
Setelah menahan airmata dan mengendalikan emosiku. Aku dan Andrew pergi ke toko perhiasan sore harinya untuk membeli cincin pernikahan kami. Aku langsung meminta Andrew untuk mengantarkanku pulang dan tidak kembali lagi ke cafe. Aku lelah dan kesal. Aku menghempaskan tubuhku ke atas kasur.
Perkataan Marcus tadi berputar terus menerus dalam pikiranku. Seperti kaset kusut yang di putar berulang kali.
'Tidak, aku tak mengenalnya.'
"Argh." Aku menjerit frustasi dan menendang apapun yang ada di atas kasur. Semudah itu dia mengatakannya. Apa kenangan bersama denganku dahulu sangat tak berarti untuknya? Marcus brengsek! Sangat berengsek. Aku membencimu. Sangat-sangat-sangat membencimu!
Aku berteriak kesal dengan menenggelamkan seluruh wajahku ke bantal. Sengaja untuk meredam teriakan yang kukeluarkan. Napas memburu dan amarahku masih berkobar. Setelah airmata yang aku tumpahkan di toilet restoran tadi, kini yang tersisa hanya amarah. Aku membenci Marcus.
Pria licik itu, apa sebenarnya yang dia inginkan? Mengapa dia mempermainkanku seperti ini? Aku bukanlah boneka? Hatiku bukanlah mainan yang mudah dia lempar sangat tinggi dan dibanting dengan kencang. Ini hati bukan batu. Hatiku tak sekuat baja. Hatiku bisa pecah jika kau membantingnya sekuat ini Marcus. Dasar pria brengsek!
˙°♡♡♡°˙
Aku menghindari dan tak ingin berbicara dengan Marcus. Bahkan enggan melihat pria itu. Sama seperti saat makam malam semalam, aku sama sekali tak memperdulikan Marcus. Aku hanya mengajak ngobrol Andrew atau fokus pada makananku saja. Daripada menatap pria brengsek yang ada di hadapanku.
"Shelina, hari ini aku ada pertemuan di Bali. Sepertinya aku akan menginap di sana semalam dan besok kembali." Aku mengangguk pelan dan melanjutkan makanku.
"Aku harus segera berangkat." Andrew melirik jam tangannya dan segera bangkit berdiri.
"Kau baik-baik saja di rumah. Hubungi aku jika ada sesuatu yang terjadi." Aku mengangguk dan Andrew mengecup keningku.
__ADS_1
"Hati-hati." Andrew berjalan pergi dan aku segera menyudahi makanku. Aku juga harus segera brangkat.
"Shelina." Kakiku berhenti mendengar panggilan Marcus. Teringat kembali apa yang Marcus ucapkan kemarin. Amarah menyelimutiku dan aku kembali berjalan tanpa menoleh ke belakang.
˙°♡♡♡°˙
Aku baru saja selesai berendam air hangat di bathtub. Tubuhku terasa segar dan semua letih menghilang. Aku mengikat kencang simpul kimono handuk-ku. Dan berjalan keluar dari kamar mandi. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 10. Aku sudah berendam selama dua jam. Lilin aroma terapi dan air hangat memang paling ampuh untuk menanangkan pikiran.
Aku teringat saat baru saja pulang dari cafe tadi. Aku berpapasan dengan Marcus yang sudah sangat rapi hendak pergi. Aku tak memperdulikan dan melewatinya begitu saja. Tapi saat aku berada di sampingnya, ia berkata bahwa dia tak akan pulang malam ini.
Dia pikir aku perduli. Entah dia mau pulang atau tidak, itu bukan urusanku. Mau dia menginap di hotel atau bermalam di tempat Siska, itu juga bukan masalah untukku. Memangnya aku perduli. Marcus pikir dia siapa. Marcus sendiri yang mengatakan dengan sadis bahwa dia tak mengenalku. Benar-benar menyebalkan. Marcus menyebalkan!
Aku dengan emosi mengacak-acak sprei dan selimut di ranjangku. Menendang dan mengerang frustasi hingga aku kelelahan. Lalu berbaring terlentang di atas kasur. Kenapa sulit sekali memahami pria itu?
Mataku menyorot jauh menatap atap kamar yang putih. Tiba-tiba semua gelap gulita. Tubuh kaku, mata mengerjap dan otakku bekerja dengan cepat. MATI LAMPU!
Sial, aku benar-benar akan mengajukan protes pada Pemerintah karena sering mati lampu minggu ini. Apa yang harus kulakukan? Tenang, tak boleh panik. Tapi keringat dingin tetap saja muncul.
Cahaya. Aku harus mendapatkan cahaya sebelum kepanikkan menyerangku.
Tenang Shelina, tenang. Aku mensugesti diriku sendiri untuk tenang, walau itu percuma saja karena tubuhku sudah gemetar.
__ADS_1
Aku bangkit duduk di ranjang. Dalam kegelapan yang mencekam aku meraba tempat tidurku. Aku harus mencari ponselku. Dimana aku meletakkannya. Sial, aku benci kegelapan. Tubuhku mulai panik. Aku mengerang frustasi karena tak bisa melihat apapun. Semua gelap. Tanganku meraba, seingatku, aku melempar ponsel ke atas kasur.
Dimana aku meletakkannya? Aku kembali mengerang dengan tubuh yang bergetar semakin kuat. Tubuhku lemas dan airmata mulai mengalir. Udara dingin yang berhembus membuatku bergidik takut. Bulu romaku berdiri dengan cepat. Aku menekuk lututku dan memeluknya. Bayang-bayang monster kegelapan itu mulai muncul. Mataku bergerak gelisah. Menatap dengan takut setiap sudut gelap. Bayangan itu mulai membesar dan membuatku semakin meringkuk ketakutan. Aku menenggelamkan kepala di atas tanganku yang memeluk kedua lulut.
Tolong aku. Siapa saja tolong aku? Aku takut. Sangat takut hingga ini mencekikku.
Tubuhku bergetar hebat dan airmata mengalir dengan deras. Siapa yang akan datang menolongku? Mansion ini kosong. Mbok Sari tengah pulang kampung. Andrew tak pulang karena rapat di Bali dan Marcus tengah pergi bersenang-senang.
Aku semakin meringkuk ketakutan. Sampai kapan siksaan ini menyiksaku. Dan aku benci kesadaranku yang begitu kuat saat ini. Aku lebih memilih pingsan dari pada tersiksa begini.
Suara derap langkah kaki seseorang membuatku waspada memasang telinga. Derap langkah yang semakin mendekat ke arah kamarku. Dalam keheningan yang mencekam ini, aku bisa mendengar suara sekecil apapun. Napasku memburu. Keringat dingin semakin mengucur keluar.
Siapa itu? Apa itu orang jahat? Mungkinkah itu Andrew? Atau Marcus? Aku menggeleng pelan sebelum mataku membesar sempurna. Mungkinkah itu Jonathan yang hendak menyiksaku? Tubuhku semakin bergetar, detak jantung berdetak dengan cepat hingga terdengar tiap denyutnya di telingaku.
Dobrakan dan gedoran di pintu kamar membuat badanku berdenyit kaget. Mataku menatap pintu kamar dengan ketakutan yang teramat menyiksa. Ada cahaya yang terlihat dari celah di bawah pintu. Jantungku terasa berhenti sedetik sebelum berdetak dengan cepat hingga menimbulkan sakit.
Gedoran itu tak berhenti malah semakin kencang.
"Shelina!"
Aku terpaku. Orang yang dibalik pintu kamar memanggil namaku.
__ADS_1
________
Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih