Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 31. Rekaman


__ADS_3

Aku berjalan masuk ke dalam gedung Cho Coorporation dan menuju meja resepsionis. Nindy, wanita yang dulu menahanku untuk menemui Andrew langsung berdiri tegap dengan senyuman lebar menyambutku.


"Nyonya Aston, anda ingin menemui presdir Cho. Aku aka—"


"Tidak, aku ingin bertemu direktur Cho. Dimana ruangannya?" Wanita yang bernama Nindy itu terkejut sesaat.


"Ruangan direktur Cho ada dilantai 19, nyonya." Aku mengangguk dan segera menuju lift.


Kini aku tengah berjalan menuju ruangan Marcus. Seorang sekretaris pria menahanku.


"Maaf, nona. Ada yang bisa dibantu?"


"Aku ingin menemui Marcus. Dia ada di dalam bukan?"


"Iya, apa nona sudah membuat janji?" Aku menghiraukan ucapannya dan berjalan cepat menuju pintu ruangan Marcus. Sekretaris itu berteriak untuk mencegahku. Namun aku sudah membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam.


Marcus yang sedang bekerja di balik meja kebesarannya menoleh ke arahku.


"Nona, jangan masuk." Sekretaris pria tadi berdiri di sampingku.


"Maaf, pak. Nona ini menerobos masuk."


"Apa yang kau lakukan di sini, Shelina?"


"Aku ingin bicara denganmu." Marcus hanya menaikkan sebelah alisnya. Aku tak menghiraukan tatapan tajam dan sinisnya.


"Aku sibuk, pergilah." Marcus mengalihkan wajahnya.


"Aku hanya ingin bicara denganmu sepuluh menit saja." Aku melangkah mendekati mejanya.


Marcus melambaikan tangannya mengusir sekertaris pria tadi. Aku duduk di hadapan Marcus.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Aku menatap mata Marcus lekat. Pria yang selalu aku panggil brengsek, ternyata dia tak pernah meninggalakanku.


"Apa benar lima tahun yang lalu kau mengalami kecelakaan dan koma?" Wajah Marcus langsung berubah serius.


"Mengapa kau menanyakannya, bukankah kau sudah tau hal itu. Dan karena mendengar keadaanku yang koma, kau meninggalkanku. Kau pasti berpikir aku tak akan bangun lagi. Itu sebabnya kau tak menjengukku dan mencari kehangatan juga tambang emas dari pria lain." Mata Marcus memancarkan amarah yang begitu hebat. Urat-urat di wajah dan tangannya menegang.

__ADS_1


Aku tak marah dengan tuduhan itu, juga tak kesal karenanya. Hatiku lebih terluka dan sakit mendengar fakta itu langsung dari Marcus. Mataku memanas, airmata mendidih dan siap tumpah kapan saja.


"Marcus," ucapku lirih. Saat itu dia pasti kesepian dan membutuhkan kehadiranku. Dia pasti sangat terluka karena aku tak pernah sedetikpun berada di sampingnya.


"Berhenti berpura-pura lemah dan terluka, Bicth! Kau pikir aku akan terpengaruh dengan tipu muslihatmu lagi." Marcus menggebrak meja untuk melampiaskan amarahnya. Airmataku mengalir menyusuri pipi.


"M—Marcus, ak—aku tak tau kau mengalami kecelakaan."


"Sungguh? Benarkah?" Kedua tangan Marcus menekan meja dan tubuhnya condong ke arahku. Mata tajam dan sinisnya menghujamku hingga ke jantung. Sangat sakit.


"Bullshit," ucap Marcus penuh penekanan. Airmataku semakin mengalir dengan deras.


"Aku sudah mencari keberadaan dan info apapun tentangmu. Tapi aku sama sekali tak mendapatkannya. Ponselmu bahkan tak bisa dihubungi dan aku tak tau dimana alamat rumah orangtuamu."


"Berhenti berbicara omong kosong Shelina. Siska bilang dia sudah memberitahukanmu, tapi kau malah tak perduli dan bersenang-senang dengan pria lain. Kau mendekatiku hanya karena aku kaya dan punya banyak uang bukan? Kau berpikir aku tak akan bangun lagi dari koma, itu sebabnya kau mencari pria lain dan menjual tubuhmu untuk mendapatkan uang. Dasar jalang rendahan."


"Marcus, itu tidak seperti yang kau pikirkan. Aku sama sekali...."


"Sudah kubilang berhenti berbicara omong kosong. Aku sudah tau kebusukkanmu, Shelina. Kau dan ayahmu ingin menguasai seluruh harta keluarga Cho, bukan?"


"Tidak! Aku tak...."


"Bukti apa maksudmu?" Marcus mengutak atik handphone-nya dan memutar voice recording.


"*Kau benar. Lagipula uang seratus juta bukan uang yang banyak. Andrew itu sangat kaya raya, dia bahkan membelikanmu cafe ini. Aku yakin kau mendapatkan banyak uang darinya."


"Ya, aku tak berjanji pada Andrew untuk tidak meminta uang lagi darinya."


"Anggap saja uang lima milyar itu hanya untuk mendapat persetujuanku agar dia bisa menikah denganmu. Kita tak boleh melepaskannya begitu saja dan kau harus terus meminta uang pada Andrew."


"Damn you! Kau benar-benar pintar."


"Jadi, kau hanya perlu meminta uang dengan calon suamimu itu. Dia tidak akan bangkrut jika kau meminta uang seratus juta. Kalau bisa kau meminta satu milyar."


"Aku akan memberikannya*,"


Itu adalah rekaman percakapanku dengan Jonathan. Itu memang suaraku tapi aku tak pernah mengatakan kalimat-kalimat itu. Rekaman suara itu sudah di sabotase.

__ADS_1


"Ini jelas suaramu, bukan. Jadi berhenti menyangkal semua tuduhanku. Dasar wanita mata duitan! Jalang rendahan!"


"Marcus, itu memang suaraku tapi aku tak mengatakan hal itu. Jonathan mengancamku."


"Berhenti omong kosong Shelina. Airmata buayamu tak akan mempan untukku. Jadi, keluar dari ruanganku sekarang."


"Marcus, itu tidak seperti...." dering ponsel menghentikan kalimatku. Aku mengambil ponsel dari dalam tas.


Evelyn menelpon.


Langsung saja aku angkat panggilan Evelyn.


"Ha...."


"Shelina, kau harus ke Cafe sekarang juga." Keningku mengerut dalam. Suara Evelyn sangat aneh dan bergetar. Apa ada sesuatu yang terjadi di Cafe?


"Evelyn, ada apa?"


"Arghhh!" Suara teriakkan Evelyn di sertai suara ribut dan sangat berisik. Aku bangkit berdiri dan dihantam oleh ribuan rasa cemas juga khawatir.


"Evelyn, apa yang terjadi?" Tak ada jawaban dan hanya suara berisik dan teriakan histeris lainnya.


"Evelyn." Dan akhirnya panggilan itu terputus. Tanpa menghiraukan apapun lagi aku langsung berbalik dan berlari keluar. Aku harus ke cafe sekarang juga. Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi di sana?


˙°♡♡♡°˙


Aku langsung turun dari taxi saat sampai di depan Wonderful Cafe. Aku bahkan tak perduli ongkos taxi yang kuberikan jauh lebih banyak.


Aku berlari menuju pintu Cafe dan langsung membukannya. Degup jantungku memukul dada begitu keras. Mataku membesar dengan keadaan Cafe yang sangat berantakan. Apa yang terjadi di Cafe-ku ini? Apa angin ** beliung baru saja masuk ke dalam sini?


"Akhirnya kau datang juga?" Suara ponggah dan tajam mengalihkan perhatianku.


Jonathan berdiri di sudut cafe dan berjalan ke arahku. Wajahnya merah padam. Dia yang telah membuat kekacauan ini. Semua meja terbalik. Beberapa kursi patah. Dan beberapa kue jatuh berserakkan di lantai. Di depan pintu dapur berdiri Evelyn, Merina dan kak Elena tengah berdiri dengan wajah pucat pasi. Mata Evelyn menatap nyalang ke arah Jonathan. Dan kak Elena menggenggam ponselnya erat. Aku yakin mereka semua ketakutan dengan aksi Jonathan. Dan kak Elena pasti ingin menelpon polisi seandainya dia tak tau jika Jonathan adalah ayahku.


Aku mengalihkan perhatian dan kembali menatap Jonathan yang sudah berdiri tak jauh dariku.


"Apa yang sudah kau lakukan?" Nada suaraku naik satu oktaf dari biasanya.

__ADS_1


_____________


Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih


__ADS_2