
Masih mempertahankan sikapnya yang saling acuh dan saling membuang pandangan sampai sesuap makanan terakhir masuk kedalam mulut mereka berdua.
Kini Kun bersiap siap untuk berangkat ke kantor.
"Kemari" ucap Kun melambaikan tangannya memberikan perintah kepada Aurora.
Tidak ingin mencari masalah Aurora langsung menghampiri Kun dengan malas.
"Pasangkan aku dasi" ucap Kun menyodorkan dasinya.
Aurora meraih dasi yang tadi dipegang suaminya dan mencoba memasangkan dasi sesuai titahnya.
Aurora sedikit memberi jarak posisi mereka berdua sehingga terlihat saat ini Aurora sedang menjinjit untuk meraih pundak suaminya.
Sadar dengan tingkah Aurora. Kun dengan cuek menarik pinggang Aurora sehingga posisi mereka saat ini sedang berhimpitan dengan lengan Aurora menyangga dirinya didada Kun.
Pelayan yang sedang menyaksikan posisi mereka berdua pun langsung bergosip. Bagaimana tidak baru pertama kali ini mereka melihat tuan mudanya membiarkan wanita dengan sukarela untuk menyentuhnya
"Ingat kalo enggak rapi masangin aku dasi hari ini juga aku pastiin saham yang ada diperusahan ayah mertua akan segera aku anjlok" bisik Kun mengancam Aurora.
Aurora sudah mengira ancaman apa yang akan di lontarkan suaminya yang kini menjadi titik tumpu kelemahan Aurora sendiri.
Aurora tidak dapat berkutik apa pun. Dia hanya dapat menuruti suaminya untuk memasang dasi dengan penuh kehati-hatian dan penuh ketelitian untuk mendapatkan hasil yang rapi sesuai dengan yang dia inginkan.
Melihat Aurora yang mulai patuh, muncul guratan senyum dibibir Kun.
"Akhirnya aku bisa membuat wanita ini patuh denganku" batinnya dengan penuh kebanggaan.
"Sudah selesai" ucap Aurora mencoba melepaskan lengan Kun yang tadi melingkar dipinggangnya.
"Tadi malam bilang aku sampah....tapi kok masih cari cari kesempatan buat nyentuh" gumam Aurora pelan.
"Hmmmmm......." balas Kun cuek tanpa berkeinginan berterima kasih lalu meraih ponselnya hendak berangkat kekantor tapi tiba tiba Aurora mencegatnya.
"Tunggu....aku mau minta izin pergi syuting dan pulang sedikit larut malam?" dengan wajah penuh harap memandangi punggung suaminya.
"Pergilah" balas Kun cuek dan pergi menuju mobil yang telah terparkir didepan.
Perasaan heran mulai timbul di benak Aurora
"Kesambet apa tu anak, kok enggak ngomel kalau aku izin pulang larut malam" ucap Aurora sambil menggaruk kepalanya.
Setiba Kun dikantor. Para pegawai memberikan salam penghormatan kepada bosnya.
"Selamat pagi Presdir" ucap para pegawai serempak sambil menundukan kepalanya.
"Hmm..." balasnya dingin dan dengan angkuh melewati para pegawainya.
Brakkkkkkk...
Thomas membuka pintu "Silakan Tuan" ucapnya mempersilakan.
__ADS_1
"Kapan pelelangan selanjutnya akan diadakan?" tanya Kun sambil duduk mengnyilangkah kedua kakinya.
"Menurut informasi yang telah kami dapatkan. Pelelangan nya akan diadakan nanti malam Tuan, dan merupakan salah satu pelelangan yang kerap kali memperdagangkan manusia" jawab Thomas.
"Baguslah kalau memang benar begitu. Nanti malam kita akan menghadiri pelelangan tersebut dan sekarang kau sudah boleh keluar" ucap Kun mempersilakan Thomas keluar.
"Aku pasti akan menemukanmu Arini dan membiarkanmu membayar semua pengkhianatan yang telah kau berikan ke padaku" gumam Kun sambil mengepalkan tangannya menyimpan segala amarahnya yang telah menggebu di dalam jiwanya.
Arini merupakan sosok yang pernah menjadi gadis yang sangat teramat Kun cintai. Mereka juga hampir ingin menikah dan semua telah Kun rancang sedemikian rupa sampai Kun kecewa mengetahui fakta bahwa Arini telah mengkhianati dan pergi meninggalkannya.
Arini telah menjadi pilu dalam kehidupannya.
Bertahun tahun dia mencoba melupakan dan menghilangkan semua rasa sakit yang ada pada dirinya selalu saja tidak pernah membuahkan hasil.
π€π€π€
Aurora tampak mencoba menyembunyikan bengkak dibagian bawah matanya dengan segala make up yang ada di hadapannya.
"Udah tebel kayak gini masih aja keliatan" gerutu Aurora kesal.
Clara yang sedari tadi memperhatikan Aurora hanya tersenyum sinis. Aurora yang mengetahui hal itu membalas Clara dengan tatapan tajamnya.
"Ra...bagian kita udah mau dimulai nih. Ayo kita pergi bersiap-siap kedepan?" ucap Erik menghampiri Aurora yang masih sibuk didepan meja rias.
"Rik...mata aku bengkak gak?" balas Aurora bertanya
"Enggak kok masih tetep cantik" goda Erik sambil tersenyum.
"Apa maksudmu hah" Aurora berdiri mencoba mendekati Clara namun di cegah oleh Erik.
"Jangan diladenin Ra kita gak ada waktu hanya buat nanggepin hal gitu doang?" balas Erik menarik tangan Aurora meninggalkan ruang rias.
"Cihhh..." Lirih Clara kesal mendengar ucapan Erik.
Sekarang Aurora dan Erik sudah berada di area syuting.
"Terima kasih Rik udah mau ngebelaiin aku" ucap Aurora.
"Iya...sama sama gak perlu sungkan. Aku seneng kok ngelakuin ini buat kamu" balas Erik sambil meraih tangan Aurora.
Deg tiba tiba jantung Aurora berdegub.
"Kenapa tiba tiba aku deg degan sih" batin Aurora melepaskan tangannya yang digenggam oleh Erik.
Seketika suasana pun menjadi canggung
"Aku sangat mencintaimu Aurora dan kau tak pernah tau itu dan kenapa kau sangat cepat jatuh kepelukan orang lain" ungkap isi hati Erik diam diam.
"Baiklah syuting akan segera kita mulai segeralah bersiap-siap " ucap seorang sutradara memecahkan suasana canggung diantara mereka berdua.
Aurora dan Erik pun memulai aksinya didepan kamera yang telah tertuju kepada mereka berdua. Entah sejak kapan rasa cinta itu tumbuh dihati Erik tapi yang pastinya rasa itu ada karena adanya cinta lokasi.
__ADS_1
Hari yang panjang selalu Aurora lalui di lokasi syuting dan tidak terasa sekarang sudah sangat larut malam seperti biasanya Aurora akan bergegas untuk segera pulang.
"Mau aku anterin?" ucap Erik menghampiri Aurora.
"Enggak ush Rik aku bawa mobil kok" tolak Aurora.
"Memangnya suami kamu enggak jemput?" Erik kembali bertanya
Aurora terdiam seketika dan wajahnya berubah menjadi murung.
"Enggak" jawab Aurora cuek.
"Maaf kalau pertanyaan aku enggak berkenan dihati kamu Ra" Erik merasa bersalah.
"Enggak apa-apa kok. Yaudah aku duluan ya Rik" balas Aurora sambil berpamitan pulang.
Erik hanya memandangin punggung Aurora yang kini telah menghilang.
Aurora telah sampai dikediamannya. Yang lebih tepatnya sih di kediaman suaminya karena baginya dia hanya sekedar menumpang sebagai nyonya besar disini.
Setibanya didalam rumah tidak ada guratan ketakutan di wajah Aurora karena, tadi pagi dia sudah meminta izin dan telah di iyakan oleh si jelek suaminya.
"Pasti dia sedang berada dikamar atau di ruang kerja" terka Aurora dalam hati yang saat ini pergi menuju kamarnya.
Dia tidak mendapati kehadiran Kun didalam kamar entah kenapa dia sangat ingin memastikan keberadaan pria yang telah menjadi suaminya itu.
Aurora menuruni anak tangga menuju dapur untuk sekedar bertanya kepada pelayan disana.
Melihat kedatangan Aurora para pelayan yang tadi sedang bersantai pun langsung berdiri.
"Selamat malam Nona. Apa ada yang bisa kami bantu? Atau nona ingin makan kami segera menyiapkan hidangan makanan secepat mungkin?" ucap kepala pelayan dirumah itu.
"Tidak perlu, saya sudah makan diluar. Apakah Tuan muda kalian sudah pulang? Tanya Aurora balik.
"Tuan muda belum pulang Non?" jawab kepala pelayan.
"Ooooo...bguslah kalo gitu" ucap Aurora pelan.
"Kalian boleh kembali kerja!" perintah Aurora lalu kembali ke kamarnya dengan kegirangan mendapati sang suami yang belum pulang.
"Hari yang sangat indah tanpa si jelek itu" ucap Aurora yang kini menjatuhkan dirinya diatas kasur.
"Sebaiknya aku segera membersihkan diri lalu tidur" ucap Aurora kembali dengan wajah yang penuh kebahagian.
Bersambung...
π£π£π£π£π£
Hai reader tercinta.ππ
Tunggu selalu kelanjutannya ya.π dan enggak bosen bosen nya nih author ngingatin jangan lupa buat like,rate,dan kasih saran karna apa yang kalian kasih itu sangat berarti buat author loh.ππππ
__ADS_1