Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 18. Tolong Aku


__ADS_3

Punggung lebar Marcus semakin menjauh. Mengapa pria itu menjadi begitu rumit seperti ini? Aku benar-benar tak tau apa yang dia pikirkan. Aku menghela napas panjang dan mulai berjalan ke bangku kosong lalu duduk di sana.


Beberapa menit kemudian Marcus sudah duduk dan memberikan satu cup besar es cream coklat padaku.


"Terima kasih." Aku tersenyum lebar. Sudah lama aku tidak makan es cream coklat. Dan aku masih tak percaya Marcus mengingat rasa es cream kesukaanku ini.


Kami berdua terdiam sambil menikmati es cream masing-masing. Langit sore sudah berubah dan menambah keindahan Danau.


Saat es creamku habis, tiba-tiba pertanyaan itu kembali muncul dalam benakku. Mengapa Marcus meninggalkanku begitu saja tanpa penjelasan lima tahun yang lalu? Aku harus menanyakannya. Tak perduli apapun jawaban Marcus, aku akan menerima dan mendengarnya.


Sungguh aku bisa mati penasaran jika tak mendengar penjelasan langsung darinya. Selama ini aku tak bertanya karena aku takut akan jawabannya. Aku takut jika pemikiranku tentang Marcus selama ini benar, bahwa dia hanyalah pria brengsek yang menginginkan keperawananku saja. Ditambah dengan sikap dingin, arogan dan judesnya membuat aku tak memiliki kesempatan untuk bertanya. Dan kini dengan situasi kami saat ini, kurasa ini waktu yang tepat untuk mendengarkan penjelasannya.


"Marcus." Aku menoleh ke arah Marcus. Pria itu hanya bergumam untuk menjawab panggilanku. Matanya menatap lurus ke depan dan sesekali memakan es creamnya.


"Lima tahun yang lalu ...." aku terdiam dan menelan saliva. Ini sangat sulit untuk dikatakan dengan sekali tarikan napas. Keringat dingin bahkan sudah keluar di pelipis. Ditambah lagi kini perhatian Marcus teralihkan kepadaku. Dia sudah membuang sisa es creamnya dan menatapku begitu lekat. Aku kembali menelan saliva sebelum melanjutkan kalimatku.


"Mengapa kau meninggalkanku?" Setelah mengucapkan kalimat itu, hatiku terasa lega. Seakan semua beban berat yang menimpa pundakku jatuh dan menghilang.


Marcus hanya terdiam. Mata hitamnya masih terfokus ke arahku. Desiran angin berhembus dalam kesunyian yang tercipta diantara kami. Tapi tetap saja Marcus tak mengatakan satu katapun. Dia seakan terpaku dengan kata-kataku. Kenapa?


"Marcus." Panggilku mencoba mendapatkan reaksi apapun darinya.


Keningnya mengerut dalam dan matanya mulai menatapku tajam juga penuh selidik. Apa yang salah dengan ucapanku? Mengapa dia bertingkah seakan baru saja mendengarkan hal yang tak masuk akal?


"Meninggalkanmu?"


Aku mengangguk pelan. Mengapa dia bertanya seperti itu? Seperti tak percaya dengan apa yang aku ucapkan. Keningku mengerut, mengamati raut wajah Marcus juga mata hitamnya.

__ADS_1


"Kau bilang aku meninggalkanmu lima tahun yang lalu."


Nada suara Marcus seperti hendak memastikan hal itu. Seakan dia benar-benar tak percaya hal itu terjadi. Aku kembali mengangguk dengan pasti. Lalu Marcus tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya. Keningku mengernyit semakin dalam dan ketika kesimpulan itu melintas dalam pemikiranku. Aku seketika bangkit berdiri. Marcus mempermainkanku! Shit! Bastard! Dasar pria brengsek yang sangat menyebalkan.


Aku menghentakkan kaki keras. Amarahku mengumpul dan sulit unruk kutahan.


"KAU PIKIR ITU LUCU, Marcus Cho!" teriakku keras di hadapannya. Beruntung dia berhenti tertawa saat itu juga karena aku pasti akan menerjang dan mencekiknya jika ia tidak diam. Deru napasku memburu. Rahangku kaku dan mata hanya terfokus pada Marcus. Jika tatapan bisa mengeluarkan laser, sudah kupastikan Marcus hanya tinggal nama saat ini.


Pria itu bangkit berdiri. Lalu kedua tangannya menangkup pipiku. Jari jempolnya menggusap pelan, memberikan sentuhan yang perlahan meredakan amarahku.


"Pernahkah aku mengatakan bahwa kau terlihat sangat cantik ketika sedang marah."


Bagaikan api yang disiram dengan air es. Seketika amarahku menguap begitu saja, tergantikan oleh getaran yang membuat wajahku memanas. Aku mengerjap.


Posisi Marcus yang sangat dekat denganku. Dia tersenyum begitu lebar. Menyilaukan mataku. Senyum selalu yang dia tampilkan untuk mempesona dan menjeratku dulu.


Seketika tubuhku panas tak hanya wajah tapi sampai ke kupingku juga. Aku mengerti maksud ucapannya. Dengan cepat aku mendorong tubuh Marcus dan segera berbalik.


"Ayo pulang." Aku berjalan cepat ke arah mobil Marcus. Marcus tertawa di belakangku.


"Seharusnya aku membawa kaca saat ini. Agar bisa menunjukkan betapa merahnya wajahmu, Shelina."


Sial, mengapa wajahku bisa memalukan seperti ini? Aku berjalan semakin cepat. Dan hal itu semakin membuat Marcus tertawa kencang di belakangku. Menyebalkan!


Bab 12


Kini aku tengah berbaring di atas ranjang. Mengamati putihnya plafon kamarku. Kejadian saat di pinggir Danau sore tadi melintasi otakku. Mengapa aku bersikap memalukan seperti itu? Wajahku sangat panas seperti terbakar hanya karena ucapan Marcus. Aku seperti abg labil yag baru saja dipuji oleh pria yang dia sukai. Itu benar-benar memalukan dan membuatku frustasi. Marcus pasti mengejekku terus menerus karena hal itu.

__ADS_1


Bagaikan sebuah petir yang menyambar tubuhku. Aku langsung bangkit terduduk di atas ranjangku. Bagaimana mungkin aku melupakan hal terpenting itu dan teralihkan begitu saja?


Marcus tidak menjawab pertanyaanku. Pertanyaan yang begitu sulit aku ucapkan padanya. Marcus tidak menjawab mengapa dia meninggalkanku begitu saja. Pria itu mengalihkan pembicaraan dengan memujiku. Membuat aku kehilangan fokus dan melupakan hal penting itu. Aku bahkan bertingkah sangat memalukan dengan tersipu malu.


Semangatku kembali bangkit. Aku harus mendapatkan jawabannya. Aku tak akan tenang jika tidak mendengar jawaban langsung dari Marcus. Mengapa dia meninggalkanku begitu saja lima tahun yang lalu? Aku harus menemui Marcus sekarang juga.


Aku menurunkan kakiku ke lantai. Dan saat itu juga suasana kamarku yang terang benderang berubah menjadi gelap. Apa sekarang sedang mati lampu?


SHIT! Mengapa harus sekarang? Aku mulai panik dan tubuhku mulai gemetar. Sejak kematian ibuku, aku mengidap Achluophobia— phobia kegelapan.


Aku sangat takut gelap. Terutama dalam keadaan seperti ini. Sendiri dalam ruangan yang gelap tanpa ada cahaya. Kemanapun mataku melihat hanya ada kegelapan. Aku tak bisa melihat apapun. Semuanya sama, gelap.


Tubuhku bergetar dan gelisah. Hal yang paling kutakutkan adalah sosok menyeramkan yang entah darimana muncul mendekatiku. Sosok gelap yang begitu besar dan mengerikan.


Tubuhku panas dingin dan keringat keluar dengan banyak. Perasaan takut akan sosok mengerikan itu semakin membuatku lemas dan perlahan jatuh ke lantai di kaki ranjang. Tubuhku sangat sulit untuk digerakan. Aku panik karena sosok itu ada di sekitarku. Mungkinkah dia ada di belakang, di samping atau di depanku.


Dengan cepat sebuah tangan mencekik leherku. Sangat kencang hingga aku kesulitan untuk bernapas. Aku ingin berteriak meminta pertolongan tapi suaraku tak bisa keluar.


Kumohon tolong aku! Tolong aku! Siapa saja tolong aku!


Tangan besar itu semakin mengerat untuk menyiksaku. Aku kesulitan bernapas. Kumohon tolong aku, aku tak ingin mati di sini.


Tubuhku semakin lemas. Aku bahkan sudah berbaring di lantai namun tangan besar itu tak melepaskan cekikannya.


_________


Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2