
Seminggu telah berlalu sejak Andrew sadar dan sekarang akhirnya dokter sudah memperbolehkan Andrew untuk pulang. Dokter juga mengatakan bahwa Andrew masih harus beristirahat lebih lama di rumah sebelum kembali beraktivitas dan bekerja.
Selama seminggu ini juga aku selalu di samping Andrew dan membantunya. Merawat pria itu agar cepat sembuh. Dan sesuai dengan tekadku yang akan melanjutkan pernikahan kami, aku menghubungi Leonardo untuk menyiapkan pernikahan sederhana di sebuah gereja. Dan pernikahan itu akan terjadi tiga hari lagi. Andrew juga senang dengan keputusanku ini. Walau awalnya dia masih ingin mengadakan pernikahan yang meriah. Tapi aku mendebatnya dan mengatakan kami bisa melakukan resepsi yang mewah setelah pria itu jauh lebih sehat lagi.
Hal itu juga yang membuat Marcus uring-uringan dan selalu saja mengajakku ribut. Dia bersikeras memintaku untuk kembali membatalkan pernikahan ini. Dan aku tetap pada keputusanku.
Seperti saat ini, aku sudah tau apa yang akan Marcus katakan ketika dia menerobos masuk ke dalam kamarku. Mengambil waktu saat Andrew tengah tidur di kamarnya.
Aku duduk dengan santai di kursi depan meja riasku. Dan Marcus berdiri di hadapanku dengan sorot mata yang lelah dan frustasi.
"Jika kau ingin memintaku membatalkan pernikahan kami lagi, maka itu percuma saja. Aku tak akan membatalkannya," ucapku tegas dan dingin. Menghiraukan tatapan Marcus yang lelah dan frustasi menghadapi kekeraskepalaanku ini.
Pria itu berjalan menghampiriku dan berlutut di hadapanku.
"Shelina, kumohon jangan seperti ini. Aku sangat mencintaimu. Dan aku tau kau juga memiliki perasaan yang sama denganku." Pria itu meraih kedua tanganku.
"Mengapa kau memilih menyiksa diri dan melepaskan kebahagianmu?" Matanya menatap lekat mencoba membujuk dan membuatku mengerti keinginannya.
"Kau salah. Aku tidak menyiksa diri dan bahagia dengan pernikahanku bersama Andrew." Aku menarik tanganku hingga lepas dari genggaman tangan Marcus.
"Tidakkah kau mengerti betapa aku sangat mencintaimu, Shelina. Bisakah kau bahagia hidup bersama pria yang tidak kau cintai?!" Nada suara Marcus naik satu oktaf. Ada sedikit amarah di matanya dan dengan cepat menghilang digantikan dengan tatapan sedih juga tersiksa.
"Aku tak bisa melihatmu menikah dengan pria lain, Shelina. Bahkan jika pria itu adalah ayahku sendiri, aku tak bisa." Nada sendu suara Marcus menggetarkan hatiku. Aku ingin menangis saat ini juga. Dan menarik pria itu ke dalam pelukanku. Mengatakan padanya aku sangat ingin dia menjadi suamiku. Tapi, aku tak bisa. Aku tak bisa menghianati dan mengecewakan Andrew.
"Aku tak bisa melihatmu setiap hari dengan status sebagai ibu tiriku. Itu sangat menyakitkan Shelina. Melihat wanita yang sangat aku cintai begitu dekat, namun terasa sangat jauh untuk diraih. Berada di sampingmu tanpa bisa menyentuh ataupun memelukmu. Aku tak bisa Shelina. Kumohon hentikan semua ini. Batalkan pernikahanmu dengan Andrew." Mata Marcus berkaca-kaca. Aku tak pernah melihat pria itu seperti ini. Hal ini membuat hatiku sakit dan teremas kencang. Penderitaannya membuat aku juga menderita. Aku tak bisa menatap mata hitam menyakitkan itu lagi. Aku berdiri dan memunggungi Marcus. Lalu berkata dengan nada dingin.
__ADS_1
"Aku akan tetap menikah dengan Andrew."
Hening, tak ada jawaban dari Marcus setelah aku mengatakan hal itu. Beberapa detik kemudian Marcus berdiri di belakangku.
"Baik, jika kau tak mau membatalkannya maka aku yang akan melakukannya. Aku akan mengatakan pada Andrew mengenai hubungan kita."
Aku langsung menoleh dengan cepat ke arah Marcus.
"Apa kau bilang?!"
"Aku akan mengatakan pada Andrew bahwa kau adalah kekasihku."
"Jangan pernah mengatakannya pada Andrew." Aku marah dan melotot ke arah Marcus.
"Aku akan mengatakan padanya, dengan ataupun tanpa persetujuanmu. Karena aku sangat mencintaimu, Lina." Lalu dengan cepat Marcus meraih tengkukku dan menciumku. Melumat bibirku dengan kasar dan brutal. Aku meronta dan mencoba melepaskan diri. Namun tangan Marcus menahan pinggangku dan semakin mendekap erat tubuhku.
Dan perlahan ciuman Marcus yang kasar berubah lembut dan membuaiku. Menuntutku untuk membalas setiap lumatannya. Tanganku yang sejak tadi menahan dadanya perlahan bergerak melingkari leher Marcus. Aku tak kuasa menolak pria ini. Marcus pemilik hatiku. Pria yang sangat aku cintai.
Setelah beberapa menit Marcus melepaskan ciumannya. Deru napas kami saling memburu dan berebut mencari oksigen sebanyak-banyaknya.
"Aku tak ingin kehilanganmu lagi, Shelina. Sudah cukup lima tahun aku kehilangan dan jauh darimu, kali ini aku tak akan melepaskanmu. Walaupun aku harus menentang dan melawan ayahku sendiri." Setelah mengatakan itu Marcus mengecup bibirku singkat dan berjalan pergi meninggalkan kamarku.
Kakiku terasa sangat lemah. Aku tak memiliki tenaga untuk berdiri lebih lama lagi. Tubuhku luruh ke lantai. Airmataku mengalir kembali. Aku benar-benar tak ingin menyakiti salah satu dari mereka. Karena mereka berdua adalah orang terpenting dan paling aku sayangi di dunia ini.
˙°♡♡♡°˙
__ADS_1
Sejak kemarin malam aku selalu waspada dengan gerak-gerik Marcus. Aku takut pria itu akan merealisasikan ucapannya yang ingin mengungkapkan hubungan kami. Lusa adalah hari pernikahanku dengan Andrew. Aku yakin Marcus pasti tidak akan diam saja.
Sungguh, sampai kapanpun aku tak akan siap mengatakan kejujuran itu pada Andrew. Aku terlalu takut dan khawatir. Aku sudah menganggap Andrew seperti kakakku. Aku sangat menyayanginya dan tak ingin membuat dia kecewa. Aku tau tak seharusnya menutupi masa laluku dengan Marcus darinya. Dan sekarang keadaan semakin rumit karena cinta kami kembali bersemi.
Sore ini aku terpaksa ke Wonderful Cafe untuk mengurus beberapa hal, karena sejak Andrew sakit, aku sama sekali tak bekerja dan membiarkan Evelyn yang menangani.
Untungnya aku bisa menyelesaikan urusan itu dengan cepat. Jadi sekarang aku sudah pulang ke Mansion. Entah mengapa sejak pagi aku merasakan perasaan yang tak nyaman. Seakan ada hal besar yang akan terjadi.
Setelah membayar ongkos taxi, aku berjalan ke dalam mansion. Tapi langkah kakiku berhenti di depan pintu dan langsung menoleh ke arah kanan, tepatnya ke sebuah mobil hitam milik Marcus.
Pria itu sudah pulang? Ini masih jam empat sore, seharusnya dia belum pulang. Apa ada sesuatu yang terjadi?
Seketika mataku membesar. Apa pria itu sengaja pulang cepat karena tahu aku tak ada di mansion ? Apa dia ingin berbicara dengan Andrew berdua? Membicarakan mengenai hubungan kami kepada Andrew? Dan meminta Andrew membatalkan pernikahan denganku?
Dengan cepat aku berlari masuk ke dalam mansion. Aku tak melihat seorangpun di ruang keluarga. Dimana mereka?
"Nona sudah kembali?" mbok Sari sedikit terkejut dengan kepulanganku. Keningku mengerut.
"Dimana Marcus?" tanyaku tanpa basa-basi.
"Tuan muda ada di ruang kerja tuan." Jantungku berdegup kencang. Apa Marcus sudah mengatakannya pada Andrew?
"Tapi nona, tuan muda bilang jangan mengganggu mereka." Aku mengabaikan ucapan mbok Sari dan bergegas menaiki tangga menuju ruang kerja Andrew.
________
__ADS_1
Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih