Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 12. Mencurigakan


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan di sini, Marcus?" Aku mengulangi perkataanku karena Marcus bersikap tak memperdulikanku.


"Aku hanya ingin menikmati secangkir kopi di sini."


"Kau masih sakit Marcus. Jadi tak bisa meminum kopi."


"Aku sudah sembuh. Lagipula demam seperti itu tak akan membuatku menjadi pria lemah."


Aku mendengus tak percaya. Siapa pria yang semalam memintaku untuk tetap tinggal di dalam kamarnya.


Tanganku dengan lancang menyentuh kening Marcus. Hanya sedetik dan Marcus langsung menepis tanganku.


"Apa yang kau lakukan?!" Suara Marcus cukup tinggi dengan tatapan tajam ke arahku. Aku hanya mengangkat bahu tak acuh.


"Sepertinya kau memang sudah sembuh. Terlihat jelas karena kau sudah bisa marah-marah lagi. Tapi mengapa kau datang kemari?"


"Sudah kubilang aku ingin meminum kopi." Marcus membuang wajahnya ke arah jendela. Aku semakin menatapnya curiga.


"Iya, aku tahu. Tapi mengapa di Cafe-ku? Kau bisa pergi ke tempat lain."


"Ada apa Shelina?" Evelyn sudah berdiri di sampingku.


"Tidak. Tak apa." Aku tak mau mengatakan bahwa Marcus sangat menyebalkan. Bisa-bisa Evelyn langsung mengamuk dan menghajar Marcus.


"Aku hanya ingin mencicipi kopi buatan wanita jalang sepertimu. Mungkin rasanya bisa membuatku bergairah." Aku melotot tak pecaya mendengar ucapan marcus. Pria ini benar-benar cari mati.


"Apa! Ya! Kau!" Aku langsung menahan Evelyn yang ingin mengamuk.


"Jika kau hanya ingin menghina dan mengejekku lebih baik kau pergi, Marcus. Atau kau memang sengaja mencari ribut di sini."


"Kau tidak bisa mengusirku. Aku tamu di sini. Dan tamu adalah raja. Apa kau lupa prinsip berbisnis itu?"


Aku mengepalkan tanganku erat. Aku benar-benar benci mengakui hal itu. Oh Tuhan, lebih baik pria itu sakit saja daripada sehat namun sangat menyebalkan seperti ini.


Aku berjalan ke belakang sambil menyeret Evelyn. Gadis itu mengeraskan rahangnya dan langsung mengeluarkan sumpah serapahnya ketika sampai di dapur.


"Pria arogan dan brengsek itu. Aishh, bagaimana bisa kau jatuh cinta setengah mati dengan pria itu di masa lalu?"


"Karena cinta itu buta atau dulu aku memang sedang tak waras," jawabku dengan napas yang memburu sama seperti Evelyn yang sedang menahan amarah.


"Kau harus memasukkan sianida ke dalam kopinya, Shelina."


"Dan membuat Andrew membatalkan pernikahan kami dan membenciku, begitu?"


"Tidak, Evelyn. Aku harus menikah dengan Andrew ingat."

__ADS_1


"Ya ya ya, terserah kau sajalah. Tapi ingat, jika dia sampai melayangkan tangannya atau menyiksa fisikmu sedikit saja. Dia akan habis di tanganku."


"Oh ya? Aku masih ingat, ada seorang gadis yang memuji Marcus saat pria itu datang."


"Eh itu... aku tidak tahu jika orang itu adalah Marcus si pria brengsek." Aku mengabaikan Evelyn dan mulai meracik kopi untuk Marcus.


Tak berapa lama aku sudah menghampiri meja Marcus dengan sebuah nampan yang berisi cangkir kopi. Aku meletakkan kopi itu di hadapan Marcus.


"Silakan diminum," ucapku dengan suara ketus dan wajah tak suka. Aku hendak berbalik ketika tangannya memegang pergelangan tanganku. Aku menatap Marcus tajam juga melepaskan tanganku dan tetap berdiri di samping pria itu menanti maksud dari tindakannya barusan.


"Duduk." Dagu Marcus terarah ke kursi di hadapannya.


Great! Sekarang dia mulai memerintahku.


"Aku sibuk dan hanya punya sedikit waktu untuk berbicara denganmu." Aku duduk di hadapan Marcus. Namun pria menyebalkan itu malah membuang wajahnya ke jendela. Dia tak memperdulikanku. Benar-benar.


Tanganku mengepal dan menggenggam erat nampan. Aku hendak bangkit ketika Marcus mulai berbicara.


"Jam berapa kau pulang?" Aku mendengus tak percaya dan menelisik wajah Marcus. Namun pria itu tetap tak ingin menatapku.


"Seolah kau perduli," jawabku ketus dan tak menutupi ketidaksukaan terhadap pertanyaannya.


"Jangan memancing perdebatan denganku, Shelina." Maya tajam Marcus akhirnya menatap ke arahku.


"Karena aku akan menjemputmu."


"Men— apa?!" Apa pendengaranku sedang bermasalah saat ini? Marcus bilang apa? Dia men ... men- apa?


"Menjemputmu."


Mataku melotot besar dan menatap Marcus layaknya seorang alien yang jatuh tepat di depanku. Dia sungguh Marcus, bukan? Dia pria yang semalam sakit itu? Dia masih putra Andrew?


Mataku menelisik wajah dan tubuh Marcus. Benar, dia Marcus putra Andrew lalu mengapa ia mengatakan hal aneh itu? Seakan ada yang salah dengan otaknya. Tanganku terulur menyentuh keningnya lagi. Namun sedetik kemudian Marcus langsung menghindariku.


"Sepertinya kau masih sakit." Marcus menghembuskan napas panjang dan menyandarkan pundaknya di sandaran kursi.


"Jika aku masih sakit bagaimana aku bisa menyetir mobil sampai ke sini?"


"Lalu, mengapa kau tiba-tiba ingin menjemputku?"


"Menurutmu?"


Keningku mengerut, bukannya menjawab pria itu malah membalikkan pertanyaan itu kepadaku. Tentu saja aku tidak tau jawabannya. Dia pikir aku peramal yang bisa tau isi pikirannya. Aku mendengus kesal.


"Andrew sedang pergi keluar negeri. Dan dia memintaku untuk menjagamu. Jika bukan karena ancaman akan memblokir kartu atm-ku, aku juga tak mau melakukannya."

__ADS_1


"Benarkah? Mengapa aku merasa ada alasan lain?" Mataku memincing ke arah Marcus. Berharap aku bisa menemukan sesuatu yang tengah disembunyikannya saat ini. Pria di depanku ini adalah pria brengsek yang selalu saja menghina dan mengataiku. Dia sangat membenciku. Jelas saja aku harus mencurigainya jika Marcus tiba-tiba bersikap baik kepadaku.


"Alasan lain apanya! Dengar ya, kau itu calon istri Andrew, ayahku. Walau aku tak ingin mengakuinya tapi sikap dan prilakumu pasti akan berimbas pada nama baik keluargaku. Dan aku tak mau kau melacur dan berkeliaran di club malam. Jadi, jangan pergi ke club malam, mabuk-mabukkan dan menginap di hotel ataupun mencari pria hidung belang. Pulang nanti, aku akan menjemputmu."


Aku terdiam melongo. Ini benar Marcus? Pria yang baru saja berbicara panjang lebar denganku benar-benar Marcus yang kemarin bertengkar denganku di bandara itu?


Marcus mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela. Aku menegakkan bahu dan menarik napas dalam. Aku yakin dia tengah merencanakan sesuatu. Jadi lebih baik aku menghindarinya saja. Lagipula aku tak ingin insiden ciuman seperti semalam terulang lagi. Aku tak yakin dengan kekebalan tubuhku akan pesona Marcus. Apalagi jika dia mulai menyentuh tubuhku. Bisa mengelapak tak berdaya aku dibawahnya. Jujur hanya Marcus satu-satunya pria 'terbaik' dalam hidupku. Sedikit saja sentuhannya di tubuhku, aku sudah melayang dan basah. Jadi, aku harus menghindari kemungkinan-kemungkinan itu terjadi.


"Jadi, sekarang kau bertingkah layaknya anak yang berbakti kepada orang tua." Marcus hanya diam tak menanggapi ucapanku.


"Kau tak perlu melakukan itu. Aku bisa pulang sendiri."


"Sudah kubilang aku tak ingin kau merusak nama baik ayahku."


"Kau tak perlu mengkhawatirkan itu. Karena aku sudah lama tak pergi ke club malam."


"Benarkah?" Alosnya naik sebelah dan menatapku tajam.


"Ya."


"Pantas saja." Dia mengatakan itu setelah menghembuskan napas lega.


"Apa maksudmu pantas saja?" Cecarku sewot.


"Aku tak menerima penolakan, jadi aku akan menjemputmu pulang nanti."


"Aku tak akan memberi tahu kapan aku akan pulang." Aku bersikeras tak mau pulang bersamanya nanti.


"Aku akan menunggumu di sini."


"Sebenarnya apa yang kau inginkan Marcus?" Aku kesal dibuatnya.


"Berhentilah protes. Suara cemprengmu itu sangat menganggu telingaku. Bukankah kau sendiri yang menginginkan hubungan baik denganku. Jadi, jangan membuat aku marah dan bersikap ketus kepadamu."


"Terserah kau sajalah. Aku harus kembali bekerja." Aku menatap Marcus lagi. Namun lagi-lagi pria itu tak mengacuhkanku dan menatap ke luar jendela.


Aku menghembuskan napas panjang. Aku tak tahu apa yang sedang dia rencanakan. Tapi sepertinya lebih baik dia bersikap baik daripada ketus dan marah-marah seperti kemarin. Aku berbalik dan berjalan ke arah dapur, baru beberapa langkah aku kembali mendengar suara Marcus.


"Ternyata kau masih mengingat takaran kopi-ku. Setengah sendok makan gula dan dua sendok teh Caramel."


Aku membeku. Aku tak menyadari hal itu. Aku hanya membuatkan kopi dan tak sadar jika membuatnya seperti kopi yang selalu Marcus sukai. Ternyata aku masih mengingat hal kecil seperti itu. Aku pasti terlihat seperti gadis yang gagal move-on darinya.


_____________


Hai semua, mohon dukungannya ya. Tolong Like, berikan Comment dan Vote cerita ini ya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2