
Leon menghela nafas dengan panjang karena merasa jenuh ketika dia tidak dapat menghubungi Aurora. Dia telah beberapa kali menelpon Aurora namun panggilan selalu dialihkn. Kepalanya sangat pusing saat ini banyak masalah yang terjadi dikantor beberapa proyek kini terlepas dari genggamannya. Leon hanya membutuhkan Aurora saat ini untuk menenangkan segala kacau balau pada dirinya.
Tak lama kemudian,datang seorang gadis berkaca mata dengan rambut hitam terurai indah. Dia adalah Jenny Kim sekretaris kepercayaan Leon yang selama ini telah banyak membantu Leon dalam segala hal apapun.
"Maaf presdir,klien kita tidak bisa datang hari ini. Katanya ada hal mendesak" Jenny Kim berucap dengan sopan.
"Baiklah,tidak masalah. Saya sudah kerap kali mengalami hal seperti ini" Leon dengan wajah sedikit frustasi.
Jenny Kim menatap wajah Leon yang terlihat banyak masalah. Dia tau betul apa yang kini sedang terjadi di kantor,ada beberapa masalah yang memang sangat mendesak beberapa hari ini yang berurusan dengan para klien,petinggi saham,dan dalam proyek sekaligus.
Leon juga sudah beberapa hari selalu lembur bekerja. Pergi pagi dan hampir pulang larut malam dan kadang-kadang juga tidak pulang,untung ada Jenny disisinya yang selalu mengontrol segala aktivitas yang dilakukannya.
Leon dan Jenny Kim beranjak dari tempat yang dimana menjadi tempat bertemunya dengan seorang klien yang menunda perjumpaannya hari ini.
Didalam mobil Jenny melirik Leon yang terlihat mengotak-atik telepon genggamnya dan kerap kali menghela nafas panjang dan memijat dahi.
"Apa presdir baik-baik saja?" tanya Jenny dengan khwatir.
"Saya baik-baik saja," balas Leon tersenyum seperti memaksakan diri.
Jenny hanya bisa membalas senyum Leon dengan rasa pahit dihati. Sudah beberapa lama dia disisi Leon namun tidak pernah sama sekali Leon berbicara terus terang terhadapnya.
Leon memilih Jenny sudah lama sejak perusahaan Leon kembali bangkit. Dia memilih Jenny karena ketelatenannya yang sangat baik dalam mengurus apapun.
Segala apa pun yang Leon butuhkan selalu ia penuhi dengan cepat,setiap kali Leon memintanya untuk datang menemuinya karena ada masalah kantor dengan tidak mengeluhnya dia juga penuhi.
pakaian,sarapan,hingga jadwal keseharian Leon dapat semua Jenny atur dengan baik. Sampai-sampai Jenny juga dapat begitu akrab dengan kedua orang tua Leon.
Tapi,sampai detik ini sedikitpun Leon tidak pernah menoleh Jenny dengan cintanya. Dia hanya menganggapa Jenny sebagai rekan kerja dan yang paling dekat dia hanya menggap Jenny sebagai adiknya.
Namun,itu berbeda dengan Jenny yang sudah terbawa rasa cinta sejak sudah beberapa lama dia berada di sisi Leon. Dia hanya bisa memendam itu karena dia sadar dengan posisinya saat ini yang hanya sebagai rekan kerjanya saja.
__ADS_1
"Presdir,apakah setelah ini langsung ingin pulang? "tanya Jenny menoleh kearah Leon.
"Saya ingin pergi ke suatu tempat. Ingin ikut?" Leon mengajak Jenny untuk kesuatu tempat yang tidak lain adalah taman yang kerap kali Leon dan Aurora datangi karena tempat itu lah yang bisa membuat dia meredakan sedikit rasa rindunya terhadap Aurora.
Jenny menganggukkan kepalanya tanda menerima ajakan dari Leon dengan senangnya.
Sesampainya mereka di taman,Leon duduk di kursi panjang dengan Jenny yang masih enggan untuk duduk karena sedang menjaga posisinya yang hanya sebagai bawahan Leon.
"Duduklah,kenapa berdiri?" suruh Leon memerintahkan Jenny untuk duduk disampingnya.
Mendengar perintah dari atasannya,dengan cepat Jenny langsung duduk di samping Leon.
"Presdir,sangat sering ya kesini"Jenny melihat-lihat disekitar.
"Dulu sangat sering tapi saat ini sangat jarang" Leon sedikit mengingat Aurora difikirannya.
"Sepertinya,ada kenangan manis ya presdir"Jenny sedikit ingin mencari tau.
"Jika presdir ingin cerita aku bisa kok jadi pendengar yang baik" tutur Jenny mempersilakan dirinya.
"Kau masih terlalu kecil,cepatlah dewasa dan pergilah berkencan"canda Leon mengacak rambut halus Jenny hingga berantakan.
Jenny hanya tersenyum muram mendengar ucapan atasannya saat ini karena dia berfikir kapan Leon akan menolehnya dengan tatapan penuh cinta dan bukan menatapnya sebagai seorang gadis kecil.
"Oh iya...Jenny,kamu bisa pulang sekarang karena saya akan pergi kesuatu tempat sekarang. Pulanglah dengan diantar supir saya" Leon mempersilakan Jenny untuk pergi.
"Terus presdir pergi menggunakan apa?" Jenny keheranan.
"Taxi lah" jawabnya singkat.
"Ohh,baik lah kalau begitu. Jika ada yang diperlukan presdir bisa langsung menghubungi saya," tutur Jenny yang kini langsung pergi meninggalkam Leon untuk segera pulang.
__ADS_1
Didalam mobil,Jenny termenung memikirkan Leon yang tadinya berbicara tentang cinta masa kecilnya. Dalam hatinya dia bertanya siapa cinta masa kecilnya itu dan adakah masih ruang untuknya di hati Leon.
Dia beberapa kali menggerutui dirinya sendiri untuk sadar akan posisinya yang tidak pantas untuk berada disisi Leon untuk menjadi kekasihnya.
"Aku sangat mencintainya" seru Jenny dalam hati menangisi dirinya sendiri.
🖤🖤🖤
Malam telah datang,terlihat Jenny telah selesai membersihkan diri dan sedang mengeringkan rambutnya yang basah. Terdengar ponselnya yang berdering dengan cepat dia pun menyambar untuk melihat panggilan siapa yang masuk.
Ternyata panggilan yang masuk adalah panggilan yang berasal dari Leon. Dia meminta Jenny untuk menjemputnya disebuah bar,terdengar bunyi musik yang sangat kencang yang membuat Jenny ke susahan untuk mendengar Leon yang memberitahu lokasinya.
Sekarang,Jenny telah sampai di tempat dimana Leon sedang berada. Jenny masuk ke sebuah bar dengan sedikit gugub karena baru ini dia masuk ketempat yang sangat hingar bingar ini dan dia pun menemukan Leon yang sedang meneguk segelas minuman memabukkan dan meracau tak sadarkan diri.
"Presdir...presdir sadarlah" Jenny menumpu tubuh Leon dan menepuk bahu untuk menyadarkannya.
Tapi Leon masih saja meracau dengan tidak jelas dengan susah payah Jenny membawa Leon keluar dari bar karena sudah tidak tahan dengan kebisingan yang ada.
Jenny melaju dengan kencang meninggalkan bar tersebut dan sesampainya dirumah milik Leon dengan di bantu beberapa penjaga sekarang Leon telah berbaring diranjang king size miliknya.
Dengan lembut,Jenny melepas sepatu yang masih melekat di kaki Leon dengan penuh kehati-hatian. Setelah melepas sepatu Jenny melanjutkan melepas kemeja yang tampak tidak membuat nyaman pemiliknya.
Tangan Jenny terhenti,ketika Leon menyebut nama seorang wanita yang tidak lain adalah Aurora. Dia menyebut nama Aurora dengan penuh rasa cinta sampai-sampai dia menarik lengan Jenny dan mencium bibirnya dan berkata,"Aurora,aku mencintaimu" mata Jenny memerah mendengar apa yang keluar dari mulut pria yang sangat ia cintai.
Tak kuasa menahan air matanya,kini air mata Jenny telah sukses berderai di pipi mulus miliknya.
"Disaat kau mencium ku pun kau masih menyebut namanya" batin jenny sakit menghilangkan jejak air mata lalu beranjak keluar meninggalkan Leon. Tapi dia tak lupa untuk memerintahkan para pelayan untuk membuatkan teh ketika Leon telah tersadar dan jenny pun kembali kerumahnya karena tidak ingin berlama-lama menyimpan rasa sakit yang teramat dalam.
Bersambung....
💣💣💣💣💣
__ADS_1
Hai reader tercinta😙bantu dukung novel kesayangan kalian yuk😋dengan cara like,rate,vote,dan juga kasih sarannya👌🏻Terima kasih yang udah terus dukung✍🏻