
Marcus masuk dan berdiri di sampingku. Aku bergeser untuk menjauh darinya. Dia tidak menekan lantai ruangan. Jangan katakan jika dia juga turun di lantai dua puluh. Sesekali aku melirik ke arahnya. Marcus terdiam dengan mata tajamnya menatap ke depan.
Mengapa aku melihat kemarahan di mata tajam itu? Dia pasti tak suka dengan keberadaanku di sini. Aku menggembuskan napas lelah yang tanpa sadar membuat suara yang cukup keras untuk dapat didengar orang lain. Dua pria di belakangku masih terus memandangi bokongku. Sesekali mereka berbicara. Aku yakin obrolan mereka kali ini bukan tentang pekerjaan. Suara dehaman yang cukup keras menyita perhatianku. Marcus menatapku dengan mata tajamnya. Lalu berbalik menatap dua karyawan itu.
"Kalian pasti penasaran siapa wanita ini bukan?" Dua karyawan itu menunduk malu dan meminta maaf.
"Kalian harusnya lebih hormat padanya. Karena sebentar lagi dia akan menjadi istri presdir."
"Maksud direktur Cho, nona ini?"
"Ya, dia calon ibu tiriku. Beri salam pada nona Shelina Aston."
"Maaf nona. Kami tidak tahu jika anda adalah tunangan dan calon istri presdir Cho."
Aku melirik sinis ke arah Marcus. Dan mengangguk malas ke arah dua karyawan itu. Berbalik dan berdiri menunggu lagi. Dari refleksi dinding lift di hadapanku terlihat Marcus tengah bersandar di dinding lift.
"Dia sangat cantik dan seksi, bukan?"
Aku menoleh cepat ke arah Marcus. Pria itu menyeringai tajam.
"Tentu saja, karena dia seorang jalang."
Kedua tanganku mengepal erat. Dia benar-benar menyebalkan. Aku ingin menerjang dan mencekik lehernya. Belum puas dengan mempermalukanku di hadapan Aiden kemarin malam, kini dia melakukannya lagi di hadapan karyawan Cho Corporation.
Dasar pria brengsek! Pergi kau ke neraka! Aku tersenyum manis ke arah Marcus. Dan memasang wajah poker face yang sudah sangat aku kuasai.
"Terima kasih atas pujiannya Marcus. Kau anak yang baik. Aku beruntung bisa memiliki anak tiri sepertimu." Wajah Marcus berubah kaku dengan rahang yang mengeras.
Aku menyeringai puas membalas serangannya. Dia pikir dengan mempermalukanku, aku akan berhenti dan menyerah. Tidak, sudah kukatakan apapun yang terjadi aku akan tetap menikah dengan Andrew. Bahkan aku rela menjual jiwaku untuk menyingkirkan semua halangan dan rintangan.
Di lantai delapan belas dua karyawan tadi turun menyisakan aku dan Marcus di dalam lift. Kami berdua saling diam. Aku tak berminat berbicara dengan devil brengsek di sampingku.
"Untuk apa kau datang kemari?"
"Apa matamu buta?" jawabku sinis dengan mengangkat paper bag yang kubawa.
"Berpura-pura menjadi calon istri yang perhatian lagi?"
"Lebih baik berpura-pura daripada tidak sama sekali bukan. Aku hanya membawa sedikit bekal makan siang. Jadi, kau tidak bisa bergabung bersama kami."
Marcus mendengus kasar dengan gerakkan cepat dia menyudutkanku ke dinding lift. Kedua tangannya mengurungku. Mataku terkunci begitu lekat pada mata hitamnya.
"Kau pikir aku mau bergabung. Sampai kapanpun aku tidak akan sudi." Aku menatap lekat mata tajam yang mengintimidasiku. Aku tak akan gentar.
"Aku tak pernah mengajakmu untuk bergabung. Aku hanya memberi tahumu agar kau tidak merusak acara makan siang kami." Aku menyeringai namun tiba-tiba tangan kanan Marcus mencengkeram rahangku kuat. Sakit mulai kurasakan.
"Brengsek! Sialan! Rubah licik tak tahu malu. Berani-beraninya kau menantangku."
"Lepaskan tanganmu. Aku tak ingin Andrew melihat rahangku memerah karena perbuatanmu."
"Satu hal lagi, jika aku rubah licik maka kau serigala berbulu domba." Aku mendorong tubuh Marcus hingga dia menjauh dariku dan segera keluar dari dalam lift panas itu.
Kakiku masih bergetar ketika berdiri di depan meja sekretaris. Bohong, jika aku mengatakan jantungku berdetak normal. Bohong, jika aku mengatakan tidak terpesona oleh Marcus. Pria brengsek itu sangat sialan tampan.
Oh ya Tuhan, melihatnya sangat dekat seperti itu membuat aku ingin menarik tengkuknya dan mencium bibir tebalnya dengan brutal. Aku sudah gila.
"Silahkan masuk nyonya Aston. Presdir Cho sudah menunggu anda." Aku tersadar dari lamunanku. Menarik napas panjang dan mulai masuk ke dalam ruangan Andrew.
Aku tersenyum lebar. Andrew sedang duduk di kursi kebesarannya dengan beberapa kertas dan map di atas mejanya. Aku berjalan menyeberangi ruangan hingga berdiri di depan meja kerjannya. Dia mendongak menatapku. Senyuman indah melengkung sempurna menimbulkan lesung pipi yang manis di pipi kirinya.
"Kau sudah datang?"
"Ya, kau pasti belum makan."
__ADS_1
"Kau tidak perlu repot membawa makan siang untukku."
"Aku harus. Kau itu penggila kerja. Aku khawatir kau lupa makan karena terlalu sibuk berkerja. Ayo, makan siang." Aku berjalan ke sofa di sudut ruangan. Meletakkan kotak bekal makan siang di atas meja dan menyiapkannya. Andrew duduk di sampingku.
"Kau sudah makan?"
"Belum, aku sibuk menyiapkan bekal makan siangmu."
"Kalau begitu kau juga harus makan." Dengan cepat Andrew mengambil sesendok nasi dan lauk lalu mengarahkannya padaku.
"Tidak, aku bisa makan di cafe."
"Kau harus makan. Aaa.." aku menyerah dan memakannya. Lalu Andrew menyuap makanan untuk dirinya sendiri. Dan sesekali menyuapiku. Aku sudah seperti putrinya saja. Aku tersenyum senang. Inilah yang aku inginkan, kebahagiaan dan rasa senang. Jadi, aku harus bertahan apapun yang terjadi.
Beberapa menit kemudian makanan di kotak bekal habis tak bersisa. Andrew ternyata menyukai masakanku. Aku mulai membereskan kotak makan.
"Setelah ini kau akan kembali ke cafe?"
"Ya, tentu saja."
"Pulanglah lebih awal sore nanti."
"Kenapa?"
"Karena aku mau mengajakmu ke acara ulang tahun perusahaan temanku malam ini."
"Jam berapa?"
"Jam tujuh malam. Berdandan yang cantik. Jika perlu pergilah berbelanja gaun pesta."
"Tidak, gaunku banyak. Aku tak perlu membeli yang baru." Andrew tak menentang perkataanku.
"Baiklah, aku harus kembali. Cafe cukup ramai saat ini."
"Ya, kau ingin kuantar."
"Baiklah, hati-hati di jalan. Jika ada sesuatu segera hubungi aku." Aku mengangguk dan berdiri. Andrew juga berdiri dan langsung menarikku dalam pelukannya.
"Aku menyayangimu." Andrew mengecup puncak kepalaku. Lalu melepaskan pelukannya. Aku tersenyum manis lalu pamit pergi.
Ketika aku sudah berada di depan ruangan Andrew. Kakiku berhenti kaku. Mataku membesar. Di hadapanku Marcus berdiri dengan bersedekap tangan. Dia menungguku? Tidak mungkin.
"Jangan pernah datang lagi ke kantor ini." Suaranya penuh ancaman. Mata tajamnya menghunusku.
"Kenapa?" Aku sulit mengontrol suaraku agar tak bergetar. Marcus benar-benar mempengaruhiku. Dia bagaikan lucifer yang sangat tampan dan menyeramkan.
"Aku tak mau ada yang berbuat mesum di kantor ini."
"Berbuat mesum?" Alisku terangkat sebelah mengejek ucapan Marcus.
"Aku dan Andrew tak melakukan hal mesum. Lagipula sebentar lagi kami akan menikah. Tak ada salahnya jika kami melakukan hal mesum."
"Harus berapa kali aku katakan...."
"Bahwa kau tak akan membiarkan pernikahan kami terjadi, bukan? Aku sudah bosan mendengarnya Marcus. Dan aku sudah ribuan kali mengatakannya padamu, jika pernikahan kami akan tetap terlaksana."
Aku berjalan menuju lift. Marcus berteriak menyumpah serapah ke arahku. Aku terus berjalan, aku ingin tak menghiraukan umpatannya tapi kupingku panas juga. Aku berhenti berjalan dan berbalik.
"Marcus, aku tak pernah tau jika kau suka sekali menguping. Apa kau tak punya pekerjaan lain?"
Wajah Marcus semakin mengeras tangannya terkepal. Dia berjalan ke arahku dengan amarah tapi kini aku sudah berada di dalam lift. Dan ketika dia hampir mendekatiku, pintu lift tertutup rapat. Saat itulah aku mencari pegangan. Kakiku seperti jelly yang kehilangan persendiaannya. Napasku memburu seakan aku baru saja keluar dari ruang hukuman mati. Ya Tuhan, berikan aku kekuatan untuk menghadapi pria brengsek itu. Tapi, apakah Tuhan mau mendengarkan doa seorang pelacur sepertiku?
***
__ADS_1
Aku mengoleskan lipstik merah ke bibirku. Selesai. Seorang gadis cantik dengan gaun merah yang sederhana namun terlihat mewah dan sexy. Gaun dengan potongan leher rendah dan memiliki panjang hingga mata kaki namun dengan belahan yang cukup tinggi hingga setengah paha. Rambut diurai dengan sedikit gelombang diujungnya. Gadis itu adalah refleksi penampilanku di kaca besar.
Malam ini Andrew akan mengajakku untuk datang ke pesta ulangtahun perusahaan temannya. Aku duduk di pinggir ranjang dan mengenakan high heel silver gliter. Lalu mengambil dompet kecil untuk menyimpan ponselku. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh. Andrew pasti sudah menungguku di bawah. Aku berjalan keluar dari kamar.
Degup jantungku berdegup keras. Aku hampir saja melempar tas tanganku.
Sial. Marcus sialan. Dia berdiri di depan pintu kamarku dengan bersedekap tangan. Napasku tercekat, bukan karena kehadirannya yang mengejutkan tapi karena dia sialan tampan. Ya Tuhan, bagaimana bisa kau menciptakan makhluk setampan dia? Namun sangat brengsek.
Marcus berdiri dengan stelan jas hitam yang melekat erat di tubuhnya. Dengan mata tajam yang mengintimidasi dan ... Oh My God! Katakan aku sebagai wanita labil karena kini aku mengaguminya. Ini pertama kali aku melihat dia menyusir rambutnya seperti itu. Tatanan rambut itu menunjukkan keningnya yang mulus dan cukup lebar. Kening pria paling sexy yang pernah kulihat. Kenapa tidak sejak dulu dia menata rambunya seperti itu?
Mata Marcus menelusuri tubuhku. Dari atas hingga bawah. Lalu kembali dari bawah ke atas.
"Untuk seorang jalang kau cukup sexy."
Seharusnya aku marah saat ini. Marcus jelas-jelas tengah mengejekku. Tapi entah mengapa hal sebaliknya terjadi padaku. Wajahku langsung memanas. Yang terpikirkan olehku hanya kata sexy yang terucap olehnya. Kalimat sindiran itu bagaikan pujian untukku. Aku sudah gila. Berhenti bersikap bodoh dan memalukan. Aku menunduk untuk menghidari tatapan mata Marcus.
"Apa kau sengaja memakai gaun itu untuk menggoda pria kaya lain yang ada di pesta?"
"Kau pasti ingin menggaet seorang pria ke atas ranjangmu."
"Jaga ucapanmu, Marcus."
"Apa yang salah dari ucapanku? Kenyataannya memang seperti itu, bukan?"
"Buat apa aku menggoda dan menggaet pria kaya lain, jika aku memiliki tunangan yang selalu bersedia naik ke atas ranjangku."
"Dasar bitch!"
"Itu memang panggilanku." Aku tersenyum menggoda dengan mengibaskan rambutku ke belakang dan berjalan pergi meninggalkan Marcus. Aku tersenyum puas karena berhasil membuatnya kesal. Dia pikir dengan menghinaku maka aku akan menyerah dan menjadi lemah. Tidak! Kau tak tahu apa saja yang sudah aku lalui hingga akhirnya bertemu dengan Andrew. Jadi, aku tak akan menyerah hanya karena hinaan seperti itu, Marcus.
Aku sudah berdiri di anak tangga terakhir. Aku berhenti melangkah. Mataku hanya terfokus pada satu titik di depan sana. Jika Marcus adalah devil penggoda maka Andrew adalah malaikat pemikat.
Andrew tengah berdiri dengan sedikit menunduk dan menyisir rambutnya ke arah samping. Tubuhnya dibalut oleh jas putih pas badan. Duda beranak satu paling hot yang pernah kulihat. Walau umurnya sudah cukup tua tapi pesona dan daya pikatnya masih sangat tinggi. Evelyn bahkan mengatakan bahwa Andrew semakin hot setiap waktu. Dia memang menawan. Pria itu selalu menjaga tubuh dan makanannya. Itu sebabnya dia sangat sehat dan awet muda. Banyak wanita yang menginginkan posisiku saat ini.
Andrew berbalik dan tersenyum ke arahku. Astaga, tidak hanya anaknya tapi sang ayah juga membuat jantungku berdegup kencang. Aku tak bisa bernapas dengan benar jika mereka berdua berada di depanku dengan senyuman menawan mereka. Dan untungnya itu tak mungkin terjadi, karena Marcus membenci kehadiranku.
"Kau sudah siap?" Andrew berjalan menghampiriku. Matanya mengamatiku dengan seksama. Lalu dia menatap wajahku lama hingga akhirnya dia menghela napas panjang. Keningku mengerut.
Kenapa? Ada yang salah dengan penampilanku? Kenapa Andrew mengehela napas panjang? Apa bajuku terlalu terbuka?
"Apa ada yang salah?" Aku tak bisa menahan semua pemikiranku.
"Kau harus selalu berada di sampingku saat pesta nanti." Ada nada ancaman dalam kalimatnya. Dan mata Andrew menegaskan dia tak menerima bantahanku. Tapi aku butuh alasan.
"Kenapa?"
"Dengan penampilanmu yang sangat cantik dan sexy ini pasti semua pria melihat ke arahmu. Mereka pasti berlomba-lomba mendekatimu. Jadi, jangan jauh-jauh dariku, mengerti?" Seketika tawaku pecah. Astaga, aku pikir kenapa, ternyata— hahaha.
"Overprotective, eoh?" Godaku.
"Tentu saja, aku harus. Jika tidak, mereka akan merebutmu dan aku tak ingin kau disakiti oleh siapapun lagi. Aku sudah berjanji akan melindungi dan menjagamu." Tatapan teduh mata Andrew dan usapan jemari tangannya di wajahku memicu dorongan untuk memeluknya saat ini juga. Dengan ragu aku mendekat ke arahnya dan memeluk tubuh Andrew erat, yang langsung dibalas sama eratnya oleh pria itu. Ya Tuhan, terimakasih sudah mengirimkan malaikat ini untuk masuk ke dalam kehidupan gelapku.
Suara pecahan kaca melengking di keheningan. Aku langsung melepas pelukan kami dan berbalik ke asal suara. Vas kaca dan bunga sudah tak berbentuk lagi di lantai dengan air yang menggenang, juga pecahan kaca di mana-mana. Tak jauh dari sana Marcus berdiri dengan wajah datarnya. Aku tak bisa membaca raut wajahnya saat ini. Apa dia yang menjatuhkan vas bunga itu?
Sudah beberapa detik berlalu namun Marcus tak mengeluarkan sepatah kata apapun, matanya hanya menatap ke arah kami. Apa yang tengah ia pikirkan saat ini? Jika bisa membaca pikiran orang lain, maka aku tak akan kesulitan mengetahui pemikiran Marcus sekarang.
"Mbok, cepat bereskan ini. Jangan sampai ada pecahan kaca yang tertinggal." Andrew berteriak cukup keras memanggil Mbok Sari, pembantu rumah tangga di mansion ini.
Wanita tua itu bergerak dengan cepat membawa sapu dan serokan. Namun Marcus masih saja berdiri di sana. Tak berniat untuk pergi.
"Kau juga datang ke pesta Smith Company. Bagaimana jika kita pergi bersama-sama?" Tanya Andrew menarik perhatian Marcus. Pria itu mulai berjalan menghampiri kami. Dia berhenti ketika jarak diantara kami cukup dekat.
__ADS_1
"Aku tak sudi satu mobil dengan seorang ... pelacur." Nada suara Marcus penuh ketidaksukaan, amarah dan kebencian. Tatapan matanya begitu tajam hingga aku bergidik takut. Setelah itu dia pergi begitu saja. Kali ini Andrew tak berbicara apapun, biasanya pria itu selalu protes jika Marcus menghinaku. Apa dia juga merasakan hal yang sama denganku? Kebencian dan amarah sangat besar dimiliki oleh Marcus. Dia pasti terkejut, sama sepertiku. Aku meliriknya sekilas. Hanya perasaanku saja atau memang sudut bibir Andrew berkedut. Dia menoleh dan tersenyum lebar ke arahku.
"Ayo berangkat." Andrew merangkul pundak dan menggiringku untuk segera pergi.