
"Lalu bagaimana dengan Marcus? Dia tidak akan diam saja bukan. Apa dia akan melakukan hal nekad seperti menculikmu?"
"Sejak malam itu aku tidak bertemu lagi dengan Marcus. Dia pasti sangat marah dan kecewa padaku karena aku tetap memilih melanjutkan pernikahan ini. Dan dia tak akan bisa menculik ataupun mengajakku kawin lari. Karena Andrew menempatkan beberapa bodyguard di sekitarku. Dia tak ingin hal buruk terjadi lagi padaku. Jadi Marcus tak akan bisa menculikku."
"Sebaiknya kau pikirkan kembali Shelina. Pernikahan bukanlah suatu hal yang mudah. Aku tak ingin kau menyesal di kemudian hari. Jika kau menikah dengan Andrew sampai kapanpun kau tak akan pernah bisa bersatu dengan Marcus. Walau seandainya nanti kau bercerai dengan Andrew, kau tetap tak akan bisa menikah dengan Marcus. Aku tak ingin kau menyesal dikemudian hari Shelina. Kau sahabat sekaligus keluargaku satu-satunya, aku ingin kau bahagia." Aku tersenyum lebar ke arah Evelyn mencoba menenangkan kegelisahan dan kekhawatirannya.
"Aku pasti bahagia bersama Andrew." Sungguh hati dan otakku sangat bertolak belakang. Aku tersenyum tapi hatiku menangis. Mulutku memilih Andrew tapi hatiku ingin bersama Marcus.
Aku tak bisa menarik kembali keputusanku ini karena aku memang tak mampu. Namun di hatiku yang paling dalam aku ingin pernikahan ini batal dan bersatu dengan Marcus. Seandainya mempelai pria adalah Marcus, mungkin aku akan lebih antusias menyambut hari pernikahanku. Seandainya Marcus bertemu denganku lebih dulu, mungkin dialah yang akan menikah denganku. Dan seandainya kami tak mengalami kesalahpahaman itu, mungkin aku sudah menjadi istri Marcus saat ini. Namun semua itu hanyalah seandainya, karena kenyataannya Tuhan memberikanku jalan yang lain.
***
Malam ini aku tak bisa tidur. Mataku tak bisa terpejam sama sekali. Padahal besok aku harus bangun pagi dan tampil segar di hari pernikahanku. Namun semua masalah ini seakan terus menerus berputar di otakku. Memaksaku untuk tetap membuka mata. Aku bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah balkon. Semoga udara malam bisa menyejukkan dan menenangkan pikiranku.
Aku berjalan hingga ke pinggir balkon. Menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Disaat kedua kali menarik napas panjang, aku tercengang, ada sesuatu di bawah sana yang menarik perhatianku.
Apa itu? Seseorang? Berdiri di taman belakang di tengah malam seperti ini? Siapa itu? Apa yang dia lakukan?
Aku terus mengamati siluet punggung orang itu. Itu Marcus! Apa yang dia lakukan di sana?
__ADS_1
Tanpa sadar kakiku sudah berjalan keluar kamar. Bahkan bergerak cepat hingga hampir berlari menuju taman belakang mansion. Dan lima menit kemudian aku sudah berdiri di belakang Marcus.
Apa yang aku lakukan di sini? Mengapa aku kemari?
Aku masih mengatur napasku yang sedikit memburu. Marcus sama sekali tak bergeming dan tetap berdiri diam membelakangiku.
"Kenapa?" Marcus berbicara padaku tanpa membalik tubuhnya.
"Kenapa kau melakukan ini? Mengapa kau bersikeras untuk menikah dengan ayahku? Kenapa Shelina?!" Teriakkan Marcus di akhir ucapannya menyentak tubuhku.
Aku dapat merasakan kemarahan dari nada suaranya. Aku tak bisa mengeluarkan kata-kata untuk menjawabnya karena apapun ucapanku hanya akan melukai hatinya semakin dalam.
"Kau bilang kau mencintaiku. Kau bilang ingin bersama denganku. Tapi mengapa kau melakukan ini?" Marcus berbalik dengan cepat dan mencengram pundakku.
