Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 6. Calon Ibu Tiri


__ADS_3

Kini aku duduk di balik counter casier. Pengunjung cafe cukup ramai untuk hari pertama pembukaan. Aku senang semua berjalan sesuai keinginanku. Semua? Aku terdiam, tidak semuanya berjalan sesuai keinginanku. Banyak yang terjadi diluar perkiraanku. Aku tak pernah memperkirakan bahwa Marcus adalah putra Andrew. Marcus sukses menjadi ancaman batalnya pernikahanku dengan Andrew. Dari puluhan juta orang di Indonesia, mengapa Marcus yang menjadi putra Andrew? Apa Tuhan sedang mempermainkanku? Apa ini memang sudah ditakdirkan olehnya? Agar aku bisa menyelesaikan semua urusan masa laluku sebelum melangkah menuju masa depan.


Ya, banyak hal yang menjadi pertanyaanku. Sangat banyak. Aku ingin sekali menanyakannya pada Marcus. Mengapa dia menghilang? Mengapa dia meninggalkanku? Mengapa dia pergi setelah mendapatkan seluruh hati dan tubuhku? Apa itu sudah dia rencanakan sejak awal? Apa dia hanya menginginkan tubuhku? Apa semua ungkapan cintanya di masa lalu hanyalah kebohongan?


Tentu saja, dia pria brengsek seperti itu. Semua tingkah dan perlakuannya saat ini sudah menjelaskan segalanya. Dia pria paling brengsek.


Dan sekarang dia ingin membatalkan rencana pernikahanku dengan Andrew. Tidak akan kubiarkan dia berhasil menyakitiku lagi. Aku sudah mengalami kesedihan, luka dan kesengsaraan selama lima tahun ini. Jadi, saat seorang pria menawarkan kebahagiaan kepadaku, aku tak akan menyerah begitu saja. Tak akan pernah, bila harus menjual harga diriku, maka aku akan melakukannya. Tekadku sudah kuat dan bulat.


"Hei, ada apa? Kau melamun sejak tadi." Suara seseorang mengagetkanku. Evelyn berdiri di depan meja kasir. Sepertinya dia sudah melayani semua pelanggan.


"Tidak apa-apa."


"Kau tak bisa membohongiku Shelina. Ada apa? Ada masalah? Ah ya, bagaimana pertemuanmu dengan putra Andrew? Apa putranya menolak kehadiranmu?"


Aku menatap Evelyn dengan seksama. Hanya dia teman yang aku miliki. Sejak aku menjadi seorang pelacur, dia banyak membantuku. Dia juga sama sepertiku, seorang pelacur yang mencari uang dengan menjajakan tubuhnya. Dia melakukan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup dan juga putrinya. Evelyn gadis sebatang kara yang tak memiliki keluarga, kekasihnya pergi setelah tahu dia hamil. Pria brengsek yang tidak bertanggung jawab itu meninggalkannya begitu saja. Dan Evelyn tak mungkin menggugurkan kandungannya. Hidup dengan status Single parent tanpa pernah menikah. Bertahan dari semua hinaan dan cacian orang lain. Wanita kuat yang sangat kusayangi.


"Shelina."


Aku tersenyum ke arah Evelyn.


"Putranya menyulitkanmu."


Aku menggembuskan napas pelan.


"Lebih dari itu. Pria itu memusuhiku. Sepertinya pernikahan kami terancam batal." Evelyn dengan cepat duduk si sampingku. Matanya menatap antusias memintaku untuk menjelaskan lebih lanjut.


"Benarkah? Apa karena kau dulu seorang pelacur?"


"Ya, salah satunya karena itu. Ditambah dengan umurku yang lebih muda darinya, tentu saja dia menolakku sebagai calon ibu tiri." Evelyn menghela napas. Dia sudah memperkirakan hal itu.


"Aku yakin kau bisa meluluhkan hatinya. Dan membuat dia menerima kehadiranmu di sisi Andrew." Evelyn mengepalkan tangannya untuk memberikanku semangat. Tapi bukan hanya semangat yang aku butuhkan, melainkan sebuah keajaiban.


"Masalahnya ini tidak semudah yang kau pikirkan Evelyn," ucapanku membuat Evelyn mengerutkan kening.


"Putra Andrew itu adalah 'dia'." Aku enggan menyebutkan nama pria itu. Namanya seakan penuh duri yang menusuk tenggorokanku jika aku mengucapkannya.


"Dia siapa maksudmu?"


"Pria yang dulu meninggalkan dan mencampakkanku begitu saja setelah mendapatkan keperawananku."


Aku selalu berbagi cerita dengan Evelyn. Segalanya, karena dia sudah kuanggap keluargaku sendiri. Dia seperti kakak juga ibu yang selalu mendukung, membela dan menyayangiku.


"Marcus? Maksudmu putra Andrew adalah Marcus." Aku mengangguk lemas menjawab pertanyaan Evelyn.


"Oh My God, bagaimana ini semua bisa terjadi? Pria brengsek itu pasti menolakmu."


"Ya, dia mengatakan akan melakukan apapun untuk membatalkan pernikahan kami."


"Damn jerk! Apa kau sudah menampar dan memukulinya?"


"Aku tak mungkin melakukan itu."


"Dia pantas mendapat sepuluh kali tamparan darimu. Tidak, seharusnya seratus kali. Pria brengsek tak tahu malu itu pantas mendapat kemarahanmu."


"Aku tak mungkin melakukan itu. Marcus putra Andrew. Dan Andrew tak tau tentang hubungan kami di masa lalu."


"Aish, jika aku bertemu dengan pria itu, aku akan menampar dan memukulinya. Berani-beraninya dia mengucap janji palsu dan meninggalkanmu begitu saja. Gara-gara dia juga kau hampir mati." Evelyn mulai berbicara panjang lebar dengan menggebu dan penuh amarah.


"Evelyn, tenanglah. Semarah dan sebenci apapun aku padanya, saat ini yang terpenting adalah pernikahanku dengan Andrew." Aku mengelus pundaknya. Dia selalu seperti ini. Marah jika ada yang menyakitiku. Apalagi jika dia mendengar tentang Marcus. Aku yakin Marcus tak akan selamat jika mereka berdua bertemu. Sudah sering Evelyn mengatakan dia akan memukuli Marcus hingga mati jika bertemu dengan pria itu.


"Apa Andrew mengatakan sesuatu? Dia akan tetap menikahimu walaupun putranya menentangmu, bukan?"


"Ya, Andrew bilang kami tetap akan menikah. Tapi, aku tak ingin dia bertengkar dengan Marcus."


"Jadi, apa yang akan kau lakukan?"


"Bersikap baik kepada Marcus agar dia menerima keberadaanku." Aku terpaksa tersenyum. Ya hanya itu yang bisa kulakukan saat ini. Dengan berat hati, walaupun aku sangat membencinya tapi aku harus bersikap baik. Karena dia akan menjadi anak tiriku.

__ADS_1


"Damn! Pria seperti dirinya tak layak mendapatkan kebaikanmu."


"Tapi aku harus melakukan itu bukan?"


"Ya, demi kelancaran pernikahanmu." Jawab Evelyn enggan dan lesu.


"Ingat, jika dia melukaimu. Kau harus melawannya. Jangan menjadi lemah di depannya, mengerti."


"Tentu saja. Aku tak akan membiarkan dia menginjak-injak harga diriku. Kau tau apa yang aku katakan padanya."


"Apa?"


"Aku bilang dia harus bersikap sopan padaku jika tak ingin mempunyai ibu tiri yang jahat."


"Kau mengatakan itu padanya? Dia pasti kesal bukan."


"Sangat." Evelyn dan aku tertawa keras. Kami berdua sama-sama membayangkan wajah Marcus yang sedang kesal.


˙°♡♡♡°˙


Kini aku sedang menonton reality show ketika Marcus pulang. Dia berjalan melewati ruang tengah tempatku menonton tv. Andrew mengatakan padaku jika dia harus lembur malam ini.


"Jangan lama, Marcus. Kau tau aku paling tidak suka menunggu."


Aku menoleh cepat ketika suara orang lain terdengar rak asing di telingaku. Aku kenal suara ini. Ini milik pria bernama Aiden. Benar, dugaanku. Aiden berjalan di belakang Marcus. Aku kenal dengannya. Dia sahabat baik Marcus. Pria itu baik dan ramah. Aku ingat bagaimana keakraban kami dulu. Aku juga sudah menganggapnya sebagai teman dekatku. Dia selalu memiliki cerita yang menarik dan lucu untuk di dengarkan. Tapi sayangnya pria itu seorang playboy.


Kini penampilannya seperti executive muda yang sangat tampan. Apa yang dia lakukan disini? Tunggu, apa yang harus aku lakukan? Aiden belum tau jika aku tunangan Andrew. Apa yang akan dia pikirkan jika dia tau hal ini?


Jantungku berhenti sedetik lalu bergemuruh dengan cepat saat mata Aiden bertemu dengan mataku. Gawat! Apa yang harus kulakukan? Aku belum pernah bertemu lagi dengan orang-orang dari masa laluku. Aku tak tau bagaimana reaksi Aiden saat tau statusku saat ini. Apakah dia akan menatapku rendah atau malah kasihan? Tapi, apapun reaksinya, aku sungguh tak ingin melihatnya saat ini.


"Ka-kau..." Aiden perlahan mendekat dengan mata tak pernah lepas menatapku. Kini dia sudah berdiri di hadapanku.


"Shelina? Kau Shelina Aston." Aku tak bisa mengeluarkan kata-kataku. Sudut hatiku merindukannya. Sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya.


"Astaga, sudah lama sekali kita tidak bertemu." Aiden langsung menarikku dalam pelukannya.


"Aku merindukanmu. Rindu ingin menjahilimu." Aiden terkekeh pelan, perkataannya sukses membuat aku mendengus malas. Aku selalu kesal jika pria ini menjahiliku.


"Ah maaf, maaf. Aku lupa jika kau pria posesif. Tapi mengapa kau tak pernah bercerita padaku tentang Shelina? Kalian sudah kembali bersama?"


"Ah tentu saja, dengan melihat Shelina berada di sini sudah menjelaskan segalanya," ucap Aiden sambil menatapku. Hatiku teriris dan dipukul dengan tajam oleh kata-kata itu. Karena kini statusku seratus delapan puluh derajat berbeda dengan sebelumnya.


"Aku belum menceritakannya padamu, Aiden. Perkenalkan dia Shelina Aston, calon ibu tiriku." Aku terkejut bukan main. Marcus tak pernah setuju dengan kalimat itu. Jadi kata-kata calon ibu tiri itu, dia gunakan hanya untuk menjatuhkan dan menginjakku.


"Ca-calon ibu tiri? Maksudmu...."


Jantungku berdegup kencang. Keringat dingin mulai bermunculan. Aku *** kedua tanganku dengan gelisah. Entah mengapa aku ingin sekali kabur dari sini? Aku bisa menahan tatapan hina, merendahkan dan mencemooh dari orang lain. Tapi tidak dari orang-orang yang berarti dalam hidupku. Dan Aiden sudah kuanggap sebagai sahabatku. Jadi, aku mohon jangan mengatakan apapun pada Aiden.


"Ya, dia adalah jalang yang menjadi tunangan Andrew, ayahku."


Udara menipis, dadaku begitu sesak. Tatapan mata Aiden menatapku lekat dengan tak percaya.


"Shelina, kau...."


Aku menunduk untuk menghindari tatapan mata Aiden. Ya Tuhan, aku kesulitan menahan air mataku. Aku ingin berlari menjauh dan menangis sekeras mungkin. Tapi aku menahannya. *** tanganku begitu kencang untuk mengalihkan perhatianku.


"Ya, dia di sini karena sebentar lagi akan menjadi ibu tiriku."


"Bisa kau bayangkan itu Aiden. Shelina Aston, gadis yang berumur dua puluh empat tahun akan menikah dengan pria empat puluh delapan tahun. Pria yang layak dipanggil ayah olehnya."


"Dan kau tau hal lucu apa yang dia katakan padaku?" Marcus menyeringai, hal buruk pasti akan dia katakan.


"Dia bilang dia mau menikahi Andrew karena dia menyayanginya." Seketika Marcus tertawa cukup keras. Dia mendekat ke arahku dan tawanya berhenti ketika dia berdiri di sisiku.


"Anak kecil yang bodoh saja tahu Shelina, kalau itu omong kosong. Kau pasti memiliki alasan dan maksud tersembunyi di belakang semua ini."


CUKUP! Aku tak ingin menunjukkan kelemahanku di hadapannya. Dia tak bisa mendorongku untuk menyerah menikah dengan Andrew. Aku mendongak. Dan mata hitam gelap yang tajam langsung mengunci mataku.

__ADS_1


"Dengar Marcus, calon anak tiriku." Aku memberi tekanan di setiap kata.


"Aku sudah memperingatkanmu untuk bersikap baik padaku, tapi kau masih saja seperti ini. Lupakan  ibu tiri yang baik, karena mulai sekarang aku tak peduli lagi. Apapun yang akan kau lakukan dan rencanakan, pernikahanku dan Andrew akan tetap terjadi. Bahkan jika perang dunia ketiga terjadi, kami akan tetap menikah. Kau tahu kenapa?" Sudut bibirku menyeringai. Sudah lama aku ingin mengatakan ini.


"Karena Andrew bukan pecundang yang mengingkari janjinya untuk menikahiku. Dia bukan dirimu." Aku menunjuk dadanya keras. Memukul telak akan sikap pecundang Marcus yang mengingkari janjinya di masa lalu. Setelah mengatakan itu dengan langkah tegas aku berjalan menjauh. Aku tak menghiraukan pandangan Aiden yang terus menatapku. Aku tak bisa membaca raut wajahnya saat ini. Dan aku tak tau apa yang sedang dia pikirkan sekarang, tapi satu hal yang aku yakini, aku tak mau bertemu lagi dengan Aiden.


Saat aku masuk ke dalam kamarku dan berdiri di belakang pintu yang tertutup. Saat itulah semua pertahananku hancur. Oh Tuhan, mengapa untuk meraih kebahagiaan di dunia ini sangat sulit? Aku hanya ingin bahagia. Mengapa kebahagiaan seakan menjauh dan tak mau menghampiriku?


Air mataku mengalir dengan deras. Sudah sering aku mendapatkan perlakuan seperti ini. Teramat sering mendapat hinaan, caci maki dan pelecehan. Sungguh, jika aku bisa memilih untuk hidup normal maka akan kulakukan apapun caranya.


Tapi keadaan yang membuatku seperti ini. Aku tak pernah mau menjadi pelacur tapi tuntutan hidup dan siksaan dari ayah memaksaku untuk menjual tubuh dan melayani pria hidung belang. Aku sudah mencoba pekerjaan yang lebih baik tapi hasilnya sedikit dan ayahku —Jonathan akan marah besar. Jika hal itu terjadi pasti tubuhku akan babak belur dipukuli olehnya.


Dan kini ketika aku hendak berhenti dari pekerjaan itu dan menjadi lebih baik. Mengapa semua orang seakan tak percaya? Mereka semakin menghina dan mencaciku. Aku akui selisih umur Andrew denganku sangat jauh. Tapi apa ada seorang pria muda yang mau menikahku? Aku sudah beruntung ada seorang pria yang mau bertanggung jawab atas hidupku. Berniat baik untuk membebaskanku dari jerat Jonathan. Memberikanku kesempatan untuk hidup lebih baik.


Tapi, mengapa? Mengapa semua orang tak mendukungku? Ketika aku menjadi pelacur, mereka semua menghina dan ketika aku berhenti dan ingin menikah, mereka malah semakin menghinaku. Mengapa hidupku seperti ini? Aku hanya ingin meraih kebahagiaan. Mengapa itu sangat sulit sekali untuk diraih?


***


Aku tersenyum setelah selesai menata makanan ke dalam kotak bekal. Siang ini aku berencana untuk datang ke perusahaan Cho Corporation. Aku sengaja membuat bekal makan siang untuk Andrew. Aku yakin dia pasti suka.


"Kau sudah selesai?"


"Ya." Aku merapihkan kotak bekal dan memasukkannya ke paper bag. Merapihkan tampilanku sedikit dan bersiap untuk pergi.


"Aku pergi dulu, Evelyn. Jaga cafe baik-baik, jika ada sesuatu segera hubungi aku." Aku tersenyum dan segera pergi.


Kini aku berdiri di depan gedung Cho Corporation. Gedung ini tinggi sekali. Aku kesulitan menemukan puncaknya, karena sangat tinggi. Aku mulai masuk ke dalam gedung dan segera menghampiri bagian resepsionis. Seorang gadis cantik tersenyum ramah.


"Ada yang bisa dibantu nona?"


"Aku ingin menemui presdir Cho."


"Apa anda sudah membuat janji nona?"


"Belum, tapi aku yakin dia mau menemuiku. Katakan padanya Shelina Aston ingin menemuinya."


"Maaf nona, jika anda belum memiliki janji kami tidak bisa memberikan izin untuk anda menemuinya. Lagi pula...." wanita itu melirik penampilanku. Dahinya mengerut tak percaya dan wajahnya menunjukkan ketidaksukaan. Apa yang salah dengan penampilanku? Aku hanya mengenakan blouse putih longar yang memiliki kerah v yang cukup rendah dengan skinny jeans warna hitam.


"Saya yakin presdir Cho tidak ingin menemui anda."


Aku tersenyum culas. Mengapa banyak orang yang tak percaya jika aku berhubungan dekat dengan Andrew? Aku benci ketika orang lain meremehkan dan merendahkanku. Dengan cepat aku mengambil handphone dari tas kecilku dan langsung menghubungi Andrew tepat di depan wanita resepsionis tadi. Dalam dering ke tiga Andrew mengangkat telponku.


"kak, aku ada di depan meja resepsionis kantormu." Aku terdiam sambil melirik wanita resepsionis tadi. Dia mulai gelisah menguping pembicaraanku.


"Aku membawa bekal makan siang untukmu. Kau pasti belum makan siang, bukan?"


"Tapi masalahnya wanita yang menjaga meja resepsionis kantormu tak memperbolehkan aku masuk."


"Ya,"


"Presdir Cho ingin berbicara denganmu." Aku menyodorkan hp ke arah wanita yang mengenakan name tag Nindy. Tangannya gemetar menerima hp itu. Wajahnya berubah muram dan gelap.


"Ya, presdir. Baik, saya tidak akan melakukan hal itu lagi. Ya." Dengan penuh kesopanan dan canggung wanita bernama Nindy itu menyerahkan hp-ku kembali.


"Maafkan kesalahan saya, nyonya. Saya tidak tahu jika anda tunangan presdir."


"Ya. Jadi aku sudah boleh masuk?"


"Ya, nyonya. Silahkan naik lift ke lantai 20, presdir sudah menunggu anda." Dia membungkuk hormat ke arahku.


Aku berjalan menuju lift. Hanya ada dua karyawan yang menunggu lift di sampingku. Dua orang pria yang tengah berbicara mengenai pekerjaan. Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Ketika lift terbuka mereka berdua masuk lebih dulu dan aku berdiri di depan mereka.


Setelah menekan lantai dua puluh. Aku menunggu. Dua pria karyawan di belakangku terdiam. Mereka tak mengobrol lagi. Dari refleksi pintu lift aku dapat melihat mereka berdua tengah menatapku. Memandangi tubuhku dari atas hingga bawah. Lalu pandangan mereka berubah, tak seperti sebelumnya.


Mereka terus memandang ke arah bokongku. Aku berdiri biasa dengan melipat tangan di bawah dada. Tak ada yang salah dengan caraku berdiri dan aku tak pernah ingin menggoda mereka.


Banyak yang bilang aku memiliki tubuh yang bagus. Lekukan pinggang dan pinggul yang sempurna dan memiliki bokong dan payudara yang cukup besar dan montok. Hingga bisa membuat seorang pria menginginkanku walau aku hanya berdiri biasa saja seperti ini. Walaupun aku seorang pelacur tapi sejak dulu aku tak pernah bertingkah murahan dan menggoda pria. Mereka sendiri yang datang menghampiriku. Karena tubuhku terlalu menggiurkan untuk mereka hiraukan. Aku sudah terbiasa mendapat pandangan penuh nafsu seperti yang dua pria di belakangku lakukan. Tapi, tidak dengan di sini. Di kantor tunanganku. Aku risih dan tak ingin membuat masalah apapun di kantor Andrew. Aku tak mau mempermalukannya. Aku dulu memang pelacur tapi bukan seorang jalang murahan yang haus belaian.

__ADS_1


Aku menatap ke atas pintu lift, tepat di layar yang menunjukkan angka suatu lantai. Saat ini baru lantai sepuluh. Ada sepuluh lantai lagi yang harus kutunggu. Dan mengapa tak ada orang lain yang menaiki lift ini.


Doaku pun terjawab. Tepat di lantai dua belas lift berhenti dan terbuka. Seseorang masuk ke dalam lift. Aku terkejut bukan main. Sial, dari puluhan orang yang bekerja di Cho Corporation mengapa harus Marcus yang masuk ke dalam lift ini.


__ADS_2