Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 46. Bersikeras mendapatkannya


__ADS_3

"Bisa kau ulangi perkataanmu barusan? Kau mau membawa kabur istriku?" Mata Andrew beralih ke arah Shelina lalu sedetik kemudian menatapku tajam. Aku mengepalkan kedua tanganku erat. Aku membenci kata istriku yang terucap olehnya. Aku muak melihat Andrew yang menatap Shelina saat mengucapkan kata keramat itu.


"Ya, aku akan membawa kabur Shelina bersamaku." Aku tak akan gentar. Aku akan melawan ayahku sendiri demi cinta dan hidupku.


"Membawa Shelina kabur?" Alis Andrew terangkat sebelah mengejekku.


"Ya, aku akan membawa kabur Shelina. Dia gadisku hanya milikku. Aku mencintainya, tak bisakah ayah mengalah untukku."


"Kau terlambat Marcus. Kau sudah terlambat sejak sebulan yang lalu. Dan sekarang kau berkata akan membawa Shelina kabur. Jika kau memang mencintai Shelina, kau tak akan meninggalkannya. Jika kau mencintainya, kau pasti bersikap baik dan mengejar cintanya kembali. Jika kau menginginkan Shelina, kau pasti sudah membawanya kabur sebelum pernikahan ini. Jadi, mengapa baru sekarang kau berkata akan membawa kabur Shelina?"


"Karena aku terlalu bodoh. Karena aku terlalu menyayangimu. Dan karena aku tak ingin Shelina bersedih sudah mengecewakanmu, ayah."


Andrew terdiam dengan menatapku lekat. Aku pun menatapnya tajam.


"Aku akan membawanya pergi bersamaku. Tak perduli jika kini dia sudah menjadi istrimu. Aku akan membawanya pergi. Jangan halangi jalanku. Biarkan kami meraih kebahagiaan kami."


"Tidak, Marcus. Shelina—" dengan cepat aku memotong ucapan Andrew. Amarahku mengelegak begitu cepat dan pecah begitu saja.


"Mengapa ayah tak mau mengalah?! Aku mencintai Shelina. Aku sangat mencintainya. Dan dia juga mencintaiku. Kenapa ayah menjadi penghalang menyatunya cinta kami? Aku tak perduli, aku akan membawanya pergi. Tak perduli apapun yang terjadi. Shelina hanya milikku. Milikku seorang!" Teriakku panjang lebar.


Andrew sedikit berdenyit dan menatapku tak percaya. Napasku memburu dan tangan mengepal dengan erat. Jika ayah masih menghalangi kami, aku tak akan ragu untuk memukulnya.


Ya Tuhan, aku tak bisa hidup tanpa Shelina. Dan aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Dia hanya milikku. Gadisku.


"Dengar nak, apa kau sungguh mencintai Shelina? Seberapa besar rasa cintamu? Jika gairah diantara kalian kau anggap sebagai cinta, maka aku tak akan melepaskan Shelina."


"Aku bahkan siap memukulmu saat ini, jika kau masih menghalangi jalan kami. Dan ini bukan gairah sesaat karena aku ingin hidup bersama Shelina selamanya. Aku ingin dia menjadi istri dan ibu dari anak-anakku."


Amarahku sangat sulit untuk dikendalikan saat ini. Rasanya aku ingin menghambur dan memukuli wajah Andrew. Seandainya dia bukan ayahku, aku yakin sekarang dia sudah masuk rumah sakit.


"Kau berani memukulku?" Alis Andrew naik dan saat dia menyadari kesungguhan dari ucapanku, sedetik kemudian tangannya sudah menjewer kupingku.


Sialan!


"Dasar anak nakal, bodoh dan durhaka!" Omel Andrew yang membuat aku mengerut kesal, menarik tangannya untuk melepaskan telingaku tapi itu terlalu sulit.


"Bagaimana mungkin kau berani memukul ayahmu sendiri? Hah? Kau harus dijewer agar sadar berbicara dengan siapa." Ucapan Andrew memicu tawa keluar dari mulut Shelina, membuat aku semakin merenggut kesal.


"Ayah! Lepaskan!"


Sial, jika dia bukan ayahku, aku sudah memukul perut Andrew agar melepaskan tangannya di telingaku. Kupingku sangat panas seperti terbakar. Aku terus meronta untuk melepaskan tangannya.


"Aku tak akan melepaskanmu. Rasanya aku ingin memukul bokongmu dengan ikat pinggangku. Aish anak nakal ini, bagaimana kau bisa begitu licik? Kau sengaja melakukannya bukan? Kau melakukannya agar aku tak bisa menikahi Shelina, kan?" Keningku mengerut dan berhenti meronta.


"Apa maksud ayah?"


"Kau sengaja membuat Shelina hamil untuk menggagalkan pernikahan kami, kan?"


Apa?! Enak saja, jangan asal tuduh.


"Apa maksud ayah? Aku sama sekali tidak—" ucapanku terhenti dan seketika mataku membesar tak percaya. Seakan aku baru saja menjadi orang yang sangat bodoh dan kini mendapatkan kepintarannya kembali.

__ADS_1


"Ha—hamil? Sh—Shelina hamil?" Tubuhku menjadi dingin seketika, keringat mulai keluar tanpa bisa kucegah. Bagaimana ini bisa terjadi? Astaga, Shelina hamil? Itu artinya.


Aku menatap Andrew berkaca-kaca. Hancur sudah harapanku. Aku tak memiliki kesempatan lagi untuk bersama Shelina, jika gadis itu tengah hamil anak ayahku.


Tangan Andrew memukul kepalaku keras membuat aku meringis.


"Dasar bodoh! Apa kau pikir itu anakku? Aku tak pernah menyentuh Shelina dan selama enam bulan ini aku melarangnya untuk melayani pria lain. Jadi, tentu saja itu anakmu."


Keningku mengerut dalam. Ayah seperti mengucapkan bahasa alien. Aku sama sekali tak paham. Butuh waktu untukku menguraikan maksud dari ucapannya.


Shelina hamil? Anakku?


Mataku melotot besar dan menoleh ke arah Shelina tak percaya. Aku baru sadar jika wajahnya sangat pucat. Gadis itu tersenyum lebar ke arahku. Sebelah tangan Shelina bergerak mengelus perut datarnya yang menyita perhatianku kesana.


Anakku? Shelina hamil anakku?


Sulit dipercaya.


Aku menghambur memeluk Shelina erat. Mendekap Shelina dalam pelukan eratku. Aku berulang kali menciumi kepalanya. Ya Tuhan, keajaiban apa ini? Astaga, aku bahagia sekali.


"Kau hamil! Astaga, kau hamil anakku. Ini sungguhan, kau tidak salahkan. Dia anak kita, kan? Sebentar lagi aku akan menjadi ayah?" Shelina mengangguk dalam pelukanku.


Sedetik kemudian aku kembali disadarkan. Shelina sudah menikah dengan ayah lalu bagaimana dengan anakku?


Aku melepaskan pelukan kami dan menoleh ke arah Andrew.


"Ayah, kau harus bercerai dengan Shelina secepatnya. Kau tak ingin anakku memanggil dirimu ayah, bukan? Dan aku tak akan pernah setuju hal itu."


"AYAH!" Teriakku keras. Aku tak percaya, Andrew masih saja bersikeras tak ingin melepaskan Shelina. Astaga, Shelina mengandung anakku dan dia tak mau melepaskannya. What the ****! Mother fucker!


Shelina terkekeh pelan dan hal itu menyita perhatianku. Aku menatapnya tajam. Aku sedang marah dan kesal tapi mengapa gadisku malah tertawa. Apa yang dia tertawakan? Apa Shelina tak mengerti keadaan genting ini? Jika dia masih berstatus sebagai istri ayahku, maka aku tak bisa mengklaim anaknya sebagai anakku.


"Marc, Andrew tak akan pernah menceraikanku. Karena kami tak pernah menikah."


"APA?!" Aku reflek berteriak. Mereka tidak menikah?


"Shelina pingsan sebelum dia mengucap janji suci. Dan ketika diperiksa dokter, saat itulah aku baru tahu dia sedang hamil anakmu."


Aku menghembuskan napas lega, semua beban berat dipundakku menghilang tak berbekas. Aku tak perlu menentang ayahku. Tapi penjelasan ayah membuat aku berpikir hal lain.


"Apa ayah tetap menikahi Shelina jika dia tak hamil anakku saat ini?"


Dan tangan Andrew kembali memukul kepalaku dengan keras.


"Dasar bodoh! Aku tak mungkin menutup mata atas penderitaan kalian. Awalnya aku berpikir bahwa cintamu pada Shelina hanyalah gairah sesaat. Tapi saat semalam aku melihat, kau bersujud untuk memperjuangkan cintamu, akhirnya aku sadar. Bahwa kau memang mencintai Shelina dan pantas untuk bersanding dengannya."


"Andrew, jadi kau—" Shelina juga tak percaya mendengar ucapan ayah.


"Ya Shelina. Sejak semalam aku sudah merelakanmu. Aku tetap melanjutkan pernikahan hari ini, hanya ingin melihat sekali lagi perjuangan anak lelakiku untuk mendapatkanmu. Aku ingin melihat aksi heroiknya yang menerobos masuk dan membawa kabur pengantinku. Tapi, sialannya...." Andrew berbalik dan menatapku dengan marah dan sorot mata tajam.


"Anak bodoh dan nakal ini malah datang terlambat. Bagaimana jika Shelina tadi tidak pingsan? Hah? Apa kau sungguh ingin melihat Shelina menjadi ibu tirimu?"

__ADS_1


"Maaf. Aku bangun kesiangan." Dengan kikuk dan merasa sangat bersalah aku menggaruk tengkukku yang tak gatal.


"Aish anak ini benar-benar."


Dengan cepat Andrew menjepit leherku dengan sebelah tangannya. Menahan dan mengunci pergerakkanku lalu tangannya memukul kepala berulang kali. Bukannya kesakitan aku malah tertawa.


Dari sudut mataku, aku melihat Shelina juga ikut tertawa mengamati aksi kami. Astaga, rasanya sangat bahagia. Seakan aku baru saja berhasil melakukan tender bernilai milyaran. Aku menjadi pria paling beruntung di dunia ini. Karena akhirnya bisa bersama Shelina untuk selamanya. Memenuhi janji yang kami ucapkan dulu.


Setelah beberapa menit akhirnya Andrew melepaskanku. Aku tak akan menunggu lebih lama lagi. Aku ingin memiliki Shelina secepatnya. Aku tak mau kecolongan lagi dan kembali salahpaham.


Aku menekuk kakiku di hadapan Shelina. Bersujud dan menatap wajah cantiknya dengan senyuman lebar. Shelina terkejut dengan aksi dadakanku ini. Andrew juga hanya diam.


Aku meraih kalung yang selalu melingkar di leherku. Melepasnya dan mengeluarkan cincin yang aku jadikan bandul kalung ini. Lalu menyodorkan cincin berlian ini ke arah Shelina.


"Marc, ini?" Aku tersenyum lebar. Ternyata Shelina masih mengingat cincin berlian ini. Cincin yang lima tahun lalu aku tunjukkan saat melamarnya setelah pertama kali kami bercinta .


"Shelina, untuk kedua kalinya aku menyodorkan cincin ini padamu. Disaksikan oleh ayahku sendiri." Tangan kiriku meraih tangan Shelina. Sedangkan tangan kanan tetap menyodorkan cincin dihadapannya.


"Shelina, cintaku. Maukah kau hidup bersama denganku untuk selamanya, membangun keluarga kecil bersama anak-anak kita kelak? Would you marry me?"


Mata Shelina berkaca-kaca. Namun senyuman lebar terukir jelas di wajah cantiknya.


"Ya, aku mau."


Adakah pria lain yang mengalami kebahagian sebesar yang kualami saat ini. Ya Tuhan, aku sangat bahagia.


"Aku mencintaimu, Shelina. Aku mencintaimu. Aku berjanji tak akan menyakitimu lagi. Tak akan kubiarkan airmata kesedihan menetes di wajah cantikmu. Kau hanya boleh meneteskan airmata bahagia." Aku merengkuh Shelina ke dalam pelukanku. Berulang kali membisikkan kata cinta dan terima kasih padanya.


Aku melepaskan pelukan kami dengan cepat. Menatap tampilan Shelina dan menyeringai. Aku akan membuatnya menjadi milikku seutuhnya hari ini juga. Aku tak mau ada pria lain yang berusaha merebutnya dariku. Dan aku takut ayah berubah pikiran dan menginginkan Shelina kembali


"Selagi kau memakai gaun pengantin, bagaimana jika kita menikah saat ini juga?"


"Apa?!" Tak hanya Shelina yang berteriak, Andrew juga melakukan hal yang sama.


"Kau sudah menerima lamaranku. Dan aku tak ingin menunggu lebih lama lagi untuk bersama denganmu. Kita akan menikah saat ini juga."


"Tap—" dengan cepat aku meletakkan jari telunjukku di bibir Shelina untuk menghentikan ucapannya.


"Tak ada bantahan ataupun penolakan. Kita akan menikah sekarang juga."


"Astaga, khas Marcus Cho sekali, arogan dan pemaksa" Decak Andrew tak percaya. Aku tak perduli. Yang aku pikirkan bagaimana caranya aku dan Shelina menikah saat ini juga.


"Aku tak perduli. Bukankah lebih cepat lebih baik. Sebelum kandungan Shelina membesar."


"Ya, kau benar. Baiklah, aku akan menemui pendeta yang akan menikahkan kalian. Dan lebih baik kau mandi dan berganti pakaian. Kau sangat kacau Marcus." Ayah langsung pergi meninggalkan kami. Aku menatap Shelina lagi. Mengusap pipi halusnya dengan lembut.


"Aku mandi dan bersiap dulu." Shelina mengangguk. Aku mengecup keningnya lama sebelum berbalik dan meninggalkannya sendiri.


___________


Mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2