
"Apa yang kau bicarakan Marcus? Apa kau sengaja mengatakan ini untuk membatalkan pernikahan kami? Kau menciptakan kebohongan agar aku membatalkan pernikahan ini. Itu yang kau inginkan sejak awal."
"Ayah, aku memang ingin pernikahan ini batal tapi aku tidak berbohong. Aku dan Shelina sudah bercinta. Kau tidak bisa menikah dengannya."
"Aku masih ingat dengan ucapan dan keinginanmu yang mau membatalkan pernikahan kami. Tapi aku tak menyangka kau akan membuat kebohongan seperti ini. Kau dan Shelina bercinta? Itu tak mungkin terjadi. Aku sangat mengenal Shelina. Walau dia mantan pelacur tapi dia tak semudah itu mau bercinta. Apalagi bercinta denganmu. Itu mustahil. Karena Shelina sangat membencimu. Dan dia tak akan melakukan itu dengan putra dari tunangannya sendiri. Dia tak mungkin menghianatiku."
Kalimat terakhir Andrew bagaikan pisau tajam yang menusuk jantungku, dari punggung hingga tembus ke dada. Sangat sakit dan perih. Betapa besar rasa percaya yang Andrew berikan padaku. Sedangkan aku dengan mudahnya menghancurkan kepercayaan itu di belakang Andrew. Aku yakin dia akan sangat membenciku, jika tau apa yang Marcus katakan adalah kebenaran.
"Aku dan Shelina memang melakukan itu, ayah. Bahkan kami sudah melakukannya dua kali di belakangmu."
Kekeraskepalaan dan keyakinan Marcus membuat Andrew menghela napas panjang.
"Apa kau tidak berbohong?"
"Tidak." Marcus mengucapkannya penuh keyakinan. Membuat Andrew menoleh ke arahku.
"Apa yang Marcus katakan benar? Kau bercinta dengannya di belakangku?"
Kepalaku menunduk dalam. Aku tak tau harus berkata apa. Aku tak bisa berbohong lagi dengannya. Aku tak mau mengucapkan kebohongan yang hanya akan melukainya lebih dalam. Dia sangat mempercayaiku, bagaimana mungkin aku bisa terus berbohong padanya?
"Jawab aku Shelina. Apa benar kau bercinta dengan Marcus di belakangku?!" Suara Andrew cukup keras menuntut jawaban dariku. Mungkin ini saatnya. Aku tak tau apa yang akan terjadi setelah ini. Entah Andrew akan membatalkan pernikahan kami atau dia akan mengusirku. Aku tak perduli, yang pasti aku ingin berkata jujur padanya.
Aku mengangguk lemah.
"Maafkan aku. Kami memang melakukan itu." Dengan cepat Andrew mendongakkan wajahku menghadap ke arahnya.
"Jadi, kau bercinta dengan Marcus di belakangku?" Rahang Andrew mengeras dan menatapku tajam.
"Maafkan aku Andrew. Maaf." Airmataku mengalir dengan deras. Aku merasa sangat bersalah namun sudut hatiku sedikit lega, karena aku telah mengungkap kebenarannya.
__ADS_1
"Apa dia memaksamu?" Tangan Andrew mengerat di rahangku hingga menimbulkan rasa sakit. Aku yakin rahangku sekarang sudah memerah.
"Tidak. Dia tidak memaksaku. Maafkan aku."
"Bagaimana bisa kau melakukan itu di belakangku, Shelina?" Sorot mata penuh luka dan kecewa yang aku dapatkan. Aku memang pantas mendapatkannya.
"Ma—maaf," lirihku pelah.
"Bagaimana mungkin kau tega menghianatiku seperti ini? Dengan putraku sendiri Shelina?"
"Maafkan aku. Maafkan aku Andrew." Aku menangis sesugukkan. Aku hanya bisa mengucap kata maaf. Bahkan jika seribu kata maaf yang aku ucapkan, tak akan bisa menghapus rasa bersalahku padanya.
"Apa kau masih mencintainya?" Aku terdiam menatap mata hitam Andrew. Haruskah aku mengatakan sejujurnya. Aku tak bisa menyakitinya lebih dalam dengan mengatakan aku sangat mencintai Marcus. Aku tak bisa.
"Baik, ini pertanyaanku terakhir kalinya. Apa kau masih mau menikah denganku?" Lagi-lagi aku terdiam dan menatap Andrew lekat.
"Kau tau pasti mengapa aku sangat ingin menikah denganmu. Aku akan menganggap apa yang kalian lakukan itu tak pernah terjadi, jika kau masih mau menikah denganku."
Marcus memang mencintaiku tapi apa pria itu bersedia menikah denganku? Yang aku butuhkan adalah seorang suami bukan cinta.
"Ya," bisikku lirih dan menarik sebuah senyuman walau hati meronta dan menangisi keputusanku saat ini. Aku tak perduli. Inilah keputusanku.
Malaikat seperti Andrew. Yang mau menerima segala kekuranganku. Yang tetap mau menikah denganku walaupun aku telah menghianatinya. Pria sepertinya tak akan pernah meninggalkanku apapun yang terjadi. Apapun.
"Tidak! Shelina, kau tak bisa menikah dengannya. Dia ayahku." Marcus meraih pergelangan tanganku. Namun dengan cepat aku menghempaskannya hingga terlepas.
"Hubungan kita sudah berakhir Marcus. Dan kau sudah sangat terlambat. Karena lusa kami akan tetap menikah." Aku memeluk erat tubuh Andrew. Aku tak sanggup berbalik dan menatap ke arah Marcus. Aku tak akan mungkin bisa melihat kesedihan ataupun luka di wajah pria itu. Itu sangat menyakitkan.
"Tidak, kau tak bisa menikahinya, ayah. Dia gadisku. Shelina hanya milikku." Marcus masih bersikeras menyuarakan protes dan pertentangannya. Namun itu semua percuma. Sudah terlambat. Dia terlambat sejak sebulan yang lalu. Karena sejak Andrew melamarku, sudah kuputuskan untuk menikah dengannya, apapun yang terjadi. Bahkan jika harus menekan rasa cintaku pada Marcus, aku akan tetap menikahi Andrew.
__ADS_1
"Berhenti Marcus. Mulailah dari sekarang menerima keadaan bahwa Shelina akan menjadi ibu tirimu. Aku tak akan membiarkan kau menyakiti Shelina lagi. Dan jangan mencoba membuat kekacauan di pernikahan kami."
"Sampai kapanpun aku tak akan membiarkan kalian menikah." Putus Marcus dan keluar dari ruangan kerja Andrew dengan marah dan membanting pintu dengan sangat keras.
˙°♡♡♡°˙
Sejak pagi sampai siang, aku bersama Evelyn di salon. Aku sedang melakukan perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Untuk tampil lebih bersinar, segar dan cantik di hari pernikahanku besok.
Evelyn sudah bertanya mengenai wajah kusut dan tak bersemangat yang aku tampilkan saat bertemu dengannya tadi. Dia bahkan menuntut jawaban atas pertanyaannya, mengapa mataku sembab dan ada lingkaran mengitam di sekitar mata. Dan meluncurlah semua cerita yang selama ini aku pendam sendiri. Semuanya.
Airmataku mengalir kembali kala menceritakan kejadian semalam. Tentang Marcus yang lagi-lagi memintaku untuk kabur bersamanya. Tentang Andrew yang masih menerimaku apa adanya. Dan tentang hatiku yang sangat mencintai Marcus.
Terkadang terbesit sebuah pemikiran konyol dalam otakku. Lebih baik aku meninggalkan mereka berdua daripada melukai salah satu dari mereka. Tapi, aku kembali disadarkan. Apa dengan itu akan menyelesaikan masalah? Apa kabur akan menjamin mereka berdua tidak terluka? Mereka pasti akan lebih kecewa jika aku kabur. Mereka pasti akan mencari dan mencemaskanku. Bukankah lebih baik seperti ini. Menerima dan terus melanjutkan pernikahanku dengan Andrew sesuai dengan keinganan awalku.
"Apa kau yakin dengan keputusan ini?" Evelyn lagi-lagi bertanya hal yang sama. Pertanyaan yang sudah puluhan kali dia tanyakan sejak pagi tadi.
"Apa kau tak akan menyesal?"
Aku tersenyum getir dan menoleh ke arahnya.
"Aku akan lebih menyesal jika tidak menikah dengan Andrew besok."
"Tapi Shelina, kau mencintai Marcus. Apa kau yakin akan menikah dengan ayah dari pria yang kau cintai? Bukankah itu sama saja dengan menyiksa diri sendiri."
"Sudahlah Evelyn. Semua sudah terlambat untuk cintaku dan Marcus. Besok adalah hari pernikahanku dengan Andrew, aku tak bisa mundur dan meninggalkan pria itu begitu saja. Lagipula, apa Marcus mau menikah denganku? Dan apa Andrew rela melepaskanku begitu saja?"
Evelyn terdiam tak bisa menjawab pertanyaanku. Karena tak akan ada yang menjamin bahwa aku akan bahagia dengan Marcus. Tak ada yang menjamin Marcus akan menikah dan tak akan meninggalkanku. Tak ada yang menjamin Andrew merestui hubungan kami. Jadi, menikah dengan Andrew adalah pilihan terbaik.
________
__ADS_1
Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih