Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 40. Pengakuan Marcus


__ADS_3

Berlari secepat yang aku bisa hingga beberapa detik kemudian aku sudah ada di depan pintu ruangan itu. Napasku memburu dan keringat dingin bercucuran. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lalu menekan handle pintu dan membukanya.


Jantungku berdetak semakin cepat. Aku mulai melangkah masuk dan melihat Marcus juga Andrew tengah duduk di sofa saling berhadapan. Mereka berdua menoleh ke arahku dengan pandangan datar. Aku terdiam menatap bergantian mereka berdua. Mencoba mencermati apa yang sudah Marcus katakan pada Andrew. Aku tidak boleh bertindak gegabah.


"Apa itu benar Shelina?" Andrew menatapku tajam hingga menusuk ke jantung. Memacu jantungku untuk berdetak semakin kencang. Jantungku seperti bom waktu yang akan pecah kapan saja.


Aku masih diam dan tak menjawab pertanyaan Andrew.


"Apa benar bahwa kau dan Marcus dulu berpacaran?" Jantungku bergemuruh seperti genderang yang mau perang. Berdegup dengan sangat cepat dan kuat. Lidahku kelu dan aku terdiam mematung tak bisa bergerak sedikitpun. Aku tak tau harus berkata apa.


"Mengapa kau tak mengatakannya padaku? Mengapa kau menyembunyikan hal ini dariku?" Nada suara Andrew tetap tenang dan terkontrol tapi hal itu malah semakin membuatku takut. Seberapa banyak yang sudah Marcus katakan padanya.


Mataku melirik ke arah Marcus. Pria itu hanya diam dan menatapku. Seakan memintaku untuk berbicara sejujurnya karena dia sudah mengatakan pada Andrew.


"Andrew, aku...."


"Apa kau berpikir akan menyembunyikan hal ini dariku selamanya?" Aku benar-benar tak tau harus berkata apa. Aku bersalah dan menyesal karena tak berkata jujur sejak awal padanya. Dan aku yakin Andrew pasti akan sangat marah padaku.


"Andrew, maafkan aku. Tak seharusnya aku menyembunyikan hal ini darimu." Andrew menatapku tajam hingga nyaliku menciut dan menunduk untuk menghindari tatapan matanya.


"Kenapa kau menyembunyikannya?"


"Maafkan aku. Maaf, tidak seharusnya aku menyembunyikan hal ini saat tau Marcus adalah putramu. Aku hanya—"


"Cukup." Suara Andrew yang penuh penekanan membuat aku menghentikan ucapanku. Pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arahku. Matanya menatapku tajam. Dia berjalan tegas dan kini sudah berdiri di hadapanku. Dadanya naik turun menahan sesuatu yang akan meledak saat ini juga.

__ADS_1


Aku hanya terdiam takut dan siap menerima semua amukan juga amarah darinya. Tangan Andrew perlahan bergerak melayang di udara. Apa dia akan menamparku?


Aku memejamkan mata rapat. Aku tau aku pantas mendapatkan tamparan juga amukan darinya. Aku sudah menghianati Andrew.


Dan sedetik kemudian tubuhku semakin kaku dan tak bisa bergerak. Mataku langsung melebar tak percaya. Andrew bukan menampar tapi pria itu malah memelukku erat.


"Maaf, aku tak tau bahwa pria pertamamu adalah putraku, Marcus. Maafkan aku."


Aku semakin bingung dibuatnya. Bukankah seharusnya sekarang Andrew marah padaku? Kenapa dia malah meminta maaf? Dia tidak salah. Aku yang bersalah disini. Aku yang berselingkuh dengan Marcus di belakangnya. Lalu kenapa dia yang meminta maaf?


Andrew melepas pelukannya namun tak menjauhkan tubuh kami. Dia menyentuh daguku dan mendongakkannya.


Aku menatap wajah Andrew yang dekat denganku. Matanya memancarkan kesedihan dan luka.


"Aku kecewa karena kau tak mengatakan hal penting ini padaku. Namun aku lebih merasa bersalah karena pria itu adalah putraku." Keningku mengerut. Aku masih mencoba menguraikan maksud dari kata-kata Andrew.


