Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 26. Indahnya Malam


__ADS_3

"Shelina, kau ada di dalam. Buka pintunya!"


Aku tak menjawab sama sekali. Tenggorokkanku begitu kering hingga tak bisa menggeluarkan suara.


"Shelina, aku tau kau di dalam. Cepat buka pintunya!" Kembali orang itu menggedor sambil berteriak karena tak mendapat jawabanku. Suara ini tak asing bagiku. Suara seorang pria yang kukenal. Kenapa dia ada di sini? Bagaimana bisa dia di sini sekarang?


"Shelina, buka pintu!" Teriak pria itu kencang dengan gedoran yang semakin kuat. Tubuhku lemas, aku tak bisa bergerak sedikitpun. Bagaimana aku bisa membuka pintu jika berjalan saja aku kesulitan?


"Aku akan mendobrak pintu kamarmu." Lalu sedetik kemudian suara kencang pintu yang terhempas dan kunci terpental ke lantai memekakkan telinga. Mataku membesar tak percaya menatap pria yang berdiri di depan pintu kamar yang terbuka lebar.


Pria itu mengarahkan cahaya ke arahku. Keningku mengernyit dengan banyaknya silau cahaya yang masuk ke rentina. Tanganku menutup mata. Derap langkah cepat menghampiriku. Pria itu berdiri di depan ranjangku. Aku menurunkan tanganku dan bertatapan dengan mata hitam indah itu. Dia ... Marcus.


Pria itu meletakkan ponselnya di atas nakas dan beranjak naik ke atas ranjang. Lalu merengkuh tubuhku dalam dekapan hangatnya.


Kehangatan menyelimutiku. Airmata kembali mengalir dengan deras. Aku bersyukur ada seseorang yang menolongku dari rasa takut akan kegelapan. Tanganku mengerat di punggung Marcus. Pria itu mengusap punggungku lembut, menenangkan ketakutanku.


"Tenanglah. Ada aku di sini." Suaranya bagaikan air yang menyirami padang tandus. Aku memejamkan mata dan menenangkan diriku.


Aku tak tau sudah berapa lama aku dan Marcus berpelukan. Ketika tubuhku tak gemetar lagi aku melepaskan diri. Dan duduk berhadapan dengan Marcus.


Aliran darah panas seketika menjalar naik ke wajahku. Astaga, dalam keremangan aku dapat melihat baju Marcus yang sudah basah oleh airmata dan ingusku. Hal itu sangat memalukan. Aku menunduk dalam tak sanggup menatap mata Marcus.


"Sudah lebih baik?" Aku mengangguk pelan. Keheningan panjang menyelimuti kami. Ini kedua kalinya aku dan Marcus terjebak dalam keadaan seperti ini. Dan kedua kalinya pria itu menolong untuk mengatasi phobia-ku.


"Ke—kenapa..." aku berdehem dan menelan ludah untuk membersihkan tenggorokkanku.


"Kenapa kau di sini?" Aku ingat pria itu berkata tak akan pulang dan pastinya dia pergi untuk bersenang-senang mencari hiburan malam.

__ADS_1


"Eh? Maksudmu?" Aku menghembuskan napas panjang.


"Kau bilang tak akan pulang malam ini, jadi mengapa kau ada di sini?"


"Karena mati lampu." Aku mendongak dan menatap wajah Marcus lekat. Aku terdiam menanti kelanjutan perkataannya.


"Karena club malam yang kudatangi mengalami mati lampu."


Aku mengerutkan keningku. Dia pulang karena club malam mati lampu. Yang benar saja? Club malam tak akan tutup sebelum pagi menjelang.


"Mereka pasti punya jenset, club malam pasti akan tetap bersinar terang dan tak akan tutup walau kini tengah mati lampu."


"Iya, tapi ..." tangan Marcus terulur menyentuh pipi kiriku.


"Ada seorang gadis yang sangat takut gelap. Dan aku yakin dia pasti menjerit ketakutan karena mati lampu. Jadi, aku segera berlari kemari untuk memberikan sedikit cahaya padanya." Jatungku berdegup kencang, bukan degup yang menggelisahkan ataupun menakutkan. Namun lebih ke degup yang menggetarkan hati dan membuatku melambung bahagia. Marcus begitu pintar memutarbalikkan perasaanku. Beberapa saat yang lalu aku masih membencinya dan kini aku bahagia dia ada di sampingku.


"Terima kasih sudah datang kemari." Aku tersenyum lebar dan dibalas dengan senyuman yang sama oleh Marcus.


Mata kami saling terkunci. Jarak di antara kami perlahan menipis dan aku tak tau siapa yang memulai pertama kali hingga bibir kami saling bertautan.


Kami berciuman. Saling mencecap dan mencari rasa. Aku **** bibir bawah Marcus. Pria itu juga melakukan hal yang sama. Dia mengigit pelan bibirku hingga aku membukanya. Dengan cepat lidah Marcus melesat masuk dalam rongga mulutku. Bergerak mengabsen setiap sudut hingga menemukan pasangannya. Saling melilit dan merasai.


Rasa yang semakin memabukkan setiap kali aku merasakannya. Membuat aku kehilangan akal dan semakin memperdalam ciuman kami. Tanganku bahkan sudah melingkar di leher Marcus. Ciuman Marcus berubah liar dan menuntut. Memaksaku untuk menyerahkan diri.


Lalu bibir Marcus bergerak pelan mengecup dagu dan menyusuri rahangku. Memberikan kecupan-kecupan yang membuat aku semakin gila dan nikmat. Deru napasnya yang berhembus di leher mengelitik dan membangunkan rasa mendamba yang telah lama tertidur. Rasa geli yang perlahan berkumpul dan berpusat di tubuh bawahku yang sensitif.


Kini punggungku sudah mendarat di ranjang dengan Marcus berada di atasku. Dia menompang tubuhnya agar tak menindihku. Bibirnya kembali meraih bibirku. Melumat dan mengulumnya begitu rakus. Ciuman yang semakin liar dan membangkitkan gairah. Aku bahkan membiarkan Marcus melepaskan kimono handukku. Aku sama sekali tak memakai apapun dibalik kimono itu, karena tadi aku baru saja selesai berendam. Pria itu mulai membelai tubuhku.

__ADS_1


Jemari panjang dan besar Marcus mengoda dan membelai tubuhku. Bibir dan lidahnya menyusuri tubuhku. Aku bahkan tak tau kapan Marcus sudah menelanjangi dirinya sendiri.


Aku mendongak dan menekan belakang kepala ke dalam kasur ketika Marcus semakin menyentuhku dengan intens.


Terasa nikmat dan membuatku gila. belum hilang rasa nikmat itu, Marcus sudah menindihku kembali. Dan dengan perlahan masuk ke dalam tubuhku. Gerakan pelannya sangat terasa dan membuat aku gila. Marcus terlalu besar dan panjangnya sampai mencapai dinding terdalam tubuhku. Ini kedua kalinya dia di dalamku. Pertama saat lima tahun yang lalu. Dari semua pria yang hadir dalam hidupku hanya dia yang membuatku gila. Aku bahkan merasakan penuh, sesak dan nyeri, sama seperti pertama kali kami melakukannya dulu.


Tangan Marcus membelai pipiku. Menghisap habis perhatianku hanya padanya. Mata hitamnya menyorotku begitu dalam. Seakan meyakinkanku untuk bersama mengarungi indahnya surga dunia. Lalu dia mulai bergerak dengan masih menatap mataku. Perlahan dan lembut. Menghantarkan kenikmatan yang telah lama tak kurasakan.


Tanganku memeluk lehernya erat ketika itu semakin cepat dan keras. hingga titik terdalam yang paling nikmat dan menenggelamkanku dalam gairah yang tinggi. Tubuh kami panas dan berkeringat namun tak ada yang ingin melepaskan ini. Kami saling berlomba untuk bergerak semakin kencang dan cepat.


Seakan berlomba dengan waktu untuk memburu kenikmatan yang sudah melambai di ujung garis finish. Seperti tak akan pernah lagi bisa mengalami ini hingga semua tenaga dikeluarkan dan menghiraukan derit ranjang yang sudah berbunyi keras sejak tadi. Tak memperdulikan suara kami yang saling bersautan memecah keheningan malam. Menciptakan keributan yang membuat siapapun malu saat mendengarnya. Hingga puncak dari kenikmatan dunia tumpah menghantam kami. Dan kehangatan mulai mengalir keluar.


Deru napasku memburu dan degup jantung teramat kencang. Marcus tak melepaskan diri dan masih di atas tubuhku. Kepalanya tenggelam di sela leherku. Mataku yang terpejam perlahan terbuka. Masih tersisa kenikmatan yang dahsyat itu.


Dering ponsel memecahkan keheningan. Aku menoleh ke nakas samping ranjang. Kerlip cahaya dari ponsel yang tergeletak di samping ponsel Marcus. Ternyata ponselku tergeletak disana .


Sedetik kemudian mataku membesar. Siapa yang menelponku di tengah malam begini? Menyadari kepanikanku, Marcus meraih ponsel itu dan menatap layarnya. Sedetik kemudian tubuhnya menegang. Lalu perlahan kembali santai dan menyerahkan ponsel yang masih berdering kepadaku.


Marcus mengangkat tubuhnya namun tidak menjauh ataupun melepaskan penyatuan kami. Aku menatap ponselku. Dan keringat dingin mengalir di pelipisku.


Andrew? Aku menatap mata Marcus yang masih berada di atasku. Pria itu hanya diam dan menatapku. Seakan menantikan apa yang akan aku lakukan dengan panggilan telpon Andrew ini.


________


adult nya sedikit aku ubah / dikurangi dari versi asli, biar gk terlalu hot.


Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2