
Dari kemarin Marcus membuatkanku sarapan. Apa sebenarnya tujuan pria itu bersikap ramah seperti ini padaku?
"Makanlah. Aku tak bermaksud jahat. Hanya ingin bersikap baik padamu."
Apa aku menyuarakan isi hatiku? Mengapa Marcus seakan menjawab pertanyaanku?
"Bersikap baik?" Tanyaku sarkastis.
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Aku hanya tak ingin bertengkar denganmu. Dan mengenai insiden kemarin, aku minta maaf."
"Minta maaf untuk?"
"Maaf karena sudah menciummu."
Ada sudut hatiku yang kecewa. Kupikir Marcus meminta maaf karena bersikap keras dan memarahiku akibat aku yang berkelahi dengan Siska. Tapi sepertinya dia tak memikirkan hal itu. Tapi mengapa aku kecewa? Apa aku berharap Marcus membelaku kemarin?
"Tapi aku tak menyesalinya."
Dengan cepat aku mendongak. Menatap mata Marcus yang mengunci mataku. Jantungku berdetak dengan cepat. Tak menyesalinya? Maksudnya, dia tak menyesal sudah menciumku seperti kemarin.
Jantungku berdetak semakin kencang. Seketika wajahku memanas, dengan cepat aku membuang muka. Aku menunduk dan mulai memakan sarapanku.
"Habiskan sarapanmu, aku mandi dulu. Setelah itu kita pergi bersama menemui Leonardo." Marcus bangkit dan pergi meninggalkanku dengan wajah yang makin memanas.
Apalagi saat dia melewatiku Marcus mengusap kepalaku sebentar. Apa benar dia hanya ingin bersikap baik padaku? Atau dia memiliki maksud tersembunyi? Mungkinkah dia masih mencintaiku? Tidak-tidak. Aku menggeleng dengan cepat. Marcus tidak mungkin mencintaiku. Jika dia memang mencintaiku, mengapa dia meninggalkan aku lima tahun yang lalu?
˙°♡♡♡°˙
Kini aku dan Marcus tengah duduk di dalam ruangan Leonardo, wedding organizer yang akan membantu pernikahanku dengan Andrew. Kami masih menunggu kehadiran pria itu. Sekertarisnya bilang pria itu tengah menerima telpon dari klien lain.
Tak berapa lama pintu ruangan terbuka dan seorang pria paruh baya masuk. Seorang pria bertubuh gemuk dan lebih pendek dibanding tinggi badan ideal pria. Dia duduk di hadapan kami.
__ADS_1
"Maaf, membuat kalian menunggu lama."
Aku hanya bisa tersenyum kecil.
"Perkenalkan saya Leonardo owner Wonderfull Wedding Organizer yang akan membantu dan menghandle pernikahan kalian."
Keningku mengurut dalam. Kalian? Mengapa dia mengatakan kalian? Apa kalian yang dimaksud adalah aku dan Marcus, karena Marcus yang ada disini bukan Andrew.
"WO kami sangat beruntung bisa membantu pernikahan nona Aston dan tuan Cho. Kalian berdua sangat serasi. Nona Aston sangat cantik dan tuan Cho sangat tampan."
"Maaf, Leonardo. Sepertinya anda salah paham. Yang akan menikah denganku bukan tuan muda Marcus Cho yang ada di sampingku ini. Tapi tuan besar Andrew Cho."
"Apa?!"
"Jadi kau bukan menikah dengan Marcus Cho tapi dengan ayahnya, Andrew Cho. Tapi umur ...."
mataku menatap tajam ke arah Leonardo. Reaksi Leonardo sama seperti reaksi orang lain ketika mendengar pernikahan kami tapi sungguh aku benci jika orang lain mulai mengatakan perbedaan umur ataupun status sosial kami. Untungnya Leonardo bisa menghentikan kalimatnya sendiri, jika tidak aku pastikan aku tak akan mau lagi menemuinya dan meminta Andrew untuk mencari WO lain.
"Ini beberapa contoh dekorasi pernikahan yang dikerjakan WO kami. Dan mengenai tempat akan disesuaikan terlebih dahulu dengan konsep dan banyaknya tamu yang akan diundang." Aku mengambil album besar itu dan mulai melihat beberapa foto disana. Hari ini pasti menjadi hal yang berat.
Hari sudah sore saat aku dan Marcus baru saja keluar dari hotel bintang tujuh. Tempat yang aku pilih untuk resepsi pernikahan nanti. Kini kami sedang menuju mobil Marcus di parkiran. Sesuai dugaanku hari ini sangat melelahkan. Setelah tadi pagi memilih dan menentukan konsep, aku disibukkan memilih detail dekor yang aku inginkan. Belum lagi pergi ke hotel untuk melakukan reservasi dan lain sebagainya. Aku menghembuskan napas panjang. Aku bersyukur Andrew bersikeras agar Marcus menemaniku hari ini, jika tidak aku pasti tak sanggup menanganinya. Karena tak hanya satu hotel yang kami datangi tapi hampir lima hotel untuk mencari hotel yang bisa dibooking sesuai tanggal pernikahanku.
Ketika mobil Marcus melewati kawasan Danau. Mataku berbinar penuh semangat. Dan tanpa bisa kucegah kalimat itu keluar begitu saja.
"Marcus, berhenti. Aku ingin jalan-jalan di pinggir Danau." Sedetik kemudian aku terdiam dengan mata membesar tak percaya. Astaga, apa yang baru saja aku katakan. Dengan takut aku melirik ke arah Marcus. Pria itu hanya tersenyum kecil, sepertinya dia tak keberatan.
Setelah mobil Marcus berhenti. Dengan cepat aku turun. Seketika udara sejuk menerpaku. Sudah lama sekali aku tak kemari. Terakhir kesini saat ....
Aku melirik ke arah Marcus yang baru saja keluar. Terakhir kemari aku masih bersama Marcus. Kami berjalan bergandengan tangan menyusuri Danau dan duduk di salah satu kursi. Menikmati semilir angin yang berhembus. Dan kini aku kembali kemari bersamanya.
Aku dan Marcus berjalan berdampingan. Suasana pinggir Danau cukup ramai sore ini. Ada beberapa orang duduk di bangku pinggir Danau. Ada juga sepasang kekasih yang duduk berdampingan di atas rumput. Saling merangkul dan berpelukan.
__ADS_1
"Tak banyak yang berubah walau sudah lima tahun berlalu." Aku menoleh ketika mendengar ucapan Marcus. Hal yang sama seperti yang aku pikirkan saat ini.
Dari arah yang berlawanan ada keluarga kecil yang menyita perhatianku. Sepasang suami istri muds yang tengah bercanda dengan balita yang duduk di pundak sang ayah. Tawa renyah dan senyuman lebar yang mereka tunjukkan membuat aku tersenyum. Melihat wajah sang istri yang begitu cerah dan bahagia membuatku iri.
Lalu tanpa bisa kucegah wajah wanita itu berubah menjadi wajahku dan sang suami berubah menjadi Marcus. Aku terpaku tak percaya dan sedetik kemudian wajah itu kembali normal.
Seandainya aku dan Marcus masih bersama saat ini. Mungkin, kami sudah menjadi keluarga kecil yang bahagia seperti mereka. Memiliki seorang anak, buah hati kami. Seandainya lima tahun yang lalu kami tidak berpisah, mungkin aku akan menjadi seperti wanita bahagia itu.
"Dulu aku pernah memimpikan hal itu, Shelina." Aku menoleh dengan cepat ke arah Marcus. Pandangan matanya lurus ke arah keluarga kecil itu.
"Jalan-jalan dan menikmati indahnya sore hari bersama denganmu juga anak kita." Aku kesulitan bernapas ketika mendengarnya. Dia memiliki pemikiran dan harapan yang sama sepertiku.
"Tapi, sepertinya itu tidak mungkin terwujud sampai kapanpun. Karena kini pria yang kau inginkan untuk berada di sampingmu bukanlah aku." Marcus terdiam dan aku masih memandangnya lekat.
"Sampai kapanpun aku tak akan pernah setuju dengan pernikahan kalian. Aku menentangnya dan ingin melakukan berbagai cara untuk menggagalkan hal itu. Tapi ...." Marcus menoleh ke arahku.
"Sekeras apapun aku membenci ataupun mendorongmu untuk menyerah, kau tetap pada keputusanmu. Dan aku tak sanggup untuk menyakitimu lebih lagi. Karena itu bagaikan bumerang untukku sendiri."
"Bumerang? Apa maksudmu?" Aku menatap Marcus dengam seksama. Namun pria itu seakan mengabaikanku dan membuang wajahnya untuk melihat ke arah lain.
"Lihat, masih ada kedai es cream disana, sama seperti dulu." Dia mengalihkan pembicaraan.
"Marcus, apa ...."
"Kau tunggu disini. Aku akan membelikannya untukmu, satu cup besar es crem coklat."
Dan sedetik kemudian Marcus sudah berjalan pergi meninggalkanku. Meninggalkan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Aku bahkan belum menemukan jawaban mengapa dia meninggalkanku lima tahun yang lalu. Dan kini dia kembali membuat aku bertanya-tanya apa maksud dari ucapannya tadi.
_________
Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih
__ADS_1