
Dengan cepat aku memasang flashdisk itu di laptop. Ada dua folder disana. Aku membuka salah satunya, ada beberapa video di dalam folder yang kubuka.
Tubuh membeku, mata membesar dan mulutku menganga. Ini? Ini kumpulan videoku bersama Marcus. Ada beberapa video kami saat masih menjadi kekasih lima tahun yang lalu, video saat kami di pinggir danau beberapa hari yang lalu, saat kami berciuman di ruang keluarga Mansion Cho dan beberapa video kedekatan kami lainnya.
Tanganku bergetar, aku tak perlu menonton seluruh video itu jadi aku membuka folder lain. Hanya ada satu video di sana dan langsung kuputar.
Seorang pria berbaju hitam dan memakai masker yang menutupi seluruh wajahnya tengah duduk di sofa dan menghadap ke camera.
"Apa kau sudah melihat semua videonya? Kau suka dengan hadiahku ini?" Suara yang mendengung aneh menjelaskan jika suara itu sudah di sabotase agar aku tak mengenali pemilik suara.
"Bagaimana jika hadiah ini aku kirimkan ke Andrew juga?" Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Mataku menatap tajam sosok yang ada di dalam video.
"Atau haruskah aku mengirimkannya ke media massa? Kau pasti tau apa yang akan terjadi. Tak hanya meninggalkan dan membuangmu seperti sampah, kau juga menghancurkan reputasi keluarga Cho dan perselingkuhanmu dengan Marcus Cho, putra Andrew akan diketahui semua orang."
Tubuhku bergetar aku tak sanggup membayangkan apa yang baru saja dia ucapkan.
"Jika kau tak ingin aku mengirim ini kepada Andrew ataupun media massa, maka kau harus menjauh dan menghilang dari keluarga Cho untuk selamanya!" Pria itu menunduk dan menyatukan tangannya dengan siku berada di atas dengkul.
"Jangan menganggap remeh ancamanku ini, jalang. Sebelum hari pernikahanmu dengan Andrew, aku ingin kau menghilang."
"Ingat itu baik-baik, *****!" Lalu layar menjadi hitam. Aku masih termenung menatap layar, seakan video itu kembali diputar di hadapanku. Setiap kata terdengar kembali.
Hatiku resah dan tak nyaman. Ada ketakutan yang muncul dalam diriku. Seharusnya sejak awal aku mengatakan pada Andrew saat menyadari fakta bahwa Marcus putranya. Seharusnya aku menjauhi Marcus dan tak mencoba untuk mendekati pria itu.
__ADS_1
Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku takut Andrew mengetahui hubunganku dengan Marcus, namun aku lebih takut lagi jika orang ini menyebarkan video dan perselingkuhanku ke media massa. Aku takut hal ini menghancurkan nama baik juga membuat ayah dan anak itu bermusuhan. Aku tak ingin membuat mereka berdua hancur.
Tapi, siapa orang ini? Siapa pria yang mengirim flashdisk ini padaku? Aku tak pernah memiliki masalah dengan seorang pria? Aku tak pernah memiliki musuh atau seseorang yang akan mengancamku seperti ini.
Aku berpikir keras. Mungkinkah itu Marcus? Marcus memang tak suka hubunganku dengan Andrew tapi apa dia akan mengancamku seperti ini? Atau pria itu Jonathan? Tapi pria pemabuk itu tak mungkin melakukan ini karena bagi dia keluarga Cho adalah tambang emasnya. Lalu siapa?
Aku kembali berpikir. Dalam flashdisk ini sangat banyak video-ku bersama Marcus bahkan video masa lalu kami. Tak ada pria yang memiliki video kami di masa lalu selain Marcus. Jadi, ini semua perbuatan Marcus. Pria itu yang melakukan semua ini. Mataku membara penuh kebencian.
Dasar brengsek! Setelah dia bersikap baik dan perhatian bahkan bercinta denganku, Marcus menusukku dari belakang. Ini semua pasti sudah dia rencanakan sejak awal. Pria brengsek itu! Aku sungguh tak akan memaafkannya.
˙°♡♡♡°˙
Aku berjalan menaiki tangga menuju lantai dua mansion Cho. Pikiranku melayang dan kembali memikirkan pria yang mengirim kado 'spesial' tadi padaku. Aku yakin pria itu pasti Marcus. Hanya dia orang yang menentang hubunganku dengan Andrew. Dan dia ingin membatalkan pernikahan kami. Brengsek, dia benar-benar licik. Memperlakukanku dengan baik dan lembut juga memberikan perhatian. Dan setelah mendapatkan apa yang dia inginkan pria itu kembali menunjukkan taringnya.
Benar-benar brengsek!
"Akhirnya kau menunjukkan wajah aslimu *****!" Tanganku mengepal erat.
"Kau baru pulang dari club malam?" Marcus bersandar di tembok sambil mengamati tubuhku. Akibat kado spesial siang tadi, malam ini aku pergi ke club malam untuk minum beberapa gelas bir untuk menenangkan pikiranku.
"Apa kau selalu seperti ini? Membuka lebar kakimu kepada pria manapun? Wanita rendahan!" Tanganku mengepal semakin erat. Aku tak bisa menahan emosiku lagi. Mendengar ucapannya kali ini aku yakin seratus persen jika perlakuannya kemarin hanyalah tipu daya muslihat. Dasar pria brengsek!
"Dan kau pria paling brengsek di dunia ini. Memperlakukan aku bagaikan putri dan memberikan perhatian dengan tipu dayamu. Hanya untuk mencicipi tubuhku. Benar-benar brengsek. Dan aku merasa sangat kotor karena sudah kau sentuh. Aku harus mandi bunga tujuh rupa untuk menghilangkan semua sentuhanmu. MENJIJIKAN!" Matanya menajam dan mengobarkan kebencian dan kemarahan padaku. Siapa yang peduli? Dia pikir hanya dia yang bisa membuat orang lain marah.
__ADS_1
Aku kembali berjalan dan membuka pintu kamarku. Namun pergelangan tangan kiriku di cengkram oleh Marcus.
"Lepaskan." Aku mengayunkan tanganku hingga terlepas.
"Jangan pernah menyentuhku, Bastard!"
"Kau pikir aku sudi menyentuhmu, *****!" Jika tatapan bisa mengeluarkan sebuah kilat dan leser maka saat ini sudah pasti akan terlihat gesekan leser yang saling berbenturan dengan sangat kuat. Tak ada yang mau mengalah dan saling menatap tajam. Hingga akhirnya kami sama-sama membuang muka dan aku masuk ke dalam kamarku.
˙°♡♡♡°˙
Pagi hari aku terbangun dengan rasa pusing yang berat. Seakan ada palu besar yang berulang kali menghantam kepala. Setelah mandi, tubuhku jauh lebih segar. Aku berjalan ke ruang makan. Sudah ada Marcus dan Andrew di sana. Aku berjalan mendekat dan duduk di samping Andrew. Tanganku terulur mengambil roti tawar saat suara decakan Marcus terdengar.
"Menakjubkan. Kau sungguh tidak tahu malu. Ayahku sudah sarapan dan kau baru bangun tidur. Bukankah seharusnya kau membuatkan sarapan untuk kami." Tanganku berhenti dan menggantung di udara. Sudut mataku melirik Andrew yang sudah duduk dengan koran dan sandwhich juga kopi di hadapannya.
"Ah~ aku lupa kau hanya bisa memuaskan napsu pria di atas ranjang. Hanya itu keahlianmu." Mataku langsung menatap Marcus tajam. Mulut berbisa dan wajah mengejeknya ingin sekali aku hancurkan.
"Marcus." Panggil Andrew dengan nada rendah untuk memperingatkan pria itu.
"Kenapa? Bukankah aku benar? Istri yang baik harus melayani suaminya. Bangun pagi hari dan menyiapkan sarapan. Bahkan kau belum menjadi istrinya saja sudah bertingkah semaumu seperti ini." Tanganku mengepal erat. Beberapa urat tanganku menegang.
"Kau tak perlu marah, memang itu kenyataannya. Atau harus kuperjelas niat licikmu. Kau ingin menguras seluruh harta keluargaku, kau menggoda ayahku dan perlahan-lahan mengeruk uang kami. Betapa rendahnya dirimu, *****!" Aku tak tahan lagi, tak perduli dengan Andrew yang duduk di sampingku. Aku langsung menggebrak meja.
"JAGA UCAPANMU, Marcus Cho!" Aku berteriak keras sambil berdiri.
__ADS_1
_____________
Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih