Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 49. Hati Jonathan


__ADS_3

"Tidak mungkin! Itu tidak mungkin. Kau pasti merekayasa semua itu. Aku melakukan vasektomi, jadi tak mungkin Dina hamil anakku."


"Aku tidak merekayasanya. Aku sudah menyuruh pegawaiku untuk mengambil berkas itu untuk kau lihat."


"Kau memang sudah melakukan vasektomi tapi vasektomi tidak 100% menjamin kau tak mendapatkan keturunan. Ada satu persen kemungkin dari spermamu yang bisa membuahi sel telur milik Dina. Dan selama tiga bulan pasca operasi vasektomi kau seharusnya tidak menyentuh Dina karena saat itu sel spermamu masih bisa membuahi sel telur. Tapi kau melakukannya bukan Dan itu memang terjadi. Shelina putri kandungmu."


"Tidak mungkin! Dina menghianatiku. Dia hamil dengan pria lain." Jonathan masih saja menyangkalnya.


"Dina tak pernah menghianatimu. Dia sangat mencintaimu. Dia bertahan dan selalu mendukungmu. Kau pikir mengapa dia masih saja bertahan walaupun kau sudah menyiksa dan memperlakukannya dengan kasar? Mengapa dia tidak pergi dan menceraikanmu? Semua itu karena dia mencintaimu. Dia sangat mencintaimu hingga menolak pertolonganku yang hendak melaporkanmu atas tuduhan kekerasan dalam rumah tangga. Dina sangat mencintaimu hingga rela mati di tanganmu tanpa melakukan perlawanan apapun. Dia sangat mencintaimu hingga tak pernah berpikir untuk meninggalkanmu. Hanya satu hal yang dia sesali, yaitu membawa Shelina dalam penderitaannya."


Aku tak bisa berkata apapun lagi. Ibuku, dia.... dia sangat mencintai ayah, itu sebabnya dia tak melawan saat malam mengerikan itu terjadi. Itu sebabnya dia tak pernah mau kuajak pergi meninggalkan Jonathan.


Ibu ... mengapa kau sangat bodoh? Mengapa kau begitu besar mencintai pria kasar itu? Mengapa kau masih mencintainya setelah semua yang ia lakukan dalam hidupmu?


Tangan Jonathan menjauh dan dia melangkah mundur dariku. Pisau yang ia genggam terjatuh begitu saja.


"Jonathan, kau mungkin tak percaya dengan apa yang aku ucapkan. Tapi itulah kenyataannya. Dina sangat mencintaimu dan tak pernah menghianatimu. Dia setia mencintaimu hingga napas terakhirnya."


Jonathan kembali melangkah mundur. Aku berbalik dan menatapnya. Aku tak pernah tahu pria keras dan kasar itu bisa mengeluarkan airmata. Dia menangis mendengar semua kebenaran ini.


Sama sepertiku yang menangis sejak tadi. Pria yang ibuku cintai hingga mati, ayah kandungku menangis menyesali semua yang terjadi.


Jonathan mendongak dan menatap tepat di mataku. Airmatanya mengalir dengan deras. Menampilkan tatapan terluka dan penyesalan dari sorot matanya.


Kakinya melangkah mendekatiku. Tangannya terulur padaku. Namun terhenti di udara. Ada keraguan dalam gerakkannya.


Aku terus menatap Jonathan. Dia sebenarnya sangat mencintai ibuku. Namun kesalahphaman ini membuatnya menjadi sosok yang mengerikan dan kejam.


Melihat penderitaan dan penyesalan dari sorot matanya membuat aku semakin terisak. Aku merasakan penderitaannya. Aku tau dia sangat menyesal sekarang. Dengan tangannya sendiri dia menyiksa wanita yang dia cintai, wanita yang sama sekali tak bersalah.


"A—ayah..."


Jonathan tersentak ketika mendengar panggilan lirihku padanya. Tanpa bisa kutahan lagi aku menghambur memeluk tubuhnya. Memeluknya begitu erat. Dan Jonathan juga memelukku sama eratnya.


"Maafkan aku. Maafkan aku Shelina. Maafkan kebodohanku. Maaf karena sudah menyiksamu dan ibumu. Maaf sudah membuatmu menderita. Maaf tak pernah mengakuimu sebagai putriku. Maafkan aku Shelina. Maaf."

__ADS_1


Isak tangisku semakin kencang dan aku mendekap tubuh Jonathan semakin erat. Seakan dengan ini bisa menghilangkan semua penderitaan yang aku alami selama ini. Inilah yang sejak dulu aku butuhkan, pelukan hangat seorang ayah. Ini pertama kali aku merasakan pelukan hangatnya selama dua puluh empat tahun hidupku.


"Maafkan aku Shelina, maafkan aku."


"Iya ayah."


"Aku tak pantas kau panggil ayah. Aku ayah terburuk yang pernah ada. Aku menyiksa dan memaksamu menjual diri. Maafkan aku."


"Aku sudah memaafkanmu. Aku mengerti mengapa kau melakukan semua itu. Kau hanya sakit hati akan kesalahpahaman yang terjadi. Kau terlalu mencintai ibu hingga berbuat jahat seperti ini."


"Shelina."


Pelukan Jonathan semakin erat di tubuhku terasa sesak seperti ingin meremukkan. Badannya bergetar kuat menahan semua rasa yang dia rasakan.


"Jonathan pelukkanmu terlalu kuat. Kau bisa menyakiti Shelina dan cucuku." Ucapan Andrew membuat ayah merenggangkan pelukanya. Pria itu menoleh ke arah Andrew.


"Cucu? Apa maksudmu?"


"Shelina sedang hamil saat ini."


"APA!" Jonathan berteriak kencang membuat telingaku berdengung. Kepalaku kembali pusing. Tangan kananku mencengram kepala.


"Shelina kau baik-baik saja?"


Aku mengangguk.


"Maafkan aku. Aku sudah melukaimu." Tangannya terulur mengusap luka di leherku membuat aku meringis. Marcus tiba-tiba sudah berada di sampingku dan menepis tangan Jonathan.


"Jangan sentuh Shelina." Lalu dia membalik tubuhku untuk menghadapnya.


"Sayang, kau baik-baik saja. Kita harus mengobati lukamu."


"Marc, jangan bersikap kasar pada ayahku."


"Tapi, Shelina...."

__ADS_1


"Aku tak mau menikah denganmu jika kau masih bersikap kasar pada ayahku." Ketusku kesal.


"Baiklah, sekarang kita harus mengobati lukamu."


Marcus mendudukkanku di kursi. Dan mengambil kotak obat yang sudah dibawakan oleh Evelyn. Dan mulai membersihkan darah dari lukaku.


"Apa maksudnya semua ini? Cucu? Menikah dengan Marcus?"


"Aku bisa menjelaskan semuanya padamu. Dan aku akan menunjukkan hasil DNA yang tadi kuucapkan untuk menghapus semua keraguanmu." Andrew menjawab pertanyaan Jonathan dan mengajak pria itu pergi bersamanya.


Evelyn berjalan mendekatiku. Dia duduk di sampingku. Dan aku hanya mendongak agar Marcus bisa mengobati leherku dengan mudah.


"Shelina bagaimana keadaanmu?"


"Aku baik-baik saja. Jangan kawatir Evelyn."


"Aku juga terkejut dengan semua fakta itu. Semoga Jonathan sungguh berubah dan menjadi ayah yang lebih baik. Kau juga jangan terlalu banyak pikiran, itu tak baik buat kehamilanmu."


"Ya, aku mengerti." Aku menghembuskan napas panjang. Semoga setelah ini semuanya berubah lebih baik.


Untungnya luka yang dibuat oleh Jonathan tidak terlalu dalam juga tak panjang. Setelah Marcus mengobati dan menutupnya dengan perban.


"Sayang, kita tetap akan menikah saat ini kan."


Aku tak percaya. Marcus masih bersikeras menikah denganku saat ini. Seakan tau apa yang aku pikirkan Marcus kembali berkata.


"Aku tak ingin Jonathan melukaimu lagi. Jika kau sudah resmi menjadi istriku. Maka kau sepenuhnya menjadi tanggung jawabku dan pria itu tak bisa menganggumu lagi."


Sorot mata Marcus memancarkan tekad yang kuat. Dan aku memang tak ingin menunggu lebih lama lagi menjadi istrinya.


"Ya, ki—"


"Tidak, kau tak bisa menikah dengan Shelina." Suara Jonathan menghentikan ucapanku. Dia berjalan masuk dengan Andrew di belakangnya.


"Apa maksudmu?!" Teriak Marcus marah. Astaga priaku ini selalu saja sulit menahan emosinya.

__ADS_1


___________


Hai semuanya mohon dukungannya ya. Vote dan like yang banyak ya, karena aku hari ini up 3 bab. . cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih


__ADS_2