Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 36. Kisah Aiden


__ADS_3

"Apa maksudmu?"


"Jangan berpura-pura polos Shelina." Tangan Aiden mencengram rahangku begitu kuat. Menimbulkan rasa sakit yang teramat sangat.


"Jika aku tak meletakkan cctv di kamarmu, maka aku pasti akan melewatkan kedekatan kalian."


"Ka-kau." Suaraku serak dengan mata membesar.


"Ya, aku sengaja meletakkan beberapa cctv tersembunyi di mansion keluarga Cho sejak kau tinggal disana. Aku melihat semuanya. Ketika kalian bercinta di saat mati lampu, aku marah dan mengirimkan rekaman ancaman padamu dan rekaman sabotase untuk Marcus agar kalian kembali bertengkar. Tapi entah bagaimana caranya kalian kembali semakin dekat dan lagi-lagi bercinta. Kau benar-benar jalang rendahan. Kau akan menikah dengan Andrew tapi bercinta dengan putranya —Marcus." Aku spechless dan tak tau harus berkata apa.


"Dan setelah aku berpikir lagi. Sebelum semuanya terlambat aku harus melakukan tindakan pencegahan. Dengan tanganku sendiri aku akan menyingkirkanmu dari keluarga Cho untuk selamanya."


"Aku akan menyekapmu. Jika terdesak mungkin aku akan membunuhmu."


"Aiden," panggilku lirih. Ini bukan Aiden yang kukenal. Sosok lembut penuh sayang yang dulu selalu bercanda denganku berubah menjadi jahat seperti ini.


"Apa kau harus melakukan semua ini? Apa hatimu sudah terbutakan?"


"Ya, aku hanya memiliki ibu dan Siska di dunia ini. Jadi, akan aku lakukan apapun untuk membuat mereka bahagia. Termasuk menyingkirkan jalang rendahan seperti dirimu."


"Kau tak akan bisa melakukannya. Aku yakin Marcus dan Andrew akan datang menyelamatkanku." Aiden tertawa keras.


"Tak akan ada yang datang untuk menyelamatkanmu, Lina. Tak akan ada yang berpikir bahwa aku yang telah menculik dan menyekapmu di rumah pribadiku ini." Setelah itu Aiden kembali menyumpalkan kain ke mulutku.


Bagaimana ini? Benar apa yang Aiden katakan. Tak akan ada yang mencurigainya sebagai dalang penculikanku. Lalu apa yang akan terjadi jika Marcus atau Andrew tak dapat menyelamatkanku?


Ya Tuhan, baru sebentar aku mengalami kebahagiaan, mengapa kini aku kembali mengalami cobaan seperti ini?

__ADS_1


Marcus, selamatkan aku. Aku takut.


˙°♡♡♡°˙


Sudah dua hari aku disekap di dalam kamar ini. Kini kedua tangan dan kakiku tidak terikat lagi namun aku tak bisa melarikan diri. Ada dua bodyguard bertubuh besar yang berjaga di balik pintu kamar ini. Jendela maupun pintu kamar terkunci rapat. Bahkan aku melihat beberapa bodyguard lain menjaga rumah ini dari jendela kamar. Kamar ini berada di lantai dua dan tak ada satupun rumah di sekitar sini. Sepertinya ini adalah rumah yang dimiliki Aiden untuk berlibur. Jauh dari kota dan dekat dengan pegunungan. Aku tak tau dimana lokasinya. Yang pasti aku tak bisa meminta tolong pada siapapun.


Sudah dua hari juga, tak ada tanda-tanda Marcus ataupun Andrew yang datang untuk menyelamatkanku. Menyadari tempat yang jauh dari keramaian, juga pribadi Aiden yang tenang, aku yakin Marcus dan Andrew tak akan menaruh curiga padanya. Lalu apa yang akan terjadi padaku jika mereka berdua tak datang untuk menyelamatkanku?


Aku sudah memikirkan cara untuk kabur. Tapi aku tak yakin dengan banyaknya bodyguard yang berjaga di luar. Lagipula, bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari kamar ini?


Tiba-tiba suara kunci pintu yang dibuka membuatku waspada. Ini belum saatnya makan malam. Pasti ada hal lain sehingga orang itu membuka pintu kamar ini. Aku menatap waspada ke arah pintu. Selama aku disekap tak pernah sedikitpun mereka menyentuhku. Dan aku akan tetap mempertahankan itu.


Wajah lembut dengan senyuman malaikat mengejutkanku. Aiden. Pria itu tak pernah menemuiku lagi sejak pertama aku terbangun. Dia menutup pintu dan berjalan ke arahku.


"Bagaimana keadaanmu?" Aku mendengus dan membuang wajahku jauh. Sejak tau seperti apa dirinya yang sebenarnya, aku tak sudi lagi melihat wajah Aiden. Aku tak akan tertipu dengan wajah malaikat berhati iblis miliknya.


"Aku akan baik-baik saja jika kau melepaskanku."


"Jangan bermimpi, kucing manis. Aku tak akan melepaskanmu begitu saja." Dia melepaskan cengkramannya dan berdiri tegak.


"Aku datang menawarkanmu kesepakatan. Aku akan membebaskanmu asalkan kau mau menjadi pelacurku." Aku mendongak cepat dan menatap Aiden tajam.


"Aku lebih baik mati daripada menjadi pelacurmu."


"Apa kau bilang?!" Pergerakkan Aiden sangat cepat dan aku tak bisa menahan hempasannya. Aku terbaring di ranjang dengan Aiden di atasku.


"Jangan bersikap jual mahal *****. Atau ini salah satu daya tarik terbesarmu. Bersikap menantang padahal kau sudah siap melebarkan kakimu untuk pria manapun." Aku meludahi wajahnya.

__ADS_1


"Aku tak pernah sudi melakukannya dengan iblis sepertimu." Wajah Aiden menggelap dan aura mengerikan menghantuiku.


"Perlawananmu membuat aku mengeras sayang. Sudah lama aku ingin mencicipimu." Aiden menuruhkan bobot tubuhnya, wajah pria itu mendekat ingin mencium bibirku. Aku meronta dengan keras. Melakukan perlawanan apapun yang kubisa.


Tapi tenaga Aiden jauh lebih besar. Dia meraih kedua tanganku dan mengikatnya dengan dasi yang sebelumnya ia pakai lalu menahannya diatas kepalaku agar aku tak bisa bergerak. Kedua kakiku di tahan oleh bobot tubuhnya. Dan dia mulai mencium bibirku. Aku menggeleng tak mau dan Aiden menampar pipiku. Lalu dia mulai mencium rahang dan bergerak ke leherku.


"Tidak! Tidak! Marcus! Marcus!" Aku berteriak keras memanggil nama Marcus berharap pria pujaan hatiku segera datang dan menyelamatkanku.


"Dia tak akan datang kemari. Tak akan ada siapapun yang datang untuk menyelamatkanmu," ucapan Aiden di sela ciuman dan hisapan bibirnya di leherku.


Tiba-tiba ketukan di pintu menghentikan aktivitas Aiden. Dia mengangkat tubuhnya untuk berbalik menghadap ke arah pintu tanpa menjauh dari atas tubuhku.


"Maaf bos, ada beberapa orang yang mencoba menerobos masuk. Mereka sudah melumpuhkan beberapa anak buah kita yang berjaga di luar rumah."


"Apa?" Aiden bangkit dari atas tubuhku. Aku bisa bernapas lega karena dia menghentikan aksinya. Dan sangat bersyukur orang-orang itu datang tepat waktu. Tapi siapa mereka? Apa itu Marcus dan Andrew?


"Ikat dia dan sembunyikan di ruang rahasia."


"Baik boss."


"Apa?!" Mataku membesar. Aiden berjalan keluar dari kamar dan bodyguardnya menghampiriku.


"Marcus! Tolong!" Aku berteriak sebisaku sebelum sang bodyguard membekap mulutku untuk diam. Setidaknya aku sudah berusaha berteriak dan berharap orang-orang yang datang itu mendengar dan menyelamatkanku.


Bodyguard itu mengikat kencang tangan dan kakiku. Lalu menggendongku menuju ruang rahasia. Kepalaku langsung berputar karena pria itu menggendongku di pundaknya seperti tengah menggotong karung beras.


_____________

__ADS_1


Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih


__ADS_2