
Hari ini cafe tutup lebih cepat. Aku lelah karena insiden siang tadi ditambah Merina yang tidak masuk kerja dan cake yang tinggal sedikit, maka jam enam aku menutup cafe lebih awal.
Saat aku, Evelyn dan juga kak Elena saling berpamitan. Mataku menangkap sosok seorang pria yang berdiri bersandar di mobil hitam yang terparkir tak jauh dari cafe-ku. Pria dengan stelan jas kantor yang lengkap.
"Untuk apa pria brengsek itu kemari?" ucap Evelyn di sampingku.
"Siapa pria tampan itu?" kak Elena bertanya pada Evelyn. Aku hanya diam dan mengamati Marcus yang mulai berjalan ke arah kami.
"Mantan pacar sekaligus calon anak tiri Shelina."
Haruskah Evelyn mengatakannya begitu frontal. Walau tak masalah jika kak Elena tau siapa Marcus tapi menggabungkan kata mantan pacar dan calon anak tiri dalam satu kalimat terdengar aneh dan menyebalkan.
"Kalian sudah mau pulang?" Marcus sudah berdiri di hadapan kami.
"Apa yang kau lakukan di sini? Jika kau hanya ingin menghina atau mengejek Shelina, lebih baik kau pulang." Ketus Evelyn.
"Evelyn," tegur kak Elena.
"Ya, cafe tutup lebih awal," jawab Elena untuk pertanyaan Marcus tadi.
"Ada apa?" Marcus datang kemari pasti memiliki tujuan. Dia tersenyum lebar. Senyum yang bisa membius hati para wanita. Dan benar saja, dari sudut mataku, aku menangkap Elena maupun Evelyn yang terpesona dengan Marcus.
"Menjemputmu pulang."
Evelyn mendengus tak percaya dan Marcus langsung menatapnya tajam.
"Apa aku pernah melakukan salah padamu? Apa sebelumnya kita saling kenal? Mengapa kau terlihat sangat tak suka kepadaku?"
Mata Evelyn membesar, aku yakin jika tak mencegahnya, gadis itu pasti akan menerjang Marcus dan berteriak-teriak marah. Aku sangat mengenal Evelyn, dia sangat membela dan menyayangiku.
"Kenalkan dia sahabat baikku, Evelyn Diandra. Dan dia kak Elena," ucapku sambil memperkenalkan mereka.
Setelah berjabat tangan singkat Marcus menawarkan tumpangan untuk mengantar Evelyn dan kak Elena pulang. Namun kak Elena menolak karena kekasihnya sudah menjemput. Saat Evelyn hendak menolak, aku dengan cepat merangkul tangannya dan mengajak ia berjalan ke arah mobil Marcus. Wanita itu memberontak namun aku membungkam mulutnya dan mengatakan agar ia ikut bersama kami agar ia bisa mengirit ongkos.
__ADS_1
Kini kami dalam perjalanan menuju rumah susun Evelyn. Marcus hanya diam dan mendengarkan beberapa obrolanku dengan Evelyn. Wanita itu duduk sendiri di bangku belakang. Saat mobil berhenti di lampu merah Marcus berkata.
"Bagaimana jika kita makan terlebih dahulu?"
Aku langsung antusias dan menatap Evelyn dengan harapan dia juga mau ikut. Namun wanita itu menggeleng.
"Tidak, Angel pasti sudah menungguku di rumah."
Aku mendesah kecewa, sayang sekali. Lalu tiba-tiba aku kembali bersemangat.
"Bagaimana jika kita mengajak Angel juga makan di luar? Aku yakin dia pasti suka."
"Ya, ajak saja dia." Timpal Marcus.
Aku mengangguk antusias dan menatap Evelyn dengan mata yang berbinar penuh harap.
"Tapi..." ada keraguan di mata Evelyn.
"Tenang saja, aku yang traktir." Marcus seakan mengerti kegundahan Evelyn dan mengatakannya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
"Jadi, kita akan menjemput Angel terlebih dahulu."
"Ya!" ucapku berbarengan dengan Evelyn. Kami saling pandang dan tertawa bersama.
Aku yakin Angel pasti senang diajak makan di luar. Evelyn jarang mengajak gadis kecil itu makan di restoran. Marcus hanya tersenyum simpul mendengar teriakan bahagia dan kehebohanku bersama Evelyn. Aku senang sisi evil Marcus menghilang beberapa hari ini. Dia terlihat jauh lebih hangat, sama seperti Marcus yang kukenal lima tahun yang lalu.
Kini kami bertiga tengah menaiki tangga menuju rumah susun Evelyn. Hingga akhirnya berdiri di depan pintu ketiga di lantai keempat gedung ini yang sudah terbuka. Aku dan Marcus menunggu di luar karena rumah itu milik tetangga Evelyn — bibi Sonya. Dan Angel biasanya bermain disana selama Evelyn bekerja.
