
"JAGA UCAPANMU, Marcus Cho!" Aku berteriak keras sambil berdiri.
"Aku tak serendah itu. Walaupun aku miskin dan seorang pelacur tapi aku tidak pernah memiliki niat untuk menguras seluruh harta keluargamu."
"Benarkah? Lalu mengapa kau mau menikah dengan ayahku, jangan katakan kau mencintainya karena itu semua Bullshit."
"Atau kau mau mengatakan hanya Andrew yang menghargai dan menginginkanmu, begitu? Berhenti berakting dan berpura-pura lemah, *****. Kau pikir aku akan tertipu dengan akal muslihatmu itu. TAK AKAN PERNAH!"
"KAU!"
"Aku muak dan tak sudi melihat wajah jalangmu lebih lama lagi." Setelah itu dia pergi. Tanganku masih mengepal erat mataku membara menatap punggung Marcus yang menjauh. Pria itu. Aku sangat ingin menerjang dan memukulinya hingga babak belur.
Sebuah tangan besar dan hangat mengenggam tanganku. Aku menoleh dan terkunci dalam tatapan mata Andrew yang teduh dan menenangkan.
"Tenangkan dirimu." Tangannya menarikku untuk kembali duduk di kursi. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Mengatur deru napas memburuku agar kembali normal.
"Apa yang terjadi? Mengapa kalian bertengar, bahkan lebih hebat dibanding dulu? Bukankah kalian kemarin baik-baik saja dan terlihat akrab."
Aku terdiam. Aku marah karena dia menghinaku. Ditambah dengan kado spesial itu yang aku yakini pengirimnya adalah Marcus membuat aku semakin marah dan kesal pada pria itu.
Tapi aku tak bisa mengatakan mengenai kado spesial itu pada Andrew.
"Aku tak tau, sejak semalam dia bersikap seperti itu. Atau memang itulah sifat aslinya."
Andrew menghela napas panjang dan menggenggam tanganku erat.
"Maaf, aku tau ucapannya sangat kasar padamu. Sebenarnya dia adalah anak yang baik. Tapi sejak kematian ibunya dia menjadi sangat tertutup dan keras." Mata Andrew menatapku dengan rasa bersalah.
__ADS_1
"Dia menyimpan luka yang mendalam." Kesedihan terpancar jelas di kedua mata Andrew.
"Karena kehilangan ibunya?"
"Tidak, karena seorang wanita." Wanita? Aku terdiam dan menatap lekat Andrew. Aku ingin mendengar ceritanya.
"Dulu Marcus adalah pria yang hangat dan baik. Tapi setelah kematian ibunya dia berubah dingin dan pendiam. Kupikir perubahan itu karena dia merasa kehilangan ibunya tapi ternyata bukan. Dia memang bersedih Hanna meninggal tapi itu bukanlah penyebab perubahan sikapnya. Dia seperti itu karena seorang wanita." Aku hanya diam dan tak menyela ucapan Andrew.
"Saat itu Hanna berkunjung ke apartemen Marcus. Pria itu mengatakan pada Hanna mengenai gadis yang ia cintai. Dan Marcus berkeras untuk mengantar Hanna pulang. Namun malam itu sedang hujan lebat dan jalanan sangat licin. Akhirnya kecelakaan tak terhindarkan. Mobil yang Marcus kendarai menabrak tiang listrik dengan sangat keras. Hanna dan Marcus dibawa ke rumah sakit namun Hanna meninggal sesaat tiba sana. Dan Marcus mengalami koma."
"Koma?" Aku tak pernah tau pria itu mengalami koma. Andrew mengangguk dan kembali melanjutkan ceritanya.
"Iya, Marcus koma selama enam bulan. Saat itu aku benar-benar terpuruk. Istriku meninggal dan putraku mengalami koma."
"Beruntung Marcus akhirnya terbangun setelah enam bulan. Dan dia sangat syok ketika mengetahui Hanna telah meninggal. Dia juga mencari keberadaan seorang gadis yang bernama Lina." Jantungku berdegup sangat kencang.
"Ya, gadis yang dia ceritakan pada Hanna bernama Lina. Namun selama dia di rawat dan koma tak ada gadis yang bernama Lina yang menjenguknya. Hanya Siska teman kuliahnya yang datang menjenguk. Dan gadis itu juga semakin sering menjenguk Marcus setelah dia sadar. Saat itu aku tau gadis itu menyukai Marcus. Namun sejak saat dia terbangun dari koma Marcus mulai berubah. Dia jauh lebih dingin dan pendiam. Kupikir semua itu karena rasa kehilangan akan ibunya. Namun ternyata semua perubahan itu karena gadis yang bernama Lina." Setiap kata yang Andrew ucapkan seakan perlahan menarik roh dari dalam ragaku.
"Marcus terluka karena gadis yang dia cintai tak pernah sekalipun menjenguknya. Marcus sakit hati karena gadis itu menghianati cintanya. Dan kudengar dari Siska, gadis itu hanya memanfaatkan harta Marcus saja. Setelah mendengar Marcus kecelakaan dan koma, gadis yang bernama Lina itu menghilang tak ada kabar. Mungkin dia berpikir Marcus tak akan pernah bangun lagi." Keringat dingin sudah membanjiriku. Jantung berdegup semakin kencang seiring Andrew menceritakan semuanya.
"Kapan kecelakaan itu terjadi?"
"Lima tahun yang lalu, 25 maret 2010." Degup jantungku bertalu dengan kencang hingga terasa sakit. Kecelakaan itu terjadi bertepatan dengan hari kematian ibuku. Dan Marcus koma selama enam bulan setelah hari itu. Itu berarti Marcus ....
"Jadi, kumohon agar kau mengerti dia. Karena gadis bernama Lina itu, Marcus sulit untuk mempercayai orang lain lagi. Dia sangat sakit hati. Karena hal itu juga dia bersikap dingin dan keras padamu. Dia tak ingin kembali dikhianati dan berpikir kau mendekatiku hanya untuk menguras harta keluarga Cho saja."
Aku hanya diam termenung dengan fakta mengejutkan yang baru saja kudengar. Gadis yang bernama Lina adalah aku. Lina adalah nama panggilan kesayangan yang Marcus berikan untukku.
__ADS_1
"Jadi, cobalah mengerti dirinya." Tangan Andrew membelai kepalaku namun aku sama sekali tak menanggapinya. Aku masih termenung menatap kosong dan tenggelam dalam pikiranku sendiri. Semua spekulasi mulai terbentuk.
Lima tahun yang lalu, tanggal 25 maret 2010 ibuku meninggal. Sejak hari itu aku kehilangan kontak dengan Marcus. Kupikir dia menghilang menjauhiku, tapi ternyata pria itu mengalami kecelakaan hebat.
Aku rapuh dan membutuhkan kehadirannya saat itu tapi ternyata Marcus sedang berjuang melawan maut.
Seminggu lebih aku menunggu Marcus pulang ke apartemennya, tapi dia tak pernah datang. Bukan Marcus tak mau datang tapi karena dia tak bisa datang dan berjuang untuk bangun dari koma.
Kupikir Marcus meninggalkanku begitu saja tanpa penjelasan, tapi ternyata dia tak bisa menghubungiku karena sedang koma.
Apa yang sudah aku lakukan? Aku menangis dan mengharapkan kehadirannya di masa tersulitku namun aku sama sekali tak tau mengenai keadaannya. Aku tak ada di sisinya saat dia tengah berjuang melawan maut dan berusaha bangun dari koma.
Dia bahkan menanyakan keadaanku saat dia terbangun, sedangkan aku malah berpikir dia sudah menghianati dan meninggalkanku. Aku bahkan mengumpat dan mencacinya.
Ya Tuhan! Semua hanyalah kesalahpahaman. Dan aku begitu bodoh karena tak tau bagaimana keadaannya saat itu. Aku malah terpuruk dengan keadaan dan kesedihanku sendiri. Membiarkan pria yang kucintai berjuang sendiri melawan maut.
Marcus.
Dia tak pantas mendapat semua umpatan dan kalimat kasar yang aku katakan padanya.
Marcus.
Pasti sangat besar rasa kecewa yang Marcus rasakan saat itu. Tapi mengapa dia tidak mencari dan menuntut jawaban dariku? Mengapa dia tak menemuiku saat dia sudah sadar dan sehat kembali?
Aku harus menemui dan meminta penjelasan langsung darinya. Aku bangkit dan menuju kamarku. Aku bahkan tak tau sejak kapan Andrew berangkat kerja. Sekarang aku harus pergi menemui Marcus.
_____________
__ADS_1
Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih