
"Untung aja aku selalu bawa makser kalau pergi kemana-mana. Kalau enggak, pasti seisi bar akan rame karena aku" lamun Aurora didalam taksi yang pergi tanpa memberitahu suaminya.
Setelah Aurora berhasil menyelinap keluar dari pesta tanpa diketahui para wartawan. Aurora langsung memesan taxi online dan pergi menuju alamat yang Dina kirimkan.
Dengan gaun yang masih melekat ditubuhnya membuatnya merasa risih dengan penampilan yang sangat formal itu.
Aurora meminta tolong dengan pak supir untuk membantunya membeli jaket dan untungnya supir tersebut mau membantunya.
Mobil terhenti, menandakan bahwa Aurora telah sampai di tempat yang ingin dia tuju. Dia langsung masuk ke dalam bar dan mencari-cari keberadaan Dina yang telah nekat pergi sendirian.
Berkali-kali Aurora mencoba menelpon Dina. Namun, tidak ada satupun panggilan yang direspon oleh Dina. Apalagi ditambah dengan suasana yang sangat berisik, membuat Aurora seketika merasa pusing karena tidak terbiasa dengan keadaan seperti ini.
"Ih, dimana sih Dina. Susah banget ditemuin" gerutu Aurora kesal.
Setelah sekian lama mencari keberadaan Dina, akhirnya Aurora menemukan Dina yang sekarang telah meracau dengan tidak sadar karena berada di bawah pengaruh alkohol.
Dengan langkah yang tergesa-gesa, Aurora menghampiri Dina yang masih sibuk meneguk segelas alkohol.
"Dina!" panggil Aurora dengan nyaring sambil menepuk bahu Dina dengan cukup keras.
"Wah,,,akhirnya sahabat aku yang paling terbaik dateng juga. Sini sini temenin aku minum," ucap Dina menarik lengan Aurora untuk duduk disebelahnya.
"Ihhh, apaan sih kamu Din! Aku kesini bukan mau nemenin kamu minum tapi mau bawa kamu pulang. Paham gak!" tegas Aurora melepaskan cengkraman Dina di lengannya.
"Ra, hiks...hiks. Temenin aku minum malam ini aja, kamu gak tau apa beberapa hari ini aku sedih banget tau" rengek Dina dengan nada sangat menyedihkan.
"Sedih? Memangnya kamu bisa sedih juga ya" balas Aurora meremehkan.
"Gimana mau sedih hiks...hiks, udah beberapa bulan ini aku udah capek-capek banget nulis. Tapi hasilnya gak ada sama sekali. Kurang tidur iya, kurang makan iya, sampai kurang mandi juga iya. Pikir dong Ra, gimana aku mau sedih dan frustasi kayak gini hiks...hiks" meneguk kembali alkoholnya.
"Ya ampun Din. Kamu tinggal berhenti nulis aja kali, setelah itu kerja aja di perusahan Dady kamu. Gampang kan?" Aurora mencoba memberi solusi agar Dina mau diajak pulang.
"Gampang apaan, aku cuman hoby nulis tau. Aku gak mau kerja di atur-atur kayak gitu, apalagi di perusahaan Dady ogah aku mah" tolak Dina keberatan.
"Iyah,,,iyah aku ngerti. Tapi sekarang kamu harus pulang, aku anterin ya Din" ajak Aurora.
"Umm,,,temenin aku minum dulu dong Ra, segelas aja yah hehehehe" racaunya yang semakin menjadi-jadi.
"Oke, tapi hanya segelas dan setelah itu kita pulang" Aurora langsung mengisyaratkan kepada seseorang pelayan untuk menuangkan alkohol ke gelasnya.
Satu gelas berukuran kecil, sukses diteguk oleh Aurora. Rasa alkohol yang begitu aneh ditambah dengan dia yanh sama sekali tidak pernah mencoba minuman memabukkan ini. Tapi demi sahabatnya Dina, dia telah meneguknya walaupun hanya segelas.
__ADS_1
"Ayo Din kita pulang. Aku udah nepatin janji buat minum segelas loh dan sekarang giliran kamu yang nepatin janji untuk pulang" sambik menarik-narik lengan Dina yang masih enggan untuk beranjak dari duduknya.
"Umm,,,norak banget sih Ra. Segelas lagi dong hehehe" menuangkan kembali alkohol ke gelas Aurora yang tadinya kosong.
Mau tidak mau Aurora harus meneguknya lagi. Dari segelas menjadi bergelas-gelas, akhirnya Aurora juga ikut-ikutan mabuk bersamaan dengan Dina.
Mereka berdua meracau tidak jelas, orang-orang yang berada di dekat mereka melihat dengan heran. Apalagi Aurora yang baru pertama kali mabuk, dirinya sangat tidak dapat mengontrol diri berbeda dengan Dina.
"Tambah lagi dong minumannya" pinta Aurora meletakan kasar gelas kosongnya.
