Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 21. Dia Koma


__ADS_3

Pagi hari aku terbangun dengan rasa pusing yang berat. Seakan ada palu besar yang berulang kali menghantam kepala. Setelah mandi, tubuhku jauh lebih segar. Aku berjalan ke ruang makan. Sudah ada Marcus dan Andrew di sana. Aku berjalan mendekat dan duduk di samping Andrew. Tanganku terulur mengambil roti tawar saat suara decakan Marcus terdengar.


"Menakjubkan. Kau sungguh tidak tahu malu. Ayahku sudah sarapan dan kau baru bangun tidur. Bukankah seharusnya kau membuatkan sarapan untuk kami." Tanganku berhenti dan menggantung di udara. Sudut mataku melirik Andrew yang sudah duduk dengan koran dan sandwhich juga kopi di hadapannya.


"Ah~ aku lupa kau hanya bisa memuaskan napsu pria di atas ranjang. Hanya itu keahlianmu." Mataku langsung menatap Marcus tajam. Mulut berbisa dan wajah mengejeknya ingin sekali aku hancurkan.


"Marcus." Panggil Andrew dengan nada rendah untuk memperingatkan pria itu.


"Kenapa? Bukankah aku benar? Istri yang baik harus melayani suaminya. Bangun pagi hari dan menyiapkan sarapan. Bahkan kau belum menjadi istrinya saja sudah bertingkah semaumu seperti ini." Tanganku mengepal erat. Beberapa urat tanganku menegang.


"Kau tak perlu marah, memang itu kenyataannya. Atau harus kuperjelas niat licikmu. Kau ingin menguras seluruh harta keluargaku, kau menggoda ayahku dan perlahan-lahan mengeruk uang kami. Betapa rendahnya dirimu, bitch!" Aku tak tahan lagi, tak perduli dengan Andrew yang duduk di sampingku. Aku langsung menggebrak meja.


"JAGA UCAPANMU, Marcus Cho!" Aku berteriak keras sambil berdiri.


"Aku tak serendah itu. Walaupun aku miskin dan seorang pelacur tapi aku tidak pernah memiliki niat untuk menguras seluruh harta keluargamu."


"Benarkah? Lalu mengapa kau mau menikah dengan ayahku, jangan katakan kau mencintainya karena itu semua Bullshit."


"Atau kau mau mengatakan hanya Andrew yang menghargai dan menginginkanmu, begitu? Berhenti berakting dan berpura-pura lemah, bitch. Kau pikir aku akan tertipu dengan akal muslihatmu itu. TAK AKAN PERNAH!"


"KAU!"


"Aku muak dan tak sudi melihat wajah jalangmu lebih lama lagi." Setelah itu dia pergi. Tanganku masih mengepal erat mataku membara menatap punggung Marcus yang menjauh. Pria itu. Aku sangat ingin menerjang dan memukulinya hingga babak belur.


Sebuah tangan besar dan hangat mengenggam tanganku. Aku menoleh dan terkunci dalam tatapan mata Andrew yang teduh dan menenangkan.


"Tenangkan dirimu." Tangannya menarikku untuk kembali duduk di kursi. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Mengatur deru napas memburuku agar kembali normal.


"Apa yang terjadi? Mengapa kalian bertengar, bahkan lebih hebat dibanding dulu? Bukankah kalian kemarin baik-baik saja dan terlihat akrab."


Aku terdiam. Aku marah karena dia menghinaku. Ditambah dengan kado spesial itu yang aku yakini pengirimnya adalah Marcus membuat aku semakin marah dan kesal pada pria itu.


Tapi aku tak bisa mengatakan mengenai kado spesial itu pada Andrew.


"Aku tak tau, sejak semalam dia bersikap seperti itu. Atau memang itulah sifat aslinya."


Andrew menghela napas panjang dan menggenggam tanganku erat.


"Maaf, aku tau ucapannya sangat kasar padamu. Sebenarnya dia adalah anak yang baik. Tapi sejak kematian ibunya dia menjadi sangat tertutup dan keras." Mata Andrew menatapku dengan rasa bersalah.


"Dia menyimpan luka yang mendalam." Kesedihan terpancar jelas di kedua mata Andrew.


"Karena kehilangan ibunya?"


"Tidak, karena seorang wanita." Wanita? Aku terdiam dan menatap lekat Andrew. Aku ingin mendengar ceritanya.


"Dulu Marcus adalah pria yang hangat dan baik. Tapi setelah kematian ibunya dia berubah dingin dan pendiam. Kupikir perubahan itu karena dia merasa kehilangan ibunya tapi ternyata bukan. Dia memang bersedih Hanna meninggal tapi itu bukanlah penyebab perubahan sikapnya. Dia seperti itu karena seorang wanita." Aku hanya diam dan tak menyela ucapan Andrew.


"Saat itu Hanna berkunjung ke apartemen Marcus. Pria itu mengatakan pada Hanna mengenai gadis yang ia cintai. Dan Marcus berkeras untuk mengantar Hanna pulang. Namun malam itu sedang hujan lebat dan jalanan sangat licin. Akhirnya kecelakaan tak terhindarkan. Mobil yang Marcus kendarai menabrak tiang listrik dengan sangat keras. Hanna dan Marcus dibawa ke rumah sakit namun Hanna meninggal sesaat tiba sana. Dan Marcus mengalami koma."


"Koma?" Aku tak pernah tau pria itu mengalami koma. Andrew mengangguk dan kembali melanjutkan ceritanya.


"Iya, Marcus koma selama enam bulan. Saat itu aku benar-benar terpuruk. Istriku meninggal dan putraku mengalami koma."


"Beruntung Marcus akhirnya terbangun setelah enam bulan. Dan dia sangat syok ketika mengetahui Hanna telah meninggal. Dia juga mencari keberadaan seorang gadis yang bernama Lina." Jantungku berdegup sangat kencang.


"L—Lina." Mataku berkaca-kaca dengan suara yang bergetar.


"Ya, gadis yang dia ceritakan pada Hanna bernama Lina. Namun selama dia di rawat dan koma tak ada gadis yang bernama Lina yang menjenguknya. Hanya Siska teman kuliahnya yang datang menjenguk. Dan gadis itu juga semakin sering menjenguk Marcus setelah dia sadar. Saat itu aku tau gadis itu menyukai Marcus. Namun sejak saat dia terbangun dari koma Marcus mulai berubah. Dia jauh lebih dingin dan pendiam. Kupikir semua itu karena rasa kehilangan akan ibunya. Namun ternyata semua perubahan itu karena gadis yang bernama Lina." Setiap kata yang Andrew ucapkan seakan perlahan menarik roh dari dalam ragaku.


"Marcus terluka karena gadis yang dia cintai tak pernah sekalipun menjenguknya. Marcus sakit hati karena gadis itu menghianati cintanya. Dan kudengar dari Siska, gadis itu hanya memanfaatkan harta Marcus saja. Setelah mendengar Marcus kecelakaan dan koma, gadis yang bernama Lina itu menghilang tak ada kabar. Mungkin dia berpikir Marcus tak akan pernah bangun lagi." Keringat dingin sudah membanjiriku. Jantung berdegup semakin kencang seiring Andrew menceritakan semuanya.


"Kapan kecelakaan itu terjadi?"


"Lima tahun yang lalu, 25 maret 2010." Degup jantungku bertalu dengan kencang hingga terasa sakit. Kecelakaan itu terjadi bertepatan dengan hari kematian ibuku. Dan Marcus koma selama enam bulan setelah hari itu. Itu berarti Marcus ....

__ADS_1


"Jadi, kumohon agar kau mengerti dia. Karena gadis bernama Lina itu, Marcus sulit untuk mempercayai orang lain lagi. Dia sangat sakit hati. Karena hal itu juga dia bersikap dingin dan keras padamu. Dia tak ingin kembali dikhianati dan berpikir kau mendekatiku hanya untuk menguras harta keluarga Cho saja."


Aku hanya diam termenung dengan fakta mengejutkan yang baru saja kudengar. Gadis yang bernama Lina adalah aku. Lina adalah nama panggilan kesayangan yang Marcus berikan untukku.


"Jadi, cobalah mengerti dirinya." Tangan Andrew membelai kepalaku namun aku sama sekali tak menanggapinya. Aku masih termenung menatap kosong dan tenggelam dalam pikiranku sendiri. Semua spekulasi mulai terbentuk.


Lima tahun yang lalu, tanggal 25 maret 2010 ibuku meninggal. Sejak hari itu aku kehilangan kontak dengan Marcus. Kupikir dia menghilang menjauhiku, tapi ternyata pria itu mengalami kecelakaan hebat.


Aku rapuh dan membutuhkan kehadirannya saat itu tapi ternyata Marcus sedang berjuang melawan maut.


Seminggu lebih aku menunggu Marcus pulang ke apartemennya, tapi dia tak pernah datang. Bukan Marcus tak mau datang tapi karena dia tak bisa datang dan berjuang untuk bangun dari koma.


Kupikir Marcus meninggalkanku begitu saja tanpa penjelasan, tapi ternyata dia tak bisa menghubungiku karena sedang koma.


Apa yang sudah aku lakukan? Aku menangis dan mengharapkan kehadirannya di masa tersulitku namun aku sama sekali tak tau mengenai keadaannya. Aku tak ada di sisinya saat dia tengah berjuang melawan maut dan berusaha bangun dari koma.


Dia bahkan menanyakan keadaanku saat dia terbangun, sedangkan aku malah berpikir dia sudah menghianati dan meninggalkanku. Aku bahkan mengumpat dan mencacinya.


Ya Tuhan! Semua hanyalah kesalahpahaman. Dan aku begitu bodoh karena tak tau bagaimana keadaannya saat itu. Aku malah terpuruk dengan keadaan dan kesedihanku sendiri. Membiarkan pria yang kucintai berjuang sendiri melawan maut.


Marcus.


Dia tak pantas mendapat semua umpatan dan kalimat kasar yang aku katakan padanya.


Marcus.


Pasti sangat besar rasa kecewa yang Marcus rasakan saat itu. Tapi mengapa dia tidak mencari dan menuntut jawaban dariku? Mengapa dia tak menemuiku saat dia sudah sadar dan sehat kembali?


Aku harus menemui dan meminta penjelasan langsung darinya. Aku bangkit dan menuju kamarku. Aku bahkan tak tau sejak kapan Andrew berangkat kerja. Sekarang aku harus pergi menemui Marcus.


***


Aku berjalan masuk ke dalam gedung Cho Coorporation dan menuju meja resepsionis. Nindy, wanita yang dulu menahanku untuk menemui Andrew langsung berdiri tegap dengan senyuman lebar menyambutku.


"Tidak, aku ingin bertemu direktur Cho. Dimana ruangannya?" Wanita yang bernama Nindy itu terkejut sesaat.


"Ruangan direktur Cho ada dilantai 19, nyonya." Aku mengangguk dan segera menuju lift.


Kini aku tengah berjalan menuju ruangan Marcus. Seorang sekretaris pria menahanku.


"Maaf, nona. Ada yang bisa dibantu?"


"Aku ingin menemui Marcus. Dia ada di dalam bukan?"


"Iya, apa nona sudah membuat janji?" Aku menghiraukan ucapannya dan berjalan cepat menuju pintu ruangan Marcus. Sekretaris itu berteriak untuk mencegahku. Namun aku sudah membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam.


Marcus yang sedang bekerja di balik meja kebesarannya menoleh ke arahku.


"Nona, jangan masuk." Sekretaris pria tadi berdiri di sampingku.


"Maaf, pak. Nona ini menerobos masuk."


"Apa yang kau lakukan di sini, Shelina?"


"Aku ingin bicara denganmu." Marcus hanya menaikkan sebelah alisnya. Aku tak menghiraukan tatapan tajam dan sinisnya.


"Aku sibuk, pergilah." Marcus mengalihkan wajahnya.


"Aku hanya ingin bicara denganmu sepuluh menit saja." Aku melangkah mendekati mejanya.


Marcus melambaikan tangannya mengusir sekertaris pria tadi. Aku duduk di hadapan Marcus.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Aku menatap mata Marcus lekat. Pria yang selalu aku panggil brengsek, ternyata dia tak pernah meninggalakanku.


"Apa benar lima tahun yang lalu kau mengalami kecelakaan dan koma?" Wajah Marcus langsung berubah serius.

__ADS_1


"Mengapa kau menanyakannya, bukankah kau sudah tau hal itu. Dan karena mendengar keadaanku yang koma, kau meninggalkanku. Kau pasti berpikir aku tak akan bangun lagi. Itu sebabnya kau tak menjengukku dan mencari kehangatan juga tambang emas dari pria lain." Mata Marcus memancarkan amarah yang begitu hebat. Urat-urat di wajah dan tangannya menegang.


Aku tak marah dengan tuduhan itu, juga tak kesal karenanya. Hatiku lebih terluka dan sakit mendengar fakta itu langsung dari Marcus. Mataku memanas, airmata mendidih dan siap tumpah kapan saja.


"Marcus," ucapku lirih. Saat itu dia pasti kesepian dan membutuhkan kehadiranku. Dia pasti sangat terluka karena aku tak pernah sedetikpun berada di sampingnya.


"Berhenti berpura-pura lemah dan terluka, Bicth! Kau pikir aku akan terpengaruh dengan tipu muslihatmu lagi." Marcus menggebrak meja untuk melampiaskan amarahnya. Airmataku mengalir menyusuri pipi.


"M—Marcus, ak—aku tak tau kau mengalami kecelakaan."


"Sungguh? Benarkah?" Kedua tangan Marcus menekan meja dan tubuhnya condong ke arahku. Mata tajam dan sinisnya menghujamku hingga ke jantung. Sangat sakit.


"Bullshit," ucap Marcus penuh penekanan. Airmataku semakin mengalir dengan deras.


"Aku sudah mencari keberadaan dan info apapun tentangmu. Tapi aku sama sekali tak mendapatkannya. Ponselmu bahkan tak bisa dihubungi dan aku tak tau dimana alamat rumah orangtuamu."


"Berhenti berbicara omong kosong Shelina. Siska bilang dia sudah memberitahukanmu, tapi kau malah tak perduli dan bersenang-senang dengan pria lain. Kau mendekatiku hanya karena aku kaya dan punya banyak uang bukan? Kau berpikir aku tak akan bangun lagi dari koma, itu sebabnya kau mencari pria lain dan menjual tubuhmu untuk mendapatkan uang. Dasar jalang rendahan."


"Marcus, itu tidak seperti yang kau pikirkan. Aku sama sekali...."


"Sudah kubilang berhenti berbicara omong kosong. Aku sudah tau kebusukkanmu, Shelina. Kau dan ayahmu ingin menguasai seluruh harta keluarga Cho, bukan?"


"Tidak! Aku tak...."


"Aku memiliki buktinya Shelina. Jadi jangan menyangkalnya lagi."


"Bukti apa maksudmu?" Marcus mengutak atik handphone-nya dan memutar voice recording.


"Kau benar. Lagipula uang seratus juta bukan uang yang banyak. Andrew itu sangat kaya raya, dia bahkan membelikanmu cafe ini. Aku yakin kau mendapatkan banyak uang darinya."


"Ya, aku tak berjanji pada Andrew untuk tidak meminta uang lagi darinya."


"Anggap saja uang lima milyar itu hanya untuk mendapat persetujuanku agar dia bisa menikah denganmu. Kita tak boleh melepaskannya begitu saja dan kau harus terus meminta uang pada Andrew."


"Damn you! Kau benar-benar pintar."


"Jadi, kau hanya perlu meminta uang dengan calon suamimu itu. Dia tidak akan bangkrut jika kau meminta uang seratus juta. Kalau bisa kau meminta satu milyar."


"Aku akan memberikannya,"


Itu adalah rekaman percakapanku dengan Jonathan. Itu memang suaraku tapi aku tak pernah mengatakan kalimat-kalimat itu. Rekaman suara itu sudah di sabotase.


"Ini jelas suaramu, bukan. Jadi berhenti menyangkal semua tuduhanku. Dasar wanita mata duitan! Jalang rendahan!"


"Marcus, itu memang suaraku tapi aku tak mengatakan hal itu. Jonathan mengancamku."


"Berhenti omong kosong Shelina. Airmata buayamu tak akan mempan untukku. Jadi, keluar dari ruanganku sekarang."


"Marcus, itu tidak seperti...." dering ponsel menghentikan kalimatku. Aku mengambil ponsel dari dalam tas.


Evelyn menelpon.


Langsung saja aku angkat panggilan Evelyn.


"Ha...."


"Shelina, kau harus ke Cafe sekarang juga." Keningku mengerut dalam. Suara Evelyn sangat aneh dan bergetar. Apa ada sesuatu yang terjadi di Cafe?


"Evelyn, ada apa?"


"Arghhh!" Suara teriakkan Evelyn di sertai suara ribut dan sangat berisik. Aku bangkit berdiri dan dihantam oleh ribuan rasa cemas juga khawatir.


"Evelyn, apa yang terjadi?" Tak ada jawaban dan hanya suara berisik dan teriakan histeris lainnya.


"Evelyn." Dan akhirnya panggilan itu terputus. Tanpa menghiraukan apapun lagi aku langsung berbalik dan berlari keluar. Aku harus ke cafe sekarang juga. Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi di sana?

__ADS_1


__ADS_2