Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 9. My Dari Life


__ADS_3

Pagi ini aku bangun kesiangan. Mata membengkak karena tangis semalam dan bibirku terluka. Apa yang harus kukatakan jika Andrew bertanya tentang keadaanku yang berantakan ini?


Setelah mandi dan berdandan aku turun ke bawah untuk sarapan. Aku berharap smoke eye's dan lipstik merah dapat menutupi keadaanku.


Aku terdiam di pintu ruang makan. Mengapa Marcus duduk di sana?


"Shelina." Andrew tersenyum ke arahku. Dia meletakkan koran pagi yang baru saja dibaca. Aku berjalan mendekat dengan mata yang tak pernah lepas dari Marcus. Ini pertama kalinya dia ikut sarapan pagi bersama selama aku tinggal di mansion ini.


"Apa? Kenapa?" Suara judes Marcus membuat aku mengeleng singkat. Masih heran dengan keberadaannya di sini. Aku duduk di samping Andrew.


"Kau kesiangan, kenapa? Apa mengurus cafe membuatmu lelah?"


"Ya, cafe cukup ramai saat ini."


"Ambillah libur, jangan terlalu memporsir tenangamu. Tunggu.." Andrew menarik daguku kearahnya. Aku terdiam. Apa dia menyadari sesuatu yang salah di wajahku?


"Ada apa dengan bibirmu?"


"Uhuk... uhuk..." Marcus terbatuk saat mendengar ucapan Andrew. Aku meliriknya. Jadi, dia masih ingat dengan apa yang terjadi semalam. Aku menepis tangan Andrew dan kembali mengoles selai ke roti.


"Semalam aku tak sengaja mengingitnya saat menggosok gigi."


"Kau harus mengobatinya jika tak ingin menjadi sariawan."


"Ya."


"Ayah yakin mau menjadikan Shelina sebagai istri. Mengurus dirinya sendiri saja, dia tak bisa."


Aku mendengus keras. Apa dia lupa jika bibirku terluka karena dirinya?


"Aku sudah mengenalnya cukup lama Marcus. Shelina wanita yang mandiri. Dia bisa melakukan banyak hal."


"Termasuk melayani pria di atas ranjang."


Rahangku langsung kaku. Marcus benar-benar memancing emosiku. Dia mau mati ditanganku ya?


"Aku heran mengapa kau sangat membenci Shelina? Dia memang memiliki masa lalu yang buruk tapi dia layak menjadi seorang istri. Jika kau mempermasalahkan perbedaan umur kami, aku rasa kau tak perlu semarah dan sebenci ini kepada Shelina. Apa kau memiliki alasan lain hingga membuatmu sangat membencinya?"


Benar. Aku juga mempertanyakan hal itu? Mengapa Marcus sangat membenci dan menentang hubunganku dengan Andrew?


Marcus hanya diam, mata tajamnya menatapku lekat.


"Ya, aku sangat membencinya karena dia wanita yang licik dan tak pantas untukmu, ayah."


"Kau berbicara seakan kau sudah lama mengenal Shelina. Apa kalian memang saling mengenal sebelumnya?"


Aku menoleh cepat ke arah Andrew. Dari sudut mataku, aku menangkap Marcus juga melakukan hal yang sama. Kami terkejut dengan ucapan Andrew barusan.


"Ada apa? Mengapa kalian berdua menatapku seperti itu? Apa benar kalian saling mengenal?"

__ADS_1


"Tidak!" Teriakku cepat berbarengan dengan Marcus.


Aku menoleh dan langsung bersitatap dengan mata hitam Marcus. Sedetik kemudian kami saling membuang muka. Aku mendengus keras. Sampai kapanpun aku tak akan mengatakan kepada Andrew bahwa Marcus dulunya mantan kekasihku.


Andrew tertawa cukup keras menyita perhatianku.


"Ini pertama kalinya kalian berdua begitu kompak. Dan terlihat sangat menggemaskan."


"Aku tak sudi disamakan dengan wanita jalang itu."


Aku mendengus. Dia pikir aku sudi. Seandainya di sini tak ada Andrew, sudah kugunting bibir menyebalkan Marcus itu. Aisshhh menyebalkan!


"Shelina gadis yang baik, Marcus. Aku yakin dia bisa menjadi ibu tiri yang baik untukmu. Kau hanya belum mengenalnya saja. Aku yakin kau akan menyukainya. Kalian bisa berteman dulu."


Marcus mendengus kasar mendengar ucapan Andrew. Kami berdua berteman? Astaga itu tak mungkin.


"Aku sudah selesai. Aku berangkat duluan ayah." Marcus bangkit dan berjalan pergi meninggalkan ruang makan tanpa sedikitpun berpamitan atau menatap ke arahku. Tak bisakah pria itu bersikap sedikit baik padaku.


***


Aku duduk di sudut Wonderful Cafe menatap pemandangan di luar dari kaca jendala yang besar di samping kananku. Kejadian semalam mengusikku. Apa maksud perkataan Marcus?


Bagaimana bisa kau bertunangan dan akan menikah dengan ayahku? Apa kau sudah gila? Dari semua pria di dunia ini kenapa kau memilih ayahku untuk menjadi suamimu? Apa kau sengaja melakukan itu untuk menyakitiku? Kau ingin melihatku semakin hancur karenamu.


Aku menyakiti Marcus? Lelucon apa yang sedang pria itu katakan. Jelas-jelas dia yang meninggalkanku tanpa kabar apapun setelah dia mendapatkan keperawananku. Ingatan lima tahun lalu masih terekam dengan jelas dalam otakku. Seakan semua itu baru saja terjadi kemarin.


Satu hari setelah aku memberikan keperawananku pada Marcus, saat itulah malam kematian ibuku. Hari itu Marcus tak ada kabar sama sekali. Kupikir dia sibuk dengan tugas kuliahnya. Namun dia tak datang sama sekali saat pemakaman jasad ibuku. Hatiku begitu sedih saat itu, aku membutuhkannya tapi dia tak bisa dihubungi. Nomor ponselnya sudah tak aktif. Aku masih berpikir positif saat itu dan fokus pada pemakaman jasad ibuku karena Jonathan, ayahku sama sekali tak mau mengurusnya.


Aku terkejut bukan main saat ini. Aku bahkan sudah bertemu dengan pria hidung belang yang membeliku. Tapi aku tak akan pernah sudi menjadi pelacur. Aku tak mau pria lain menyentuh tubuhku. Aku hanya ingin Marcus yang melakukan itu.


Dengan nekad aku kabur dari kamar hotel itu. Aku pergi ke apartemen Marcus untuk mencari perlindungan dari pria itu. Tapi saat aku sampai di sana, Marcus tak ada. Kupikir dia hanya pergi keluar sebenta. Karena aku mengetahui password pintu apartemennya maka aku masuk ke dalam. Saat itu perasaanku sudah terasa aneh. Apartemen Marcus tak ada perubahan sedikitpun dari hari aku meninggalkan tempat itu. Seakan Marcus telah pergi sejak hari itu.


Namun hati kecilku menepis prasangka itu. Aku tetap tinggal di sana sambil menunggu Marcus kembali. Pria itu tak ada kabar, ponselnya tak pernah aktif dan teman-teman di kampusnya sudah lama tak melihatnya. Dua minggu lebih aku menunggu Marcus kembali. Tersiksa akan kesedihan karena kehilangan ibu juga kerinduan yang begitu besar terhadap Marcus. Aku merindukannya.


Setiap malam aku menangis dan berdoa agar dia kembali. Hatiku selalu sakit setiap kali aku mengusap sprei ranjang Marcus. Mencari jejak harum pria itu di sana. Aku tersiksa akan kerinduan yang mendalam. Setiap kali ingin menyerah aku selalu teringat janji Marcus yang akan menikahiku. Ucapan cinta dan sentuhannya di tubuhku.


Tapi semua itu sia-sia. Penantian penuh siksaku saat itu sangat tak berguna. Tepat di minggu ketiga, orang bagian properti apartemen datang ke apartemen Marcus. Aku terkejut bukan main. Mereka merapihkan dan memasukkan semua barang Marcus ke dalam box. Aku mengerutkan kening dan meminta penjelasan pada mereka. Saat itulah jantungku ditusuk pedang panjang hingga menembus punggungku.


Mereka bilang apartemen itu sudah dijual. Ketika aku menanyakan di mana Marcus, mereka mengedikkan bahu tak tahu. Saat itu juga airmataku mengalir tanpa henti. Marcus meninggalkanku begitu saja, tanpa ucapan perpisahan sedikitpun. Pria itu menghilang bagai ditelan bumi. Pergi setelah mencuri hatiku hingga memberi kekosongan dan kehampaan.


