
"Bibirmu terluka, biarkan aku mengobatimu." Sebenarnya, selain ingin membantunya mengobati luka itu, aku juga ingin berbicara lagi dengannya. Mengapa dia membantuku? Apa itu hanya bentuk kepedulian karena aku calon ibu tirinya? Atau memang dia mengawatirkan dan ingin melindungiku, dengan kata lain dia masih menyayangiku. Mungkinkah itu?
"Tak perlu."
"Kumohon," ucapku dengan nada memelas. Akhirnya dia mengangguk.
Kini aku dan Marcus tengah duduk berhadapan di sofa ruanganku yang ada di dalam cafe. Tanganku memegangi kapas dan membersihkan sisa darah di sudut bibir Marcus sebelum mengoleskan obat.
Marcus hanya diam dan terus mengamatiku. Aku mengabaikannya dan fokus mengobati bibir Marcus.
"Pipimu sangat merah. Itu pasti sakit."
Tubuhku berdenyit pelan. Ternyata Marcus melihat semuanya. Dia tau jika Jonathan dua kali menampar wajahku tadi.
"Ya, aku baik-baik saja."
"Baik-baik saja bagaimana? Kedua pipimu sangat merah apalagi yang kanan, tertempel cap tangan pria brengsek itu."
"Aku tak apa, ini sudah biasa." Dengan cepat tangan Marcus mencengram pergelangan tanganku yang mengobati lukanya. Mataku menatap lekat Marcus. Ada amarah terpancar dari sorot mata hitam itu. Aku tak mengerti apa yang menyulut amarahnya.
"Apa maksudmu sudah biasa? Jadi pria brengsek yang mengaku ayahmu itu sudah biasa menyakitimu, begitu?"
Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan sebelum mengangguk. Tak ada lagi yang perlu aku sembunyikan. Marcus sendiri sudah melihat semuanya.
"Pria yang kau lihat tadi memang ayahku. Tapi dia sangat tak layak untuk kupanggil ayah. Pria yang selalu berjudi dan mabuk-mabukkan setiap hari, menyiksa juga memukuli ibu maupun aku, hanya untuk melampiaskan amarah atau meminta uang dari kami. Bahkan dia juga yang membunuh ibuku."
"Apa maksudmu? Pria itu membunuh ibumu?"
Aku mengangguk pelan dan mulai menceritakan semuanya pada Marcus. Semuanya, tak ada satupun cerita yang terlewatkan olehku. Bahkan aku menceritakan tentang aku yang menunggu kepulangannya ke apartemen. Juga bagaimana akhirnya aku menjadi jalang dan melacur setiap malam di club.
Setelah menceritakan semuanya aku terdiam. Marcus hanya menatapku lekat. Dari awal aku bercerita hingga akhir, dia sama sekali tak mengatakan apapun. Mendengarkan semua yang kukatakan tanpa memotong ucapanku. Apa yang dia pikirkan setelah mendengar semua ini? Aku menatap lekat mata Marcus mencari jawabannya.
__ADS_1
Kedua tangan Marcus menangkup pipiku. Sedikit nyeri namun belaian lembut dan kehati-hatiannya mengurangi rasa sakit itu.
Dia menatapku begitu lekat hingga aku terhanyut begitu dalam, lalu sekejap mata aku masuk ke dalam pelukan hangatnya. Begitu hangat dan erat. Airmataku jatuh begitu saja. Hatiku yang sejak dulu dalam ketakutan dan kekhawatiran akhirnya tenang juga kembali damai. Seakan kembali ke tempat dimana aku seharusnya berada. Serasa semua masalah di dunia ini bisa aku lewati. Seperti kekuatan terisi penuh dan seluruh hatiku kembali utuh. Rumah, sandaran dan belahan jiwaku telah kembali. Dan aku tak bisa menahan airmata yang mulai mengalir dengan deras.
"Aku tak tau kau mengalami semua itu," ucapan Marcus bagaikan mantra yang melepaskan semua kesedihanku. Aku menangis semakin keras. Aku memeluk Marcus erat dan mencengram bajunya.
"Jangan menangis, Lina. Aku akan selalu di sampingmu." Aku menangis semakin histeris dan menenggelamkan kepalaku di ceruk leher Marcus. Memeluknya begitu erat seakan takut dia akan menghilang jika aku melonggarkan pelukanku sedikit saja.
