Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 19. Melewati Malam Bersama


__ADS_3

Tubuhku semakin lemas. Aku bahkan sudah berbaring di lantai namun tangan besar itu tak melepaskan cekikannya.


Sebuah cahaya tiba-tiba datang. Semakin dekat ke arahku. Bagaikan air di padang pasir. Cahaya itu sangat berarti. Aku meneteskan airmata karena tau akan keluar dari kesengsaraan ini.


Cahaya itu semakin dekat hingga menyinari tubuhku. Dan aku dapat melihat siapa pahlawan yang membawa cahaya di kegelapan ini. Mata pria itu membesar dan kekhawatiran jelas ditampilkan, dengan cepat dia meletakan ponselnya yang merupakan sumber cahaya di atas kasur.


Dia adalah Marcus. Pria itu langsung merengkuhku dalam dekapan hangatnya. Tubuhku masih gemetar namun perlahan kehangatan tubuh Marcus menenangkanku.


"Shelina, apa yang terjadi padamu?" Marcus melepaskan dekapannya ketika aku mulai tenang. Dia menatap lekat kedua mataku. Tangan yang mencekikku sudah menghilang.


Dokter pernah mengatakan jika itu hanyalah halusinasi dari seseorang yang mengidap Achluophobia. Aku tau itu tapi tetap saja, tiap kali kegelapan menghampiriku pasti hal seperti tadi terjadi padaku. Dan jika tak ada yang datang menyelamatkanku, aku bisa pingsan atau mungkin koma. Karena phobiaku sudah sangat parah.


Tangan Marcus mengusap pipiku untuk menghapus airmata. Deru napasku masih memburu dan aku mencoba untuk menormalkannya.


"Apa yang terjadi padamu?" Matanya terpusat padaku dan menuntut jawaban.


"Achluo ... phobia." Suaraku tercekat di tenggorokan yang kering hingga menimbulkan rasa sakit.


"Achluophobia? Phobia kegelapan?" Kening Marcus mengerut. Aku mengangguk pelan. Tak sanggup untuk mengeluarkan suara serakku lagi. Tubuhku masih terlalu lemah. Aku bersandar di kaki ranjang dan Marcus duduk di sampingku. Suasana kamarku masih gelap tapi cahaya dari ponsel Marcus membuat rasa takutku berkurang. Aku hanya perlu menatap ke arah cahaya dan tak melihat kegelapan yang masih menyelimuti kamarku. Ditambah keberadaan seseorang di sampingku yang membuat aku tak sendiri. Hanya itu yang selalu aku butuhkan jika berada di ruangan gelap. Sedikit cahaya dan seseorang di sampingku.


"Seingatku kau tak memiliki phobia. Jadi, sejak kapan kau mengidap Achluophobia?" Kepedulian Marcus menggugah hatiku untuk menceritakan sedikit kesedihan yang selalu kusimpan rapat-rapat.


"Aku mengidap Achluophobia sejak ibuku meninggal." Mata Marcus membesar sebelum berkata.


"Ibumu sudah meninggal, aku baru tahu." Aku mengangguk singkat.


"Mengapa kau bisa phobia kegelapan?"


"Karena malam ibu meninggal rumahku mengalami mati lampu."

__ADS_1


Malam itu setelah Jonathan membuat ibu terkapar tak bernyawa, pria itu pergi begitu saja. Aku menjeritkan nama ibu berulang kali. Berharap dia bangun dan menjawab panggilanku. Tapi ibu sama sekali tak menjawab, tubuhnya tak bergerak sedikitpun bahkan tak ada gerakan naik turun dari dadanya yang membuat aku semakin histeris. Tubuhku yang lemah dan tak berdaya tak bisa mendekati ibuku.


Aku menangis semakin kencang dengan tubuh yang bergetar hebat. Seakan belum cukup dengan menyaksikan kematian ibu di depan mata, takdir menambah penderitaanku. Tiba-tiba saja mati lampu. Semuanya gelap gulita tanpa ada seberkas cahaya. Tubuhku semakin bergetar. Mataku bergerak gelisah melihat ke sekeliling, namun hanya ada kegelapan yang kudapatkan.


Rasa takut menjalari tubuhku. Aku merasa ada sosok lain yang mengamatiku dari kegelapan. Sosok yang besar dan mengerikan yang bersembunyi dalam kegelapan dan bersiap menyerangku. Keringat dingin sudah bercucuran dan jantungku berdetak begitu cepat.


Lagi, mataku kembali bergerak gelisah. Lalu sebuah tangan dengan cepat mencekikku dengan kencang. Aku tak bisa membrontak. Tubuhku sangat lemas. Suaraku tercekak dan serak. Airmata semakin mengalir dengan deras. Aku tak bisa melihat sosok pemilik tangan yang mencekikku. Dan hal itu membuat aku semakin takut. Sangat takut hingga akhirnya aku pingsan tak sadarkan diri.


Malam itu adalah malam yang sangat mengerikan sepanjang umurku. Sejak saat itu aku mengalami trauma. Tubuhku akan bergetar hebat dan kehilangan kesadaran jika kembali mengingat malam itu, juga aku mengidap phobia kegelapan yang akut.


Dan aku mengernyit bingung saat sudah selesai menceritakan alasan mengapa aku mengidap Achluophobia kepada Marcus. Biasanya traumaku muncul jika menceritakan tentang malam itu, bahkan dengan melihat barang peninggalan ibu saja, traumaku pasti kambuh. Tapi ini? Aku baik-baik saja. Aku memang mengalami perasaan sesak dan gemetar, tapi tidak sampai pada tahap kehilangan kesadaranku. Mungkinkah itu karena Marcus berada di sampingku?


"Itu pasti sangat berat untukmu. Berada dalam kegelapan dengan tubuh luka dan tak berdaya dan ibu yang meninggal tak jauh darimu." Marcus kembali menarikku dalam pelukannya. Tangannya mengusap punggungku lembut, memberikan ketenangan.


Setelah beberapa menit dan tubuhku sudah tenang Marcus melepaskan pelukannya. Aku kembali duduk bersandar di kaki ranjang.


"Sampai kapan akan mati lampu?" Sudah hampir satu jam namun lampu tak menyala juga.


"Tidak, aku tak akan meninggalkanmu sendiri. Ini sudah malam, tidurlah." Mataku melirik ponsel Marcus yang menampilkan jam digital yang menunjukkan pukul sebelas malam. Ini memang sudah malam tapi aku takut dan tak bisa tidur.


"Tidurlah Shelina, besok kau harus bekerja." Tangan Marcus mengelus rambut panjangku.


"Tidak, aku takut kau akan meninggalkanku saat sedang tertidur." Marcus tersenyum kecil dan menarik kepalaku untuk bersandar di pundaknya.


"Tidak, aku tak akan pergi dan tetap akan di sampingmu." Tangan Marcus mengusap kepalaku. Memberikan belaian yang menenangkan. Tanganku meraih ujung baju Marcus dan menggenggamnya erat. Perlahan aku menutup mata. Usapan tangan Marcus sukses mengantarkanku masuk ke alam mimpi.


˙°♡♡♡°˙


Aku mengerjapkan mataku sebelum terbuka sepenuhnya. Aku mengalami disorientasi sesaat. Mengapa aku bisa tertidur di lantai? Lalu sedetik kemudian kejadian semalam mengingatkanku. Aku tersenyum dan menegakkan kepalaku yang sejak tadi masih bersandar di pundak Marcus.

__ADS_1


Pria itu menetapati janjinya. Dia bahkan tertidur di sampingku. Kepalanya bersandar di kaki ranjang dan tangannya mengenggam tangan kananku. Melihat Marcus yang tertidur di sampingku membuat aku senang.


Dia pasti mengalami pegal-pegal karena aku tertidur di pundaknya. Lampu juga sudah menyala. Dengan tangan kiriku yang bebas aku menguncang tubuh Marcus. Ini sudah jam setengah tujuh. Aku harus membangunkannya agar dia tak terlambat pergi bekerja. Aku masih mengamati wajah Marcus.


"Marcus, bangun sudah pagi," ucapku masih terus mengguncang tubuhnya. Perlahan matanya mengerjap, lalu dia mengusap kedua matanya. Persis seperti anak kecil yang baru bangun tidur. Terlihat sangat imut. Tanganku sangat gatal ingin menarik kedua pipinya.


Mata Marcus kini terbuka sepenuhnya dan menatapku. Dia tersenyum begitu lebar dan menyilaukan mataku. Senyumnya bisa menyaingi sinar matahari, terdengar berlebihan tapi itu yang aku rasakan.


"Pagi Shelina," suara serak khas bangun tidur Marcus terdengar sexy.


"Pagi," balasku singkat dan membalas senyuman cerahnya. Lalu Marcus melakukan perenggangan otot tangannya.


"Sana kembali ke kamarmu, aku ingin mandi dan bersiap untuk kerja." Aku bangkit sambil melakukan perenggangan yang sama. Astaga, leherku nyeri sekali. Tidur dalam posisi duduk memang tidak enak.


"Kau mengusirku?" ucap Marcus tak percaya.


Ada sinar jahil dari mata hitamnya. Aku mengangguk singkat dan mulai berjalan menuju kamar mandi. Marcus langsung berdecak tak percaya.


"Siapa yang semalam memintaku untuk tidak meninggalkannya?"


Seketika wajahku memanas dan kaki berhenti berjalan. Jantungku berdetak kencang ketika Marcus sudah berdiri tepat di belakangku.


"Bagaimana jika kita mandi bersama?" Goda Marcus tepat di telingaku. Sontak mataku membesar dan berbalik dengan cepat.


"Marcus!" Jeritku kencang dan mendorong tubuhnya menjauh lalu berlari masuk ke dalam kamar mandiku. Aku mengunci pintu kamar mandi dan mendengar tawa kencang Marcus.


Aish pria itu benar-benar menyebalkan. Aku berjalan menuju wastapel dan mendapati wajahku yang sudah memerah seperti tomat matang.


_________

__ADS_1


Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih


__ADS_2