
Ruang rahasia ini memiliki lorong yang cukup panjang. Dan ada ruangan yang gelap dengan sedikit pencahayaan. Aku didudukkan di sofa. Lalu ditinggalkan begitu saja.
Tak berapa lama Aiden datang dengan wajah yang serius. Dia duduk tak jauh dariku dengan membuka laptopnya yang menampilkan beberapa layar cctv yang terpasang di rumah ini dan memperlihatkan segalanya.
"Sepertinya kekasih juga tunanganmu berhasil menemukan tempat ini. Aku tak tau bagaimana mereka melacaknya. Tapi yang pasti mereka tak akan menemukanmu di sini." Aku melihat perkelahian yang Marcus juga Andrew lakukan. Ada juga beberapa pria anak buah Marcus yang membantu.
Aku bergerak gelisah. Aku mengawatirkan mereka berdua. Aku tak ingin mereka terluka.
"Diamlah. Mereka tak akan berhasil menyelamatkanmu. Jika itu terjadi maka aku akan menembak dan membunuhnya." Mataku melotot besar melihat pistol yang ada di genggaman tangan kanan Aiden. Dia punya pistol. Jantungku berdetak kencang. Ya Tuhan, kumohon lindungi Marcus juga Andrew.
Aku melihat banyak anak buah Aiden yang terluka. Andrew dan Marcus mulai mencari keberadaanku. Melihat hal itu Aiden bangkit berdiri dan bersembunyi di balik lemari yang ada di ruangan ini. Apa yang dia lakukan? Apa dia sengaja melakukan itu sehingga siapapun yang berhasil menemukan ruang rahasia ini dan datang menyelamatkanku akan ditembak dan dibunuh olehnya, begitu?
Jantungku berdetak semakin kencang hingga terasa sakit. Aku menatap layar laptop dan mengamati siapa yang mendekat ke arah ruang rahasia ini. Ruangan ini terletak di dalam kamar utama dengan pintu akses melalui lemari baca. Dan membukanya dengan menekan sebuah tombol yang ada di dalam lukisan dinding.
Jantungku semakin berdetak kencang tak kala Marcus maupun Andrew bergerak masuk ke dalam kamar utama. Mereka sudah menggeledah seluruh ruangan dan mereka pasti berpikir tentang ruang rahasia.
Merasa tak menemukan apapun Andrew menggeleng dan berjalan keluar dari kamar. Tapi Marcus masih berdiri dengan memandang lekat lukisan dinding dan tanpa sengaja menjulurkan jarinya lalu menekan tombol rahasia itu hingga pintu akses di balik lemari terbuka.
Marcus!
Aku menjerit dengan degup jantung semakin kencang dan keringat dingin yang menetes. Cctv tak ada di lorong penghubung ruang rahasia. Aku menatap cemas pintu ruang rahasia ini. Akhirnya Marcus berdiri disana.
Tidak! Jangan kemari Marcus. Aiden tengah mengintai dan bersiap menembakmu.
Aku menggeleng kencang dan bergumam tak jelas untuk memperingatinya. Dari sudut mataku, aku melihat Aiden yang sudah menyembulkan moncong pistolnya. Marcus berjalan ke arahku.
__ADS_1
Aku semakin gelisah. Keringat dingin keluar dengan deras. Kepalaku menggeleng frustasi. Dan airmata keluar tak terbendung.
Marcus! Jangan kemari! Kumohon jangan kemari! Jangan datang kesini!
Tapi Marcus seakan tak mengerti isyarat yang kuberikan. Dia berjalan semakin dekat ke arahku.
Suara tembakan melengking dalam ruangan sunyi ini. Aku menjerit keras walau tak ada suara apapun yang keluar dari mulutku. Mataku terpejam rapat. Tak sanggup melihat pria yang paling kucintai tertembak di hadapanku.
Suara tubuh yang terjatuh tepat di hadapanku. Badanku bergetar hebat. Perlahan membuka mata dengan rasa takut yang teramat besar. Yang pertama kulihat adalah darah yang mengalir dengan deras.
Aku menatap wajah pria yang kini berubah pucat. Degup jantungku berpacu dengan cepat. Andrew!
Aku menoleh ke sampingnya dan melihat Marcus yang tersungkur di lantai. Apa Andrew mendorong Marcus dan menerima tembakan itu dengan tubuhnya?
Marcus mendongak dengan mata terbelalak menatap Andrew yang terluka lalu dia menoleh ke arah Aiden bersembunyi. Dia bergerak cepat meraih Andrew untuk duduk di bawahku. Sedangkan dia bersembunyi dari pandangan Aiden.
"Andrew!"
Pria itu tersenyum lemah menatapku.
"Aku senang kau baik-baik saja Shelina." Tangannya terulur membelai wajahku.
"Berhenti berbicara dan bertahanlah."
Aku menopang kepala Andrew di pundakku. Peluru yang Aiden tembakkan tidak mengenai organ vital Andrew. Peluru itu terbenam di pundak kanannya.
__ADS_1
"Bertahanlah dan jangan menutup matamu." Aku mengalihkan pandangan ke arah Marcus. Pria itu bersiap melempar belati ke arah tempat persembunyian Aiden. Saat belati itu terlempar Aiden menghindar. Marcus memanfaatkan kesempatan itu untuk menendang pergelangan tangan Aiden hingga pistol yang pria itu pegang terlepas dan mental entah kemana. Lalu perkelahian terjadi. Marcus menendang dari arah kanan dan Aiden menghindar.
"Mengapa kau menculik Shelina, Aiden?" Disela perkelahian mereka Marcus berbicara. Tangannya siap meninju Aiden.
"Karena dia menghalangi jalan adikku untuk meraih kebahagiaan." Dengan amarah Aiden menangkis dan membalas serangan Marcus. Pria itu meninju wajah Marcus hingga dia terhempas.
"Adik? Adik mana yang kau bicarakan?!" Marcus bangkit sambil menatap Aiden marah.
"Siska! Siska adikku. Dan kau dengan bodohnya kembali terjerat oleh rubah licik itu lagi. Dan mengabaikan cinta tulus adikku, Siska." Mata Marcus membesar lalu seketika amarah semakin menguasainya.
"Apa itu sebabnya kau selalu memanas-manasi dan mengomporiku mengenai tingkah jalang Shelina, begitu?" Marcus menerjang Aiden lagi. Pria itu melayangkan tendangan. Namun ditangkis oleh tangan kiri Aiden. Tapi Marcus lebih cepat, tangan kirinya meninju perut Aiden, hingga pria itu mundur selangkah.
"Ya, jika Siska memang tak bisa mendapatkanmu maka jalang itu pun tak pantas mendapatkanmu. Aku akan membunuhnya!" Aiden menedang Marcus. Namun ditahan dan langsung memukul wajah Aiden.
" Siapa yang kau sebut jalang? Brengsek! Kau yang akan mati di tanganku." Marcus mengamuk dan memukuli Aiden dengan membabi buta. Aiden tak bisa menghindar dan menerima setiap pukulan yang Marcus lancarkan. Wajahnya sudah penuh darah dan dia sudah tergeletak tak berdaya di lantai. Aku harus menghentikan Marcus, sebelum dia menjadi seorang pembunuh.
"Marcus! Berhenti!" Aku berteriak tapi Marcus tak mendengarkanku.
"Andrew bertahanlah." Aku membaringkan kepala Andrew ke kursi dan bergegas ke arah Marcus.
Menahan tangannya yang tengah melayang di udara untuk memukul Aiden lagi.
"Sudah cukup Marcus. Dia sudah tak berdaya. Sekarang kita harus membawa Andrew ke rumah sakit segera." Seakan tersadar dengan keadaan genting Andrew. Marcus bangkit dan berbalik ke arah Andrew. Dia berjalan cepat meraih pundak kiri Andrew dan memapahnya untuk keluar dari ruangan rahasia ini. Aku melihat keadaan Aiden yang sangat mengenaskan. Wajah tampannya berubah sangat ancur. Lebam kebiruan dan darah ada dimana-mana.
Aku berbalik dan mengejar Marcus. Pria itu baru saja mengintruksikan anak buahnya untuk menahan Aiden sebelum polisi datang. Kami bergegas mengantar Andrew ke rumah sakit menggunakan mobil Marcus.
__ADS_1
_____________
Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih