Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 24. Sebenarnya apa mau pria itu


__ADS_3

"Kau sudah selesai?" Aku dan Marcus menoleh. Andrew baru saja keluar dari ruangan ganti laninya. Dia mengenakan stelan jas dengan warna putih.


Marcus langsung melepaskan tangannya. Dan aku merasa kehilangan. Tanganku sangat gatal ingin menarik tangan Marcus dan kembali meletakkannya di pipiku.


Andrew sudah berdiri di samping kananku. Dan Marcus melangkah mundur. Andrew menatapku dari atas ke bawah. Mengamatiku secara keseluruhan.


"Kau sangat cantik, Shelina."


Kalimat yang sama dengan yang diucapkan Marcus. Tapi mengapa menimbulkan efek yang sangat berbeda. Aku senang Andrew mengatakan hal itu tapi aku tak merasakan hal yang seperti tadi. Seakan ucapan Andrew tak berpengaruh sama sekali padaku.


"Ya, nona Shelina terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin ini." Leonardo sudah berdiri tak jauh dari kami.


"Ya, kami akan memilih yang ini saja." Aku sama sekali tak mendengarkan pembicaraan mereka lebih lanjut. Aku hanya mengikuti asisten Leonardo yang membantuku kembali berganti pakaian. Pikiranku masih teralihkan dengan efek perkataan yang Marcus ucapkan tadi.


"Shelina?" Guncangan tangan Andrew dan panggilannya menyadarkanku. Aku menoleh.


"Kau ingin makan apa?"


"Mie pangsit dan orange jus saja."


"Hanya itu?" Aku mengangguk. Sudah lama aku tak makan spageti.


Aku menatap ke arah depan. Tempat dimana Marcus tengah duduk. Pria itu menatap ke arah luar restoran dari kaca jendela di sampingnya.


"Ada apa?" Andrew kembali bertanya. Aku menoleh dan mendapati keningnya berkerut dalam. Dia pasti menangkap basah pandangan mataku yang hanya tertuju pada Marcus tadi.


"Aku masih bingung, mengapa Marcus ada di tempat fitting tadi?"


"Karena dia juga mencoba jas yang akan dia pakai nanti."

__ADS_1


"Oh begitu." Tak lama pelayan datang membawa pesanan kami. Aku sudah tak sabar untuk makan mie pangsit. Tapi bibirku mengerut karena ada potongan timun di atasnya. Aku lupa untuk mengatakan pada pelayan agar tak memberikan timun pada mie pangsit-ku.


Tiba-tiba ada mangkuk mie pangsit lain yang mendekati mangkuk-ku. Aku mendongak dan bertatapan dengan Marcus.


"Barikan padaku timunnya." Seketika aku tersenyum lebar dan dengan cepat mengambil timun di mangkuk-ku menggunakan sumpit dan memasukkannya ke dalam mangkuk Marcus.


"Kenapa kau memindahkan timunnya?" Aku menoleh ke arah Andrew yang mengernyit menatap ke arah tanganku yang memindahkan timun.


"Karena Shelina tak suka timun." Marcus yang menjawab pertanyaan Andrew.


Keheningan terjadi setelahnya. Astaga, apa yang baru saja Marcus katakan? Aku menatap Andrew takut. Bagaimana ini? Bagaimana jika Andrew curiga? Dia pasti sangat heran mengapa Marcus bisa tau jika aku membenci dan tak suka timun.


"Aku tak tau hal itu." Matanya menatap penuh selidik ke arahku dan Marcus. Semoga dia tidak menyelidikinya lebih lanjut. Tentu saja Marcus tau aku tak suka timun. Karena sejak dulu setiap kali kami makan bersama aku selalu menyingkirkan timun dan dia selalu memakannya.


Kerutan di kening Andrew semakin dalam. Apa yang sedang ia pikirkan saat ini? Aku tak bisa membayangkan reaksinya jika dia tahu mengenai hubunganku dengan Marcus di masa lalu.


"Kenapa kau bisa tau Marcus?"


"Marcus." Ucapan Marcus terpotong oleh suara seorang gadis yang tiba-tiba sudah berdiri di samping meja kami. Ini kedua kalinya aku lega dengan kedatangan si ular Siska. Aku takut tadi Marcus mengatakan mengenai hubungan kami di masa lalu. Dan untungnya si jalang ini menghentikan ucapan Marcus.


Aku bernapas lega dan menatap tajam Siska yang sudah duduk di samping Marcus. Seingatku tak ada satupun orang yang mempersilahkannya untuk duduk di situ.


"Om sudah pulang?" Andrew mengangguk dan kembali melanjutkan makannya. Tanganku mengaduk-aduk mie pangsit. Napsu makanku sudah hilang dan berganti ingin memakan si ular Siska.


Tangan gadis itu merangkul lengan Marcus.


"Kakak." Suara manja yang terdengar seperti tikus kejepit itu sangat menggangu dan menjijikan bagiku.


"Kenapa kau tak menghubungiku? Aku sangat merindukanmu." Tak bisakah gadis itu berhenti bersikap memuakkan seperti itu. Rasanya aku ingin sekali menumpahkan mie ini ke tubuhnya.

__ADS_1


"Aku sibuk." Jawaban singkat Marcus membuat aku menarik sudut bibirku. Tiba-tiba mata Siska tertuju padaku. Aku menyeringai dan dia menatapku tajam. Dan sedetik kemudian dia juga menyeringai padaku. Alarm di otakku berbunyi. Gadis itu pasti tengah menyusun sesuatu yang licik.


"Sepertinya aku tak asing denganmu, Shelina." Apa yang sedang dia rencanakan? Aku melirik ke arah Andrew. Pria itu menaruh perhatian yang lebih akan ucapan Siska. Gadis itu mengerutkan keningnya seakan-akan tengah berpikir.


"Ah! Kau kuliah di Universitas Indonesia bukan?" Sialan apa yang tengah ia rencanakan? Apa dia ingin mengungkapkan hubunganku dengan Marcus dulu?


"Ya," jawabku singkat. Aku tak ingin berbicara lebih. Aku takut itu hanya akan menjadi umpan buat Siska untuk membongkar rahasiaku dengan Marcus.


"Pantas saja kau tak asing bagiku. Kak, kau juga mengenalnya, bukan?"


"Iya, Marcus juga kuliah di UI. Kalian pasti bertemu saat kuliah dulu." Perkataan Andrew membuat jantungku berdetak sangat cepat. Aku menatap Marcus lekat. Apa yang akan dia katakan? Ya tuhan, aku belum siap menerima reaksi Andrew jika dia tau kami dulu berpacaran.


Mata Marcus menatapku lekat. Apa yang dia pikirkan saat ini? Ada kecemasan yang mencekamku. Keringat mulai mengalir di pelipisku. Marcus hanya diam dengan mata tajam menghunusku. Hingga dia mengatakan hal yang tak pernah kupikirkan.


"Tidak, aku tak mengenalnya."


Sebuah pedang panjang menghunus jantungku hingga terbelah menjadi dua. Tubuhku kaku seketika. Marcus bilang tak mengenalku?


Aku tak menghiraukan Siska yang menyeringai ke arahku. Mataku hanya terpaku dengan Marcus. Aku tak percaya dia bisa mengatakan hal itu. Hatiku terluka. Aku memang tak ingin Marcus mengatakan mengenai hubungan kami tapi mendengar dia mengatakan tidak mengenalku, lebih menyakitkan dari pada dihina olehnya. Seakan semua kenangan indah kami di masa lalu tak ada artinya sama sekali. Lalu, apa maksud semua perhatian yang dia berikan beberapa hari ini?


Aku menatap Marcus dengan terluka. Mataku berkaca-kaca dan panas. Airmataku ingin tumpah saat ini tapi aku menahannya sekuat tenaga. Ada Andrew di sampingku. Dia tak boleh melihatku menangis.


Marcus membuang wajahnya dan bangkit berdiri.


"Aku sudah selesai dan akan kembali ke kantor. Banyak laporan yang harus kuperiksa." Lalu dia berjalan pergi tanpa menoleh ke arahku lagi. Siska juga bangkit dan terburu-buru mengikuti Marcus.


Aku tak sanggup lagi. Aku bangkit dan segera pergi ke toilet, tak menghiraukan Andrew yang memanggil namaku.


________

__ADS_1


Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih


__ADS_2