Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 14. Tantangan Gila


__ADS_3

Sebuah guncangan di pundak mengusik tidurku.


"Nona Shelina bangun." Suara itu membuat kesadaranku terkumpul dan perlahan mengerjapkan mata. Cahaya matahari langsung menyilaukan mataku.


"Nona bangun. Ini sudah siang." Aku menoleh. Mbok Sari tengah berjongkok di sampingku. Berjongkok?


Aku menatap ke sekeliling dan teringat kejadian semalam. Aku dan Marcus menonton film bersama. Rupanya aku tertidur di sofa.


"Dimana Marcus?"


"Tuan muda baru saja kembali ke kamarnya setelah Mbok bangunkan." Mbok Sari segera pergi setelah mengatakan itu. Wanita paruh baya itu membawa beberapa plastik sampah bekas makanan Marcus semalam. Aku bangkit dan bersandar di lengan sofa.


Aku terpaku pada selimut yang menutupi tubuhku. Aku tak ingat membawa selimut ini kemari. Lalu kenapa selimutku bisa ada di sini? Semalam aku tak membawa apapun dari kamarku.


Apa Marcus yang melakukannya? Dia yang mengambil selimut di kamar dan menyelimutiku? Benarkah dia melakukan itu?


Aku masih tak yakin namun mana mungkin Mbok Sari yang melakukannya karena wanita itu sudah terlelap semalam. Aku mencoba menepis pemikiran itu dan segera bangkit. Aku bisa kesiangan pergi ke Cafe jika terus melamunkan hal itu.


˙°♡♡♡°˙


Aku melangkah dengan terburu-buru ke ruang makan. Aku kesiangan! Walau Wonderful Cafe adalah cafe milikku tapi aku tak bisa bersikap seenaknya dan datang sesuka hati. Kakiku terhenti sedetik menyadari Marcus sudah duduk di salah satu bangku meja makan. Aku tak mungkin berbalik. Itu pasti terlihat aneh. Jadi aku kembali berjalan dan duduk di hadapan Marcus.


"Ini. Aku sudah memanggang roti untukmu." Marcus menyodorkan piring berisi roti bakar ke hadapanku. Aku menatap Marcus menyelidik.


"Jangan khawatir, aku tidak memasukkan sianida ataupun racun lainnya ke dalam roti itu."


Aku tak yakin tapi melihat pria itu bersikap tak acuh ditambah aku sudah kesiangan dengan enggan aku memakan roti itu. Digigitan pertama aku tak merasakan hal aneh apapun, jadi aku memakannya dengan cepat. Aku sudah terlambat!


"Pelan-pelan. Kau bisa tersedak jika makan secepat itu." Marcus menyodorkan segelas susu coklat ke arahku.


Lagi-lagi keningku mengerut. Ini benar Marcus bukan? Kenapa dia sangat perhatian padaku? Tidak seperti dirinya minggu kemarin. Namun karena keadaan yang mendesak membuat aku meminum susu itu dengan cepat.


"Sepertinya kau terburu-buru sekali. Ayo, aku antar kau ke cafe."


Seketika aku menyemburkan susu yang ada di dalam mulutku. Aku terbatuk-batuk sambil menatap Marcus tak percaya. Mengapa dalam semalam sikap pria itu sangat berubah?


"Sudah kubilang pelan-pelan Shelina."


"Kau benar-benar Marcus?"

__ADS_1


"Tentu saja. Apa kau pikir aku Andrew Cho?" Setelah mengatakan itu Marcus terkekeh pelan. Aku tak percaya ini. Marcus membuat sebuah lelucon denganku. Apa matahari terbit disebelah timur? Apa perang dunia keriga akan terjadi sebentar lagi?


Tangan Marcus terulur ke arahku. Aku membeku, tak bisa berkutik ketika jempol Marcus mengusap bibirku. Lalu pria itu menghisap jempolnya yang terdapat setitik susu coklat di sana. Degup jantukku berdegup kencang. Itu ... itu secara tak langsung ciuman? Dan mengapa dia melakukannya sesexy itu? Oh Tuhan, cepat kirim Andrew kembali sebelum aku melemparkan tubuhku ke arah Marcus. Aku tak sanggup bertahan dari pesona pria tampan nan sexy di hadapanku ini.


˙°♡♡♡°˙


Minggu pagi ini aku libur bekerja. Aku berjalan ke arah balkon dan menghirup udara segar. Sudah empat hari sejak kepergian Andrew. Pria itu tak pernah menelpon ataupun membalas pesanku. Sepertinya dia sangat sibuk sekali di jepang. Aku harus memakluminya, karena dia seorang presdir perusahaan besar.


Dan mengenai Marcus. Pria itu bersikap sangat baik padaku akhir-akhir ini. Awalnya aku khawatir dan cemas dengan perubahan sikapnya yang sangat drastis tapi sepertinya itu lebih baik daripada kami selalu bertengkar. Aku masih bersikap waspada dan tak sepenuhnya percaya. Aku yakin dia merencanakan sesuatu.


Evelyn bilang mungkin saja Marcus bersikap baik dan perhatian padaku agar aku berpaling padanya dan melupakan niat awal untuk menikah dengan Andrew. Lalu setelah pernikahan kami batal, Marcus pasti akan meninggalkanku. Aku tak sudi jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Jadi, walaupun terlihat menerima sikap baiknya, aku tetap tak melonggarkan kewaspadaanku. Aku harus mengunci rapat pintu hatiku.


Tiba-tiba suara ponselku berdering. Aku segera masuk dan melihat ponselku. Sebuah panggilan dari Andrew. Aku langsung mengangkatnya.


"Hallo."


"Shelina, maaf aku baru menghubungimu saat ini. Banyak pekerjaan yang harus aku lakukan."


"Tidak apa-apa. Aku mengerti."


"Bagaimana kabarmu? Marcus tidak menyulitkanmu selama aku tak ada?"


"Aku baik."


"Jangan terlalu memporsir dirimu terus bekerja. Makan yang teratur."


"Iya, jangan khawatir. Besok kau temui leonardo— wedding organizer, untuk melihat gedung dan memilih dekorasi pernikahan kita. Aku sudah mengatakan pada Marcus untuk mengantar dan menemanimu."


"Iya, baiklah."


"Pilihlah sesuai keinginanmu."


"Ya."


"Baiklah, aku harus bersiap untuk rapat pagi ini. Hubungi aku jika ada sesuatu yang terjadi, Aku merindukanmu, Shelina."


"Iya, aku juga merindukanmu." Setelah itu telpon Andrew terputus. Aku berbalik dan langsung terlonjak. Marcus tengah berdiri di tengah kamarku. Astaga, jantungku mau copot rasanya.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Aku hanya ingin mengajakmu sarapan bersama."


"Baiklah, ayo." Aku melangkah mengikuti Marcus ke bawah untuk sarapan pagi bersamanya.


˙°♡♡♡°˙


Aku terkejut melihat Marcus yang tengah duduk bermain PS di ruang keluarga. Kenapa dia di sini? Apa dia tidak kerja?


Aku berjalan ke arah sofa dan duduk di sana dengan pandangan ke arah Marcus. Pria itu tengah duduk di karpet tebal di hadapanku.


"Kau tidak bekerja?"


"Apa kau lupa ini hari minggu." Walau ucapannya tajam namun tak ada sedikitpun nada sinis dalam suaranya.


Aku tersenyum menatap punggung lebar Marcus. Pria itu masih sama seperti dulu. Walau kini sudah dewasa tapi dia masih suka bermain game. Aku ingat dulu saat berkunjung ke apartemen Marcus, dia selalu mengajakku bermain ps bersama. Kami selalu bertaruh, yang kalah akan mendapat hukuman dan yang menang mendapat satu hadiah. Dan Marcus seringkali menang.


Dia selalu menghukumku dan memintaku untuk menciumnya. Saat itu hariku penuh tawa dan kegembiraan. Aku tak pernah berpikir jika kami akan berada dalam situasi saat ini. Aku tak pernah menyangka Marcus akan pergi meninggalkanku.


"Kau juga tidak bekerja?" Pertanyaan Marcus itu menyadarkanku dari ingatan masa lalu.


"Kau lupa hari ini minggu." Aku mengembalikan kalimat yang sebelumnya dia ucapkan. Marcus mendengus lalu kepalanya berbalik menghadapku.


"Ayo, main ps bersama?"


Alisku terangkat sebelah. Aku tak percaya dia mengatakan itu. Aku hanya diam dan terus mengamati raut wajahnya.


"Atau kau takut akan kalah dariku?" Sebelah alisnya terangkat untuk mengejekku. Tak ada kata takut kalah dalam kamus seorang Shelina Aston. Apalagi untuk melawan Marcus. Aku bangkit dan duduk di samping Marcus.


"Siapa takut? Jangan menangis jika kau kalah dariku." Daguku terangkat dan menantang Marcus. Walau dulu dia sering menang tapi aku juga beberapa kali mengalahkannya.


"Hei, harusnya aku yang mengatakan itu."


"Kita lihat saja, siapa yang menangis seperti pecundang nantinya. Kali ini apa taruhannya? Sentil kening atau melakukan hukuman lain." Bagaimana aku bisa mengatakan hal sombong seperti itu?


"Melepaskan satu kancing?" Mataku sontak membesar. Apa dia gila? Aku memang masih mengenakan piayama tidurku dan Marcus juga mengenakan kaos kerah yang memiliki sedikit kancing.


"Kenapa? Kau takut?" Sebelah alisnya terangkat menantangku. Hal yang tidak kusukai adalah ketika seseorang merendahkanku. Terkutuklah ego-ku karena aku tidak ingin menolak tantangan Marcus.


__________

__ADS_1


Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Like, Comment, dan vote cerita ini. Terima kasih


__ADS_2