
Aku berjalan mondar-mandir di depan pintu UGD. Sudah satu jam berlalu namun operasi belum juga selesai. Bagaimana keadaan Andrew saat ini? Mengapa dokter sangat lama sekali menanganinya?
"Tenanglah, Shelina." Marcus yang duduk di kursi tunggu menegurku.
"Aku tak bisa tenang Marcus. Bagaimana jika hal buruk terjadi? Bagaimana jika Andrew kehabisan darah dan tak bisa—" Marcus bangkit dan memegang kedua pundakku.
"Tenanglah, tak akan terjadi hal buruk apapun. Andrew pasti selamat."
"Tapi, bagaimana jika...."
"Ssst, aku mengerti ketakutanmu. Semua akan baik-baik saja. Percaya padaku."
Aku menatap mata hitamnya lekat. Aku takut dan gelisah. Takut hal buruk akan menimpa Andrew. Aku pasti akan menyalahkan diriku sendiri jika hal itu terjadi. Karena diriku Andrew terluka. Karena ingin menyelamatkanku Andrew tertembak.
Seakan mengerti kerapuhan yang aku alami, Marcus menarikku kedalam pelukannya. Belaian tangan Marcus di punggung memberikan ketenangan.
Suara pintu yang terbuka membuat aku menoleh dan melepaskan pelukan Marcus. Seorang dokter keluar dari ruangan itu. Aku menghampirinya dengan cepat.
"Operasinya berjalan lancar. Pasien selamat dan akan di pindahkan ke ruang inap. Untuk sementara kita harus menunggu pasien sadar." Aku menghembuskan napas lega. Beban di pundakku luruh dan aku mengucapkan kata syukur berulang kali. Aku menoleh ke arah Marcus dan tersenyum. Pria itu juga terlihat lega dan membalas senyumanku.
˙°♡♡♡°˙
Sudah dua hari setelah insiden penyelamatanku. Sampai saat ini Andrew belum sadar. Aku khawatir akan keadaan Andrew yang belum juga bangun. Tapi dokter mengatakan operasi berjalan lancar. Dan memang Andrew butuh istrahat lebih banyak, juga meminta untuk menunggu lebih lama lagi.
Aiden sudah ditahan di kepolisian dengan tuduhan penculikan dan penembakan. Marcus juga menyeret Siska dalam kasus itu. Menghubungkan keterlibatan Aiden dan Siska. Juga karena gadis itu ikut bekerja sama dalam menerorku.
Kabar terbaru yang kudengar, Siska mengatakan dia tak terlibat sama sekali. Dia bahkan mengatakan tak berhubungan dengan Aiden. Tapi Marcus tak akan membiarkan gadis itu lolos begitu saja.
__ADS_1
Evelyn datang ketika Marcus mengabarkan bahwa aku telah selamat. Aku sangat berterimakasih pada gadis itu. Karena dia, Marcus dan Andrew bisa menemukan keberadaanku di rumah pribadi Aiden itu. Jika Evelyn tak melihat kejadian saat aku diculik dan tidak mencatat nomor plat mobil penculik maka akan sulit bagi Marcus dan Andrew menemukanku. Aku bersyukur akhirnya bisa selamat dan hanya tinggal menunggu Andrew sadar kembali.
Kini aku tengah duduk menunggu Andrew di ruang rawatnya. Memandang pria berumur empat puluh delapan tahun yang terlihat damai dalam tidurnya. Pria yang jauh terlihat lebih muda dari umurnya. Tak ada senyuman lembut di wajah tampannya. Dia hanya tertidur dan tak membuka matanya sedikitpun.
Suara pintu yang terbuka dan langkah kaki seseorang masuk ke dalam ruangan ini. Aku tak menoleh ke arah orang itu.
"Apa belum ada tanda-tanda dia akan sadar?" Orang yang aku yakini Marcus berdiri di belakangku. Aku menggeleng lemah untuk menjawab pertanyaannya.
"Kau pasti lelah, istirahatlah. Biar aku yang menunggunya." Marcus menyentuh pundakku. Namun aku tak bergeming dan tetap menatap wajah Andrew.
"Marc, aku.... aku akan menikah dengannya." Aku sudah memutuskan dan memikirkannya ribuan kali saat aku menunggui Andrew. Aku tak akan membatalkan pernikahan kami. Aku sudah menghubungi Leonardo untuk menunda pernikahan kami. Dan meminta sekretaris Andrew untuk memberi tahukan mengenai insiden ini kepada beberapa teman dan kolega perusahan yang kemarin sudah mendapatkan undangan.
Marcus menghembuskan napas panjang.
"Kita akan membicarakannya lagi setelah Andrew bangun."
"Shelina!" Marcus dengan cepat memutar pundakku untuk menghadap ke arahnya. Aku menatap wajahnya yang lelah namun mata Marcus memancarkan amarah.
"Kau tak bisa menikah dengan Andrew. Dia ayahku. Ayah dari pria yang kau cintai. Dan aku sangat mencintaimu. Kumohon jangan seperti ini. Kita masih bisa mencari cara lain." Marcus merendahkan nada suara di akhir ucapannya. Matanya memohon agar aku memikirkan keputusan ini lagi.
"Tidak, Marc. Aku akan menikah dengannya. Aku tak bisa meninggalkan ataupun mengecewakannya. Tidak, setelah apa yang terjadi padanya." Aku mengeraskan hatiku dan berpura-pura tak melihat luka dalam sorot mata Marcus.
"Apa kau akan menikah denganku jika yang berbaring saat ini adalah aku?" Tanya Marcus dengan nada tinggi.
"Tidak. Aku akan tetap menikah dengan Andrew walaupun kau yang terbaring di ranjang rumah sakit." Aku tau keputusan ini akan menyakiti marcus juga diriku sendiri. Tapi Andrew sudah banyak berkorban untukku.
"Shelina." Marcus menggusar rambutnya menunjukkan kefrustasian yang sedang dia alami.
__ADS_1
"Kumohon mengertilah, Marc. Kita tak ditakdirkan untuk bersama." Aku membalikkan tubuhku memunggungi Marcus. Airmataku menetes dan tak bisa kubendung lagi.
"Pulanglah, aku tau kau lelah mengurus kantor dan tuntutan atas Aiden. Aku akan menjaga Andrew." Tak ada jawaban apapun dari Marcus. Pria itu hanya diam di belakangku. Dia pasti masih menatapku. Dan aku terlalu takut untuk berbalik. Tak lama kemudian aku mendengar derap langkah yang menjauh dan pintu yang terbanting dengan kencang.
Aku yakin keputusanku ini pasti akan menyakiti hatinya. Tapi aku tak bisa meninggalkan Andrew. Tak bisa.
Seandainya aku bisa membatalkan pernikahan kami, aku tak yakin bisa bersama Marcus dan mendapat restu dari Andrew. Sejak dulu hingga sekarang sangat sulit bagi kami untuk bersatu. Seakan takdir menentang kebersamaan kami. Aku tidak putus asa atau menyerah untuk memperjuangkan cintaku dengan Marcus. Tapi karena aku berpikir lebih realistis.
Andrew, pria baik yang selalu membantuku. Pria yang hadir mengulurkan pertolongan disaat aku begitu terpuruk dan kotor. Betapa kejam dan jahatnya jika aku menyakiti dan menghianati Andrew . Aku tak bisa egois atau mementingkan keinginanku hingga menghancurkan hubungan ayah dan anak itu. Aku tak bisa melakukannya. Itu sebabnya aku memutuskan meneruskan pernikahanku dengan Andrew. Walau aku harus menyakiti hati Marcus dan menekan keras hatiku.
Airmataku menetes dengan deras. Aku menunduk dalam di samping ranjang Andrew.
Jemari Andrew bergerak. Aku terdiam. Lalu mengusap airmataku untuk melihat dengan jelas.
Lagi, jemari Andrew kembali bergerak. Aku menghapus airmata dari wajahku. Dan menatap wajah Andrew. Bulu matanya bergerak-gerak. Kelopak matanya mulai mengerjap pelan, sebelum terbuka sepenuhnya.
Akhinya Andrew sadar. Aku tersenyum lebar menyambutnya.
"S—Shelina." Aku menatap Andrew lekat.
"Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit?" Andrew hanya tersenyum lemah.
"Aku panggil dokter untuk memeriksa keadaanmu." Lalu aku pergi memanggil dokter. Aku benar-benar bersyukur Andrew akhirnya sadar. Dan dokter juga mengatakan penyembuhan Andrew jauh lebih cepat.
_____________
Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih
__ADS_1