
03.33
"hmm..." lenguh Aurora terbangun pada dini hari, matanya mulai mengerjap sadar. Dia perlahan bangkit lalu menyandarkan diri di pojok sandaran ranjang.
Sesekali ia melirik ke arah suaminya yang masih terlelap dengan wajah yang sangat tampan.
Puas memandangi wajah sang suami. Aurora merangkak menuruni ranjang, pergi menuju dapur untuk minum berhubung dia sangat haus.
Setelah berada di dapur, Aurora membuka pintu kulkas sambil membawa gelas. Namun niat yang terurung ketika melihat box yang berisikan ice cream.
Oleh karena itu, Aurora lebih memilih meraih ice cream, ketimbang mengambil segelas air putih di dalam kulkas.
Aurora duduk diatas meja bundar yang tidak jauh dari tempat para koki memasak lalu menikmati ice creamnya dengan penuh semangat.
Suasana dapur saat ini cukup gelap, hanya ada 2 lampu yang hidup di setiap pojok dapur. Namun Aurora tidak menghiraukan hal tersebut dan masih sibuk menyendok ice cream tiga rasa tersebut.
Saking begitu bersemangatnya menikmati ice cream. Dia sampai tidak sadar bahwa Kun juga pergi ke dapur untuk mengambil sebotol minuman .
"Hmm..." memberi kode kepada Aurora yang tidak sadar akan kehadiran dirinya.
"Kun" terka Aurora karena wajah Kun yang tampak tidak jelas bisa dikatakan agak samar-samar saat itu.
Lalu Kun mendekat kearah Aurora yang dengan santainya menduduki meja dengan membawa sebotol minuman.
"Apa yang kau lakukan disini" sambil melirik ice cream yang ada di tangan Aurora.
Aurora menyodorkan ice cream kearah Kun untuk memberitahu dia sedang menikmati ice cream sendirian.
Kun merampas ice cream yang ada di tangan Aurora dengan kesal.
"Hei balikin ice creamku. Dasar pencuri" teriak Aurora dengan wajah di tekuk.
"Pencuri,,,Cih,,,. Lihatlah sekarang pukul berapa?" menunjuk ke arah jam dinding.
__ADS_1
"Pukul 03.46. Memangnya kenapa?" balas Aurora dengan tangan dilipat.
"Hah...pantas saja sampai sekarang kamu belum juga hamil, jika pola makanmu saja tidak sehat seperti ini" dengan nada penuh penekanan seraya menghimpit tubuh Aurora yang masih duduk di atas meja.
"T-tapi aku sangat haus dan tenggorokan ku sangat kering" balas Aurora yang sedikit takut untuk melihat kearah suaminya yang terlihat sangat serius dengan ucapannya itu.
"Tidak bisakah mengambil air putih, jus, atau sebagainya. Asalkan bukan minuman dingin seperti ini" dengan nada yang semangkin tinggi. Kun menceramahi Aurora yang menurutnya sudah tidak peduli dengan kesehatannya sendiri.
"Iya-iya ini yang terakhir. Lagipula aku bukan lagi anak kecil tau, dimarahin terus-terusan kayak gini," ucap Aurora yang kini turut membalas tatapan Kun. Sehingga semangkin mempersempit jarak antara keduanya.
Mereka saling bertatapan dengan waktu yang cukup lama. Melihat wajah Aurora yang sangat terlihat menggemaskan ketika melontarkan segala kemarahannya. Membuat Kun luluh begitu saja. apalagi dengan jarak yang sangat dekat ini membuat tubuhnya memanas dab mengambil kesempatan untuk mencium bibir Aurora sekilas.
"Lain kali jangan lakukan lagi" pinta Kun dengan tatapan sangat lembut, membuat Aurora yang tadinya kesal menjadi sedikit luluh dan juga tak lupa Aurora mengangguk mengiyakan permintaan suaminya ini.
Pernikahan mereka sudah dibilang cukup lama. Namun, Aurora belum juga hamil. Apalagi mengingat permintaan ayah dan ibunya yang kerap kali meminta cucu kepadanya.
Padahal jika difikir-fikir Aurora dan Kun kerap kali melakukan hubungan suami istri. Namun sejauh ini belum ada sedikitpun tanda bahwa Aurora itu mengandung.
"Oh,,, aku hanya berfikir gimana caranya membuat istriku cepat-cepat hamil" sambil menaikkan sebelah alisnya mencoba menggoda Aurora lagi.
Dengan semangkin membungkam jarak antara mereka berdua. Kini tangan pria yang sudah sah menjadi suami Aurora ini juga tidak tinggal main.
Tangannya sudah menyusup kedalam baju tidur Aurora yang bisa dikatakan cukup menggoda dengan panjang hanya di atas paha.
Dielusnya dengan lembut bagian bawah Aurora. Sehingga membuat Aurora melonjak seperti tersengat listrik.
Dengan susah payah Aurora menutup mulutnya untuk mencegah erangan keluar dari mulutnya dan tangan yang juga tak tinggal diam mencengkram punggung sang suami yang kini telah berpindah tempat dan bersemayam di bagian bawah milik Aurora yang sudah sangat basah.
"Kun,,,jangan disini nanti para pelayan ngeliat gimana?" dengan nafas yang tersengal menahan erangan yang seakan keluar dari bibir manisnya.
"Jangan hiraukan mereka" jawab Kun dengan cuek yang masih sibuk menjilat, mencium lorong hangat istrinya itu.
"Kun...hmm...jangan disini...ahkss" cairan keluar dan di hisap habis oleh Kun tanpa sedikitpun merasa jijik.
__ADS_1
Setelah itu mulai lah, Kun mengeluarkan senjatanya sambil membaringkan Aurora yang masih diatas meja dengan wajah yang pasrah akan keinginan suaminya ini.
Siap dengan posisinya. Kun mulai melakukan kegiatannya, walaupun bagi Aurora ini sedikit gila melakukannya di dapur tapi dia tidak dapat menolak segala sentuhan yang diberikan suaminya ini.
Dia semakin terhanyut, ketika Kun mempercepat temponya dengan mulut yang ikut sibuk menyesap ****** Aurora yang sudah sangat mengeras yang semakin membuat Kun gemas.
Tidak kuat menahan gejolak yang ada pada dirinya. Akhirnya desahan dan erangan pun lolos keluar dari mulut Aurora.
Dia tidak dapat menyembunyikan betapa gilanya pergulatan mereka ini. Apalagi Kun yang semangkin terburu oleh nafsu, hentakan demi hentakan dia berikan kepada Aurora yang membuat Aurora juga tak henti-hentinya mengerang dengan kencang.
Sampai puncak aktivitas panas mereka tiba dan Kun yang akhirnya tumbang di tubuh istrinya dengan segala keringat yang telah membasahi keduanya.
Dengan tubuh yang polos dan pakaian yang bergeletak di lantai membuat Aurora merengek malu dan meminta Kun untuk segera menggendongnya pergi kekamar.
Kun mengiyakan dan tak lupa mengecup pelan dahi istrinya yang juga di basahi dengan keringat.
"Aku mencintaimu," ucap Kun setelah mencium dahi Aurora.
Aurora hanya membalas ucapan Kun dengan tatapannya. Menurutnya dia adalah wanita paling bodoh sekarang karena tidak dapat memutuskan apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya.
"Kun, cepat gendong aku kekamar. Aku sangat lelah" rengek Aurora yang padahal menghindar untuk membalas ucapan suaminya ini.
"Baiklah" balas Kun dengan nada sedikit kecewa lalu menggendong Aurora dan membawanya ke kamar mereka berdua...
Bersambung..
💣💣💣💣💣
Hai reader😘mohon dukungannya selalu ya. Supaya Author semangat terus buat lanjutin kisahnya sampai selesai😋😋. Terima kasih juga buat yang udah selalu dukung dan selalu ngasih like, rate, vote, dan juga sarannya dan semoga reader gak pernah bosan buat selalu nungguin updatnya. Untuk setiap kesalahan dalam penulisan Author mau minta maaf karena belum sempat buat revisi❤✍🏻
Author : WinaAtlyn
iq. : married_to_ceo03
__ADS_1