Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 28. Membohongi mu


__ADS_3

Saat aku sudah sampai di lantai atas aku melihat Andrew yang berjalan tak jauh dari pintu kamarku. Dan benar pintu kamarku terbuka lebar. Andrew berhenti dan berbalik menatap ke arahku. Keningnya mengerut dalam melihatku yang berlari mengejarnya. Aku berjalan menghampirinya dengan napas yang memburu. Sesekali mataku menatap pintu kamar yang ada di belakang Andrew.


"Ada apa? Mengapa kau berlari?" Aku masih mengatur napas dan memikirkan alasan apa yang masuk akal dengan aksiku ini.


"A—aku ...." sebelum ucapanku selesai mataku membesar sempurna menangkap sosok mengerikan yang berdiri di belakang Andrew. Jantungku berdegup dengan kencang. Mengapa dia muncul?


Seakan Andrew menyadari raut wajahku, dia berbalik dan menatap Marcus yang berdiri di depan pintu kamarku.


OH MY GOD!


Apa Marcus sudah gila? Mengapa dia keluar dari kamarku dengan keadaan seperti itu? Dia hanya mengenakan celana boxer. Dada bidangnya terekspose sempurna. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Apa yang Andrew pikirkan dengan keadaan Marcus yang seperti itu keluar dari kamarku? Tampilan rambut Marcus yang berantakan dan wajahnya yang kucel membuat siapapun menyadari jika dia baru bangun tidur.


Mata Marcus membesar. Dia pasti terkejut melihat Andrew yang berdiri depannya. Namun sedetik kemudian wajahnya kembali datar. Dia bahkan hanya melirikku sekilas. Seakan keadaan darurat dan genting saat ini sama sekali tak berpengaruh untuknya. SIALAN!


"Marcus, kau ...." aku langsung bergerak cepat berdiri di samping Andrew dan menghentikan ucapannya.


"Marcus semalam ke kamarku saat mati lampu." Andrew menoleh dan menatapku. Memberikan perhatian yang lebih untuk mendengarkan penjelasanku lebih lanjut. Keringat dingin kembali keluar. Bahkan punggungku sudah basah akibat banyaknya keringat. Aku juga lupa melepas apron yang kupakai.


"Karena mati lampu sangat lama, jadi kami bermain game bersama di kamarku." Mata tajam Andrew menusuk jantungku. Mencari kebenaran yang tengah aku sembunyikan. Dia menaikkan alisnya, masih kurang puas dengan jawabanku.


"Dan karena AC mati maka Marcus melepaskan kaosnya. Itu sebabnya dia berpenampilan seperti ini." Aku melirik Marcus berharap dia membantuku. Andrew juga menatap ke arah Marcus dengan tajam dan curiga. Namun pria itu hanya menggidikkan bahunya dan berjalan pergi ke kamarnya dan masuk begitu saja. Meninggalkanku yang masih gelisah dengan tatapan tajam Andrew.


"Ka—kami tak melakukan apapun, sungguh." Andrew terdiam dengan terus mengunci pandanganku. Lalu dia mengangguk singkat.


"Baiklah, aku mengerti. Kau tak perlu gelisah seperti ini." Tangan Andrew membelai kepalaku pelan. Walau dia mengatakan hal itu namun aku masih bisa melihat sinar tajam dari tatapan matanya.


"Jangan terlalu dekat dengan putraku, mengerti." Aku mengangguk dan Andrew kembali berjalan. Setelah Andrew masuk ke kamarnya, aku langsung masuk ke kamarku.


Kamarku sangat berantakan. Selimut dan sprei acak-acakan dan baju yang berserakan disana sini. Aku dengan cepat mengambil bajuku dan memasukkannya ke ranjang baju kotor. Dan mengambil baju Marcus dan bergegas ke kamar pria itu.

__ADS_1


Aku langsung menutup pintu kamar Marcus setelah masuk. Pria itu masih duduk di atas ranjangnya dengan ponsel menempel di telinga kanan. Aku berjalan menghampiri dan berdiri di depannya. Dia menatapku tajam dan semenit kemudian mematikan panggilan ponselnya. Alisnya naik sebelah dan aku langsung melempar baju Marcus.


"Apa kau sudah gila? Mengapa kau keluar kamar tanpa memakai baju?"


"Setidaknya itu lebih baik daripada aku keluar kamarmu dengan keadaan telanjang."


"Marcus Cho!" aku benar-benar kesal. Bagaimana dia bisa semudah itu mengatakannya?


"Apa? Kenapa kau marah? Bukankah lebih baik Andrew tahu apa yang terjadi semalam?"


"Ka—kau ...."


"Tak seharusnya kau marah padaku saat ini. Aku bisa saja pergi dan mengatakan semuanya kepada Andrew saat ini juga."


"TIDAK! Kau tak boleh melakukan itu. Jangan berani-berani melaporkannya pada Andrew!"


"Tidak, kau tak boleh mengatakannya pada Andrew. Kumohon?"


"Sekali tidak tetap tidak. Aku akan mengatakannya pada Andrew." Marcus bangkit berdiri dan mulai berjalan menuju pintu kamarnya. Tanganku dengan cepat meraih lengannya.


"Tidak, kumohon. Aku akan melakukan apapun asal kau tidak mengatakan kejadian semalam pada Andrew."


"Apapun?"


"Ya." Melihat seringai gelap di sudut bibir Marcus membuat aku menyesal sudah mengatakan hal itu. Apa yang akan diminta Marcus sebagai imbalan untuk tutup mulut.


"Kau harus mengikuti apapun perkataanku." Aku mengangguk pasrah. Aku tak punya pilihan. Aku tau Marcus pasti memanfaatkan kesempatan ini. Tapi aku tak bisa membiarkan pria ini memberitahu Andrew tentang apa yang terjadi semalam.


"Baiklah, sekarang beri aku morning kiss!" Mataku membesar tak percaya. Apa Marcus sedang mempermainkanku?

__ADS_1


"Kau tak mau? Kalau begitu aku—" dengan cepat aku mengecup bibir Marcus kilat. Lalu menjauh darinya. Namun Marcus malah menarik kepala dan mencium bibirku. Melumatnya dan mencecap rasa sebelum melepaskannya.


"Kau harus memberikanku morning kiss seperti itu setiap pagi, mengerti." Aku hanya terdiam menatap Marcus tajam. Ya Tuhan, mengapa aku bisa bercinta dengan Marcus semalam?


˙°♡♡♡°˙


Sejak hari itu Marcus semakin menjadi lebih menyebalkan. Pria itu selalu mengendap ke kamarku dan menciumku dengan brutal setiap pagi dan malam hari. Dan dia selalu bisa membuat aku *** hanya dari sentuhan tangannya tapi beruntung, pria itu tak meminta untuk melakukan sex. Terkadang dia bersikap sangat lembut dan memuja tubuhku namun terkadang dia memberikanku hari yang sulit. Dia memprovokasi dan menggodaku di depan Andrew. Aku selalu ketar ketir dan khawatir tapi dia sangat acuh dan tak perduli. Namun ada sisi hatiku yang menerima perlakuan dan kelembutannya.


Siang ini aku masih di ruanganku di cafe, saat Evelyn masuk dan meletakkan sebuah kotak kecil di atas meja. Keningku mengerut melihat kotak berbunguskan kertas biru.


"Ada kado untukmu."


"Dari siapa?"


"Aku tak tau. Tadi ada seorang anak smp yang datang dan memintaku untuk memberikan kado ini padamu. Kau tidak ulang tahun, bukan."


Aku menggeleng dan menatap heran kado kecil itu. Evelyn pamit keluar untuk kembali bekerja.


Dengan kening yang mengerut aku meraih kado itu. Apa ini? Aku tidak berulang tahun saat ini. Lalu kado untuk apa ini? Dari siapa?


Tak ada nama pengirimnya, mungkinkah ada di dalam? Aku membuka bungkus kado. Ada sebuah flashdisk di dalamnya dan sebuah kertas. Aku meraih kertas itu. Tertulis dengan tinta warna merah.


'ENYAHLAH KAU, JALANG.'


Tanganku bergetar. Ini surat ancaman. Dan ini bukan tulisan yang ditulis dengan tinta merah tapi ditulis dengan darah. Siapa? Siapa yang mengirimkan ini padaku? Tanganku bergetar dan meraih flashdisk itu. Apa yang ada di dalam sini?


_____________


Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2