Mungkinkah Marcus baru menceritakan mengenai hubungan kami dimasa lalu? Pria itu belum mengatakan tentang kami yang bercinta di belakang Andrew?


"Kau mengalami banyak penderitaan dan kesengsaraan karena Marcus. Karena dia merenggut kesucianmu, kau disiksa oleh Jonathan. Karena dia meninggalkanmu begitu saja, kau sulit untuk percaya pada pria manapun. Aku yang sama sekali tak tau akan hal ini malah memintamu untuk dekat dan berteman dengannya. Memintamu untuk kembali bertemu dengan pria yang sudah menghancurkan dan memberikan kesedihan padamu. Itu pasti berat dan sulit untuk kau hadapi. Kau pasti tersiksa dan terluka setiap kali bertemu dengan Marcus."


Airmataku menetes tanpa bisa aku tahan. Semua yang diucapkan Andrew sangat menyentuh hatiku. Dia lebih mementingkan dan menghawatirkan perasaanku dibanding dirinya sendiri. Aku sudah mengecewakannya tapi bagaimana bisa dia masih sangat memperhatikan dan menghawatirkanku seperti ini?


"Maaf karena aku tak tau hal ini. Maaf karena aku tak bisa mendidik putraku dengan baik. Maaf karena aku bersikap egois dan tak mengetahui penderitaanmu selama ini. Maaf Shelina. Kau pasti sangat sengsara tinggal di mansion ini."


Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkannya? Pria ini terlalu baik. Aku tak mungkin mengecewakan dirinya yang sangat memperhatikanku.

__ADS_1


Airmataku semakin mengalir dengan deras. Mata Andrew yang berkaca-kaca menatapku dengan raut menyesal dan rasa bersalah yang kental. Seakan mengalami dan mengerti betapa besar penderitaan dan luka yang sudah aku alami.


Dan aku membohongi pria baik ini? Aku menghianatinya? Aku menghancurkan semua kepercayaan yang dia berikan? Betapa kejamnya diriku.


"Tidak, Andrew. Kau tak seharusnya meminta maaf. Aku yang salah. Maafkan aku."


"Tidak. Kau tak perlu meminta maaf. Aku mengerti mengapa kau tak mengatakan hal itu padaku. Kau pasti tak ingin aku menghukum putraku."


"Katakan sejujurnya padaku. Apa kau masih mau menikah denganku, walaupun kau tau bahwa Marcus adalah putraku?"


Aku terdiam. Aku tak menyangka Andrew akan menanyakan hal ini. Dia bertanya kesediaanku untuk menikah dengannya. Seharusnya ini adalah saat yang tepat untuk menolak pernikahan kami, tapi entah mengapa otakku memerintahkan kepala untuk mengangguk. Walau hatiku menjerit dan menangis kencang akan keputusan ini. Tapi aku tetap pada keputusanku. Aku akan menikah dengannya.


"Ya, aku akan tetap menikah denganmu. Walaupun Marcus adalah putramu." Bibir Andrew perlahan mulai melengkungkan sebuah senyuman. Dan aku senang bisa membuat senyuman itu terbit di wajahnya.


"Tidak!" Teriakan Marcus memecah kepiluan dan keharuan yang terjadi diantara aku dan Andrew.


"Kau tak bisa menikah dengannya, Ayah. Shelina adalah kekasihku." Marcus sudah berdiri tak jauh dari kami. Matanya menatap tajam dan marah.


"Mungkin maksudmu adalah mantan kekasih."


"Tidak, dia kekasihku sekarang. Kami bahkan sudah bercinta di belakangmubelakangmu, " ucap Marcus tegas membuat aku terpana dengan ucapannya.


Jantungku berdegup kencang dan terasa sakit. Seakan ada yang memukulnya begitu kuat. Aku tak tau harus bagaimana dan hanya melirik ke arah Andrew dengantakut. Pria itu menatap tajam Marcus.


________

__ADS_1


Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih


__ADS_2