
"Apa maksudmu?!" Teriak Marcus marah. Astaga priaku ini selalu saja sulit menahan emosinya.
"Kau tak bisa menikahi Shelina sebelum mendapat restu dariku."
Aku tak menyangka Jonathan mengatakan itu.
"Aku tak butuh restu dari pria sepertimu."
"Marc," panggilku untuk memberikan tatapan tajam dan penuh peringatan pada Marcus. Lalu beralih menatap Jonathan.
"Ayah, aku..."
"Apa kau mencintainya? Apa kau ingin menjadi istrinya?" Aku mengangguk dua kali. Dan tanpa kusangka, Jonathan langsung memukul perut Marcus. Aku membulatkan mata dan Evelyn memekik kaget.
"Itu untukmu yang mengambil keperawanan putriku." Lalu Jonathan kembali memukul perut Marcus hingga ia terjatuh.
"Itu untuk kau yang sudah menyakiti hati putriku lima tahun yang lalu." Mendengar ucapan Jonathan membuat aku kembali berkaca-kaca. Kata putriku yang dia ucapkan membuat aku merasa sangat bahagia. Aku merasakan perlindungan dari seorang ayah yang membelaku.
"Dan ini untukmu yang sudah menghamili putriku." Sekali lagi Jonathan memukul perut Marcus. Lalu dia terdiam mengatur napasnya dan mengulurkan tangannya ke arah Marcus.
Marcus yang mengamati tangan Jonathan yang terulur hanya bisa terdiam. Lalu sedetik kemudian dia meraihnya.
"Aku merestuimu. Tapi ingat, jangan pernah sekalipun melukai ataupun membuat Shelina menangis. Cukup sudah aku membuatnya bersedih. Dan sekarang saatnya dia bahagia untuk selamanya." Jonathan menarik tangan Marcus, membantunya untuk kembali berdiri.
Aku tak bisa menahan airmataku melihat dua pria itu yang sangat berarti untukku.
"Maaf, apa pernikahan jadi dilaksanakan atau kembali batal?" Suara seorang biarawati menghentikan adegan haru yang terjadi di ruangan ini.
"Tentu saja jadi." Ucap Marcus cepat. Lalu dia menoleh ke arahku.
"Aku akan menunggumu di altar." Aku mengangguk. Marcus dan Andrew pun pergi.
"Shelina, riasanmu berantakan. Kemari, biar aku rapihkan."
"Lebih baik aku pergi."
"Ayah." Tanganku meraih lengan Jonathan. Dia berbalik ke arahku.
"Maukah kau mengantarku ke altar?"
Mata Jonathan membesar tak percaya.
"Shelina."
"Kumohon," ujarku sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.
Jonathan bergerak cepat memelukku.
"Ya, aku mau. Astaga, bagaimana aku tak tahu bahwa aku memiliki putri berhati malaikat sepertimu. Aku sudah menyakitimu tapi kau mau memaafkanku. Dan kau bahkan memintaku mengantarmu ke altar. Aku berjanji akan berubah menjadi ayah yang lebih baik untukmu."
__ADS_1
"Ya." Aku mengangguk dan memeluknya erat.
Deheman Evelyn membuat aku dan Jonathan melepaskan pelukan kami.
"Apa sekarang aku bisa memperbaiki riasan Shelina." Jonathan duduk di sebelahku. Membiarkan Evelyn memperbaiki riasanku.
˙°♡♡♡°˙
Ini kedua kalinya aku berdiri di depan pintu gereja. Tapi kali ini jauh berbeda dengan sebelumnya. Saat ini tak ada lagi keraguan di hatiku untuk membuka pintu besar ini. Aku hanya gugup dan jantung berdebar kencang. Antusias dan khawatir. Antusias ingin menjadi istri Marcus secepatnya dan khawatir aku akan melakukan hal bodoh yang membuatku malu.
Kali ini aku juga tak sendiri. Aku menoleh ke arah kananku. Seorang pria paruh baya yang mengenakan stelan tuxedo hitam. Aku tak pernah menyangka ayah bisa terlihat rapih dan sangat tampan seperti ini. Mungkin hal ini juga yang membuat ibu jatuh cinta padanya.
Jonathan menoleh dan tersenyum padaku.
"Kau gugup?"
"Sedikit."
"Tenanglah, kali ini aku berdiri di sampingmu." Hatiku menghangat mendengar ucapannya. Mungkinkah ini juga yang membuat ibu mencintai Jonathan dan tak mau meninggalkannya.
"Tarik napas panjang dan hembuskan perlahan. Yakinlah semua akan berjalan lancar." Aku melakukan apa yang dia ucapkan. Kegugupanku sedikit menghilang.
"Ayo." Dia menyodorkan lengannya untukku raih. Aku melingkarkan lengan kanan di tangannya.
"Tersenyumlah menuju kebahagiaanmu."
Marcus yang berdiri dengan gagah di altar. Dia mengenakan tuxedo hitam yang membungkus tubuhnya dengan pas. Tampan. Senyumannya menambah kadar ketampanan Marcus membuat aku semakin terpesona.
Inilah yang aku mimpikan sejak dulu. Menikah dengan pria yang aku cintai. Dulu aku memimpikan hal ini ketika Marcus melamarku lima tahun yang lalu. Aku sudah melupakan mimpi ini ketika kesalahpahaman itu terjadi tapi kini akhirnya semua terwujud. Akhirnya cinta pertamaku akan menjadi cinta terakhirku.
Aku tak ingin memejamkan mata karena takut bayang Marcus berubah. Aku tak ingin mengalihkan tatapanku karena takut dia berbalik dan meninggalkanku. Aku ingin berlari menghampirinya dan memeluknya erat. Dan mengatakan aku mencintaimu.
Jantungku berdetak dengan cepat. Mata Marcus hanya tertuju padaku. Seakan aku adalah wanita paling cantik yang pernah dilihatnya. Seperti aku adalah titik pusat dari hidupnya. Seolah aku malaikat yang baru saja datang untuknya.
Kini aku sudah berada di hadapannya. Jonathan menggenggam tanganku dan menyodorkannya pada Marcus.
"Jaga dia untukku."
Marcus mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dariku. Jantung berdegup semakin cepat ketika tangan Marcus menggenggamku. Dia menariku untuk berdiri di sampingnya.
"Kau sangat cantik. Aku seperti melihat melihat bidadari." Wajahku memanas ketika mendengar bisikan Marcus di telingaku.
Dan pendeta memulai proses pernikahan kami.
"Marcus Cho, Bersediakah kau menikah dengan Shelina Aston, hidup bersama dengan dia selamanya dalam susah, senang, sedih maupun bahagia dalam keadaan apapun di hidupmu?"
"Ya, aku bersedia." Jawab Marcus dengan cepat dan lugas.
"Shelina Aston, Bersediakah kamu menikah dengan Marcus Cho, hidup bersama dengan dia selamanya dalam susah, senang, sedih maupun bahagia dalam keadaan apapun di hidupmu?"
__ADS_1
Aku terdiam, tidak langsung menjawab pertanyaan pendeta itu seperti Marcus. Aku memejamkan mata sejenak dan berdoa. Berharap ini adalah pernikahan pertama dan terakhir yang aku alami. Dan berdoa agar kebahagian selalu mengelilingiku. Aku mmebuka mata dan menatap pendeta di hadapanku.
"Ya, aku bersedia."
Terdengar helaan napas lega dari sampingku. Mungkinkah dia tegang karena aku menjawab pertanyaan pendeta cukup lama.
"Dengan nama Tuhan, sekarang kalian sah menjadi suami istri. Dan kau boleh mencium mempelaimu."
