orang pun yang berbicara. Ketika aku hendak meraih selai coklat yang cukup jauh dari jangkauan, Marcus sudah mengambil dan meletakkannya di hadapanku. Aku menoleh dan tersenyum ke arahnya.


"Sepertinya hubungan kalian membaik setelah aku tinggal pergi." Aku tersentak dan langsung menoleh ke arah Andrew. Pria itu tersenyum ke arahku lalu Marcus. Senyuman yang membuat hatiku tak tenang. Hubunganku dengan Marcus memang membaik bahkan terlalu baik. Aku ingat sudah lebih dari tiga kali Marcus menciumku. Hal itu membuatku merasa bersalah kepada Andrew. Tak seharusnya aku berciuman dengan Marcus. Aku bahkan menerima dan membalas cumbuan pria itu.


"Aku senang kalian menjadi akrab." Seandainya dia tau apa yang sudah terjadi selama beberapa hari ini, aku yakin ia tak akan mengatakan hal itu. Dia pasti kecewa kepadaku. Aku hanya diam tak tau mau menjawab apa.


"Ya, setelah beberapa hari berbicara dengannya, aku yakin Shelina adalah gadis yang baik." Aku mendongak dan menatap mata Marcus yang melihatku.


"Jadi, sekarang kau setuju dengan pernikahan kami."


"Tidak. Aku menerima keberadaannya di rumah ini tapi tidak untuk menerimanya sebagai ibu tiriku. Sampai kapanpun aku akan tetap menentang pernikahan kalian."

__ADS_1


"Kau sudah menerima keberadaannya tapi kenapa kau tak setuju dengan pernikahan kami?" Marcus terdiam dan menatap mataku lekat sebelum beralih ke Andrew.


"Karena dia terlalu muda untukmu. Dia terlalu muda untuk menjadi ibu tiriku."


"Ya, memang sulit menerima jauhnya perbedaan umur kami. Tapi aku yakin berlalunya waktu, kau pasti akan menerima Shelina sebagai ibu tirimu." Aku mengamati raut wajah Marcus. Rahangnya mengeras dan uratnya menegang namun tak ada sedikitpun kata penolakan yang keluar untuk menentang ucapan Andrew.


"Bagaimana pertemuanmu dengan Leonardo?"


"Berjalan lancar. Dan aku sudah memilih dekorasi yang kuinginkan. Leonardo juga menanyakan kapan kau pulang, untuk fitting baju pengantin."


"Benarkah? Aku akan segera menghubunginya. Jam makan siang nanti aku akan menjemputmu, kita akan melakukan fitting baju pengantin." Aku menoleh dengan cepat ke arah Andrew.


"Siang nanti?" Keningku mengerut. Apa tidak terlalu cepat?


"Kita harus segera fitting baju pengantin, Shelina. Apalagi butuh waktu yang lama untuk gaunmu, sedangkan pernikahan kita hanya tinggal lima belas hari lagi." Mataku membesar. Lima belas hari?


"A—aku tak menyangka waktu cepat sekali berlalu."


"Kenapa? Apa kau tak suka?" Melihat sorot mata Andrew yang khawatir. Aku langsung tersenyum lebar, mencoba meyakinkan Andrew jika aku senang.


"Aku senang sebentar lagi kita akan menikah." Bibirku masih tersenyum lebar tapi entah mengapa hatiku tak merasakan apapun. Bahkan rasa antusias yang dulu aku rasakan ketika Andrew melamarku pun tak ada.


Tangan Andrew terulur menyentuh puncak kepalaku, lalu mengusapnya. Aku menoleh ke arah Marcus. Apa yang dia pikirkan? Entah mengapa hatiku ingin mengatakan bahwa aku sudah tak menginginkan pernikahan ini lagi. Tapi, aku tak mungkin mengecewakan Andrew. Lagipula mengapa aku ingin membatalkan ini? Apa karena Marcus? Apa karena sikap baik pria itu selama beberapa hari ini kepadaku?


Marcus menyudahi sarapannya. Dia berdiri dan pergi begitu saja tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.

__ADS_1


Apa yang kuharapkan? Apa aku berharap Marcus menentang pernikahan kami karena dia masih mencintaiku? Apa aku berharap Marcus masih menyimpan rasa untukku?


Aku terdiam dan menantap punggung Marcus yang semakin menjauh. Berhenti berharap dan bermimpi. Marcus mungkin bisa memberikanku perhatian dan cinta tapi pria itu tak akan mau menikah dengan seorang wanita jalang seperti diriku. Seorang pelacur yang menjual tubuhnya ke pria kaya hanya untuk mendapatkan uang. Dia tak akan sudi menikahi wanita yang sudah ditiduri oleh puluhan pria sepertiku.


Aku menghela napas panjang. Ya, seharusnya aku tau diri. Aku seharusnya bersyukur karena Andrew mau menikahiku. Aku tau betapa besar rasa sayang yang ia miliki untukku.


˙°♡♡♡°˙


Kini aku memakai gaun pengantin pilihanku. Gaun putih dengan kerah sabrina. Aku suka gaun pengantin ini. Simple tapi sangat cantik.


"Nona, sudah siap?" Aku mengangguk kepada wanita yang membantuku memakai gaun ini. Saat ini dia bersiap untuk membuka tirai yang memisahkan tempat ini dari ruangan orang-orang yang menunggu di luar. Aku datang bersama Andrew kemari dan kini pria itu tengah menunggu dibalik tirai ini. Bagaimana reaksinya ketika melihatku memakai gaun ini?


Perlahan tirai terbuka. Kepalaku mendongak perlahan dan seketika membeku. Wajah pria yang di hadapanku bukanlah orang yang aku inginkan untuk melihatku saat ini. Dia bukan Andrew tapi Marcus. Matanya menatap lekat ke arahku. Kini tirai terbuka dengan sangat lebar. Mata Marcus menelusuri tubuhku. Dari atas ke bawah lalu kembali ke atas.


Degup jantungku berdetak sangat cepat. Bagaimana penampilanku saat ini? Mengapa Marcus hanya terdiam menatapku? Apa gaun ini terlalu terbuka? Atau terlalu sederhana?


Marcus melangkah mendekatiku. Dia berdiri di hadapanku. Aku tak bisa bergerak bahkan menahan napasku sangking gugupnya. Tangan Marcus terulur menyentuh pipi kiriku dan membelainya. Mata hitamnya mungunciku. Membawaku ke dimensi berbeda yang hanya ada kami berdua.


"Kau sangat cantik, Shelina." Belaian dan bisikannya menggetarkan tubuhku. Kakiku langsung lemas seketika. Aku seperti diberikan wine dengan kadar alkohol yang sangat tinggi hingga membuatku mabuk akan rasa manisnya. Dan jutaan pelangi bermunculan di hatiku.


Senyuman indah terukir jelas di wajah tampannya. Senyum yang menular padaku. Wajahku memanas karena perkataannya. Sudah banyak pria yang mengatakan cantik tapi tak pernah aku merasakan dampak yang sebesar ini hanya dengan kata itu. Sungguh, mendengar Marcus mengatakan cantik padaku, seakan aku baru saja memenangkan kontes kecantikan.


"Kau sudah selesai?"


________

__ADS_1


Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih


__ADS_2