Aku tak bisa tetap tinggal di sana. Karena pemilik baru akan menempati tempat itu. Aku putus asa. Tak ada lagi yang bisa aku harapkan untuk menjadi sandaran hidupku. Semua pergi meninggalkanku. Ibu, Marcus, impian bahkan semangat hidupku menghilang tak berbekas. Meninggalkan jasad tanpa hati yang enggan melanjutkan hidup.


Aku berjalan gontai menyusuri jalan setapak. Aku tak tau harus kemana. Aku tak mungkin kembali ke rumah. Jonathan pasti akan menyiksa dan memaksaku untuk menjadi pelacur. Aku tak memiliki teman sama sekali. Siapa yang sudi berteman dengan anak seorang pelacur dan seorang penjudi?


Tak ada yang tersisa. Bahkan keperawananku sudah menghilang. Untuk apa lagi aku hidup?


Saat itu adalah titik paling suram dalam hidupku. Kupikir aku tak akan lebih menderita lagi. Tapi ternyata aku salah. Jonathan menemukanku. Pria itu memukuliku. Dan dia melakukan niat awalnya, menjadikanku pelacur. Pria itu lagi-lagi menjualku dengan harga tinggi, dia berpikir aku masih perawanan. Dan aku tak bisa kabur lagi saat itu. Karena Jonathan sendiri yang mengikat kedua kaki dan tanganku di keempat sisi ranjang.


Saat itu aku dipaksa untuk melayani pria tua hidung belang. Airmataku mengalir sepanjang malam. Pria tua itu sangat bringas dan kasar ketika mendapati aku tak perawan lagi. Dia marah dan melampiaskan semuanya dengan sex kasar dan brutal. Tubuhku perih dan lecet, aku kesulitan berdiri setelah malam itu. Tapi ternyata itu bukanlah siksaan terakhir yang aku terima saat itu. Pria tua itu marah besar pada Jonathan dan mengambil setangah uang yang dia bayarkan.

__ADS_1


Amukan dan kemarahan Jonathan limpahkan padaku. Dia berteriak marah karena aku sudah tak perawan. Dia menyiksaku. Mencambukku berulang kali dengan ikat pinggangnya. Jonathan benar-benar marah karena hanya mendapatkan sedikit uang dariku. Dia mengamuk terus menerus. Tak mempedulikan tubuhku yang sudah penuh oleh luka dan melepuh akibat cambukkan panas dari ikat pinggangnya.


Aku pikir saat itulah kematianku. Tapi ternyata Tuhan masih ingin mengujiku. Di batas akhir kesadaranku Jonathan berhenti. Dia pergi begitu saja meninggalkanku yang telanjang penuh dengan darah dan luka. Pria itu sama sekali tak berniat membawaku ke rumah sakit. Tubuhku demam tinggi saat matahari terbit keesokan harinya. Dan ketika aku sadar aku sudah berada di sebuah klinik kecil. Pandanganku kosong.


Mengapa hidupku hancur seperti ini? Apa kesalahanku hingga takdir begitu buruk? Siapa yang harus aku salahkan? Ibu yang sudah melahirkanku? Ayah yang tak bermoral? Atau kekasih yang hanya menginginkan tubuhku?


Dada begitu sesak, paru-paru mengecil dan hatiku menghilang, aku kehilangan semangat hidup. Bahkan air mataku tak bisa lagi menetes. Teramat banyak air mata yang sudah kukeluarkan hingga mengering. Sejak saat itu aku tak pernah percaya pada siapapun. Aku hidup tanpa tujuan dan menuruti semua kemauan Jonathan. Menjual tubuhku dan melayani pria hidung belang yang mau membayar mahal. Tak ada lagi kebahagiaan dalam hidupkuku. Bahkan aku tak pernah memimpikan sedikit harapan untuk bahagia bersama keluarga kecilku di masa depan.


Hingga akhirnya aku bertemu dengan Andrew. Pria itu mengulurkan tangannya ke arahku. Bagaikan malaikat yang dikirim Tuhan untuk mengakhiri semua penderitaanku. Pria yang memperlakukanku layaknya wanita terhormat. Pria yang memberikanku kasih sayang. Pria yang menjanjikan perlindungan dan kebahagiaan untukku. Pria yang menyediakkan pundaknya untukku bersandar. Itu sebabnya aku tak akan membiarkan Marcus menghalangiku.


Aku tak ingin kembali ke rumah Jonathan. Aku tak ingin lagi menjual dan melayani pria asing. Aku tak ingin lagi menerima semua pukulan dan sikaaan Jonathan. Aku tak mau. Apapun yang terjadi aku harus menikah dengan Andrew. HARUS!


"Sejak tadi kau melamun." Tangan halus mengganggam tanganku. Aku menoleh. Evelyn sudah duduk di hadapanku.


"Marcus mempersulitmu ya?"


"Sangat." Aku menghela napas berat. Pria itu benar-benar mempersulit keadaan. Walau Andrew berjanji akan tetap menikah denganku. Tapi aku masih khawatir Marcus melakukan sesuatu untuk menggagalkan pernikahan kami. Pria brengsek itu pasti memiliki ide licik di otak pintarnya.


Lima tahun yang lalu dia bisa membodohi dan memanfaatkan kepolosanku untuk terjerat dalam pesonanya. Setelah Marcus mendapatkan keperawananku dia pergi begitu saja. Pergi tanpa pernah tau aku hampir mati di tangan Jonathan karena Marcus mengambil keperawananku.


"Apa yang dilakukannya?"


"Mengkonfrontasi Andrew, menghina dan merendahkanku. Dia juga mempermalukanku di depan Aiden, sahabatku dan Marcus."


"Pria brengsek itu benar-benar cari mati. Tapi dia tidak melukaimu secara fisik bukan?"


"Tidak." Aku terdiam, kejadian semalam melintas dalam benakku. Saat Marcus mengatakan aku menyakitinya, sebelum pria itu menciumku dengan brutal.


"Ada apa?" Evelyn menyadari perubahan raut wajahku.


"Aku tak mengerti dengan sikap pria itu. Semalam Marcus mabuk. Dia mengatakan hal aneh padaku."


"Hal aneh apa?"


"Dia mengatakan aku menyakiti dan membuatnya hancur. Dia juga menciumku dengan kasar. Dan hal yang paling aneh, aku menangkap kesedihan dalam matanya. Aku tak mengerti, apa itu hanya halusinasiku saja atau pria itu memang bersedih?" Evelyn terdiam mencerna ucapanku. Lalu matanya menatapku serius.


"Itu pasti halusinasimu saja Shelina. Marcus adalah pria brengsek. Apa kau lupa dengan apa yang sudah pria itu lakukan padamu? Dia meninggalkanmu begitu saja setelah berjanji akan menikahimu. Pria brengsek yang hanya menginginkan keperawananmu saja. Pria brengsek yang memberikanmu harapan palsu. Pecundang yang mengingkari janjinya. Jadi, jangan goyah dan terpengaruh lagi oleh pesona dan sandiwaranya."


"Tapi Evelyn, mata Marcus..."


"Shelina." Evelyn memotong ucapanku, tangannya mengenggam kedua tanganku erat.


"Prioritasmu saat ini adalah memperhatikan Andrew dan menyiapkan pernikahan kalian." Aku terdiam. Evelyn benar, prioritasku saat ini adalah Andrew dan persiapan pernikahan kami. Tapi entah mengapa tatapan mata Marcus semalam sangat mengangguku. Semoga apa yang Evelyn katakan benar. Itu hanyalah sandiwara Marcus agar aku menyerah kalah.


***


Aku tengah memasak sup ayam untuk makan malam. Pinggulku sedikit bergoyang mengikuti irama musik. Aku selalu menyetel musik dari ponsel untuk menemaniku memasak seorang diri. Entah mengapa aku suka melakukan itu.


Terkadang aku ikut bernyanyi dan bergoyang sesuai lagu karena aku memasak di dapur ini sendirian. Andrew juga Marcus belum pulang, jadi aku melakukan salah satu hobbyku memasak sambil mendengarkan musik. Ini menyenangkan.

__ADS_1


Pinggulku terus bergoyang mengikuti irama lagu yang menghentak. Sup ayam-ku sebentar lagi matang. Aku mencicipinya sedikit. Pas dan enak. Suasana hati orang yang masak akan mempengaruhi hasil masakannya. Jadi saat aku memasak dengan suka cita, tentu saja masakanku sangat enak. Aku mengambil mangkuk besar dan menuang sup kedalamnya. Lalu aku membawa mangkuk itu untuk diletakkan di atas meja makan.


Saat mendongak, aku langsung membeku. Marcus berdiri di depan pintu. Mata kami bertemu. Sedetik kemudian Marcus mengalihkan pandangannya. Dan berjalan masuk ke dapur. Dia membuang wajahnya jauh. Aku terus menatapnya. Sejak kapan dia berdiri di depan pintu? Apa dia melihat aksi gilaku?


__ADS_2