Aku menghadap ke arah Marcus yang juga sudah berbalik ke arahku. Mata hitam gelapnya memandangku lekat. Lalu tangannya meraih pinggulnya. Wajahnya mendekatiku. Hembusan napas hangatnya menerpa wajahku. Aku memejamkan mata dan mulai kurasakan bibir Marcus menyentuhku. Membelai lembut bibirku dan mulai mengukumnya. Menyesal setiap rasa. Aku pun membalas ciuman Marcus. Mengulum dan mencumbunya dengan lembut. Lidahnya mendesak masuk ke dalam mulutku, bergerak mencari pasangannya dan melilit erat.
Rasa manis yang sangat aku rindukan. Nikmat dan memabukkan. Bibirnya seakan mengandung zat adiktif yang membuat aku candu. Menginginkannya tak hanya menyentuh bibirku tapi setiap inci dari tubuhku. Aku bahkan sudah basah hanya karena ciuman panasnya.
"Dasar pengantin baru. Sampai kapan kalian akan terus berciuman. Ada anak dibawah umur disini." Decakkan suara Andrew membuat aku menarik diri. Namun Marcus tak melepaskanku. Tangannya masih melingkar erat di pinggangku.
Dia seakan tak perduli Andrew menertawakan kami, juga tak perduli Evelyn yang mendengus kesal karena mata anaknya, Angel sudah ternoda oleh kami. Dan tak perduli tatapan tajam dari Jonathan, ayahku.
Kening kami saling menempel. Mata Marcus hanya tertuju padaku. Seakan dia begitu lapar dan ingin melahapnya hingga habis tak bersisa.
Dan tanpa kuduga Marcus langsung menggendongku ala bridal style. Dengan reflek tanganku melingkar di lehernya. Akso dadakannya membuat aku memekik.
"Apa yang kau lakukan, Marc?" Jonathan bertanya tatapan tak sukanya.
"Apa yang kau lakukan, Marc?" Jonathan bertanya tatapan tak sukanya.
"Aku akan membawa Shelina ke Hotel. Aku tak sabar lagi untuk memasukinya," jawab Marcus memicu amarah di pancaran mata Jonathan, membuat Andrew tertawa melihat aksi putranya dan Evelyn semakin berdecak tak percaya.
Tapo Marcus sealan tak perduli. Dia menatapku lekat dan menghiraukan tatapan apapun yang mereka layangkan. Mungkin baginya hanya ada aku di sini dan mereka semua tak penting. Atau mungkon dia tak menganggap keberadaan mereka ada di sini. Aku tersenyum dengan pemikiranku itu. Tapi, aku pun memikirkan hal yang sama. Bagiku tak ada yang lebih penting dan berarti di hidupku kecuali Marcus. Hanya dia yang aku inginkan dan kubutuhkan.
"Kali ini aku tak akan menahan diri. Aku akan membuatmu lemas tak berdaya dan memenuhimu dengan kissmark juga cairanku."
Wajahku langsung memanas seketika. Astaga, ucapan vulgarnya langsung menimbulkan bayangan-bayangan erotis dalam benakku. Membuat aku basah karena tak sabar untuk merasakannya dalam tubuhku.
Aku sudah gila. Tidak, Marcus yang membuat kugila dan menginginkannya sekarang.
"Kau maukan, istriku?"
Wajahku semakin memerah mendengar panggilan itu untukku. Oh ya ampun, malu!
Aku mengeratkan lingkaran tanganku di lehernya. Dan menenggelamkan wajahku di ceruk lehernya.
"Ya, suamiku."
Tubuh Marcus menegang setelah mendengar bisikan pelanku. Suamiku? Aku sangat suka dengan panggilan baru itu untuknya dan aku akan memanggilnya seperti itu hingga aku puas. Tak menunggu lebih lama lagi, Marcus dengan cepat membawaku pergi menuju apartemen.
___End___
___________
Hai semuanya mohon dukungannya ya. Vote dan like yang banyak ya, jika ingin aku upload extra bab nya. . cerita ini juga aku ikut sertakan dalam event menulis novel toon. Terima kasih
__ADS_1