"Marc... Marc." Di sela isak tangisku, aku memanggil namanya. Marc-ku kembali.
˙°♡♡♡°˙
Setelah insiden isak tangis memalukanku di Cafe tadi. Marcus mengantarkanku ke mansion. Sepanjang perjalanan dia sama sekali tak berbicara. Tapi sebelah tangannya mengenggam erat tangan kananku. Memberikanku kekuatan dan peganggan. Lalu dia kembali pergi bekerja ke kantor. Setelah menguras pasokkan airmataku dan tak tau apa yang aku lakukan di mansion. Aku memutuskan untuk tidur.
Aku terbangun saat sebuah tangan besar mengusap lembut rambutku. Mataku mengerjap pelan dan menyesuaikan cahaya yang masuk ke rentina.
Sebuah senyuman menyilaukan dengan sebuah lesung pipi hadir di hadapanku.
"Kudenger Jonathan kembali mengancam juga mengobrak-abrik cafe." Aku mengangguk pelan. Kembali teringat apa yang terjadi siang tadi. Apa Marcus yang mengatakan semua itu pada Andrew?
"Apa dia menyakitimu?" Nada khawatir terdengar sangat kental. Aku menggeleng.
"Shelina," ucap Andrew penuh penekanan. Seakan tau bahwa percuma saja aku berbohong padanya.
"Hanya tamparan, kau tak perlu khawatir."
"Mengapa kau tak menghubungiku?"
"Aku tak sempat dan yakin kau pasti sibuk di kantor."
"Kau jauh lebih penting dari pada pekerjaanku di kantor."
__ADS_1
"Maaf." Aku menunduk dan menyesal sudah membuatnya khawatir.
"Kau sangat berarti untukku, Shelina. Aku tak ingin Jonathan ataupun orang lain menyakitimu."
"Maaf. Aku akan menghubungimu jika sesuatu terjadi padaku." Andrew menghembuskan napas pelan dan mendongakkan daguku.
"Apa pipimu masih sakit?" Aku menggeleng. Masih sedikit nyeri tapi aku tak mau mengatakannya dan membuat Andrew khawatir.
"Kau pasti lapar. Ayo turun dan makan malam." Aku menoleh ke arah jendela. Langit memang sudah gelap. Berapa lama aku tertidur?
Andrew menarik tanganku dan mengajakku untuk turun ke bawah.
˙°♡♡♡°˙
Marcus sudah duduk di kursi meja makan. Dia belum makan, sepertinya pria itu menunggu kami. Ada yang aneh. Mengapa dia duduk di situ? Di kursi sebelahku. Bukankah dia biasanya duduk di kursi yang ada di hadapanku. Aku tak mungkin pindah dan perlahan duduk di kursi tempatku biasa.
"Ayo makan." Mulai Andrew. Seperti biasa aku membantunya mengambil beberapa makanan. Setelah itu baru mengambil makanan untukku sendiri. Sebenarnya aku ingin mengambilkan Marcus makanan juga, tapi itu tak mungkin. Aku tak ingin Andrew kembali curiga.
"Tak biasanya kau duduk di situ?" Benarkan, tak hanya aku, Andrew juga bingung mengapa Marcus duduk di sampingku.
"Memangnya ada aturan aku harus selalu duduk di sana. Lagipula tak ada larangan untuk duduk di sini." Andrew hanya menggedikkan bahunya tak peduli. Kami melanjutkan makan.
Sebuah tangan menyentuh tangan kiriku. Aku terdiam dan melirik jemari Marcus yang menarik tanganku. Apa yang dilakukannya?
Lalu dia membuka jari jemariku dan mengisi setiap celah dengan jemarinya. Jemari kami saling bertautan. Marcus mengenggem tanganku di bawah meja. Aku menoleh ke arah Marcus tapi pria itu membuang jauh wajahnya dan tak sedikitpun melihat ke arahku.
Sudut bibirku berkedut. Betapa manisnya dia. Jadi, dia pindah duduk di sampingku karena hal ini. Dia ingin menggenggam tanganku selama makan malam berlangsung. Aku menunduk karena tak bisa lagi menahan senyuman.
_____________
Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih
__ADS_1