
Kini aku tengah duduk di pinggir ranjang Marcus. Dokter Rio baru saja pergi setelah memeriksa keadaan Marcus. Dokter bilang jika Marcus terkena gejala tipes itu sebabnya tubuhnya deman tinggi. Aku menarik napas panjang dan menghelanya pelan. Aku harus menguatkan mental dan hatiku karena sebentar lagi aku akan membangunkan singa.
"Marcus." Tanganku menguncang pundak kanan Marcus. Aku harus membagunkannya. Dia perlu makan bubur dan meminum obatnya. Sekali lagi aku memanggil namanya. Perlahan bulu matanya bergerak hingga kelopak mata terbuka lebar. Tubuhnya terlonjak pelan menyadari keberadaanku.
"Ka.. kau." Mata tajamnya dengan cepat menatap ke sekeliling. Mencari tau di mana dia berada dan apa yang terjadi hingga aku berada di sampingnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Suaranya serak. Dan Marcus mencoba bangkit untuk bersandar di kepala ranjang.
"Menurutmu apa? Tentu saja, aku di sini untuk merawatmu."
"Aku tak butuh bantuanmu. Aku hanya perlu beristirahat."
Aku menghela napas panjang. Susah memang menghadapi singa satu ini.
"Jika kau bukan anak Andrew dan calon anak tiriku, aku juga tak mau repot-repot mengurusimu. Jadi cepat makan bubur ini." Tanganku sudah mengambil mangkuk berisi bubur yang tadi aku masak saat dokter Rio memeriksa Marcus.
"Aku tak lapar. Kau pergilah."
Selalu saja menyebalkan. Bahkan dalam keadaan sakit seperti ini, dia masih saja bersikap seperti itu.
"Berhenti bersikap menyebalkan. Kau itu sedang sakit, jadi dengarkan perkataanku kali ini."
"Sekarang ayo buka mulutmu." Tanganku menyodorkan sendok berisi bubur ke arah Marcus.
"Aku bisa ma—"
Dengan cepat aku mememasukkan makanan ke dalam mulut Marcus. Matanya mendelik tajam ke arahku. Dan aku berpura-pura tak melihatnya. Lalu kembali menyuapi bubur ke arah Marcus. Kini dia hanya diam tanpa protes.
"Mengapa kau baru pulang sekarang? Tinggal di mana kau semal—"
Aku menyuapi mulut Marcus lagi hingga dia kesulitan melanjutkan ucapannya. Aku enggan mendengar ucapan pedasnya, jadi aku hanya fokus untuk menyuapi Marcus saja.
"Seolah kau peduli dengan apa yang aku lakukan. Lagipula kau sendiri yang menyuruhku pergi mencari pria lain untuk bersenang-senang selagi Andrew tak ada."
"Jadi kau benar-benar melakukannya. Dasar jala..."
Aku kembali menyuapi mulutnya. Entah mengapa aku senang membungkam mulutnya dengan bubur. Dan wajah kesalnya sangat menggemaskan.
"Tidak bisakah kau berhenti berbicara dan makan buburmu saja. Aku tak ingin berdebat denganmu." Aku kembali menyuapi Marcus. Dia diam dan terus menatapku.
Keheningan yang terjadi di antara kami malah membuat aku resah. Sepertinya lebih baik dia berbicara daripada hanya diam dan menatapaku lekat. Aku menunduk demi menghindari tatapan Marcus. Berpura-pura serius dengan bubur di mangkok yang tinggal sedikit lagi. Dan ini adalah suapan terakhir. Bubur dalam mangkuk sudah habis. Dia suka atau memang lapar?
"Ini yang terakhir. Setelah ini minum obat." Aku hanya ingin memecah kesunyian dan mencoba membuat Marcus mengalihkan perhatiannya dari wajahku. Tanganku menyuapi Marcus. Ini yang terakhir.
Aku tersenyum refleks. Ada sedikit bubur di pinggir bibir Marcus. Tanganku terulur dan jempolku mengusap sedikit bubur itu. Hingga mataku bertemu dengan mata Marcus saat itulah aku baru tersadar dengan apa yang baru saja kulakukan.
ASTAGA! Apa yang baru saja aku lakukan? Dengan cepat aku menarik tanganku dan menjauh dari Marcus. Namun dengan cepat tangan kiri Marcus menahan tanganku dan tangan kirinya menarik tengkukku. Begitu cepat hingga aku tak sadar kapan bibir Marcus sudah menyentuhku.
Dia menciumku. Bukan kecupan biasa tapi ciuman yang diiringi dengan lumatan dan hisapan. Tubuhku membeku tak bisa bergerak. Mataku membesar dan menatap wajah Marcus yang begitu dekat. Pria itu memejamkan matanya. Ini bukan seperti ciuman yang dia lakukan padaku di dapur saat itu. Ciuman Marcus kali ini begitu lembut dan membuaiku. Menggodaku untuk membalas dan mencecap rasa bibirnya. Aku bisa gila. Otakku menolak dan menentang Marcus namun tubuhku sangat mendambakannya.
Tidak! Andrew!
__ADS_1
Dengan cepat aku mendorong dada Marcus hingga tautan bibirnya terlepas. Aku menjauh dan segera berdiri. Aku harus menjaga jarak. Aku mesti ingat jika hubungan kami sudah berakhir dan kini hanya Andrew yang mejadi prioritasku. Andrew adalah calon suamiku dan tak sepantasnya aku berciuman dengan putranya.
Aku mengambil obat yang tadi di berikan dokter Rio. Memberikan obat itu beserta segelas air putih ke arah Marcus. Pria itu menatapku lekat. Matanya berkaca-kaca seakan memintaku untuk mendekat ke arahnya. Tidak, itu hanya halusinasi. Aku terus merapalkan kalimat itu dalam hatiku. Ini bukan Marcus. Pria itu tak mungkin menatapku dengan sorot mata penuh rindu.
"Minum obatmu."
Marcus mengambilnya dan meminum obat itu. Aku merapikan mangkuk dan gelas ke dalam nampan dan mengangkatnya.
"Istirahatlah." Setelah mengatakan itu aku berjalan pergi keluar kamar Marcus. Baru beberapa langkah Marcus memanggilku.
"Shelina," kakiku berhenti begitu cepat. Seakan Marcus memiliki remot yang bisa menghentikanku dengan begitu mudahnya. Aku hanya diam di tempat tanpa sedikitpun berniat berbalik ke arahnya. Hanya menunggu Marcus berbicara.
"Bi—bisakah kau tetap di sini dan menemaniku hingga tertidur."
Dengan cepat aku berbalik layaknya seorang penari yang begitu luwes bergerak. Mataku menatap Marcus tak percaya. Pria itu kini tengah berbaring dengan mata menatapku. Namun saat aku menatapnya dia langsung membuang wajahnya ke arah lain. Apa dia malu?
"Maksudku, tetap di sini. Siapa tahu aku membutuhkan bantuanmu untuk mengambil sesuatu."
Sudut bibirku terangkat sedikit. Namun aku tetap berbalik dan berjalan keluar dari kamar Marcus. Aku tak menyangka dia bisa bersikap lembut seperti itu. Mungkin efek sakit membuat dia seperti itu. Jika tidak, mana mungkin Marcus mengatakan membutuhkan bantuanku.
Aku meletakkan mangkuk dan gelas kotor di counter dapur dan langsung mencucinya. Setelah itu aku mengambil air es dan menuangkannya ke baskom kecil. Demam Marcus sudah sedikit menurun namun lebih baik jika aku terus mengganti kompresnya. Agar besok dia sudah sembuh dan bisa beraktivitas lagi.
Aku kembali masuk ke dalam kamar Marcus. Pria itu sudah tertidur rupanya. Aku berjalan mendekati ranjang. Meletakkan baskom di nakas dan mencelupkan kain kecil lalu menaruhnya di kening Marcus. Aku terdiam menatap wajahnya. Baru ini aku bisa menatapnya begitu lama tanpa harus berdebat ataupun mendapat tatapan tajam dari Marcus.
Banyak yang sudah berubah. Wajah Marcus kini jauh lebih dewasa dibanding lima tahun yang lalu. Matanya begitu tajam dan mengintimidasiku namun ketika dia memejamkan mata seperti ini. Dia jauh lebih tampan. Keningnya yang lebar malah membuatnya sexy. Alis Marcus lebat dan hitam. Dengan hidung mancung yang begitu indah. Dan yang paling menakjubkan dan menggoda iman, tentu saja bibir tebal merah nan penuh miliknya. Semakin lama aku menatap bibir Marcus semakin besar dorongan itu menjadi. Bibir itu seakan melambai dan menarikku untuk mendekat dan mengecupnya. Astaga, aku ingin ... Tidak!
Aku menggeleng keras. Apa yang baru saja aku pikirkan? Aku mau mencium Marcus di saat pria itu tengah tidur.
Aku berdiri dan berjalan ke arah sofa panjang yang ada di kamar Marcus. Sepertinya aku terpaksa tidur di sofa. Bukan karena aku menghawatirkan dan menuruti perkataaan Marcus, tapi karena ini salah satu bentuk perhatian yang bisa kulakukan sebagai calon ibu tiri Marcus. Ya, karena itu bukan alasan lain.
Aku berbaring setelah mengirim pesan singkat pada Evelyn bahwa aku tak akan menginap di tempatnya malam ini. Lalu aku tertidur di sofa.
Ada dua tangan kekar yang merengkuh tubuhku. Membawaku melayang lalu meletakkanku di atas gumpalan awan lembut. Begitu nyaman hingga membuatku terlena. Namun hal itu kalah jauh dibandingkan dengan tangan kekar seorang pria yang menarikku ke dalam dekapannya. Seluruh tubuh menghangat bahkan hatiku juga ikut merasakannya.
Kepalaku bersandar di dada bidang yang begitu kokoh namun sangat hangat. Tangan pria itu mengusap punggungku. Aku mendongak. Siapa pria dalam mimpiku ini? Pria ini sangat mempengaruhiku. Apa dia seorang malaikat karena hatiku begitu tentram berada di sampingnya. Seakan semua masalahku hilang tak bersisa. Seolah dia adalah tempat yang selama ini aku cari. Tempat seharusnya aku pulang, rumahku. Wajahnya samar. Aku kesulitan mengenali wajahnya. Bibirnya tersenyum kecil, lalu dengan pelan mengecup keningku.
'Aku merindukanmu, Lina.' Suara lembut itu bagaikan nyanyian para dewi yang begitu indah dan menghanyutkan. Menghantarkanku semakin lelap ke dalam mimpi.
Cahaya terang mengusik kelopak mataku. Aku mengerjap perlahan lalu membuka mata. Hal pertama yang kulihat adalah dada seorang pria. Keningku mengerut. Apa aku masih bermimpi? Tapi tangan yang merangkul pinggangku terasa nyata. Mataku dengan cepat berputar mengamati seluruh keadaan di sekitar. Ini bukan kamarku? Lengan kekar itu menarikku semakin dekat ke arahnya dan mendekap begitu erat. Ini nyata?
Dengan cepat aku mendongak. Seketika napasku terengut paksa. Pria itu Marcus. Pria yang ada di hadapanku dan tengah memeluk begitu erat adalah Marcus. Bagaimana ini bisa terjadi? Otakku dipaksa bekerja keras untuk mengingat semua yang terjadi sebelum aku tertidur. Semalam Marcus sakit dan aku merawatnya. Aku tidur di sofa yang ada di dalam kamar Marcus. Lalu bagaimana bisa aku berada di atas ranjang pria itu? Apa aku berjalan ketika tertidur? Bagaimana mungkin? Apa dia ....?
Aku mendongak dan mengamati wajah terlelap Marcus. Dia masih tidur dengan pulas. Apa dia yang memindahkanku ke sini? Tapi itu mustahil. Marcus sangat membenciku, jadi tidak mungkin dia melakukan itu. Apa sepanjang malam aku tidur dalam dekapannya? Apa itu alasannya aku tidur begitu lelap? Apa yang semalan itu nukan minpi? Apa pria yang mengatakan merindukanku itu Marcus?
Aku menggeleng keras. Tidak mungkin. Itu pasti hanya mimpiku saja.
Apapun itu saat ini aku harus bangun. Mau ditaruh di mana wajahku jika Marcus terbangun dan mendapati aku tidur di atas ranjangnya. Dengan sangat hati-hati aku mengangkat lengan Marcus yang berada di pinggangku. Bergerak perlahan dan turun dari ranjang. Jantungku berdegup kencang ketika Marcus bergerak mengubah posisi tidurnya. Apa dia akan bangun? Namun dugaanku salah, Marcus masih terlelap. Apa demamnya sudah turun?
Tanganku terulur menyentuh kening Marcus. Napas legaku keluar begitu saja. Suhu tubuhnya sudah normal. Aku mengambil baskon dan handuk kecil itu dan melangkah keluar dari kamar Marcus.
˙°♡♡♡°˙
__ADS_1
Setelah mandi dan memasak bubur. Aku melangkah masuk ke dalam kamar Marcus dengan nampan berisi semangkuk bubur dan segelas susu. Pria itu sudah bangun dan tengah bersandar di kepala ranjang. Dia sedang menggunakan ponselnya, mungkin sedang mengecek pesan atau telpon masuk. Aku berjalan semakin ke dalam dan meletakkan nampan itu di atas nakas samping ranjang.
"Sepertinya kau sudah lebih baik. Mandilah lalu sarapan dan jangan lupa minum obatmu."
Marcus hanya melirikku dan kembali fokus pada ponselnya. Aku menghembuskan napas panjang. Sepertinya Marcus yang dingin sudah kembali. Sudahlah, lagipula dia sudah baikkan. Aku melangkah pergi.
"Kau mau ke mana?" Kakiku langsung berhenti. Aku menoleh dan mendapati Marcus menatapku.
"Ke Wonderful Cafe."
"Kau akan bekerja dan meninggalkanku yang sedang sakit di rumah sendirian."
Ini terasa aneh. Seperti bukan Marcus yang berbicara. Aku berbalik dan menegakkan tubuhku. Aku tak tahu apa yang ada dipikirannya saat ini, tapi aku yakin dia tengah merencanakan sesuatu.
"Suhu tubuhmu sudah turun, kau hanya butuh istrahat lebih lama lagi dan terus meminum obat. Lagipula di mansion ini banyak pelayan yang bisa membantu dan merawatmu. Aku juga yakin kau tak menyukai keberadaanku di sini. Jadi, lebih baik aku pergi bekerja." Aku berbalik dan pergi tanpa mendengar ucapan Marcus lagi.
˙°♡♡♡°˙
"Jadi, bagaimana?"
Aku menoleh dengan cepat ke arah Evelyn yang berdiri di sampingku. Kini aku tengah duduk di belakang meja casier di Wonderful Cafe. Keningku mengerut, tak mengerti dengan pertanyaan Evelyn.
"Bagaimana apa?"
"Semalam kau bilang Marcus sakit. Apa pria itu sungguh sakit? Aku rasa itu tidak mungkin."
"Dia memang sakit. Demam tinggi dan kata dokter dia terkena gejala tipes."
"Pria seperti dia ternyata bisa sakit juga."
"Kau berbicara seolah kau pernah bertemu dengan Marcus saja."
"Kau jelas tahu, jika aku bertemu dengannya maka dia pasti hanya tinggal nama." Aku berdecak tak percaya. Dasar Evelyn.
"Pantas saja tak ada pria yang mau berhubungan serius denganmu."
"Hei, apa maksudmu berkata seperti itu, hah?" Aku tertawa kecil dan tak mengacuhkannya karena ada pelanggan yang hendak membayar.
"Oh my God. Pria itu tampan sekali. Mata tajamnya bisa membuatku meleleh dan basah di waktu bersamaan."
Aku mendengus tak percaya dan menoleh ke arah mata Evelyn melihat. Di depan pintu Cafe berdiri seorang pria yang mengenakan celana jeans dan kaos hitam terbalut jaket. Mataku membesar tak percaya. Itu Marcus! Apa yang dia lakukan di sini?
"Marcus?" Keningku mengerut ketika pria itu melangkah masuk ke dalam Cafe. Sudut mataku menangkap wajah Evelyn yang terperangah menatapku.
"Pria itu yang bernama Marcus. Oh My God, apa yang baru saja kukatakan? Aku memuji pria brengsek itu."
"Tapi bukankah kau bilang pria itu sedang sakit?" Aku tak menjawab pertanyaan Evelyn dan berjalan menghampiri Marcus yang sudah duduk di salah satu meja di samping jendela.
Tanganku bersidekap di dada. Apa maksud pria ini berada di sini?
"Apa yang kau lakukan di sini?!" Entah mengapa aku sangat tak suka melihatnya berada di sini. Apa dia di sini untuk menyelidikiku? Atau mengacau di Cafe ini? Mungkinkah dia merencanakan sesuatu yang buruk misalnya mempermalukanku di hadapan pelanggan Cafe dan juga karyawan lain. Namun, aku sangat membenci diriku yang masih saja mengkhawatirkan keadaan pria itu. Dia masih sakit. Seharusnya dia beristirahat di rumah, Mengapa dia di sini?
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di sini, Marcus?" Aku mengulangi perkataanku karena Marcus bersikap tak memperdulikanku.