Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 20. Jonathan


__ADS_3

Aku tengah menghias kue saat Evelyn menyenggol lenganku. Aku mengerutkan kening lalu dia menunjuk ke arah seorang pria yang baru saja masuk ke dalam cafe dan tengah mengamati suasana juga pengunjung lainnya.


Pria paruh baya yang bertubuh tinggi berisi dengan perut yang membuncit. Wajahnya dipenuhi jambang dan kumis. Rambutnya juga berantakan. Pria yang terlihat seperti preman dengan celana jeans bolong-bolong dan tatapan mata yang tajam. Pria yang tak sudi lagi kupanggil ayah mengingat perlakuan bejatnya. Aku bahkan meragukan dia adalah ayah kandungku.


Pria itu berjalan masuk lebih dalam dan hal itu membuat aku panik lalu segera menghampirinya.


"Mengapa kau ada di sini? Bagaimana kau tahu tempat ini?" tanyaku langsung tanpa berniat menyapa atau melakukan basa basi dan menunjukkan dengan jelas ketidaksukaanku akan kehadirannya di sini.


"Tentu saja aku ada di sini untuk memberikanmu selamat untuk pembukaan cafe barumu ini," ucap Jonathan yang menatapku tajam. Dari napasnya aku tahu jika dia semalam mabuk. Pria itu tak pernah seharipun tanpa mabuk-mabukkan.


Bullshit! Aku mendengus keras menanggapi ucapannya. Jelas dia bukan seseorang yang perduli akan hal seperti itu. Mengucapkan selamat untukku? Hah! Dalam mimpi pun dia tak akan pernah melakukannya.


Aku yakin dia memiliki maksud lain untuk datang kemari. Dan aku tak ingin dia mengacau di sini. Aku mengamati sekeliling dan menyadari beberapa pengunjung menatap kami yang berdiri di tengah-tengah cafe.


"Ayo bicara di luar," ucapku dingin dan melawatinya begitu saja. Aku tak mau mengajaknya duduk di dalam cafe ataupun mengajaknya berbicara di ruangan kerjaku. Bisa gawat jika dia tiba-tiba mengamuk di dalam Cafe.


Aku duduk di kursi yang sengaja diletakkan di depan cafe untuk para pengunjung yang ingin makan dan nongkrong di luar. Jonathan ikut duduk di kursi yang ada di hadapanku. Aku melipat tangan di atas meja dan mulai berbicara serius dengannya.


"Apa yang kau ingin bicarakan?" Jonathan tertawa sinis dan menyandarkan pungungnya disandaran kursi.


"Tak bisakah kau berbasa basi untuk menawariku menu dari cafe-mu."


"Aku benci melakukan hal tak berguna dan yakin kau pasti punya sesuatu yang lebih penting untuk dibicarakan." Jonathan semakin tertawa kencang. Tawa yang terdengar memuakkan.


"Kau semakin pintar dan mengerti diriku."

__ADS_1


Aku mendengus kesal. Ya, jelas aku tau bagaimana dirinya. Pria yang sudah membunuh ibu dan juga menjadikanku pelacur peliharaannya.


"Uangku habis dan aku butuh uang seratus juta."


Sontak amarahku melesak dengan cepat dan ingin meledak saat itu juga. Aku sudah menduga hal ini terjadi tapi apa dia sudah gila?


"Bagaimana mungkin kau bisa meminta uang sebanyak itu? Belum genap satu bulan, Andrew memberikan uang lima milyar padamu, agar kau mau menikahkan dan melepaskanku darimu. Lalu sekarang kau meminta uang seratus juta. Apa kau sudah gila? Kau pikir aku memiliki mesin pencetak uang hingga kau bisa meminta uang sesuka hatimu dengan nominal yang besar."


Aku menaikan nada bicaraku dan tak bisa duduk dengan tenang. Sekitar tiga minggu yang lalu Andrew memberikan uang lima milyar kepada Jonathan untuk menikah denganku dan meminta pria itu tak menemuiku. Tapi apa? Dia masih saja menemuiku dan kembali meminta uang.


