Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 27. Bangun Kesiangan?


__ADS_3

Andrew? Aku menatap mata Marcus yang masih berada di atasku. Pria itu hanya diam dan menatapku. Seakan menantikan apa yang akan aku lakukan dengan panggilan telpon Andrew ini.


Dengan jari gemetar aku menerima dan mulai berbicara.


"Ha—hallo." Suaraku gemetar, aku tak bisa menutupi ketakutanku saat ini.


"Shelina, kau baik-baik saja? Ada apa dengan suaramu?" Suara Andrew terdengar khawatir. Aku menatap Marcus. Pria itu hanya diam membisu.


"Aku baik-baik saja. Suaraku serak karena baru bangun tidur." Ada kegelisahan dan rasa tak nyaman saat aku mengatakan kebohongan pada Andrew.


"Syukurlah kau baik-baik saja. Aku mengkhawatirkanmu. Kudengar mati lampu sekarang, itu sebabnya aku menghubungimu saat ini." Aku diam dan mendengarkan Andrew. Pria yang berada di atasku menatap tajam.


Lagi, tubuhnya sudah membesar dan membuatku sesak. Apa yang salah dengan pria brengsek ini? Apa dia tak menyadari situasi darurat ini? Dia malah bereaksi setengang itu di bawah sana? SIALAN!


"Shelina." Suara Andrew mengalihkan perhatianku dari Marcus.


"Aku baik-baik saja, tak perlu khawatir."


"Kau yakin?"


"Ya—ah~" Dasar pria brengsek! Mengapa Marcus bergerak? Apa dia sedang menggoda dan mempermainkanku? Apa dia ingin Andrew mengetahui apa yang terjadi saat ini? Dan sialnya, aku sulit menahan suaraku. Tangan kiriku mendorong pundak Marcus untuk menghentikannya. Dan sialnya, dia malah bergerak semakin cepat dalam tubuhku.


"Jangan khawatir, ada Marcus di sini. Dia menemaniku agar aku tak takut."


"Baguslah jika begitu."


"Ya, tidurlah, ini sudah malam." Setelah itu tanpa basa-basi lagi aku menutup panggilan Andrew. Dan meletakkan ponselku asal. Lalu dengan cepat memukul pundak Marcus yang masih sibuk bergerak.


"Sialan! Brengsek! Apa kau sudah gila?!" Teriakku marah. Namun Marcus seakan tak terpengaruh dan semakin bergerak cepat. Dia bahkan menahan kedua tanganku dan mencium dengan brutal. Aku kembali terbutakan oleh gairah dan memeluk erat pinggang Marcus dengan kakiku.

__ADS_1


"Kau tau dengan pasti bahwa aku tak akan puas hanya dengan satu ronde." Bisik Marcus dengan suara seraknya. Dan kami kembali mengila dalam luapan gairah yang tinggi. Seperti pengantin baru yang baru saja mencicipi indahnya malam pertama. Menginginkan lagi dan lagi hingga kelelahan menghentikan aksi gila kami. Dan tertidur dengan sangat nyenyak.


***


Pagi harinya aku terbangun dalam keadaan letih yang luar biasa. Seakan seluruh tulang dicabut dari tubuhku. Seperti habis berlari beribu-ribu kilometer. Dan saat menyadari kehadiran Marcus di ranjangku, aku berteriak. Seperti gadis yang baru saja kehilangan keperawanannya.


Teriakkanku mengembalikan semua kewarasan. Aku ingat semua hal yang terjadi bahkan setiap detiknya. Dan saat itu perasaan bersalahku muncul begitu besar.


Apa yang semalam aku lakukan dengan Marcus? Dia memang mantan kekasihku tapi tak sepantasnya kami bercinta karena dia putra tunanganku. Seluruh pangkal paha dan organ intimku penuh dengan cairan Marcus. Aku benar-benar sudah gila.


Setelah mandi, aku langsung ke dapur untuk membuat makanan. Bukan sarapan, karena matahari sudah sangat tinggi saat ini. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh. Tentu saja, aku telat ke cafe. Aku tak memperdulikan Marcus. Pria itu masih tidur di kamarku. Aku tak mau membangunkannya. Bukan karena tak tega, tapi aku terlalu malu dan enggan untuk menatap mata hitamnya.


Aku membalik telur yang tengah kugoreng saat sebuah suara datang dari belakangku. Jantungku berdegup kencang. Apa itu Marcus? Langkah kakinya semakin mendekat. Dan kini berdiri di belakang tubuhku. Dua tangan menyelip dan memelukku erat. Aku menunduk dan melihat dua lengan yang tertutupi jas tengah mengeratkan pelukan di atas perutku. Wangi tubuh ini? Andrew?


Jantungku berdegup semakin kencang. Aku tak sanggup berbalik dan menatap wajah pria yang ada di belakangku. Aku tak sanggup menatapnya.


"Kenapa?" Aku mengigit bibir bawahku. Bagaimana aku harus menjawabnya? Aku yakin jika berbohong satu kali maka akan berbohong terus menerus untuk menutupinya.


"Aku bangun kesiangan." Dengan cepat Andrew membalik tubuhku. Aku menunduk. Aku tak sanggup menatap wajahnya apalagi mata hitam Andrew. Aku sepenuhnya sadar sekarang, aku bersalah dan tak seharusnya berhubungan dengan Marcus semalam. Aku akan menikah dengan Andrew sebentar lagi, tapi aku malah menghianatinya, bercinta dengan putranya sendiri. Masih pantaskah aku menunjukkan wajahku padanya.


Ya Tuhan, mengapa aku bisa begitu bodoh? Dan tergoda dengan belaian dan bujuk rayu Marcus? Mengapa aku kehilangan kendaliku semalam? Apa yang salah pada diriku? Aku sudah mengatakan dan bertekad untuk menikah dengan Andrew. Pria ini terlalu baik untuk aku sakiti dan khianati.


"Ada apa? Mengapa kau bangun sesiang ini? Apa ada yang terjadi semalam?" Jantungku berdegup sangat kencang hingga terasa sakit. Haruskah aku berbohong. Tapi aku tak mungkin jujur dan membuatnya kecewa.


"Se—semalam aku dan Marcus...." keringat dingin sudah membanjiri tubuhku. Aku terdiam sebentar dan menarik napas panjang sebelum mengatakannya. Aku tak pernah berbohong pada Andrew. Apa aku harus jujur?


Tidak, tidak. Aku tak bisa mengatakannya. Aku menggeleng pelan. Aku tak mungkin mengatakannya pada Andrew.


"Kau dan Marcus semalam, apa?"

__ADS_1


"Kami ... begadang sepanjang malam ...."


"Untuk?" Andrew menyentuh dagu dan mendongakkan wajahku untuk menatapnya.


"Untuk bermain game." Akhirnya aku mengatakan itu. Aku tak berbohong, kami memang begadang sepanjang malam bermain game— game mama papa kuda-kudaan.


Kening Andrew mengerut dalam. Dan aku kembali menjelaskan ditambah sedikit bumbu kebohongan.


"Karena semalam mati lampu, jadi kami bermain monopoli bersama hingga pagi."


"Jadi, itu sebabnya kau bangun kesiangan dan tak pergi bekerja ke cafe." Aku mengangguk dan Andrew ikut mengangguk mengerti.


"Aku senang kau bisa dekat dengan putraku. Tapi, aku tak suka jika kalian terlalu dekat." Keningku mengerut tak mengerti.


"Karena aku bisa cemburu melihat kedekatan kalian." Jari Andrew menjepit hidungku. Dan aku hanya bisa mendengus dan mengerecutkan bibirku.


"Aku ke kamar dulu lalu kita akan makan bersama." Aku mengangguk dan Andrew berjalan pergi. Aku mengamati punggung lebar Andrew yang menjauh.


Maafkan aku. Maaf sudah menghianati dan bercinta dengan Marcus di belakangmu.


Marcus!


Mataku membesar sempurna. Dan dengan cepat berlari mengejar Andrew. Bagaimana aku bisa lupa jika Marcus masih dalam keadaan telanjang di atas ranjang kamarku? Dan sialnya aku lupa pintu kamarku rusak karena didobrak Marcus, sama seperti diriku yang dibobol dengan sangat keras olehnya semalam. Bagaimana jika Andrew melihat Marcus? Sial! Aku harus mengejar Andrew.


Aku berlari dan menatap Andrew yang sudah berdiri di tangga teratas. Sial, aku harus cepat. Aku menaiki dua anak tangga sekaligus.


_____________


Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2