Married To Ceo

Married To Ceo
Gagal


__ADS_3

Hari demi hari terlewati


Apakah kisah ini dapat terjalani


Tanpa adanya rasa cinta ini


Dan kesungguhan yang tak pernah kau miliki sama sekali.


 


~WinaAtlyn~


 


------


Aurora masih terlihat fokus dengan hidangan enak nan mewah pagi hari ini. Rasa nafsu makan yang membara tiba-tiba dia dapatkan seketika. Dengan lahap dia memakan setiap hidangan yang sudah pelayan sajikan diatas meja.


Dia tidak ingin ambil peduli,jika harus dicap wanita rakus oleh pria yang juga sedang sarapan dihadapannya saat ini.


Pada hari yang berbahagia ini, Aurora tidak memiliki jadwal syuting atau pun jadwal padat lainnya. Dia ingin menghabiskan waktunya untuk bertemu dengan sang moodbosternya.


Tapi,kacau nya lagi dan lagi. Dia harus terlebih dahulu meminta izin dengan pria dingin super duper menyebalkan dan angkuh itu.


Saking dinginnya, saat sarapan saja dia sama sekali tidak menoleh dan seperti tidak mengganggap Aurora ada. Diam tanpa menoleh, datar ketika berekpresi memang tipe suami yang buruk menurut Aurora.


"Ehemmm" Aurora mencoba memecah kekeheningan.


Tapi Kun sama sekali tidak merespon. Dia masih sibuk menggeser ponselnya sesekali melihat secarik laporan yang ada di atas meja.


"Hei,"panggil Aurora kesal.


"Hmmm,"balas Kun cuek lagi dan lagi.


"Kenapa kamu belum juga berangkat kekantor sih,?"ucap Aurora refleks.


Kun,yang mendengar perkataan Aurora yang tampak sepertu mengusirnya langsung melayangkan bidikan tajamnya kehadapan Aurora.


"Ehh...aku tidak bermaksud untuk mengusirmu. Aku hanya sekedar ingin bertanya,?"ucap Aurora ketakutan.


Aurora terus menggerutu dalam hati. Jika dia memiliki kedudukan disini,mungkin dia akan menjambak habis rambut pria menyebalkan didepannya ini.


"Cepat pasangkan aku dasi,!"ucap Kun tiba-tiba membuat Aurora yang tadinya melamun menjadi terkejut.


"Kenapa diam? bukannya kamu ingin aku cepat-cepat pergi kekantor,"ucap Kun kembali dengan nada kesal.


Mendengar nada bicara Kun yang tampak kesal. Aurora hanya memilih jalan apa yang sedang diperintahkan Kun. Dengan sigap dia selesai memasangkan Kun dasi.


"Hei...aku mau izin keluar bentar,boleh ya,?"tanya Aurora.


"Hmm..pergilah. Tapi,jangan coba-coba untuk pergi sendiri. Pergilah dengan diantar supir jangan meminta belas kasihan orang lain untuk mengantarmu pulang,!"balas Kun yang tampak menyindir Aurora.


Aurora yang sedari tadi sadar dengan sindirin Kun hanya mengepalkan tangannya menahan segala kemarahan yang ada.


"Tidak perlu, Aku bisa nyetir sendiri kok,"tolak Aurora.


"Ingat...jangan coba-coba membantahku. Selain itu pergilah dengan 2 orang pengawal utusanku. Aku tidak ingin orang orang berfikir bahwa aku suami yang buruk dan tidak pernah memperhatikan istrinya sama sekali," ucap Kun dengan nada kesombongannya.


"Cihh...memang kenyataannya iya. Dasar tukang pencitraan,"gerutu Aurora dalam hati.


"Tapi...,"ucap Aurora kembali dan tiba tiba terpotong


"Jangan membantahku! atau perusahaan ayahmu akan dalam masalah besar,"balas Kun yang berhasil membuat Aurora terdiam.


Jika harus menyangkut keluarganya. Aurora memang harus terpaksa mengiyakan. Dia tidak memiliki kekuatan lebih untuk melawan.


"Tuan...mobil sudah siap,"ucap Thomas yang tiba tiba datang.

__ADS_1


"Hmm...,"jawab Kun meraih jasnya dan tanpa basa basi meninggalkan Aurora.


Melihat Kun yang sudah tampak pergi Aurora memukul kasar meja makannya.


"Dasar menyebalkan" teriaknya meluapkan segera kekesalannya yang sedari tadi dia pendam.


🖤🖤🖤


Didalam mobil,Thomas tampak mencari-cari celah untuk membicarakan sesuatu hal yang sangat penting selama Kun tidak memimpin perusahaan.


Tapi ketika melihat mood bosnya yang tampak buruk membuat dia memaju mundurkan niatnya.


Dia tidak ingin semangkin memperburuk suasana hati bosnya karena jika itu terjadi semua aspek akan terkena dampaknya.


Tapi ekspresi Thomas dengan mudah terbaca oleh Kun. Dia sudah sangat paham dengan mimik wajah Thomas jika ada masalah yang menyangkut dirinya sendiri.


"Katakanlah,!"ucap Kun memerintah Thomas.


"Maaf Tuan...saya tidak bermaksud untuk menyembunyikannya. Tapi saya takut membuat suasana hati tuan muda menjadi buruk,"balas Thomas ketakutan.


"Bicaralah...aku akan mendengarkan,"ucap Kun kembali.


"Maaf tuan...gadis yang waktu itu,Tuan muda tawar senilai 200 miliyar datang kekantor. Dia bersikeras untuk bertemu dengan Tuan dan dia membuat kekacauan dan lebih parahnya lagi dia mengaku-ngaku sebagai tunangan Tuan,"ucap Thomas menjelaskan.


"Apakah kamu sudah menyelediki dimana dia tinggal,"tanya Kun.


"Sudah Tuan. Berdasarkan yang saya lihat dia tinggal disebuah apertemen mewah disebelah utara perusahaan,"jawab Thomas.


Kun tampak mendengus lelah memikirkan perbuatan Arini yang tidak henti-hentinya selalu mengingatkan dia dengan segala kenangan pahit yang telah dia torehkan. Entah sampai kapan dia harus dihantui dengan bayangan wanita yang sudah melukai dirinya.


"Jadi?apa yang sebaiknya kita lakukan selanjutnya Tuan,"tanya Thomas mencoba menyadarkan Kun dari lamunannya.


"Lakukan saja sesuai keinginanmu,!"balas Kun menyerahkan Arini sepenuhnya ke Thomas.


-


-


-


Bagaimana tidak,karena adanya kehadiran pengawal tersebut. Aurora jadi mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Leon dan sekarang malah memutar haluannya untuk bertemu dengan Dina.


Hari bahagia yang Aurora sebut-sebut tadi sontak berubah menjadi hari penuh kekacauan hanya karna ulah si pria dingin resek itu.


"Hai...tumben ngajakin aku ketemuan,"sapa Dina yang baru tiba sambil menatap heran kiri kanan Aurora.


"Ra...ngomong-ngomong siapa mereka,"tanya Dina sambil menunjuk-nunjuk.


"Pengawal ku,"balas Aurora cuek.


"Wahh...senengnya. Kemana-mana dijagain pengawal,"ucap Dina yang sedikit tampak ngeledek.


"Dina...,"tekan Aurora.


"Iya...iya...bercanda kok,"balas Dina paham dengan maksud temannya.


"Heii...kalian berdua. Bisa gak berdiri jauh sedikit,"perintah Aurora kepada pengawalnya.


"Maaf...tugas kami menjaga Nona disini. Jadi kami harus tetap berada disamping Nona,!"jawab pengawal A dengan tegas.


"Tapi aku juga majikanmu disini...jangan sampai aku mengadu karna kalian tidak membuat ku nyaman" ancam Aurora.


"Baiklah,kalau itu yang nona inginkan. Tapi Nona jangan sampai berniat untuk kabur dari kami,"balas pengawal A mengiyakan.


Dina hanya tertegun mendengarkan percakapan Aurora dan pengawalnya. dan setelah para pengawal nya sedikit pergi menjauh mereka berdua baru memulai pembicaraannya.


Sudah hampir 2 jam lebih para Pengawalnya berjaga dan tiba tiba mereka diperintahkan untuk membawa Aurora ke perusahan milik Kun.

__ADS_1


Mereka pun bergegas menghampiri Aurora yang masih sibuk berbincang ria dengan Dina.


"Maaf Non...kami diperintahkan untuk membawa Nona ke perusahaan,"ucap salah satu pengawal.


"Keperusahaan...ngapain,?"tanya Aurora heran.


"Suami kamu lagi kangen kali Ra,"kata Dina terkekeh.


"Ihh...sok tau banget kamu Din" balas Aurora.


"Kami tidak tau pasti Non. Intinya disini Tuan hanya memerintah kami" ucap pengawal tersebut dengan tegas.


Takut jika nantinya Kun mengamuk. Aurora mengiyakan untuk pergi ke perusahaan.


Dia berpamitan dan meminta maaf dengan Dina karena tidak dapat menemaninya lebih lama lagi.


Sesampainya Aurora didepan kantor.


"Apalagi yang akan sibrengsek itu lakuin,?"gumam Aurora pelan.


Kakinya terasa berat untuk melangkah memasuki tempat tersebut. Para pengawal yang ikut dibelakangnya semangkin menambah kesan ketidaknyamanannya dan lihatlah kini para pegawai perusahaan satu orang pun tidak lumput memperhatikannya.


Tok...tok...


Salah satu pengawal yang bersama Aurora mengetuk pintu sebuah ruang kepemilikan Kun.


Brakk...


Thomas membuka pintu.


"Silakan masuk Nona,"ucapnya mempersilakan.


Aurora pun masuk kedalam ruangan tersebut. Dia mendapati seorang pria yang berdiri membelakanginya sambil menatap jauh keluar kaca kantor.


"Lihatlah pria ini...sok kegantengan banget,"gerutu Aurora dalam hati.


"Hei...kenapa kau menyuruhku datang kesini,"tanya Aurora kesal.


Kun pun membalik tubuhnya menghadap Aurora.


"Bersiap-siaplah...Kita akan pergi ke pesta. Tapi sebelum itu kita pergi ketempat yang bisa mengubah penampilan jelekmu ini terlebih dahulu,"kata Kun dengan wajah dinginnya.


"Hei...seenaknya aja kalau ngehina. Aku menolak pergi ke pesta,"ucap Aurora melawan.


"Huh...sudahlah cepat pergi,"balas Kun sambil menarik tangan Aurora untuk pergi ketempat yang akan ditujunya.


Sudah beberapa gaun yang Aurora kenakan selalu tidak cocok dimata Kun. Padahal para pelayan setempat selalu terpaku melihat Aurora ketika mengenakan busana apapun.


"Aku sudah capek tau,gonta ganti pakaian,!"Aurora mulai memberontak.


"Ganti,!"ucap Kun lagi dan lagi tanpa menghiraukan keluhan Aurora.


Para pelayan setempat hanya mampu mengiyakan biarpun mereka sangat letih sedari tadi mondar mandir mencarikan Aurora gaun yang benar benar pas.


Seorang pelayan mendekat lalu berkata,"Nona,mungkin tuan


suka dengan gaun yang sedikit terbuka" Sambil menyodorkan sebuah gaun ke Aurora.


Aurora pun hanya mengangguk lelah dan langsung masuk kedalam ruang ganti mencoba gaun yang direkombinasikan salah satu pelayan kepadanya...


Bersambung...


💣💣💣💣💣


Hai reader tercinta😋


Jangan lupa buat kasih like,rate,vote,and sarannya ya.

__ADS_1


Supaya Author selalu semangat buat lanjutin ceritanya💕


__ADS_2