"Terimakasih bibi Sonya sudah menjaga Angel. Dia pasti sangat merepotkan."
"Tidak, dia gadis kecil yang mandiri dan membatuku merawat Adel."
"Ayo pamitan dengan bibi Sonya dan Adel." Dengan sangat pintar Angel mencium pipi Adel, balita yang berusia dua tahun juga berpamitan dengan bibi Sonya.
__ADS_1
Lalu kami berjalan terlebih dahulu ke rumah Evelyn yang berada di samping rumah bibi Sonya. Sejak tadi Marcus hanya terdiam mengamati Evelyn dan Angel. Untung saja flat Evelyn rapih saat ini, jika tidak aku yakin wanita itu pasti kelabakan karena Marcus juga ikut masuk ke rumah susunnya.
"Tunggu sebentar, aku akan ganti baju dulu. Shelina tolong bantu Angel berganti pakaian. Pilih saja salah satu baju yang berada di lemari Angel." Wanita itu langsung masuk ke dalam kamar. Rumah susun ini memang kecil dan hanya memiliki satu kamar. Aku meninggalkan Marcus dan Angel duduk di lantai di tengah-tengah ruangan dan berjalan ke lemari Angel yang ada di sudut untuk mengambil baju Angel.
"Om tampan sekali." Aku tersenyum mendengar ucapan Angel. Marcus sama sekali tak menjawab. Mungkin saat ini dia sedang membusungkan dada karena dipuji oleh gadis kecil itu.
"Nama Om siapa?"
Aku sudah mendapatkan baju stelan untuk Angel dan menghampiri mereka. Aku tersenyum melihat Angel yang menatap Marcus dengan antusias.
"Pertama, kau tak boleh memanggilku Om, panggil kakak mengerti." Aku langsung berdecak tak percaya.
"Ingat umurmu Marcus, aku yang lebih muda darimu saja tak protes dipanggil tante." Tanganku membantu Angel untuk melepaskan pakaiannya. Gadis kecil ini sebenarnya sudah bisa sendiri tapi akan lebih cepat jika aku membantunya.
"Dia memanggilmu tante?" tanya Marcus sambil menatapaku dan Angel bergantian. Dan Angel mengangguk mengiyakan.
"Baiklah, kau boleh memanggilku Om. Nama Om, Marcus Cho, kau bisa memanggilku Om Marcus." Lalu kami terdiam dan aku membantu memakaikan Angel pakaian yang tadi kuambil. Aku menyadari tatapan mata Marcus yang sejak tadi melihat ke arahku dan Angel. Sangat lama dan intens membuat aku merasa resah juga tak nyaman.
"Ada apa? Mengapa kau menatap kami seperti itu?" Kepalaku menoleh ke arah Marcus sekilas lalu kembali membantu Angel mengancingkan bajunya.
"Kalian terlihat seperti ibu dan anak." Tanganku yang mengancingkan baju Angel berhenti.
"Kau pasti bisa menjadi ibu yang baik, Shelina." Hatiku menghangat mendengar ucapannya. Ini pertama kalinya ada seorang pria yang mengatakan hal itu. Aku sendiri bahkan tak yakin bisa menjadi ibu yang baik atau tidak.
Apa ada seorang anak yang mau terlahir dari rahim seorang pelacur sepertiku? Aku takut jika anakku nanti mengalami hal yang sama seperti diriku ketika aku masih kecil dulu. Mendapat cacian dan hinaan hanya karena memiliki ibu seorang pelacur. Padahal anak itu sama sekali tak bersalah dan tak pantas mendapatkan hinaan itu.
Mataku seketika memanas. Aku sangat ingin memiliki seorang anak tapi ketakutanku jauh lebih besar. Aku takut tak bisa menjadi ibu yang baik, tak bisa melindungi anakku, juga tak bisa mencegah pandangan dan cacian orang lain kepadanya.
Airmataku mengumpul dan hampir terjatuh jika aku tak cepat-cepat menengadahkan kepala. Untung saja aku sudah selesai membantu Angel, jadi aku bangkit dan pergi ke kamar mandi. Airmataku langsung menetes ketika aku bangkit berdiri dan membelakangi Marcus juga Angel. Aku tak mau pria itu melihat airmataku, dia pasti akan mengejekku yang begitu lemah dan rapuh ini.
Aku menutup pintu kamar mandi dan menenangkan diri. Menarik napas teratur agar airmataku segera berhenti dan memikirkan hal-hal indah lainnya agar aku melupakan kesedihanku.
________
__ADS_1
Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih