
Aku ... terlambat.
Tubuhku lesu seketika. Seakan hidupku baru saja direnggut secara paksa. Tulang-tulang di tubuhku menjadi lentur.
Aku tak percaya ini. Shelina sudah menikah dengan Andrew, ayahku.
Aku menggeleng frustasi dan tak terima akan hal itu. Seketika aku kembali menemukan kekuatanku. Kekuatan yang aku dapatkan dari rasa penyangkalanku. Aku harus menemui Shelina. Aku tak perduli jika dia sudah menikah dengan ayahku atau tidak. Dia milikku, selamanya hanya milikku. Aku tak perduli jika cintaku kini berubah menjadi obsesi. Yang kutahu aku tak bisa hidup tanpa dirinya. Aku tak bisa bernapas tanpa dia di sisiku. Tak akan bisa tidur nyenyak tanpa dia dalam pelukanku.
Aku berjalan menuju biarawati itu dan menanyakan tentang keberadaan Shelina. Wanita itu bilang Shelina ada di ruang rias. Tanpa pikir panjang aku melangkahkan kaki ke arah ruangan yang di tunjukkan biarawati tadi.
Sampai akhirnya aku berdiri di depan sebuah ruangan. Mataku terpaku pada sosok indah yang duduk tak jauh dariku. Seorang bidadari cantik dengan gaun putih indahnya. Wajahnya mengalihkan duniaku. Perlahan aku menghampirinya. Shelina mendongak ke arahku. Dan aku terhipnotis oleh mata coklatnya. Begitu indah dan berkilau.
Kini aku berdiri di hadapannya dan langsung menekuk lutut untuk bersimpuh di depannya.
"Lina," bisikku pelan seakan tak percaya melihat wajahnya yang jauh lebih cantik dari dekat. Kulit wajahnya putih bersinar. Mata coklatnya berbinar menatapku. Dan bibirnya yang berwarna merah terlihat menggiurkan.
Tanganku terulur membelai pipi mulusnya. Gadis yang aku inginkan menjadi istriku, kini berada di hadapanku dengan gaun pengantin dan terlihat jauh lebih cantik dari bayanganku.
"Lina." Sekali lagi aku membisikkan namanya. Takut wajah cantik ini akan menghilang dalam sekejap mata. Khawatir jika ini hanyalah khayalanku saja.
Mata indah itu berkaca-kaca menatapku. Tubuhnya mulai bergetar.
"Marc," bisikkan pelan Shelina dapat kudengar. Bagaikan air dingin menyirami padang pasir yang tandus. Menyengarkan dan menyejukkan hatiku.
Kami saling bertatapan dalam waktu yang cukup lama, seakan mengobati rasa rindu yang kami alami hanya dengan saling tatap seperti ini.
"Aku mencintaimu." Kalimat itu terucap tanpa bisa aku tahan lagi. Terasa sesak jika aku tak mengatakannya.
"Bohong! Kau bohong! Kau tidak mencintaiku!" Aku terkejut melihat airmata yang menyusuri pipinya. Keningku mengerut tak mengerti, melihat pancaran mata Shelina yang menatapku marah.
__ADS_1
"Kau bohong. Jika kau mencintaiku, kau pasti akan datang sejak tadi. Jika kau menyayangiku, kau pasti mencegah pernikahan ini. Jika kau menginginkanku, kau pasti sudah mengajakku kabur sejak tadi. Dan jika kau memang mencintaiku, kau tak akan datang terlambat seperti ini."
Jantungku seperti diremas dengan erat. Aku tak percaya Shelina mengatakan semua itu. Sorot matanya penuh dengan kesedihan dan kekecewaan. Apa dia menungguku? Apa Shelina mengharapkan kehadiranku? Apa dia menginginkanku untuk datang dan mengajaknya kabur bersama?
Tangan Shelina mengepal dan memukuli kedua pundakku bertubi-tubi.
"Kenapa kau tak datang tadi?! Mengapa kau terlambat?! Kenapa kau baru ke sini sekarang?!"
Aku membiarkan Shelina melampiaskan amarahnya. Aku tak menghindar. Memberikan dia kesempatan untuk meluapkan semua emosinya. Semua ini pasti berat untuknya. Hingga akhirnya pukulan tangan Shelina mulai melemah di pundakku.
"Kenapa kau baru datang sekarang? Aku menunggumu datang sejak tadi. Aku akan memberikanmu kesempatan terakhir. Aku berubah pikiran. Aku mau bersamamu. Tapi mengapa kau datang terlambat?" Suara lirih Shelina menyayat hatiku. Airmatanya tak pernah berhenti mengalir.
Dulu aku berjanji pada diriku sendiri tak akan membiarkan Shelina mengeluarkan airmata. Namun aku sendiri yang selalu membuatnya menangis.
"Maaf. Maafkan aku yang datang terlambat Shelina." Kedua tanganku mengusap pipi Shelina. Namun aliran airmata itu seakan tak ada habisnya.
Aku menggeleng kuat dan menangkup wajahnya.
"Aku menginginkanmu Shelina. Sangat menginginkanmu hingga aku berani menculik istri dari ayahku sendiri."
Mata Shelina membesar menatapku. Begitu indah membuat aku tersenyum.
"Maafkan aku. Semalam aku mabuk-mabukkan dan minum banyak bir untuk menghilangkan stressku. Hal itu sangat aku sesali karena membuatku bangun kesiangan. Aku bahkan langsung berlari kemari tanpa perduli dengan keadaanku saat ini." Mata Shelina menyusuri tubuhku dan seketika matanya membesar. Tangan Shelina membekap mulutnya tak percaya. Aku yakin keadaanku saat ini sangat mengenaskan.
"Marc, keningmu berdarah."
Aku terkejut dan menyentuh keningku, sedikit nyeri tapi aku bisa menahannya Aku sendiri tak sadar jika keningku berdarah. Apa semalam keningku terkena pecahan kaca? Atau aku tanpa sadar tidur di atas meja bar yang terdapat pecahan kaca?
Tangan Shelina terulur menyentuh keningku. Wajah cantiknya terlihat khawatir. Aku tersenyum menikmati perhatiannya padaku.
__ADS_1
"Kita harus mengobatinya."
Shelina sudah mulai bangkit dari duduknya. Namun aku dengan cepat menggenggam kedua tangannya di atas pangkuan Shelina. Menahan dia untuk tetap duduk di hadapanku.
Saat ini luka di keningku tidaklah penting. Shelina jauh lebih penting untukku. Aku tak akan mati dengan luka ini namun aku akan sekarat jika Shelina meninggalkanku lagi.
"Shelina, lukaku bisa menunggu untuk di obati. Namun, keadaan kita tak bisa menunggu lebih lama lagi." Shelina terdiam mendengarkanku dengan seksama.
"Aku mencintaimu, Shelina. Sangat mencintaimu. Tak perduli jika kini kau sudah menjadi istri dari Andrew, ayahku. Aku tetap mencintaimu. Kumohon beri aku satu kesempatan lagi. Maukah kau pergi bersamaku? Pergi dan memulai kehidupan baru hanya berdua denganku? Membangun keluarga kecil yang sederhana seperti impian kita dulu? Maukah kau hidup bersama denganku selamanya?"
"Marc," bisik Shelina pelan dengan mata membulat tak percaya.
"Kau mau kan?"
Aku menatap lekat mata coklat Shelina. Ini adalah perjuangan terakhirku. Jika kali ini Shelina menolakku lagi. Maka aku tak tau apa yang akan terjadi dalam hidupku. Mungkin aku akan berakhir dalam keterpurukan atau penyesalan. Atau mungkin aku akan masuk ke rumah sakit jiwa.
"Marc, aku—" ucapan Shelina terhenti ketika terdengar sebuah tepuk tangan yang datang dari seorang pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan ini.
Aku dan Shelina menoleh. Dan seketika tanganku mengenggam jemari Shelina dengan erat. Ayahku berjalan santai menghampiri kami, masih dengan menepukkan kedua tangannya. Wajahnya tersenyum lebar membuat aku waspada apa yang akan dia lakukan.
"Aku tak percaya kau dengan berani mengatakan itu Marcus?" Kini ayah sudah berdiri di sampingku. Perlahan aku bangkit berdiri di hadapannya. Aku tak akan gentar. Tak perduli jika aku harus menjadi anak yang durhaka saat ini. Aku hanya menginginkan Shelina. Hanya dia. Aku tak akan menikah dengan gadis manapun kecuali Shelina.
Aku menegakkan punggungku menghadapi Andrew.
"Bisa kau ulangi perkataanmu barusan? Kau mau membawa kabur istriku?"
___________
Mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih
__ADS_1