Tubuhku bergetar menerima amukan amarahnya. Mataku berkaca-kaca menatap wajah Marcus. Walau suasana taman belakang gelap namun cahaya rembulan masih bisa membantuku melihat wajah terluka Marcus yang penuh dengan air mata.
"Kenapa kau kembali masuk dalam hidupku, jika kau hanya ingin meninggalkanku lagi? Mengapa kau mengatakan semua kebenaran itu, jika pada akhirnya aku tak bisa bersamamu? Kenapa kau berkata kau masih mencintaiku jika kau tak bisa bersatu denganku? Mengapa kau memberikanku harapan jika pada akhirnya kau hanya ingin mengahancurkan hatiku? KENAPA SHELINA?!"
Wajah frustasi dan terluka Marcus sangat menyayat hati. Airmataku mengalir tak bisa aku tahan lagi. Begitu besar luka yang aku berikan padanya. Dan akupun merasakan itu. Aku ... aku ingin merengkuhnya. Memeluknya begitu erat dan mengatakan aku mencintaimu, teramat sangat mencintaimu hingga satu tetes airmatamu bagaikan puluhan hujaman pisau di jantungku.
__ADS_1
"Kumohon Shelina, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Berikan aku kesempatan untuk membayar semua kesedihan dan luka yang telah aku berikan padamu selama lima tahun ini. Izinkan aku menjadi pria baik yang menepati janjinya." Tangan Marcus terulur menyentuh pipiku. Mengusapnya untuk menghapus aliran airmataku.
"Aku mencintaimu, Shelina. Aku mencintaimu." Suara lirih penuh luka yang dia keluarkan membuat aku kesulitan bernapas. Jantungku diremas begitu kencang hingga hampir pecah karena sakit.
Mata hitamnya menatapku begitu lekat. Memohon padaku untuk memberikannya kesempatan sekali saja. Membujukku untuk membatalkan pernikahan ini dan kembali bersamanya.
"Haruskah aku bersujud padamu?" Ucapnya putus asa yang membuat mataku membesar tak percaya. Sedetik setelah kalimat itu terucap, Marcus sudah bersimpuh di hadapanku. Lututnya menekuk di tanah dan kepalanya mendongak menatapku. Tubuhku bergetar semakin kencang dan aku membekap mulutku yang ingin berteriak padanya untuk bangkit dan jangan pernah bersujud padaku, karena itu semua sia-sia.
"Kumohon kembalilah padaku?"
Airmataku mengalir dengan deras. Aku tak sanggup lagi menatap mata hitam penuh airmata itu. Aku menunduk dalam dan terisak kuat.
"Ma— maaf. Ma—maaf—kan a—aku, Marcus," ucapku di sela isak tangis. Tubuhku bergetar kuat seakan aku di sentrum oleh listrik jutaan volt. Aku kesulitan bernapas seperti ikan yang tergeletak di padang pasir yang tandus. Dan jantungku seakan dicabut dengan paksa hingga menimbulkan ruang kosong yang menganga besar di dadaku.
Oh Tuhan, mengapa cobaan ini sangat sulit sekali? Aku hanya mengharapkan sedikit kebahagiaan, tapi mengapa sangat sulit untuk meraihnya.
Marcus menunduk lesu. Kedua pundaknya turun dengan lemas. Aku tak ingin melihatnya serapuh ini. Aku tak mau.
Dengan gontai Marcus bangkit berdiri dan meninggalkanku begitu saja. Dan saat itulah aku jatuh terduduk di atas tanah. Kakiku lemas seakan telah kehilangan tulang yang menyangganya. Airmataku mengalir dengan deras seperti tanggul bendungan yang bocor. Dadaku sangat sesak seakan ada batu besar yang menindihnya hingga dia tak bisa bekerja dengan normal. Ada sebuah luka besar yang menganga di dalam hatiku. Sangat besar dan menimbulkan kekosongan. Luka yang tak berdarah namun sangat menyakitkan. Aku menangis kencang sendirian di tengah gelapnya taman belakang mansion.
__ADS_1
________
Aku masih baru di Novel toon jadi mohon dukungannya ya. Jangan lupa Vote, Like, Comment cerita ini. cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih