Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 47. Dia bukan anakku


__ADS_3

Disini kembali menggunakan pov Sherina ya.


____________________


~Shelina Aston~


Senyumku terbit tiap kali mengingat ucapan Marcus. Semuanya seperti mimpi. Aku masih tak yakin bahwa sebentar lagi kami berdua akan menikah.


Tanganku mengelus perut. Semuanya berkat baby yang ada dalam perutku. Seandainya tadi aku tidak pingsan, pasti sudah terucap kata bersedia dari mulutku. Untungnya aku hanya mengucapkannya dalam hati dan sedetik kemudian pingsan. Rencana Tuhan memang tidak pernah ada yang tahu.


Suara langkah kaki yang memasuki ruangan membuat aku mendongak. Jonathan datang dengan stelan brantakannya. Tapi tak tercium bau alkohol dari tubuhnya.


"Kau sangat sombong sekarang hingga tak mengundangku ke pernikahanmu."


Rahangku mengeras dan tangan terkepal. Untuk apa aku mengundangnya. Dia sendiri tidak pernah memperlakukanku sebagai putrinya.


"Untuk apa? Untuk mengacau di pernikahanku?" Tanyaku sarkastis. Alisku naik untuk mengejeknya.


"Sombong sekali dirimu sekarang. Apa menjadi nyonya besar Cho membuatmu gelap mata dan lupa dari mana kau berasal? Jika bukan karena aku, kau tak akan menjadi nyonya besar."


"Apa maksudmu? Kau itu hanya memperalatku saja. Kau tak pernah menganggapku sebagai anakmu. Karena dirimu? Yang benar saja, Andrew dan aku—argh." Aku langsung berteriak saat tangan Jonathan dengan cepat mencengram leherku.


"Dasar anak tak tau diri. Jika bukan karena aku yang menyuruhmu menjadi jalang, kau tak mungkin bisa bertemu dengan Andrew. Jika bukan karena aku yang sering menyiksamu, Andrew tak akan mau menikah denganmu. Jadi, jangan besar kepala jalang."


Leherku sangat sakit. Tanganku mencengkeram lengan Jonathan, menariknya untuk melepaskanku. Tapi cengkeramannya malah semakin kuat.


"Le—lepaskan ak—ku." Suaraku tercekat. Dan airmata mulai keluar tanpa bisa kutahan lagi.


Jonathan mengeluarkan sesuatu di kantong celananya menggunakan tangan yang lain. Mataku membesar dengan sempurna mana kala pisau lipat itu dibuka.

__ADS_1


Pisau? Apa yang akan Jonathan lakukan dengan pisau itu? Apa dia akan menyiksaku dengan pisau lipat itu?


"Menurutmu apa yang akan terjadi jika aku menggoreskan pisau ini di wajah cantikmu." Mataku membesar seketika menatap wajah Jonathan yang menyeringai penuh misteri ke arahku. Membuat bulu kudungku merinding karena takut. Dia memang sering menyiksaku tapi tak pernah menggunakan pisau.


"Apa yang kau inginkan?"


"Kau pasti tau apa yang aku inginkan."


Mataku kembali membesar tak percaya. Dia melakukan ini hanya untuk uang. Sanggup melukai putrinya sendiri hanya untuk uang. Ayah macam apa dia? Dia tak layak dipanggil ayah. Bahkan ayah terburuk di dunia ini masih lebih baik dibandingkan dirinya.


"Shelina, kudengar kau...." Aku melirik ke arah Evelyn yang baru saja masuk ke ruangan ini. Matanya membesar dan sedetik kemudian pancaran amarah keluar dari tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan Jonathan?!" Teriak Evelyn kencang. Dan hendak mendekat. Namun dengan cepat Jonathan berdiri di belakang tubuhku. Tangan kirinya menekan pundakku sedangkan tangan kanan yang menggenggam pisau teracung ke depan.


"Jangan mendekat. Jika kau mendekat aku akan melukainya." Tangan kanan Jonathan kini beralih ke depan leherku. Dan pisaunya nyaris menyentuh kulit leherku.


"Aku tak akan membiarkanmu melukainya." Mata Evelyn menatapku lekat, ada tekad yang kuat di sana. Aku tau jika gadis itu pasti akan berbuat nekad. Tapi aku tak ingin dia terluka.


"Evelyn jangan bertindak bodoh."


"Tapi, Shelina."


"Ya, lebih baik kau pergi dan panggil Andrew kemari. Atau aku akan melukai istrinya ini."


Aku menatap tepat di mata Evelyn. Meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja dan memintanya menuruti ucapan ayahku. Seakan mengerti pesan yang aku kirimkan dari tatapan mataku. Evelyn menghela napas lalu berbalik pergi meninggalkanku dengan Jonathan.


Aku terdiam setelah Evelyn pergi. Jonathan masih menahan pisau di depan leherku. Menekanku agar tak bergerak sedikitpun, jika tak ingin pisau itu menggores kulit leherku.


"Mengapa kau melakukan ini?"

__ADS_1


Setelah terdiam cukup lama, aku pun memulai pembicaraan dengan Jonathan. Aku ingin mengetahui semua alasannya yang memperlakukanku seperti ini. Tak hanya padaku tapi juga terhadap almarhum ibuku. Jika aku putri kandungnya dia tak mungkin memperlakukanku seburuk ini. Tak akan ada seorang ayah kandung yang menyiksa anaknya sendiri. Bahkan seekor hewan tak akan melakukan itu.


Tak mendapatkan jawaban apapun dari Jonathan yang berdiri di belakangku. Aku kembali berbicara.


"Mengapa kau menyiksaku seperti ini? Mengapa kau memperlakukanku seperti seorang jalang rendahan? Mengapa tak pernah sekalipun kau memperlakukanku layaknya putrimu? Apa hatimu sudah sangat beku atau kau tak memiliki hati? Aku anakmu, putri kandungmu sendiri, tapi mengapa? Mengapa kau memperlakukanku seperti ini? Kau bahkan menyiksa ibuku hingga dia meninggal. Sampai kapan kau melakukan ini. Sampai aku sudah tak bernapas lagi?"


Napasku memburu, airmata mengalir lagi. Hatiku hancur mengingat semua yang terjadi dalam hidupku karenanya. Seorang ayah adalah tempat bersandar anaknya. Tapi mengapa aku tak bisa sedikitpun melakukan hal itu. Jangankan memberikan kasih sayang padaku. Jonathan tak pernah sekalipun tersenyum atau menganggapku sebagai putrinya. Di matanya aku seperti seorang hama. Di mata Jonathan, aku hanyalah gadis yang mengahasilkan uang untuknya. Dan di matanya aku sama sekali tak berharga.


"Karena kau memang tak berarti untukku."


Aku membeku. Aku tau dia tak menganggapku sebagai putrinya, tapi mendengar Jonathan mengatakan itu secara langsung membuat hatiku sakit dan hancur. Dia memang memperlakukanku dengan buruk tapi hanya dia satu-satunya keluarga yang aku miliki di dunia ini Hanya dia seorang keluargaku.


"Karena kau bukanlah putriku." Ucapan Jonathan bagaikan roket yang meluncur dengan cepat dan menghantamku. Meledakkanku hingga berkeping-keping dan hancur seketika hingga tak berbekas.


Aku selalu memikirkan alasan itu. Tapi mendengarnya langsung dari mulut Jonathan sangat menyiksaku. Hatiku menyangkalnya. Hatiku masih menginginkan dia berbohong. Walaupun dia sudah berbuat jahat tapi aku masih menyayanginya. Sejahat apapun dia memperlakukanku namun aku masih mengangapnya sebagai ayahku.


"Benarkah?"


Aku masih saja tak percaya. Seakan hatiku sangat menentang hal itu.


"Ya. Aku memang sangat mencintai Dina,—ibumu dulu. Tapi rasa cintaku berubah jadi benci setelah dia membodohi dan membohongiku. Ibumu berkata dia hamil anakku. Wanita jalang itu mengatakan bahwa kau adalah anakku. Dia pikir bisa membodohi dan membohongi. Kau jelas bukan anakku. Aku memang sering bercinta dengannya. Tapi aku yakin kau bukan anakku. Dia berselingkuh dan menghianatiku. Mungkin dia hamil dari tamu yang dia layani, karena ibumu sudah menjadi pelayan bar sejak dulu. Dan dia ingin aku yang bertanggung jawab atas anak haram itu."


"Bagaimana kau yakin aku bukanlah anakmu? Kau bilang kalian sering bercinta bukan? Tentu saja kemungkinan kau adalah ayahku jauh lebih besar."


"Tentu saja aku sangat yakin kau bukan anakku karena aku melakukan vasektomi."


___________


Mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2