-
-
-
Setelah Kun menyadari istrinya tidak ada di lokasi pesta saat ini. Ia langsung pergi menyusul istrinya yang dilihat dari lokasi sekarang berada di bar yang dulunya selalu ia kunjungi.
Dia tergesa-gesa pergi, takut sesuatu terjadi pada istrinya. Apalagi mengingat dibar tersebut banyak pria-pria hidung belang.
Sesampainya di bar, Kun langsung menugaskan 3 bodyguardnya untuk turut mencari keberadaan istrinya itu.
Dan betapa geramnya Kun ketika mendapati Aurora yang tengah di ganggu dan di goda oleh dua orang pria. Dia melangkah mendekati dengan tangan di kepal.
"Bro! Bukankan dia artis yang terkenal itu ya?" menunjuk Aurora yang sudah tidak berdaya akibat pengaruh dari alkohol.
"Wah,,,bener bener. Dia Aurora Pricia, artis wanita yang terkenal itu. Kita beruntung banget bro ketemu sama dia" balas temannya dengan pikiran licik.
"Ini kesempatan kita bro buat ikut-ikutan terkenal mumpung dia lagi gak sadarkan diri. Ayo gendong dia kekamar" mencuri-curi kesempatan dengan tidak sadar ada aura mematikan yang berdiri tegap dibelakang mereka berdua.
"Kamu yang gendong dan aku yang pesan kamar" langsung berbalik hendak memesan kamar dan begitu terkejutnya dia melihat seorang pria gagah dan berwibawa sedang menatapnya dengan hawa menakutkan.
"Sepertinya kalian telah bosan hidup normal," ucap Kun dengan tatapan penuh amarah.
Mendengar ucapan tersebut, membuat pria yang tadinya berniat menggendong Aurora menghentikan aktivitasnya seketika dan langsung menjauhkan tubuhnya dari Aurora karena dia tau bahwa sekarang pria yang berhadapan dengan mereka saat ini adalah suami Aurora yang terkenal dengan segala kekejamannya.
"Maaf, apa yang anda lihat tidak sama dengan apa yang anda pikirkan saat ini" ucap mereka dengan nada bergetar.
"Cih, masih mengelak. Dasar ********" teriak Kun menendang salah satu dari mereka lalu mengisyaratkan kepada para bodyguardnya untuk menyiksa mereka yang telah berani menyentuh miliknya itu.
"Thomas! Kamu tidak perlu mengantarku untuk pulang. Pesanlah taxi dan bawa wanita itu pulang kerumahnya" mencoba menggendong Aurora yang terlihat sudah tertidur.
__ADS_1
"Tapi Tuan, saya tidak tau lokasi rumahnya" balas Thomas.
"Bawa saja dia kehotel, untuk pembayaran kamar nanti aku yang akan membayarnya" yang langsung dibalas dengan anggukan Thomas.
Setelah semua selesai dengan para ******** yang meringis minta belas ampun karena perbuatan mereka. Kun bergegas menggendong Aurora dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Aurora mengeliat dan menarik dasi Kun dengan tiba-tiba ketika mereka berdua sudah berada didalam mobil.
"Hmm,,,bau tubuh yang sangat menggoda," ucap Aurora yang mungkin masih dalam keadaan tidak sadar dengan apa yang ia lakukan sekarang mengendus-endus leher suaminya yang membuat sang junior Kun seketika menegang.
Kun mencoba menghentikan istrinya yang mulai bertingkah nakal untuk menggodanya.
"Kita selesaikan nanti dirumah sayang" mencium bibir Aurora sekilas dengan tatapan penuh lapar, apalagi melihat wajah Aurora yang terlihat menggoda itu...
π€π€π€
Pesta telah selesai, para undangan yang turut hadir tadinya persatu demi persatu pergi meninggalkan gedung tersebut.
Setelah selesai mengobrol dengan klien. Leon dan Jenny pun berniat untuk kembali kediamannya masing-masing.
"Presdir kenapa malam ini menyetir sendiri?" tanya Jenny memecah lamunan Leon yang sedari tadi memikirkan keberadaan Aurora saat ini.
"Presdir!" panggilnya lagi.
"Hmm" balasnya dingin.
"Presdir melamun? Kalau begitu sebaiknya saya saja yang menyetir Presdir" pinta Jenny yang khawatir dengan keselamatan mereka berdua saat ini karena Leon yang terlihat melamun ketika menyetir.
"Tidak perlu, saya bisa sendiri" balasnya masih dengan bahasa formal.
"Baiklah" dengan nada menyerah.
Sampai didepan apertemen Jenny membuka sabuk pengamannya dan langsung mencium pipi Leon dengan tiba-tiba. Setelah mencium pipi Leon dia membuka pintu mobil dan mengucapkan terima kasih lalu pergi meninggalkan Leon yang diam terkejut dengan tingkah Jenny yang tidak biasa.
Bersambung...
π£π£π£π£π£
Hai reader bantu like, vote, rate, dan juga kiritik sarannya yahπππ
Author : WinaAtlyn
__ADS_1
Iq. : married_to_ceo03