
Kini aku sedang makan di meja makan bersama dengan Marcus. Aku gelisah dan tak nyaman berada di sini. Marcus bersikap aneh sepanjang hari ini. Tadi dia menunggu dan duduk di dalam Cafe hingga aku pulang. Dan tanpa bisa mengelak atau menolak, aku terpaksa pulang bersama Marcus. Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam. Suasananya begitu asing dan tak nyaman sama seperti saat ini. Hanya ada dentingan sendok dan garpu yang membentur piring.
Kami bagaikan dua orang asing yang di letakkan di tempat yang sama. Sangat canggung dan tak tau harus berkata apa. Aku berulang kali menelan kata-kata yang hampir keluar dari mulutku. Aku takut jika ucapanku menyulut emosi Marcus dan menghancurkan ketenangannya. Tapi aku tak nyaman dengan keheningan ini. Aku buru-buru menyelesaikan makan malamku agar segera pergi dari tempat ini. Udara di ruang makan ini sungguh mencekik leherku.
Aku telah selesai dan bangkit membawa piring kotor ke tempat cuci piring dan segera mencucinya. Lalu berjalan pergi tanpa kata. Ketika berada di depan pintu, Marcus menghentikanku dengan suaranya.
"Terima kasih."
Tubuhku kaku seketika. Seakan aliran darahku berhenti begitu cepat dan seluruh tubuh tak bisa bergerak. Apa pendengaranku tak salah? Aku mendengar Marcus mengatakan terima kasih. TERIMA KASIH?
Mataku sontak membesar lebar dan menoleh cepat ke arah punggung Marcus. Pria itu tak bergeming dan tetap santai memakan makanannya. Keningku mengerut hingga alis hampir menyatu. Sepertinya aku salah dengar. Aku harus memeriksa pendengaranku besok. Lalu berbalik dan hendak berjalan lagi.
"Terima kasih sudah merawatku." Dengan cepat leherku berputar dan menatap Marcus yang kini tengah mengamatiku. Mataku mengerjap. Aku masih tak percaya dengan pendengaranku. Aku mengamati wajah tampannya. Menelisik mata hitam pria itu untuk mencari kebenaran di sana.
"Terima kasih, Shelina." Marcus mengatakannya lagi dan sebuah senyuman kecil muncul di wajahnya. Lalu pria itu berbalik dan melanjutkan makannya. Seolah dia tak mengatakan hal apapun. Seakan dia tak menyadari dampak apa yang telah ia timbulkan dalam diriku.
Kalimat itu, bahkan senyuman kecilnya, semua aneh dan asing bagiku. Aku mendapatkan perlakuan buruk dari Marcus selama seminggu lebih jadi tak mungkin berubah hanya dalam semalam Aku yakin dia bukan Marcus. Apa mungkin dia kemasukan roh halus ketika sakit kemarin? Aku menatap Marcus horor dan takut. Berjalan mundur sambil terus mengawasinya. Dan seketika berlari kencang ke arah kamarku. Oh Tuhan, Marcus lebih mengerikan dibandingan seminggu kemarin.
***
Aku tak bisa tidur malam ini. Sikap baik Marcus sukses menganggu pikiranku. Jadi, aku pergi ke ruang keluarga untuk menonton film. Mencari kaset film di lemari samping tv. Ada banyak film di sana.
Ah inikan movie Naruto yang ke enam. Aku belum menonton film naruto yang ini. Mungkin terdengar aneh, seorang gadis sepertiku menyukai naruto. Aku awalnya tak menyukai naruto tapi karena Marcus sering mengajakku menonton anime itu, perlahan aku menyukai tokoh dingin dan tampan bernama sasuke dalam anime itu. Ah lupakan tentang pria sakit jiwa itu dan segera menonton film naruto saja.
"Kau masih menyukai anime naruto?" Aku menoleh ke samping dan langsung terlonjak.
Aku menjerit kaget mendapati Marcus sudah duduk di sampingku. Astaga, jantungku hampir saja copot. Aku mengatur napas yang memburu dan menormalkan detak jantungku.
"Mengapa kau belum tidur dan menonton film naruto di sini?" Marcus seakan tak acuh dengan kekagetanku akan kehadirannya. Dia menatap layar tv dan membuka toples cemilan di atas meja. Aku mengerutkan bibirku dan menyumpah serapah tanpa suara. Benar-benar sialan.
__ADS_1
Aku dan Marcus duduk di sofa panjang yang sama. Dengan jarak yang cukup jauh. Namun aku masih saja menggeser pantatku untuk duduk di dekat sandaran tangan sofa panjang itu. Menjauhi Marcus semampuku.
Sudah kukatakan, aku ini hanya gadis biasa yang tak akan kebal dengan pesona apalagi sentuhannya. Jadi untuk menghindari hal seperti malam itu, lebih baik aku menjauh.
"Kau belum menjawab pertanyaanku?" Nada suaranya tenang dengan mata yang terfokus ke layar tv. Aku menghembus napas panjang dan mengontrol emosiku. Tenang, aku harus tenang.
"Aku tak bisa tidur, jadi aku menonton film." Aku bersikap tak perduli dan ikut menatap layar tv. Namun aku selalu awas dengan setiap gerak gerik Marcus di sampingku. Sungguh mataku bisa juling karena aku selalu terfokus dengan sudut mata kiriku dan berpura-pura menatap ke depan.
"Lalu mengapa menonton di sini? Bukankah ada tv di kamarmu?" Aku kembali mendengus. Jika saja bisa menonton tv di kamar, aku tak perlu repot-repot turun ke sini.
"Tv di kamar rusak."
"Kau merusaknya?" Tanya Marcus cepat dengan menoleh ke arahku.
"Enak saja! Tv itu sudah rusak sebelum aku datang ke sini," jawabku cepat dengan nada sedikit tinggi. Enak saja dia menuduhku seperti itu.
Aku menatap mata Marcus yang kini terpaku ke arahku. Dia memperhatikanku dengan seksama, seakan mencari kebenaran dari sorot mataku. Dan aku juga membalas tatapan itu. Agar dia tau, aku sama sekali tidak merusak tv di kamarku.
Degup jantungku berpacu dengan cepat. Hatiku di todong pertanyaan yang tak terduga. Ini terlalu mengejutkan. Marcus menanyakan hal yang tak pernah aku bayangkan. Apa dia sungguh-sungguh mengatakannya? Dia ingin tahu mengapa aku tak bisa tidur. Mengapa aku merasakan perasaan berdebar seperti ini, hanya karena dia menunjukkan sedikit perhatiannya?
"Shelina." Suara lembut Marcus menggetarkan hatiku. Suara yang selalu hadir dalam mimpi indahku. Mata Marcus masih terpaku kepadaku. Seakan aku seluruh pusat hidupnya dan tak pernah ingin sedetikpun berpaling dari wajahku.
Aku kesulitan meneguk saliva. Aku sudah katakan hatiku bukan terbuat dari baja. Aku bisa luluh jika dia bersikap seperti ini padaku. Aku mengalihkan wajahku ke arah depan. Dan berpura-pura kembali fokus menonton film naruto.
"Aku hanya tak bisa tidur saja." Aku tak mungkin mengatakan aku tak bisa tidur karena dirinya. Karena sikap anehnya seharian ini.
Dari sudut mata, aku menangkap Marcus yang tak bergeming. Dia terus menatap ke arahku. Ditatap begitu lama membuat wajahku memanas. Aku bingung harus berbuat apa, agar dia menghentikan aksi anehnya itu. Aku sudah tak memperdulikannya tapi mengapa dia tak berhenti menatapku.
"Bisakah kau berhenti menatapku!" ketusku dengan wajah jengkel ke arah Marcus.
__ADS_1
"Kenapa?"
Kenapa dia bilang? Argh, aku ingin sekali mencongkel matanya itu dan mencekik Marcus hingga mati. Bagaimana bisa dia mengatakan 'kenapa' begitu tenangnya?
"Aku tak suka!" Teriakku kencang dan berbalik kembali menonton tv. Pria di sampingku malah terkekeh kecil yang membuatku semakin meradang kesal. Aku mendekap kedua tangan di depan dada dan menatap Marcus tajam.
"Tak ada yang lucu Marcus." Bukannya berhenti, pria itu malah semakin tertawa keras. Harus aku akui tawa renyahnya begitu merdu di telingaku.
"Ternyata kau masih sama seperti lima tahun yang lalu."
"Apa maksudmu?" Alisku terangkat sebelah menuntut penjelasan Marcus.
"Kau masih saja kekanak-kanakkan dan menggemaskan."
"Aa—apa?!"
"Kau yakin ingin menjadi ibu tiriku? Kau lebih cocok menjadi adikku Shelina." Dan Marcus kembali tertawa keras. Aku tak bisa membantahnya dan membuang wajahku jauh. Karena aku baru menyadari sikap memalukan yang baru saja aku tunjukkan padanya. Ah memalukan. Wajahku sangat panas dan aku tak mau menatap ke arah Marcus sedikitpun. Aku beranjak bangkit. Lebih baik aku kembali ke kamarku. Aku bisa menonton film naruto di lain waktu.
"Mau kemana?"
"Kembali ke kamarku dan tidur." Aku tak bisa mengontrol suaraku agar tak ketus. Aku benar-benar kesal dan malu.
"Jangan marah, aku hanya bercanda. Duduklah lagi, aku akan menemanimu menonton." Aku menoleh ke arah Marcus dan megamati wajah pria itu. Dia tidak menatapku, hanya berfokus pada layar tv dan sesekali memakan cemilan.
Aku menghembus napas panjang. Jika aku kembali ke kamar pasti terlihat kekanak-kanakan sekali. Lagupula sepertinya Marcus tak berniat mencari masalah denganku. Aku kembali duduk dan menonton film.
Film naruto yang ke enam ini sungguh seru namun mataku perlahan memberat. Rasa kantuk menghampiriku. Mataku mengerjap agar aku kembali tersadar dan menonton. Tapi ternyata rasa kantukku begitu besar. Hingga mataku akhirnya terpejam rapat. Di batas kesadaranku, ada sebuah tangan yang menarik kepalaku dan menyandarkannya pada sesuatu. Aku tak tau apa itu, karena kegelapan akhirnya menenggelamkanku.
________
__ADS_1
Hai, aku masih baru di Novel toon, jadi mohon dukungannya ya. Tolong like, Comment dan Vote cerita ini ya. klo mau di share ke teman-teman juga boleh. Terima kasih.