
Pesta ulang tahun perusahaan Smith Company di selenggarakan di ballroom hotel bintang lima. Ballroom hotel ini sangat indah dan berkelas. Pertama kalinya aku pergi ke pesta mewah seperti ini. Banyak pria dan wanita berkelas yang memakai jas dan gaun mahal.
Aku menyesali keputusanku yang tidak membeli gaun baru untuk pergi ke pesta ini. Karena semua wanita di ballroom ini mengunakan gaun mewah dan branded. Sedangkan aku hanya mengenakan gaun yang sudah ketinggalan jaman dan bukan hasil perancang terkenal. Apa karena itu juga semua orang terus memandang ke arahku sejak tadi? Karena gaunku yang jelek dan terlalu sederhana.
Aku menunduk untuk menghindari tatapan siapapun. Ini pertama kalinya aku merasa begitu rendah. Tempat indah ini sangat asing untukku. Seakan aku mahluk yang berada di tempat yang salah. Seperti ikan yang tengah berada di padang rumput. Sangat tak cocok dan bisa membunuhmu.
"Ada apa?" Andrew mengeratkan genggaman jemarinya di tanganku. Aku menggeleng pelan tak ingin membuat dia khawatir.
"Apa masih lama acaranya?"
"Ya, masih lama. Acara puncaknya saja belum di umumkan."
Aku menghela napas. Bisa mati kebosanan aku di sini. Andrew memang selalu di sampingku, tapi dia terus berbicara dengan rekan bisnisnya. Sesekali dia mengajakku untuk mengobrol dengan mereka tapi aku hanya bisa menanggapi singkat karena aku tak mengerti bisnis.
"Aku ambil makanan dulu, ya." Setelah Andrew mengangguk, aku langsung berjalan ke arah meja panjang yang menyajikan kue dan makanan manis lainnya. Aku mengambil piring kecil dan memilih kue yang ingin kumakan.
"Shelina." Suara panggilan seseorang membuatku menoleh ke belakang. Aiden berdiri di belakangku. Apa yang harus aku lakukan saat ini? Aku ingin kabur tapi pasti terlihat memalukan. Dengan canggung aku berbalik dan berdiri tegak di hadapannya. Aiden tersenyum ke arahku.
"Mengapa kemarin kau pergi begitu saja?" Dia pasti membicarakan pertemuan kami di mansion bersama Marcus.
"Eh.. itu... aku." Aku kebingungan menjawab pertannyaan Aiden. Tanganku bergerak menggaruk tengkuk yang tak gatal.
"Sudah adakah pria yang mengatakan kau sangat cantik dan sexy malam ini?" Perkataan Aiden itu membuat aku cepat berpikir.
Ternyata dia tidak memperpanjang pertemuan kami kemarin. Sepertinya Marcus sudah menjelaskan semuanya pada Aiden. Dan melihat sifat Aiden yang biasa saja, berarti dia bisa menerima status baruku. Walaupun hati kecilku masih berkata bahwa Aiden masih tak percaya. Tapi setidaknya saat ini aku memiliki teman mengobrol.
"Kau orang ketiga yang mengatakan itu padaku."
"Orang ketiga? Yah sayang sekali, kupikir aku orang pertama yang mengatakan itu. Apa orang pertama yang mengatakan hal itu Om Andrew?"
Entah mengapa ketika Aiden mengatakan Om Andrew, aku terpukul dengan jauhnya jarak umur diantara kami berdua. Dengan polosnya aku menggeleng pelan. Membuat dahi Aiden mengerut bingung.
"Lalu siapa orang pertama yang mengatakan kau sexy?"
"Ehm itu... orang itu..." Aku malu mengatakan kebenarannya.
"Marcus?" Aku mengangguk dengan pasrah. Seketika decakkan tak percaya Aiden keluar.
"Tidak dulu, tidak juga sekarang, Marcus selalu menjadi yang pertama untukmu."
Tubuhku langsung membeku. Aku baru sadar jika perkataan Aiden memang benar. Mengapa Marcus selalu menjadi yang pertama untukku? Di masa lalu juga di saat ini.
"Tapi sepertinya, dia tidak akan menjadi yang terakhir untukmu."
Aku mendongak dengan cepat menatap Aiden. Keseriusan dari matanya mengunciku. Aiden benar, bukan Marcus yang menjadi pria terakhir dalam hidupku untuk menghabiskan waktu bersama selamanya, tapi Andrew.
"Kau tidak kecewa aku bersama dengan Andrew. Apa kau tak memandangku rendahan? Jarak umur Andrew dan aku sangat jauh. Tidakkah kau membenciku?"
"Tidak Shelina. Aku sudah mengenal bagaimana sifatmu. Aku yakin kau pasti mempunyai alasan kuat untuk menikah dengan Andrew. Dan aku selalu mendukung kebahagiaan sahabatku."
"Tapi bukankah kau juga sahabat baik Marcus. Pria itu sangat membenciku saat ini."
"Sebenarnya pria itu...."
"Aiden." Suara pria lain menghentikan perkataan Aiden. Kami berbalik. Marcus tengah berdiri dengan tatapan kesal dan marah ke arah Aiden.
"Sejak tadi aku mencarimu, Aiden. Tapi kau malah berbicara dengan ******* ini."
"Tidak bisakah kau berhenti mengataiku ******* saat ini."
"Mengapa? Kau takut semua pria disini berlari menjauh atau senang mereka semakin dekat ke arahmu?"
__ADS_1
"Marcus!"
Itu bukan suara teriakkanku. Tapi suara gadis lain yang datang tiba-tiba memeluk tubuh Marcus dari belakang. Marcus menghela napas dan mencoba melepas pelukan itu. Gadis yang memeluknya memiringkan tubuh menghadap kami. Jantungku berdegup kencang. Dia?
Aku tak mungkin lupa siapa gadis itu. Walau kami tak bertemu selama lima tahun, aku masih mengenalinya dengan jelas. Gadis yang tak ingin aku lihat seumur hidupku. Wanita yang sangat aku benci. Dia adalah Siska Andini Smith.
Siska Andini Smith adalah salah satu wanita yang mencintai Marcus . Gadis itu satu fakultas dengan Marcus. Dulu gadis itu mengejar dan menyatakan cintanya kepada Marcus. Dia juga bersikap agresif. Tapi entah mengapa Marcus tak pernah sedikitpun membalas perasaannya.
Tak ada yang salah dengan gadis itu, dia cantik, populer, sexy dan juga kaya. Tapi sayang, sangat menyebalkan. Aku sangat membencinya. Dia selalu saja membuat masalah dan mencari ribut denganku. Mungkin karena Marcus menyukaiku dan aku bisa mengalahkannya dalam merebut perhatian pria itu. Aku ingat saat gadis itu menjambak rambutku ketika dia mendengar kabar Marcus menjadi kekasihku.
Dibalik kesempurnaan fisiknya, gadis itu memiliki hati yang busuk. Dia selalu saja mengerjaiku dan melakukan berbagai cara licik untuk memisahkanku dengan Marcus. Gadis itu bahkan pernah memfitnahku dengan mengatakan pada Marcus jika aku tidur dengan pria lain. Yang kenyataan sebenarnya, aku masih perawaan saat itu. Siska jelmaan rubah licik yang sangat ******. Bermulut manis penuh racun berbisa.
Siska berdiri tegak saat matanya menatapku. Dia mulai menatapku dengan serius. Lalu mengamati tubuhku secara keseluruhan. Setelah itu dengan berdiri tegak dan dagu mendongak dia menyeringai lalu berdecak penuh sindiran.
"Oh siapa ****** ini? Sepertinya tidak asing, apa aku mengenalmu?"
Cih! Dasar ular, kau ingin menjatuhkan dan mempermalukamku? Tak akan kubiarkan.
"Maaf, aku tidak mengenalmu." Aku mendengus di akhir ucapanku dan mendongakkan dagu menantang gadis sombong itu. Mata Siska membesar.
Kau pikir bisa menang melawanku. Terlalu cepat Siska, kau membutuhkan seribu tahun untuk mengalahkanku.
Aiden tertawa cukup keras. Dia selalu menjadi saksi panasnya permusuhan yang terjadi antara aku dan Siska.
"Lima tahun tidak bertemu kau berubah menjadi ****** yang angkuh. Benarkan kak?" Tangan Siska melingkar erat di lengan Marcus. Bibirnya tersenyum manis ke arahku. Aku tau di balik senyum itu dia mengatakan jika saat ini ia berhasil merebut Marcus dariku. Darahku seketika memanas. Aku tak suka melihat senyum kemenangannya. Aku ingin sekali menarik rambut dan menendangnya jauh dari Marcus.
"Dan kau tak pernah berubah Siska. Tetap ****** seperti dulu."
Tawa Aiden semakin kencang mendengar ucapanku. Pria itu selalu senang melihat balasan yang aku lakukan untuk Siska. Rahang Siska mengeras dan matanya menatapku tajam. Aku sukses membuatnya kesal dan marah.
"Kau...."
"Shelina!" Perkataan Siska terpotong oleh panggilan seseorang. Andrew berjalan ke arah kami. Dia berdiri di sisiku. Entah mengapa saat ini aku ingin Andrew menjauh dariku.
"Malam om."
Cih dasar rubah! Aku benci nada suaranya yang dibuat-buat halus dan lembut itu. Jelas-jelas dia memiliki suara yang keras dan cempreng. Dasar ******!
"Malam, kau cantik memakai gaun itu, Siska."
Mengapa Andrew memuji Siska? Lihat, gadis itu jadi besar kepala saat ini. Dia merasa sangat bangga karena dipuji di depan Marcus dan Aiden oleh Andrew. Tangan Andrew melingkari pinggangku, membuat aku merapat ke arahnya.
Shit! Aku benci tatapan mata Siska yang menatapku dan Andrew penuh selidik. Aku ingin sekali mencongkel mata itu dan mengeluarkannya. Jika saja hal itu tidak membuatku masuk penjara sudah sejak dulu aku melakukannya.
"Om, kau dan ...." Siska sengaja menghentikan ucapannya agar Andrew menjelaskan hubungan kami. Oh Tuhan, sekarang aku ingin sekali kabur dari tempat ini. Adakah tombol yang bisa membuka lantai ruangan dan menelanku hidup-hidup saat ini juga.
"Perkenalkan dia Shelina Aston, tunanganku."
"Tu—tunangan?" Mata Siska melotot besar. Dia sangat tertarik dengan ucapan Andrew hingga berdiri tepat di hadapanku.
"Ya, kami akan menikah sebulan lagi."
"Shelina, kenalkan dia Siska Andini Smith, putri temanku yang menyelenggarakan pesta ini."
Bagaimana aku bisa lupa? Andrew mengatakan perusahaan Smith Company yang menyelenggarakan pesta ini. Perusahaan milik ayah Siska. Oh Tuhan, malam ini aku benar-benar sial bisa bertemu si ular ******. Aku yakin dia pasti akan mengejekku.
"Woah, aku tak tahu kau mempunyai tunangan dan akan menikah sebentar lagi Om. Selamat Om dan Shelina." Senyuman lebar Siska membuat aku semakin kesal. Dia jelas-jelas tengah meremehkanku.
"Ah tidak, seharusnya mulai saat ini aku memanggilmu tante. Benarkan kak?"
Brengsek! Sialan! Jahanam! Rubah terkutuk! Ular berbisa! Gadis itu ingin kucincang rupanya. Rahangku mengeras hingga kaku. Aku ingin mengeluarkan semua amarahku. Kepalaku panas ketika senyum penuh sindiran, Siska tunjukkan untukku.
__ADS_1
"Kau tak perlu melakukan itu. Shelina masih muda untuk kau panggil tante."
"Dan kau pikir dia pantas untuk kupanggil ibu." Aku terkejut bukan main. Marcus yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. Tatapan matanya tajam dan penuh benci. Ucapannya benar-benar membuat Andrew bungkam.
Marcus mengkonfrontasi ayahnya di depan Aiden dan Siska. Bahkan suara kerasnya menyita perhatian tamu lain untuk menatap ke arah kami. Aku melirik Andrew. Rahangnya sudah mengeras, Marcus berhasil membuatnya marah. Dan aku tak mau ada keributan yang mencoreng nama baik keluarga Cho di pesta ini. Aku tak ingin ada headline di koran besok pagi yang berbunyi pertengkaran Andrew dan Marcus karena Tunangan muda Andrew yang yang bernama Shelina. Tidak! Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Andrew, bisakah kita pulang sekarang? Aku sangat letih."
Andrew menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia mengontrol emosi karena tahu aku tak menyukai pertengkarannya dengan Marcus apalagi di tempat umum seperti ini.
"Baiklah, kau pasti lelah seharian bekerja di Cafe. Siska, sepertinya kami akan pulang sekarang. Titip salamku untuk ayahmu ya." Setelah mengatakan itu Andrew menggiringku untuk berjalan pergi.
˙°♡♡♡°˙
Aku terbangun tengah malam karena mimpi buruk. Kejadian lima tahun yang lalu saat ibu meninggal muncul dalam mimpiku. Keringat dingin membanjiri tubuhku. Deru napas memburu. Tenggorokanku sangat kering. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Terus melakukan hal itu hingga jantungku berdetak normal.
Aku bangkit dan berjalan keluar kamar. Tenggorokkanku membutuhkan air dingin. Semua lampu sudah dimatikan hanya ada penerangan dari lampu tengah mansion. Aku terus berjalan menuju dapur. Kakiku terhenti saat cahaya dari dapur menyita perhatianku. Ada seseorang di sana? Saat tengah malam seperti ini?
Aku berjalan perlahan tanpa suara. Siapa yang terjaga di tengah malam begini? Kini aku sudah berdiri di depan pintu dapur. Punggung lebar dengan kemeja putih tengah duduk di meja makan. Pria itu Marcus.
Apa yang dia lakukan? Aku berjalan mendekat. Tiga botol bir kosong dengan satu gelas besar penuh bir ada di hadapannya. Dia minum minuman keras tengah malam, bahkan sudah menghabiskan tiga botol bir. Apa dia ingin bunuh diri dengan keracunan alkohol? Pria gila. Aku berjalan semakin dekat hingga berdiri di sisinya. Kepalanya men. Apa dia sudah tidur atau sedang pingsan? Tanganku menggoncang tubuhnya.
"Marcus. Hei, bangun!" Aku terus menguncang pundaknya hingga kepala Marcus mendongak. Mata sayunya menatapku lekat. Dia tersenyum ke arahku. Ini pertama kalinya dia tersenyum sejak aku menginjakkan kaki di mansion ini. Ada yang tak beres dengannya. Apa dia sudah mabuk?
"Kau mabuk?"
"Tidak, aku tidak mabuk Shelina. Kau yang mabuk. Bagaimana bisa kau bertunangan dan akan menikah dengan ayahku? Apa kau sudah gila? Dari semua pria di dunia ini kenapa kau memilih ayahku untuk menjadi suamimu? Apa kau sengaja melakukan itu untuk menyakitiku? Kau ingin melihatku semakin hancur karenamu."
"Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan. Menyakitimu? Apa maksudmu? Kau yang menyakitiku, kau yang...." suaraku terhenti ketika bibirku dibungkam oleh Marcus. Pria itu menciumku. Apa dia gila?!
Aku mendorong tubuh Marcus. Namun dia sangat keras seperti batu. Marcus malah berdiri dan menyudutkanku ke arah tembok. Aku terus memberontak hingga kedua tanganku dia genggam erat dan menguncinya di atas kepala. Aku sama sekali tak menikmati ciuman Marcus. Pria itu menciumku dengan brutal dan kasar. Aku membencinya. Dia sangat brengsek.
Aku terus melawan dan meronta. Air mataku sudah jatuh sejak tadi. Mengalir begitu deras di pipi. Aku memekik saat Marcus mengigit bibirku hingga berdarah dan tanpa menghiraukanku Oh Tuhan, mengapa aku harus mengalami ini? Aku ingin memberontak lagi namun kekuatanku sudah habis. Aku hanya berdiri dengan lemas dan menangis. Menanti Marcus menyudahi ciuman brutalnya.
Setelah beberapa menit yang begitu lama, dia berhenti dan melepaskanku. Aku langsung luruh dan terduduk di lantai. Marcus berdiri tegak di hadapanku. Aku menatapnya marah. Mataku memanas karena amarah dan airmata.
"Mengapa kau melakukan ini padaku?!" Suaraku serak disela isak tangis. Aku tak ingin menangis dihadapan Marcus. Tapi dia sudah keterlaluan.
"Aku akan melakukan yang lebih dari ini, jika kau terus bersikeras menikah dengan Andrew."
Bukannya bersalah sudah menyakitiku, Marcus malah semakin menatap tajam dan mengancamku.
"Brengsek! Jahanam! Sialan! Aku sudah gila karena pernah mencintaimu di masa lalu." Aku mengeluarkan semua umpatanku dan berteriak marah. Aku tak perduli jika suaraku dapat membangunkan orang lain.
"Kau!" Rahang Marcus mengeras, matanya menatapku lebih tajam. Namun aku tak gentar, sudah cukup dia memperlakukanku seperti ini. Apa salahku padanya?
"Apa? Kau ingin menciumku dengan brutal lagi? Kau ingin memukuli dan mengancamku lagi? Mengapa kau melakukan ini kepadaku Marcus? Apa salahku? Mengapa kau menentang keras pernikahan kami? Aku tau aku hanyalah seorang ******* rendahan yang sangat kotor dan tak berharga tapi, apakah aku tak pantas untuk meraih kebahagiaanku?"
"Aku hanya ingin bahagia, Marcus!" Teriakku keras. Deru napas terputus-putus, isak tangis tak berhenti, air mataku mengalir dengan deras.
"Hanya ingin bahagia. Dan aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Bahkan jika aku harus menjual jiwaku kepada malaikat maut sepertimu, maka akan kulakukan." Marcus tersentak mundur. Matanya bergerak gelisah tak ingin menatap mataku.
"Kenapa? Kau pikir aku tak pantas bahagia?"
Marcus hanya diam tak bersuara.
"Lalu mengapa dari jutaan pria kau memilih ayahku?"
"Karena hanya Andrew yang mau menerima ****** rendah sepertiku untuk menjadi istrinya."
Marcus terdiam cukup lama. Aku menatap mata hitamnya, mencoba tenggelam kedalam hati Marcus, agar aku tau apa yang dia pikirkan saat ini.
__ADS_1
"Sampai kapanpun aku tak akan merestui hubungan kalian, Shelina."
Aku tersentak ketika mata itu memancarkan kesedihan. Apa aku tidak salah lihat? Atau aku masih bermimpi sesaat yang lalu. Tidak mungkin aku melihat kesedihan di mata hitam Marcus. Tidak. Setelah mengatakan itu Marcus pergi meninggalkanku sendiri di dapur.