Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 32. Tak pantas dipanggil ayah


__ADS_3

"Apa yang sudah kau lakukan?" Nada suaraku naik satu oktaf dari biasanya.


"Aku sudah memperingatimu Shelina. Tapi kau mengabaikanku. Aku sudah memberimu waktu satu minggu tapi kau tidak memberikan uang seratus juta itu padaku. Jadi, aku terpaksa menghancurkan cafe impianmu ini."


"Mengapa kau melakukan ini padaku? Apa di matamu hanya ada uang, minuman dan judi? Pernahkan kau sedikit saja menghargaiku? Aku putrimu! Tapi kau memperlakukan aku seperti pelacur peliharaanmu!"


"Kumohon berhenti memeras uang dariku. Hanya satu permintaanku, kumohon lepaskan aku. Aku ingin meraih kebahagiaanku. Walau kau tak bisa menjadi ayah yang baik tapi setidaknya jangan memperalatku terus menerus." Jonathan tertawa terbahak-bahak seakan aku sedang mengatakan hal yang paling lucu yang pernah ia dengar. Lalu sekejap tawanya menghilang digantikan aura mencekam dan ganas dari wajahnya.


"Melepaskanmu? Jangan bermimpi, Shelina. Aku tak akan melepaskan tambang emasku begitu saja."


"Jonathan!" Habis sudah kesabaranku. Pria tua ini sangat tak pantas untukku panggil ayah.


"Selama ini aku masih bertahan dan selalu berharap agar kau sadar. Aku bahkan tak pernah melaporkanmu kepada polisi, padahal sudah banyak kejahatan yang kau lakukan."


"Sekarang kau sudah berani melawanku rupanya." Jonathan berdiri selangkah di hadapanku. Aku mendongak dan menatap marah padanya. Sudah habis kesabaranku selama ini.


"Aku akan melaporkanmu pada polisi." Dengan cepat tangan Jonathan mencengkram rahangku keras.


"Apa kau bilang?"


"Pria sepertimu harus mendekam di penjara seumur hidup. Kau tak layak untuk hidup di dunia ini. Kau sampah masyarakat, yang bisanya berjudi dan mabuk-mabukkan."


Suara tamparan begitu kencang memecah keheningan. Aku terdiam dengan wajah sebelah kiriku berdenyut sakit. Panas membakar pipi kiri. Menyulut api amarahku semakin besar.


"Dasar anak durhaka tak tau diuntung. Aku yang merawatmu hingga sebesar ini."


"Dan kau ayah tak tau malu yang hidup dari menyiksa anak dan istrinya. Pria paling tidak berguna di dunia ini."


Sebuah tamparan yang begitu kuat kembali terjadi di pipi kananku. Kuatnya tenaga Jonathan membuat aku jatuh terjerembab ke lantai. Kedua pipiku berdenyut sakit.


"Jalang rendah tak tau diri. Kau ingin aku pukuli lagi, hah?" Kaki Jonathan sudah mengayuh dan siap menendang tubuhku. Mata terpejam menanti siksaan yang akan dia berikan.


Sudah beberada detik berlalu tapi aku tak merasakan apapun. Aku membuka sedikit mata. Seseorang berdiri di hadapanku. Kaki jenjang yang terbungkus celana dasar dengan stelan jas hitam. Siapa?

__ADS_1


"Siapa kau?" Jonathan menyuarakan pertanyaanku.


"Seharusnya aku yang bertanya, siapa kau? Mengapa kau menyakiti Shelina?"


Suara ini. Marcus! Mataku membesar menatap punggung kokoh yang aku yakini milik Marcus. Apa yang dia lakukan di sini? Mungkinkah dia mengikutiku dari kantor tadi?


"Jangan berusaha menjadi pahlawan kesiangan bocah."


Entah kenapa aku ingin tertawa saat ini. Marcus dibilang bocah. Bocah mana yang sudah bisa buat bocah. Aku tertawa dalam hati dan tak bisa menahan kedutan di sudut bibirku.


Marcus mendengus kasar.


"Jika kau seorang pria seharusnya kau malu sudah menyakiti wanita."


"Apa pedulimu? Shelina putriku, terserah padaku bagaimana aku memperlakukan dia."


"Apa kau masih layak disebut ayah setelah apa yang sudah kau lakukan?"


Dengan cepat Jonathan melayangkan pukulannya ke arah perut Marcus. Namun Marcus menghindar ke samping dan dengan dengkulnya memukul perut Jonathan. Pria itu meringkuk menahan rasa sakit lalu dengan cepat melayangkan kembali pukulannya ke arah wajah Marcus. Kali ini Marcus tak siap dan mendapatkan pukulan di wajahnya. Sudut bibirnya pecah mengeluarkan darah.


Marcus mengusap darah tersebut dan matanya berubah ganas. Dia menerjang Jonathan dan memukuli pria itu membabi buta. Jonathan tersungkur di lantai tanpa sanggup membalas pukulan-pukulan cepat yang Marcus berikan. Wajah Jonathan sudah berlumur darah dan tergeletak tak berdaya dengan Marcus yang menggangkangi juga terus memukulinya. Aku harus menghentikan Marcus sebelum pria itu mebunuh Jonathan.


Tanganku meraih lengan Marcus. Menahannya untuk berhenti memukuli Jonathan lagi. Dia menoleh ke arahku.


"Sudah cukup." Mengerti apa yang kukatakan Marcus bangkit dan berdiri menjulang di samping Jonathan.


"Pergi! Sekali lagi kau mengancam dan menyakiti Shelina, aku tak akan melepaskanmu begitu saja." Dan Marcus menendang perut Jonathan untuk mengakhiri ancamannya. Jonathan mengerang dan dengan susah payah bangkit. Wajahnya hancur dan banyak luka di tubuh. Dia berdiri di sampingku.


"Aku tak akan melepaskanmu, *****!" Bisiknya pelan tanpa didengar Marcus. Lalu dia pergi.


"Kau baik-baik saja, Shelina?" Aku menoleh. Evelyn, Merina dan kak Elena menatapku khawatir.


"Aku baik-baik saja," ucapku tegas dan mengamati keadaan di dalam Cafe.

__ADS_1


"Sepertinya Cafe harus tutup hari ini. Lebih baik kalian pulang." Mereka bertiga terkejut sejenak dan Evelyn menyuarakan protesnya.


"Tapi Shelina, kita harus membereskan semua kekacauan ini."


"Pulanglah, aku akan menyuruh orang untuk membereskan dan memperbaiki kerusakan ini." Aku menoleh ke arah Marcus. Dia mau membantuku? Apa maksud pria ini? Tadi juga dia membela dan membantuku di depan Jonathan, padahal sebelumnya di kantor Marcus bersikap tak bersahabat juga ketus. Aku benar-benar sulit memahami isi kepalanya.


"Baiklah, kami pulang dulu Shelina." kak Elena dan Merina pamit pergi. Sedangkan Evelyn masih berdiri dengan terus memandangiku.


"Pulanglah, Evelyn."


"Tapi, wajahmu...."


"Aku baik-baik saja. Pulanglah, temani Angel di rumah." Seakan mengerti bahwa aku tak ingin merepotkan dan membuatnya khawatir, Evelyn mengalah dan membawa tasnya untuk bersiap pulang.


"Aku pulang ya. Jika ada sesuatu terjadi segera hubungi aku." Evelyn mulai berjalan dan menepuk pundak Marcus singkat sambil menggumamkan kata terimakasih.


Setelah Evelyn pergi, aku dan Marcus berdiri dalam keheningan yang mencekam. Aku tak tau apa yang harus kukatakan.


Sudut mataku menangkap pergerakan Marcus yang sedang menelpon seseorang.


"Kirimkan beberapa orang ke Wonderful Cafe dan juga beberapa kursi kemari." Dia benar-benar melakukan itu. Aku menatap Marcus yang sudah selesai menelpon dan memasukkan ponselnya ke saku celana.


"Aku sudah menyuruh orang untuk datang kemari." Setelah mengucapkan itu dia terdiam dan menatapku lekat sebelum berbalik dan berjalan. Apa dia hendak pergi?


Aku dengan cepat menahan lengannya. Dia berbalik dengan kening yang berkerut bingung.


"Apa lagi?" Nada suaranya kembali ketus. Aku tak memperdulikannya. Mataku hanya tertuju pada bibirnya. Sudut bibirnya terluka.


"Bibirmu terluka, biarkan aku mengobatimu." Sebenarnya, selain ingin membantunya mengobati luka itu, aku juga ingin berbicara lagi dengannya. Mengapa dia membantuku? Apa itu hanya bentuk kepedulian karena aku calon ibu tirinya? Atau memang dia mengawatirkan dan ingin melindungiku, dengan kata lain dia masih menyayangiku. Mungkinkah itu?


_____________


Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2