
disini beralih ke Pov Marcus ya.
___________________
Setelah Shelina menolakku, aku mengendarai mobil dengan cepat dan pergi ke apartemen lama ini. Hatiku hancur dengan penolakannya. Bahkan dia tetap menolakku walaupun aku sudah bersujud di hadapannya.
Kenapa? Kenapa Shelina melakukan ini padaku? Mengapa dia tak mau membatalkan pernikahannya dengan ayah? Andrew sudah memberikannya kesempatan untuk menolak dan membatalkan pernikahan itu, tapi mengapa?!
Dengan frustasi aku melempar gelas yang aku pegang ke sembarang arah. Menimbulkan suara nyaring di kegelapan malam apartemen ini. Apartemen yang menyimpan banyak kenangan manis kebersamaanku dengan Shelina di masa lalu.
Aku mendongak untuk menegak bir langsung dari botolnya. Aku tak memperdulikan seberapa banyak alkohol yang sudah masuk ke dalam perutku. Tak menghiraukan sudah berapa banyak botol bir yang kosong di hadapanku. Karena saat ini yang aku inginkan adalah menghapus bayangan Shelina dan ribuan pertanyaan yang ada dalam benakku.
Mengapa kau melakukan ini padaku, Shelina? Kenapa kau kembali hadir dalam hidupku? Mengapa kau memberikan harapan semu padaku? Kenapa kau mengatakan mencintaiku? Mengapa kau bersikeras dengan keputusanmu? Kenapa kau sangat keras kepala, Shelina?
Tidakkah kau melihat ke arahku? Bukankah kau tahu sebesar apa rasa cintaku? Tidakkah kau mengetahui rasa sakit hatiku? Tak bisakah kau mengerti penderitaanku? Tahukah kau, aku rela menyakiti hati Andrew demi dirimu? Dan tak inginkah dirimu menikah dan hidup bersama denganku selamanya?
Katakan padaku Shelina, mengapa kau melakukan ini? KATAKAN!
Lalu bayangan Shelina yang menunduk dan mengatakan maaf padaku muncul begitu saja.
Memicu amarah untuk menggelegak dan meledak keluar dengan kecepatan cahaya. Aku melempar botol bir kosong dengan cepat ke arah dinding. Bunyi kaca yang menghantam dinding sangat nyaring. Menghamburkan jutaan serpihan kaca kemana\-mana. Bahkan ada beberapa yang terlontar ke arah tubuhku. Namun aku tak memperdulikannya. Aku masih berkubang dalam kesedihanku.
Aku mencintaimu Shelina. AKU MENCINTAIMU, JALANG!
Dengan membabi buta aku melemparkan apapun yang bisa kuraih di atas meja bar. Apapun untuk melampiaskan semua rasa yang menyesakkan di dadaku. Marah, kecewa, frustasi yang bertumpuk hingga membuatku hampir gila.
Lalu tiga puluh menit kemudian aku berhenti. Napas memburu dan pandangan mataku sudah tak fokus, namun aku tak bisa memejamkan mata untuk tidur. Lagi dan lagi wajah wanita itu muncul di benakku.
Haruskah aku mati terlebih dahulu agar kau memilihku, Shelina.
˙°♡♡♡°˙
__ADS_1
"Marc, bisakah kita seperti ini untuk selamanya?" Suara lembut seorang gadis menyita perhatianku. Aku menunduk dan menatap wajah cantik seorang gadis yang berbaring di atas pahaku. Wajah cantiknya tampak berkilau tertimpa sinar matahari.
"Marc, aku ingin bersama denganmu seperti ini selamanya." Senyumanku muncul dengan sangat lebar. Tanganku mengusap puncak kepalanya.
"Ya, kita akan bersama selamanya."
"Janji tidak akan pernah meninggalkanku?" Jari kelingking Shelina terulur ke arahku. Menuntut pengesahan janji yang aku ucapkan.
Aku menautkan jari kelingkingku padanya dan berkata, "Ya, aku berjanji tak akan meninggalkanmu. Karena hanya kau yang aku inginkan untuk melahirkan anak\-anakku nanti."
Wajah Shelina memerah setelah mendengar ucapanku. Menambah kecantikan alami wajahnya yang sudah berkilau di mataku. Dengan perlahan aku menunduk semakin rendah lalu mencium bibir Shelina. Kami terhanyut dalam buaian lembut ciuman. Hingga beberapa menit kemudian aku melepaskannya. Dan menatap lekat wajah cantik Shelina dari dekat.
"Sampai kapanpun aku akan menunggumu untuk memenuhi janji itu, karena kau adalah ayah dari anak\-anakku." Aku terpaku tak percaya dengan bisikan Shelina.
Tiba\-tiba ribuan cahaya menyilaukan mata hingga aku terpaksa memejamkan mataku. Dan perlahan aku membuka kembali mataku.
Barusan aku bermimpi. Bermimpi tentang masa laluku dengan Shelina. Aku mengerjap sekali lagi dan mengedarkan pandanganku ke segala arah.
Dinding dan counter bar apartemen yang sudah berubah dari lima tahun yang lalu menyadarkanku. Aku ada di apartemen?
Saat itu juga pening menghantamku. Aku teringat semua yang kualami semalam. Penolakan Shelina dan kesedihanku. Lalu aku frustasi dan meminum beberapa botol bir lalu membabi buta melemparkan apapun untuk melampiaskan amarahku.
Aku menegakkan tubuhku yang sebelumnya terkulai di atas meja bar. Tanganku mencengkeram kepala bagian kiri untuk menahan rasa pening yang aku rasakan. Aku benar\-benar tak tertolong semalam.
Aku menoleh ke arah dinding kaca yang menampilkan suasana luar gedung apartemen ini. Cahaya matahari sudah sangat terik. Jam berapa ini? Aku bangkit dan hendak mencari ponselku.
Bunyi pecahan kaca yang terinjak sepatu menyadarkanku betapa kacaunya apartemen ini. Dimana\-mana banyak serpihan pecahan kaca botol bir maupun gelas. Beruntung aku masih mengenakan sepatu, jika tidak maka kakiku pasti akan terluka saat ini. Aku berjalan hati\-hati untuk menghindari serpihan kaca yang besar.
Dimana kuletakkan ponselku semalam?
Itu! Dengan cepat aku berjalan ke sofa ruang tamu. Semalam aku melemparnya ke sofa bersama kunci mobilku.
__ADS_1
Seratus panggilan tak terjawab dan enam puluh pesan dari nomor Evelyn. Apa wanita itu sudah gila? Mengapa dia menghubungiku sebanyak ini?
Lalu ada dua puluh panggilan tak terjawab dari Andrew dan tujuh pesan darinya. Apa yang terjadi? Tak biasanya ayah menghubungiku sebanyak ini. Aku membuka satu pesan dari ayahku dan seketika itu juga mataku membesar dan jantungku berdetak dengan cepat.
'Kau dimana? Apa kau tak akan hadir di pesta pernikahanku dengan Shelina?'
"Brengsek! Sialan, bagaimana aku bisa lupa jika hari ini mereka menikah?" Dengan cepat aku meraih kunci mobil dan berlari keluar.
Sial, mengapa aku harus mabuk semalam? Mengapa tak ada satupun orang yang membangunkanku? Aku menyesal pergi ke apartemen ini dan minum banyak bir. Sial, tak seharusnya aku mabuk semalam.
Seperti orang yang kesetanan aku berlari menuju lift. Namun lift itu masih berada di lantai bawah berdasarkan panel petunjuk lift. Tanpa pikir panjang lagi, aku berlari ke arah tangga darurat. Berlari sekencang mungkin seakan aku akan mati jika semenit saja aku terlambat. Bahkan satu detiknya sangat berharga untukku. Sangat berharga seperti seorang pelari yang menggantungkan hidup pada setiap mili detik demi kemenangannya. Aku bahkan beberapa kali terjatuh dan tersandung. namun aku tetap bangkit dan terus berlari
Aku baru saja keluar dari pintu darurat yang ada di basement. Dari jauh aku mematikan kunci alarm mobil dan berlari kencang. Masuk dan bergegas menghidupkan mobil lalu sedetik kemudian mobil melaju keluar dari basement.
Dalam keadaan seperti ini aku masih mencoba untuk tetap terkontrol. Aku meraih ponsel dan menghubungi nomor ayahku. Namun dia tak mengangkat panggilanku, membuat aku semakin frustasi dan kalut.
Semoga pernikahan mereka belum selesai. Semoga pernikahan mereka tertunda.
Mobilku melaju kencang dengan kecepatan menembus seratus km / jam. Menghiraukan umpatan kasar orang lain. Tak memperdulikan sudah berapa kali aku menerobos lampu merah. Aku tak perduli jika setelah ini aku akan ditahan di kantor polisi karena melanggar peraturan lalu lintas. Saat ini pernikahan Shelina lebih penting dari apapun dalam hidupku.
Dalam waktu sepuluh menit mobilku sudah memasuki pelataran parkir gereja tempat Shelina menikah dengan ayah. Aku menghentikan mobil tepat di depan gereja. Memarkirkan mobilku sembarangan lalu bergegas keluar dari mobil dan berlari cepat ke pintu utama gereja.
Semoga janji suci pernikahan belum terucap dari mulut Shelina.
Aku mendorong pintu dengan sangat kuat hingga menghempas ke arah dinding menimbulkan suara yang cukup keras. Seketika aku terdiam dan mematung tak percaya. Mataku membesar melihat seorang wanita di depan altar yang menoleh ke arahku.
Kakiku lemas seakan tulang menghilang dari tubuhku. Wanita itu bukan Shelina, melainkan seorang biarawati yang sedang membersihkan altar. Geraja sudah sepi, tak ada satu orangpun disini kecuali biarawati itu. Tapi terlihat jelas jika sebelumnya terjadi pernikahan, terbukti dengan dekorasi gereja yang dipenuhi oleh bunga putih di setiap sudut.
Aku ... terlambat.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
__ADS_1
Mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih