Mantanku, Putra Tunanganku

Mantanku, Putra Tunanganku
Bab 22. Sama seperti evelyn?


__ADS_3

Setelah beberapa menit pintu kamar mandi diketuk dari luar.


"Shelina, apa kau sudah selesai. Ayo berangkat." Aku menatap diriku di kaca kecil di dinding kamar mandi lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Semoga saja Marcus juga Evelyn tak menyadari mataku yang sedikit memerah. Aku keluar dari kamar mandi dan menampikan senyum lebarku seakan semua baik-baik saja.


"Ayo brangkat, aku sudah lapar."


Setengah jam kemudian kami sudah duduk di dalam restoran dan menunggu pesanan datang. Evelyn duduk disamping Angel dan aku duduk disamping Marcus. Angel sangat antusias dan senang. Sejak tadi dia terus tersenyum dan menatap ke sekeiling restoran.


"Kau sagat senang sekali bisa makan di restoran ini, Angel." Angel mengangguk cepat.


"Iya, om. Ini pertama kalinya mama dan tante mengajakku makan di tempat bagus seperti ini."


"Bukan mama dan tante yang mengajakmu tapi Om. Bahkan Om yang membayar semua pesanan nanti." Aku dan Evelyn hanya mengehela napas pelan mendengar ucapan sombong Marcus.


"Bilang apa pada om Marcus yang mau mengajak Angel makan disini." Evelyn mengajari Angel dengan sangat baik.


"Makasih om." Aku khawatir bibir Angel akan sakit karena tersenyum begitu lebar hingga giginya terlihat.


"Iya sayang." Marcus mencubit gemas pipi Angel membuat aku tersenyum. Sejak dulu Marcus memang menyukai anak kecil.


"Memangnya mama tak pernah mengajakmu makan di tempat bagus seperti ini?" Angel menggeleng pelan dengan tatapan sedihnya.


"Tidak, aku selalu makan masakan mama di rumah. Jika mama atau tante mengajak makan di luar, kami pasti hanya makan di tenda pinggir jalan." Marcus menatap Evelyn dan juga ke arahku. Lalu mengalihkan kembali tatapannya kepada Angel dengan senyuman lebar.


"Kalau begitu Om akan sering mengajak Angel untuk makan di luar."


"Benarkah, Om? Janji ya." Angel menjulurkan jari keingkingnya. Marcus tertawa kecil dan menautkan jari kelingkingnya dengan milik Angel.

__ADS_1


"Iya." Lagi-lagi aku tersenyum lebar melihat interaksi itu. Bahkan Evelyn hanya terdiam dan tak mengeluarkan kalimat-kalimat pedas yang selalu dia ucapkan untuk Marcus.


Sepertinya, dia takjub dengan sisi Marcus yang satu ini. Tak berapa lama pelayan datang mengantarkan pesanan kami. Dan Angel berteriak senang mau memakan steak. Makan malam ini penuh canda dan tawa dengan suara dan kelucuan Angel.


Saat perjalanan pulang sesudah mengantar Evelyn dan Angel ke rumah susunnya. Marcus berkata,


"Aku tau ini bukanlah urusanku. Tapi hal ini menganggu pikiranku."


Aku menoleh ke arah Marcus. Pria itu masih fokus menyetir.


"Dimana ayah Angel? Kalian sama sekali tak membahasnya dan aku sama sekali tak menemukan foto pria itu di rumah Evelyn." Marcus menoleh sekilas ke arahku. Aku menghela napas panjang dan menatap ke arah jalanan di depan.


"Evelyn hamil diluar nikah. Kekasihnya pergi meninggalkan dia begitu saja setelah tahu Evelyn hamil. Pria tak bertanggung jawab itu tak perduli dan menghilang." Aku menarik napas sejenak sebelum melanjutkan ucapanku. Entah mengapa aku mau menceritakan kisah sedih Evelyn pada Marcus. Mungkin karena aku tahu bahwa Marcus sangat peduli dan menyayangi Angel. Walau pria itu baru bertemu dengan Angel beberapa jam yang lalu.


"Evelyn sangat terpukul dan sedih saat itu. Dia sempat mau menggugurkan kandungannya. Evelyn bahkan sudah mendaftarkan diri ke rumah sakit untuk menggugurkan janin itu, namun akhirnya dia tak sanggup membunuh darah dagingnya yang sama sekali tak bersalah. Dia bahkan bertahan walau harus diusir dari rumah oleh kedua orang tuanya. Menjadi single parent dan mencari uang dengan bermodalkan ijazah sekolah menengah pertama. Kau tau betapa beratnya itu. Hingga akhirnya karena tuntutan ekonomi dia menjadi pelacur di club malam. Dan meninggalkan Angel tidur sendirian tiap malam."


"Aku juga bertekad jika bisa membuka cafe sendiri, aku akan meminta Evelyn berhenti menjajakan tubuhnya dan bekerja di cafeku. Walau hasilnya lebih sedikit tapi setidaknya bukanlah hasil dari melacur."


"Apa kau juga sama seperti Evelyn?"


"Ya?" Aku menoleh cepat ke arah Marcus. Dan mendapati pria itu yang menatapku begitu intens. Mobilnya kini sudah berhenti tepat di depan mansion.


"Apa kau juga terpaksa menjajakan tubuhmu karena tuntutan ekonomi?" Tangan kanan Marcus membelai pipi kiriku. Aku terdiam terpaku. Hanya bisa menatap lekat ke arah mata hitamnya. Lidahku begitu kelu dan suaraku sangat sulit dikeluarkan. Belaian jemarinya membuaiku.


Perlahan wajah Marcus mendekat. Semakin dekat hingga hembusan napasmya menerpa wajahku. Matanya terpejam sebelum bibirnya menyentuhku. Marcus menciumku. Seakan terhipnotis aku pun menutup mata dan membalas lumatan Marcus. **** dan mencecap rasa dari bibir tebalnya.


Tangan kanan Marcus mendorong tengkukku dan tangan kirinya menyentuh pinggangku agar semakin mendekat dan tak melepaskan ciuman kami. Kedua tanganku bahkan bergerak melingkari leher Marcus. Aku semakin antusias membalas cumbuannya. Bibir tebal yang selalu menjadi candu dan rinduku.

__ADS_1


Setelah beberapa menit kami menghentikan ciuman ini. Napasku memburu memasukkan banyak udara ke dalam paru-paruku yang sejak tadi kekurangan oksigen. Wajah Marcus masih dekat denganku bahkan dia menempelkan keningnya denganku. Bibirnya tersenyum dan jemarinya menyentuh daguku lalu mengecup bibirku sekali sebelum menjauhkan wajahnya. Tangannya yang masih menempel di wajahku perlahan mengusap sudut bibirku menggunakan jempolnya.


"Ayo masuk, ini sudah sangat malam." Marcus membuka pintu mobil dan keluar. Aku butuh sepuluh detik untuk sadar sepenuhnya dan bergegas keluar dari mobil.


Marcus berdiri menungguku di depan pintu mansion. Kami masuk ke mansion bersama-sama. Bibirku sejak tadi tersenyum dengan wajah yang memanas. Namun baru beberapa langkah berjalan, kami berhenti. Tak jauh dari kami berdiri seorang pria yang berjalan mondar mandir dengan gelisah. Lalu terhenti ketika menyadari kehadiranku juga Marcus.


Ketika mataku bertumpu pada mata hitam pria itu, jantungku berdetak dengan cepat. Pria yang mengenakan kemeja biru dengan rambut yang berantakan membuat ia semakin tampan. Pria itu bergegas menghampiriku dengan langkah yang lebar. Mungkin dia berlari karena sedetik kemudian tubuhku sudah dalam pelukannya.


"Aku sangat menghawatirkanmu. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu." Pelukannya begitu erat hingga membuatku sesak. Namun aku tak memberontak setelah mendengar nada frustasi dalam suaranya. Sudut mataku menangkap mata Marcus yang membesar dan terpaku ke arah kami.


"Shelina, kau dari mana? Mengapa ponselmu tak bisa dihubungi? Aku benar-benar menghawatirkanmu."


Pria dihadapanku adalah Andrew. Dia menodongku dengan banyak pertanyaan setelah melepaskan pelukan eratnya. Kedua tangannya menangkup pipiku.


"Aku baru pulang dari rumah Evelyn. Ponselku mati." Walaupun aku sudah mengatakannya tapi masih ada kecemasan dalam sorot mata Andrew.


"Tak biasanya kau pulang larut malam begini dari rumah Evelyn."


"Iya, maaf. Aku mengobrol terlalu seru dengan Evelyn dan Angel hingga lupa waktu. Tapi, mengapa kau sudah pulang? Bukankah kau baru pulang besok."


"Pekerjaanku di jepang sudah selesai dan kerjasamanya juga lancar. Lagipula aku sangat merindukanmu, jadi aku langsung pulang ketika urusanku sudah selesai."


Aku tersenyum menanggapi kalimat Andrew. Dari sudut mataku aku melihat wajah Marcus yang tertunduk lesu, dia berbalik dan pergi meninggalkan kami.


Mengapa dia bersikap seolah dia tak menyukai kepulangan Andrew? Dan apa yang dipikirkannya hingga menunjukkan raut sedih seperti itu?


________

__ADS_1


Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih


__ADS_2