"Kau tak perlu berteriak. Lagipula uang seratus juta bukan uang yang banyak. Andrew itu sangat kaya raya, dia bahkan membelikanmu cafe ini. Aku yakin kau mendapatkan banyak uang darinya." Jonathan berbicara acuh tak acuh sambil mengamati kembali suasana cafe.


Dia berbicara seakan seratus juta hanyalah uang yang bisa didapatkan begitu mudahnya. Dia pikir uang itu jatuh dari langit. Aku sangat membencinya, bagaimana mungkin dia menjadi ayahku?


"Aku tak pernah mengatakan hal itu. Uang lima milyar itu hanya sebagai uang untuk mendapat persetujuanku agar dia bisa menikah denganmu. Aku tak pernah mengatakan akan melepaskanmu begitu saja dan tetap akan meminta uang padamu." Amarahku semakin meningkat hingga ke titik didih.


"Damn you! Kau benar-benar licik dan brengsek," ucapku dengan suara keras di depan Jonathan. Aku tak perduli dengan orang lain yang menatap ke arah kami karena teriakanku. Jonathan hanya menggaruk telinganya dan menangapi ucapanku sebagai angin lalu.


"Sudahlah, kau hanya perlu meminta uang pada calon suamimu itu. Dia tidak akan bangkrut jika kau meminta uang seratus juta. Tadinya aku bahkan ingin meminta satu milyar."


Aku membulatkan mataku tak percaya, pria di depanku ini benar-benar. Dia pasti menggunakan semua uang itu untuk berjudi dan mabuk-mabukkan saja. Seakan uang itu mudah kudapatkan dan bisa kucetak sesuka hatiku.


"Aku tak akan memberikannya," ucapku pada akhirnya dan hal itu menyulut kemarahan Jonathan.


"Aku hanya meminta uang seratus juta Shelina, bukan satu milyar. Jadi berhenti bersikap keras kepala dan berikan uang itu padaku."

__ADS_1


"Tidak akan pernah. Bahkan jika kau meminta sepuluh ribu padaku pun, aku tak akan memberikannya padamu." Pria itu menggebrak meja dan berdiri di hadapanku.


"Kau sangat sombong karena pria kaya itu." Tangannya terulur dengan cepat mencengram rahangku begitu kuat.


"Kau lupa siapa yang sudah membesarkanmu hingga sekarang. Apa kau lupa, jika bukan karena aku maka kau tak akan bertemu dengan Andrew. Dasar bicth sialan. Kau kini berani menentangku!"


Aku menghiraukan sakit di rahangku dan semakin marah dengan ucapan Jonathan. Membesarkanku? Aku ingin tertawa kencang, karena pria itu tak pernah memberikanku uang sedikitpun. Dia yang menjual juga menjadikan aku pelacur dan mendapatkan uang dariku untuk makan.


Mataku menyorot tajam ke arah Jonathan.


"Dengar bicth, aku akan kembali seminggu lagi dan meminta uangku. Jika kau tak memberikannya, aku akan menghancurkan cafemu ini." Setelah mengucapkan itu Jonathan melepaskan tangannya kasar dan pergi begitu saja. Aku menatap nyalang punggung pria itu yang menjauh. Saat Jonathan menghilang dan tak terlihat lagi, barulah aku merasakan sakit pada rahangku. Evelyn sudah berdiri di sampingku dan mengumpat serapah. Dia menatapku.


"Kau baik-baik saja Shelina?" Evelyn memang tau segalanya. Semuanya, dia tau betapa brengseknya ayahku itu.


"Ya tuhan, rahangmu memerah," ucap Evelyn setelah mengamati wajahku.


"Ayo, kompres wajahmu dengan es." Evelyn menarikku untuk bangkit dan membimbing masuk ke dalam cafe.


Sudut mataku melihat seorang wanita yang duduk tak jauh dari mejaku tadi. Aku menoleh ke arah wanita itu. Sepertinya aku mengenalinya. Keningku mengerut. Tapi aku tak bisa melihat seluruh wajahnya karena wanita itu menunduk dalam sambil mengutak-atik ponselnya. Senyuman yang tersungging di bibirnya sedikit aneh.


Tidak, itu bukan senyuman tapi seringai-an miring. Belum sempat aku mengenali sosok itu, Evelyn sudah mendorongku masuk ke dalam Cafe.


_________


Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2